Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
112. Ketakutan Erland


__ADS_3

Sudah satu jam Erland menunggu Viola di depan ruang oeprasi. Pikirannya belum juga tenang meski Dokter sudah mengatakan akan melakukan yang terbaik untuk anak dan istrinya.


Noda darah di tangannya juga sudah mengering tanpa ada niatan untuk membasuhnya. Bagi Erland, melihat warna merah yang mulai menghitam itu serasa menemani Viola di dalam sana. Erland bisa merasakan sakit yang Viola rasakan saat ini, tapi jika Viola.merasa kesakitan di seluruh tubuhnya. Erland hanya merasakan itu di dalam hatinya. Di dalam sana, hatinya begitu teramat sakit sampai Erland ingin mengeluarkan hatinya dengan tangannya jika ia bisa.


"Erland!!"


Dua wanita paruh baya datang dari belakang Erland. Mereka adalah dua orang yang begitu menyayangi Viola.


"Ibu, Mami??"


"Er, bagaimana keadaan putri Mama??" Tanya Via dengan kekhawatirannya sebagai seorang Ibu.


"Erland masih belum tau Mi. Viola masih di dalam, Dokter sedang melakukan operasi untuk menyelamatkan Viola dan anak kami" Jelas Erland dengan lesu.


"Ibu langsung datang ke sini saat Bi Tum menghubungi Ibu Er. Ibu sangat khawatir, Ibu juga langsung mengabari Mami mertua kamu" Kini Erland tau kenapa mereka berdua bisa datang ke sana meski Erland bekum mengabarinya.


"Iya Bu, tidak papa. Justru Erland minta maaf karena belum sempat memberi kabar pada Mami"


Erland menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya.


"Mami paham bagaiman perasaan kamu saat ini Er" Ucap Via sama sekali tidak terlihat marah pada Erland. Di wajahnya hanya tergambar rasa khawatir yang begitu dalam untuk anaknya.


"Sebaiknya kamu bersih-bersih dulu Er" Perintah Gendis. Bukan maksud gendis risih melihat putranya seperti itu. Tapi dia merasa iba melihat penampilan Erland saat ini.


"Erland akan melakukannya setelah Dokter mengatakan istri dan anak Erland baik-baik saja Bu"


Gendis dan Via sudah tidak bisa membantah ucapan Erland lagi. Mereka berdua pasti tau perasaan Erland saat ini.


Semua yang berada di depan ruang operasi itu tidak ada yang tidak menampakan wajah tegangnya. Semuanya diam dengan pikirannya masing-masing. Tak lupa juga doa di dalam hati mereka selalu menemani Viola di dalam sana.


"Er, gimana adek gue??" Vino datang bersama Endah, Beca dan Yovi dengan nafasnya yang berantakan.

__ADS_1


"Masih di dalam" Jawab Erland menundukkan kepalanya dengan kedua sikunya bertumpu pada kedua lututnya.


Yovi sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Dia tidak mau semakin memperkeruh suasana di dana. Cukup mendengar jawaban dari Erland saja Yovi sudah mengerti jika Erland juga belum tau keadaan Viola saat ini.


"Tenang Bang, kita berdoa saja semoga Viola dan bayinya baik-baik saja" Endah mengusap lengan Vino yang berdiri menatap ruang operasi.


"Iya, memang hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini" Jawab Vino dengan pasrah.


"Papi dimana Vin?" Tanya Via cemas karena suaminya belum membalas pesannya sama sekali.


"Sedang perjalanan ke sini Mi" Vino duduk mendekati Via. Memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.


Semuanya kembali terdiam hingga seorang perawat keluar dari pintu yang sejak tadi tertutup itu.


"Permisi dengan keluarga Ibu Viola??"


"Saya suaminya" Erland langsung menyambar sebelum semuanya menjawab.


"Kami butuh tambahan satu kantung darah lagi karena pasien kehilangan begitu banyak darah, dan kebetulan di Rumah sakit ini persediaan dengan golongan darah A sudah habis. Jadi silahkan Bapak mencoba menghubungi keluarga atau teman yang bersedia mendonorkan darah untuk istri anda dengan golongan darah tersebut"


"Punya saya juga A, ayo ambil darah saya" Beca ikut mendaftarkan diri. Di saat seperti ini dia ingin menjadi sosok yang berguna bagi Viola. Setelah selama ini Viola yang selalu membantunya dalam segala hal.


"Baiklah, silahkan ikut saya. Mari kita cek dulu" Vino dan Beca mengikuti perawat tadi. Mereka berdua ingi secepatnya bisa menolong Viola.


"Ya Allah, kenapa perasaan Hamba semakin tak karuan seperti ini. Hamba takut Ya Allah, Hamba tak sanggup jika kehilangan mereka berdua. Hamba mohon, biarkan Hamba dan istri Hamba kesempatan untuk merawat dan membesarkan anak kami" Setitik air mata Erland keluar dari kelopak matanya.


Sudah Erland akui jika menyangkut Viola dan anaknya. Apapun itu pasti akan membuat Erland menjadi laki-laki cengeng dan lemah. Bahkan jika Erland di beri pilihan, mungkin dia yang akan memilih berbaring di dalam sana menggantikan Viola.


"Kenapa Viola bisa penda rahan seperti ini?? Apa Viola jatuh Bi Tum??" Tanya Via pada Bi Tum yang masih syok dengan kejadian saat Viola mengerang kesakitan dan juga saat Viola mengeluarkan begitu banyak darah saat berangkat ke Rumah sakit.


"Tidak Nyonya. Bu Vio tadi baik-baik saja. Bu Vio juga tidak kemana-mana, hanya kembali ke kamar setelah mengantarkan Pak Erland ke depan rumah. Sampai saya mendengar Bu Vio berteriak memanggil saya. Saat saya tiba di kamarnya, Bu Vio sudah memegangi perutnya yang katanya terasa ingin meledak sambil berdiri. Jadi saya pastikan kalau Bu Vio tidak jatuh sama sekali. Bu Vio juga sehat, sebelumnya tidak pernah mengeluh sakit sama sekali" Jelas Bi Tum pada Nyonya besar itu.

__ADS_1


"Yang di katakan Bi Tum benar Mi. Viola begitu sehat sebelum Erland berangkat ke persidangan. Hasil periksa bulanan Viola juga bagus. Dia tidak pernah mengeluh sakit sama sekali" Imbuh Erland.


Dia juga masih bingung kenapa istrinya bisa pendarahan begitu banyak seperti tadi kalau tidak ada sebab sebelumnya.


Seharusnya nanti Dokter bisa menjelaskan apa yang terjadi setelah operasinya selesai.


Perhatian mereka teralihkan setelah melihat Vino yang kembali sendirian.


"Loh kok nggak jadi Vin??" Tanya Via.


"Tekanan darah Vino mendadak tinggi sekali Mi. Padahal biasanya tidak pernah. Mungkin karena Vino terlalu memikirkan Viola. Jadi sekarang hanya Beca yang bisa mendonorkan darahnya" Jelas Vino dengan sedikit kecewa karena dia merasa menjadi Kakak yang tidak bisa di andalkan ketika adiknya butuh pertolongan.


"Syukurlah kalau Beca bisa mendonorkan darahnya" Via bisa sedikit tenang, karena jika Vino tidak bisa dan tidak ada Beca, pasti mereka saat ini sedang pusing mencari pendonor untuk Viola.


"Sudah Bang, jangan sedih. Beca pasti bisa menolong Viola" Endah meraih tangan Vino.


"Tapu Abang merasa tidak berguna untuk Viola yank"


" Tidak boleh bicara seperti itu. Viola pasti akan sedih kalau tau Abang kesayangannya seperti ini"


Vino membalik telapak tangannya agar bisa menggenggam tangan Endah.


"Kamu memang selalu bisa membuat perasaan Abang membaik" Endah tersenyum menanggapi pujian dari Vino itu.


"Suami dari Ibu Viola!!" Lagi-lagi suara dari depan ruang operasi mampu membuat semua orang yang berada di sana terlihat panik.


"Saya Sus, ada apa?? Apa yang terjadi dengan istri saya??"


Suster itu tak menjawab, hanya mengatupkan bibirnya saja. Kemudian menggeser tubuhnya sedikit untuk memberikan jalan pada Erland.


"Saya tidak bisa menjelaskannya, silahkan Bapak masuk biar Dokter yang menjelaskannya di dalam"

__ADS_1


Erland langsung membeku karena jawaban ambigu dari perawat di depannya itu.


"Ya Allah, apa yang terjadi pada istri dan anakku??"


__ADS_2