Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
69. Aku mencintaimu


__ADS_3

Endah masih terpaku mendengar suara dari belakangnya itu. Endah belum berani membalikkan badannya. Dia takut jika yang dia dengar itu hanyalah halusinasinya belaka.


Tapi Endah mendengar langkah mendekat kepadanya. Suara ketukan sepatu itu semakin dekat ke arahnya.


Endah merasakan pergelangan tangannya disentuh oleh seseorang yang terpaksa membuatnya berbalik.


Endah sadar jika semua mata sekarang ini hanya tertuju kepadanya.


"Endah, maaf karena kita semua sudah membuat kamu terkejut dan juga membuat mu bersedih seperti ini" Vino mengusap air mata Endah dengan ibu jarinya.


"Endah, seperti yang aku katakan tadi di hadapan Kakak kamu. Aku Vino Putra Raharja ingin meminta kamu Endah Anindita, untuk menjadi pendamping hidupku. Menjadi wanita satu-satunya dalam hidupku. Maukah kamu mengarungi bahtera rumah tangga dengan ku?? Bersediakah kamu menerima ku menjadi calon suamimu??" Vino mengulurkan buket bunga yang sedari tadi di bawanya.


Bukannya tersenyum senang, Endah justru menangis semakin terisak. Bukan karena sedih, tapi karena rasa lega di hatinya. Pria yang selama ini dia cintai tidak menjadi milik wanita lain, tapi justru memintanya menjadi istrinya.


Endah melihat ke arah Abang dan Ibunya, juga Viola yang tampak menangis melihat sahabatnya seperti itu.


Gendis mengangguk kepada Endah, begitupun juga dengan Erland.


Endah menatap mata Vino yang memerah menunggu jawabannya itu. Tangan Endah bergerak menerima bunga yang di berikan Vini tadi.


"Bismillahirrahmanirrahim, atas restu Ibu dan juga Abang, aku menerima kamu sebagai calon suami aku"


Rasa lega langsung menyambut Vino dan seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang"


Panggilan sayang langsung di ucapkan Vino untuk Endah pertama kalinya. Endah tentu saja amat sangat bahagia bisa mendengar itu dari pria yang diidam-idamkannya selama ini.


Vino meraih tangan Endah dan menuntunnya menuju ke depan. Membawa calon istrinya itu ke depan semua orang, seakan menunjukkan jika Endah adalah wanitanya.


Via lantas memasangkan cincin bermata berlian itu di jari manis Endah.


"Endah, selamat datang di keluarga Mami. Seandainya Mami tau kamu wanita yang Vino cintai. Mami akan melamar kamu sejak dulu" Ucap Via kepada calon menantunya itu.


"Terimakasih karena Tante sudah menerima mau menerima Endah"


"Jangan panggil Tante, mulai sekarang aku Mami mu"


Endah begitu terharu, dirinya yang bukan siapa-siapa jika di bandingkan keluarga Vino, justru di sambut begitu baik oleh keluarga itu.


Sekarang giliran Gendis yang memasangkan cincin pada Vino.


"Nak Vino, Ibu titipkan Endah kepadamu. Ibu percaya kamu laki-laki terbaik untuk Endah"


"Insyaallah Bu, saya akan selalu menjadikan Endah ratu dalam hidup saya"

__ADS_1


"Ibu percaya sama kamu" Gendis menepuk lengan Vino dengan bangga.


Kini Endah dan Vino berdiri berdampingan sebagai calon suami dan istri secara resmi. Bukan lagi dua manusia yang menyembunyikan perasannya masing-masing.


"Abang hutang penjelasan sama aku" Bisik Endah pada calon suaminya itu.


"Abang akan menjelaskan semuanya sampai sedetil-detailnya sama kamu sayang" Endah kembali tersipu saat Vino kembali memanggilnya seperti itu.


Kemudian tatapan Endah langsung menajam pada Viola. Sahabatnya yang turut andil dalam acara ini. Tapi Viola langsung memalingkan wajahnya dari Endah. Sepertinya dia tau kalau setelah ini Endah akan mencincangnya hingga habis.


"Vin, gue emang bukan pria yang baik. Gue pernah nyakitin adik lo. Tapi gue mohon, jaga Endah dengan baik, jangan sakiti dia atau melakukan hal sebre***ek gue. Gue percaya sama lo" Pesan Erland pada kakak Ipar yang akan segera berubah status menjadi adik ipar itu.


"Gue akan ingat pesan lo Er"


"Abaangggg!!" Rengek Endah memeluk Erland, Endah kembali menangis di pelukan Erland.


"Maafkan Abang karena sudah membuatmu menangis. Ini semua rencana Vino, jangan salahkan Abang" Vino menatap Erland dengan tajam karena menyalahkannya.


"Abang juga minta maaf karena belum menjadi kakak yang baik buat kamu, Abang juga belum bisa membahagiakan kamu"


"Enggak, Abang itu Kakak yang baik buat kita. Abang adalah pengganti Ayah buat aku. Abang sudah terlalu bekerja keras demi membahagiakan kita. Abang segalanya buat Endah, terimakasih Abang" Endah terisak dalam dekapan Kakaknya.


"Sudah, jangan nangis. Make up kamu udah luntur semua itu. Malu di lihat orang banyak" Candaan Erland itu tak mampu menghentikan tangis Endah.


"Endah, maafin gue juga ya. Karena waktu itu lo lihat gue sama Kak Vino di mall. Waktu itu Kak Vino sengaja ngajak gue buat pilih cincin itu, karena dia nggak tau mana yang perempuan suka" Ucap Beca merasa bersalah.


"Selamat ya Bro. Akhirnya lo laku juga" Ucap Yovi yang juga ikut hadir dalam acara itu.


"Kaya yang ngomong laku aja" Celetuk Erland membuat Yovi mendelikan matanya.


"Ya gimana mau laku, yang gue suka aja udah lo embat" Balas Yovi.


"Maksudnya??" Tanya Vino tak tau apa yang mereka bicarakan.


"Nggak papa men, gue cuma iri aja. Dia punya dua istri sementara gue belum sama sekali" Jelas Yovi pada Vino namun matanya terus melirik pada Erland.


"Ngomong-ngomong dia siapa??" Bisik Yovi pada Vino.


"Dia Beca, temannya Viola. Udah sikat aja, dia jomblo" Bisik Vino pula.


"Ehemmm. Hay??" Sapa Yovi langsung pada Beca.


Sementara Beca yang sam sekali tak mengenal Yovi hanya melirik tajam pada Yovi kemudian berlalu tanpa berkata apapun. Sontak hal itu membuat Erland, Vino dan Endah tertawa terbahak-bahak.


"Sombong banget tuh betina" Gerutu Yovi.

__ADS_1


Sementara itu, Edgar juga begitu bahagia melihat Endah yang akhirnya melepas masa lajangnya. Edgar sebenarnya sangat khawatir pada Endah yang tak kunjung menikah di usianya yang sudah tiga puluh tahun. Tapi ternyata ada alasan di balik itu semua.


"Kamu kenapa Sa??" Edgar melihat Alisa yang sedari tadi tampak aneh. Bahkan senyum di bibirnya saja tampak tanggung.


"Mas yang ada di samping Ibu itu siapa ya??" Tanya Alisa pada Edgar.


"Yang sebelah kiri itu Mbak Sarah istri pertamanya Abang. Terus yang sebelah kanan itu Kak Viola, istri ke duanya Abang. Kamu kaget ya ternyata Abang aku punya dua istri?"


Alisa mengangguk meski sempat terperangah sekejap.


"Jadi ceritanya itu dulu ......" Jelas Edgar.


"Berarti sekarang Kak Viola sudah bisa memaafkan Abang kamu Mas??"


"Semoga saja sudah. Karena yang aku tau, Kak Viola itu bertahan demi membahagiakan orang tuanya dan juga menuruti keinginan Ibu untuk mempunyai cucu" Alisa mengangguk paham sekarang. Tapi masih ada hal lain yang belum Alisa pahami.


"Ada lagi yang mau kamu tau dari keluarga aku?"


"Tidak ada Mas, aku ke toilet dulu ya??" Alisa ingin menemui seseorang yang terlihat pergi meninggalkan keramaian.


Alisa terus mencari seseorang yang ia kenali itu, seseorang dengan tubuh indah semampai dan wajah cantiknya.


"Mbak Sarah!!" Panggil Alisa.


"Alisa??" Sarah tampak terkejut melihat Alisa ada di sana.


Dari tadi Alisa dan Edgar memang duduk terpisah dari keluarga Erland. Sehingga Sarah tak begitu memperhatikan adanya Alisa di sana.


"Kamu ngapain di sini??" Tanya Sarah, dengan matanya yang melihat ke sekelilingnya, takut jika ada seseorang yang melihatnya berbicara dengan Alisa.


"Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa Mbak Sarah bosa ada di sini. Memakai baju yang sama dengan keluarga Mas Edgar?? Kenapa juga Mbak Sarah duduk di samping Tante Gendis?? Apa hubungan Mbak Sarah sama mereka sebenarnya??" Alisa benar-benar merasa ditipu dengan wajah yang selalu tersenyum dan tampak begitu baik itu.


"Alisa, dengarkan Mbak dulu. Tolong kamu tenang, jangan buat keributan di sini. Malu di lihat orang banyak" Sarah mencoba membuat Alisa tidak meninggikan suaranya lagi.


"Menangnya kenapa?? Mbak Sarah takut kalau semua orang tau kalau Mbak Sarah itu sudah bersuami tapi masih berpacaran dengan laki-laki lain begitu??"


"ALISA!!" Bentak Sarah dengan tangannya yang sudah mengepal kuat ingin melayangkannya pada pipi Alisa.


"Kenapa?? Apa Mbak Sarah terkejut karena sekarang aku tau kebusukan Mbak sarah?? Mbak Sarah takut aku akan mengatakan pada mereka semua tentang hubungan Mbak Sarah dengan Kakak??" Tantang Alisa tanpa rasa takut sekalipun.


"Jangan pernah ikut campur urusanku Alisa!!" Geram Sarah.


"Silahkan saja kamu ke dalam dan beri tau semua orang yang ada di sana. Tapi setelah ini terima saja kemarahan Kakak kamu itu!!" Ancam Sarah.


"A-apa maksud Mbak Sarah?? Jangan bilang kalau Kakak juga sudah tau kalau Mbak Sarah sudah menikah??"

__ADS_1


"Makanya, jadi anak kecil jangan sok ikut campur urusan orang lain" Sarah tersenyum licik pada Alisa sebelum berlalu dari hadapan wanita mungil itu.


Hati Alisa mencelos seketika. Ternyata Kakak yang selama ini ia banggakan telah menjalin hubungan dengan istri orang.


__ADS_2