Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
105. Tak peduli


__ADS_3

"APAAA??!!!!!!"


Suara Sarah menggema ke seluruh sisi kamarnya. Pagi-pagi sudah mendapatkan kabar yang membuat harapannya runtuh seketika.


Bagaimana mungkin sepagi ini Sarah sudah di kejutkan dengan kabar dari pengacaranya jika Erland sudah mengirimkan surat gugatan perceraiannya melewati pengacaranya itu.


Sungguh du luar dugaan Sarah jika Erland akan bertindak secepat itu. Sarah pikir Erland hanya akan mengancamnya saja. Ternyata Erland benar-benar membuktikan ucapannya.


Yang lebih menyakitkan lagi, Erland sama sekali tidak memberikan Sarah waktu sedikitpun untuk mencoba mempertahankan rumah tangga mereka.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang??" Sarah menjambak rambutnya dengan kasar.


"Aku nggak boleh pasrah gitu aja. Aku tidak akan pernah menandatangani surat itu" Sarah memicingkan matanya tajam. Dia masih teguh dengan pendiriannya yang tak ingin lepas dari Erland.


"Yaa, aku harus melakukan sesuatu"


Sarah bangun dari tempat tidurnya. Melesat ke kamar mandi dengan sebuah rencana di dalam sebuah rencana di dalam otaknya.


*


*


*


Sarah keluar dari kamarnya tepat saat Erland dan Viola menikmati sarapan paginya. Sarah tampak tersenyum kecut melihatnya, karena biasanya mereka tidak akan pernah menyantap makanan mereka sebelum salah satu di antara mereka belum ada di sana. Tetapi saat ini mereka seperti sudah tidak menganggap keberadaan Sarah di sana.


Dengan wajah pucat tanpa polesan make up tebal seperti biasanya, Sarah mendekati Erland dan juga Viola.


Bukan tatapan aneh atau iba dari keduanya. Mereka berdua justru tak peduli sekalipun dengan kedatangan Sarah ke meja makan itu.


Sarah juga masih diam duduk pada kursi yang biasanya ia tempati. Dia juga sama sekali tidak menyentuh makanan di atas meja itu. Hanya membisu sambil menatap Erland yang asik dengan sarapannya.


"Kenapa?? Sudah dapat kabar dari pengacara mu kan??" Tanya Erland tanpa sudi menatap Sarah. Sejak tadi memang ia sadar jika Sarah terus memperhatikannya. Dia merasa risih dan akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu.


Bukannya Erland tak tega jika memberikan surat itu pada Sarah secara langsung, tanpa melalui pengacaranya. Tapi Erland tau kalau Sarah pasti akan langsung merobek-robek surat itu di depan matanya.


"Kenapa kamu setega ini sama aku Mas??" Sarah berkata lirih dengan wajahnya yang pucat.

__ADS_1


Erland meletakkan sendok di tangannya, lalu beralih menatap Sarah yang terlihat berantakan itu.


"Jangan merasa kamu paling tersakiti Sarah. Aku sudah menahan kesabaran ku kepadamu, aku tidak mencaci dan melayangkan tangan ku kepadamu atas apa yang kamu perbuat. Sekarang kamu justru melihat aku yang paling menyakitimu?? Sadarlah Sarah!! Hidup tidak mungkin berjalan sesuai dengan kendali mu" Erland membuang wajahnya lagi. Dia lebih memilih menatap satu istrinya lagi.


Viola menggelengkan kepalanya pelan, memberikan isyarat pada Erland untuk membuang jauh-jauh kemarahannya saat ini.


"Tapi kenapa kamu sama sekali tidak memberikan aku waktu untuk berubah atau membuktikan penyesalanku kepadamu Mas?? Setidaknya jangan secepat ini" Sarah mulai terisak. Sarapan yang damai berubah menjadi mencekam karena rahang Erland yang mengeras dan memerah.


"Sudah ku katakan, kalau perselingkuhan tidak akan pernah aku maafkan. Jadi kamu masih mau membuktikan apa lagi Sarah?? Bukti-bukti itu sudah sangat jelas, foto mesra kalian, foto saat kalian berdua memasuki hotel, dan masih banyak lagi yang kamu sendiri juga tau. Jadi aku tidak akan pernah mengubah keputusanku!!"


Tekat Erland memang sudah bulat. Dia tidak ingin memberikan kesempatan sekalipun pada Sarah. Baginya Sarah sama sekali tidak akan pernah lepas dari pria itu mengingat lamanya kisah mereka berdua.


"Kamu benar-benar jahat Mas!! Kamu sudah berbeda jauh sejak kedatangan dia!!"


Sarah langsung berdiri dan menunjuk ke arah Viola.


"Sarah!! Cukup menyalahkan aku atas semua kesalahan mu. Sejak tadi aku diam, tapi bukan berati aku takut kepadamu. Akhiri semua drama yang kamu buat ini. Aku juga tidak rela jika kamu terus menyakiti suamiku"


Erland langsung mengangkat kepalanya saat mendengar pembelaan dari Viola.


"Oh suami?? Jangan lupa kalau Mas Erland juga masih suami ku Viola!!" Balas Sarah dengan sengit.


BYURRRR...


Wajah Viola langsung bayah kuyup akibat serangan mendadak dari Sarah. Air minum yang ada di hadapannya langsung di siramkan pada Viola.


"SARAH!!" Bentak Erland.


Erland meraih tisu didekatnya untuk mengeringkan wajah dan sebagian rambut Viola yang basah.


"Kamu nggak papa kan sayang??" Viola hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja.


Sarah semakin geram karena Erland membentaknya dan tak menghiraukannya sama sekali.


"Abang antar ke kamar saja ya?? Kamu sudah selesai sarapannya kan??" Viola mengangguk lagi-lagi tanpa mengeluarkan suaranya.


Sarah semakin kacau di sana. Ternyata sia-sia dia tidak memoles wajahnya hanya untuk menarik perhatian Erland. Nyatanya Erland tampak tak peduli sedikitpun.

__ADS_1


"Mas!! Kalau kamu masih ingin menceraikan aku. Lebih baik aku m*ti saat ini juga!!"


Sarah sudah meriah pisau buah yang ada di meja makan. Meletakkannya tepat di atas urat nadi pergelangan tangannya.


"Jangan nekat kamu Sarah!!" Erland dan Viola mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar mereka.


"Aku tidak peduli!! Untuk apa lagi aku hidup kalau aku sudah hancur begini?? Aku di ceraikan dan menjadi janda. Belum lagi aku yang seorang wanita cacat tak bisa mempunyai keturunan. Apa pandangan orang di luar sana kepadaku?? Aku rasa memang mengakhiri hidupku adalah jalan yang terbaik" Ucap Sarah dengan keputusasaannya.


"Istighfar Sarah!!" Ucap Viola.


"Jangan sok suci kamu Viola. Kamu lebih tau tentang hal ini. Bukankah kamu juga pernah melakukan hal yang sama sampai akhirnya kamu terbaring koma di rumah sakit??"


Viola langsung terdiam karena mengingat hal gila yang pernah ia lakukan dulu.


"Buang pisau itu Sarah!! Aku tidak akan terpengaruh sama sekali dengan ancaman kamu ini" Erland masih terlihat tenang tak menunjukkan wajah paniknya sama sekali.


Sarah semakin mengangkat tangannya agar Erland bisa melihat apa yang akan dilakukannya.


"Aku juga tidak main-main Mas. Aku benar-benar memutus urat nadiku kalau kamu sampai menceriakan aku" Ancam Sarah.


Viola melirik Erland. Dia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya itu setelah mendengar ancaman Sarah.


"Silahkan saja. Lakukan semau mu aku tidak peduli!!"


Viola menganga tak percaya dengan ucapan Erland. Bagaimana mungkin Erland akan membiarkan Sarah mengakhiri hidup di depannya.


"Kamu menantang ku Mas??" Sarah sebenarnya sudah mulai khawatir di dalam hatinya. Rencananya kali ini juga akan gagal kalau sampai Erland tak tergerak hatinya.


"Aku tidak menantang mu Sarah. Aku hanya tidak peduli lagi dengan apa yang akan kamu lakukan" Ucap Erland sinis.


"Ayo masuk sayang" Erland kembali menuntun Viola untuk masuk ke dalam kamarnya.


Sarah tak bergeming menatap Erland yang benar-benar tak peduli padanya lagi. Pria itu justru sudah hilang dari pandangan Sarah.


PRANGG....


Sarah membanting pisau itu hingga mengenai vas bunga yang berada di atas meja.

__ADS_1


"S*alan!!"


__ADS_2