Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
132. Minta jatah


__ADS_3

"Kenapa liatin aku terus sih Bang??"


Viola risih sendiri karena sejak mereka mengantar Beca dan Yovi, Erland terus saja memandanginya.


"Ya nggak papa, Abang kan lagi mengagumi istri Abang yang cantik ini"


"Gombalnya nggak laku" Viola kembali fokus ke ponselnya. Karena saat ini Ezra sudah terlelap di dalam boks bayinya.


"Tapi kamu suka kan Abang gombalin??" Erland menaik turunkan alisnya.


"Dih.. Mana ada!! Sekarang Abang bilang aja, mau apa?? Kalau manis kaya gini pasti ada maunya kan??" Tebak Viola membuat Erland menutup wajahnya karen malu.


"Tuh kan bener"


Erland yang sedang duduk bersandar di ranjang, menggeser tubuhnya hingga benar-benar tidak ada jarak dengan Viola. Tangan kanannya ia selipkan kebelakang untuk memeluk pinggang Viola.


"Abang jadi ingat omongan Abang sama Yovi tadi yank"


"Omongan yang mana??" Viola menoleh ke samping. Wajah mereka begitu dekat karena Erland yang sengaja menjadikan bahu Viola sebagai tumpuan dagunya.


"Yang di lakukan Yovi sama Beca"


"Iya, terus??" Viola masih tak mengerti arah omongan Erland.


"Kan mereka belum menikah, tapi bisa berbuat kaya gitu. Sedangkan yang sudah menikah kan seharusnya bebas melakukannya kapan saja. Jadi..." Erland menggantung ucapannya.


Viola menarik mengusap tangan Erland yang melingkar di pinggangnya dengan lembut dan berulang. Membuat kulit Erland meremamg seketika.


"Abang mau??" Tanya Viola dengan lembut.


Erland langsung memgangguk dengan semangat. Entah mengapa suara Viola itu terdengar sangat mendayu-dayu di telinga Erland.


"Tapi..."


"Tapi apa sayang?? Bukankah kamu masih mencintai Abang dan sudah menerima Abang lagi. Kamu bilang kalau kamu mau menjalani rumah tangga ini sama Abang. Selama kita menikah, Abang baru sekali mendapatkan hak Abang. Harus dengan cara apa lagi Abang harus membuk..."


"Fuuuhhhh..." Viola menghentikan ocehan Erland itu meniup wajah Erland dengan lembut.

__ADS_1


"Abang terlalu jauh mikirnya"


"Maksud kamu??" Kening Erland berkerut.


"Aku masih nifas Bang" Ucap Viola menyesal karena terlihat mengecewakan Erland.


"Hah?? Melahirkan secara caesar bisa nifas juga??"


"Bisa dong Abang. Mau dengan cara apapun tetap saja namanya melahirkan. Tetap mengalami masa nifas juga"


Erland langsung lemas, badannya terasa lunglai begitu saja. Matanya terpejam menahan gejolak dalam dirinya.


"Berapa lama yank??"


"Empat puluh hari atau bahkan bisa sampai tujuh puluh hari Bang. Berdoa aja ya, biar cepat selesai" Kini gantian Viola yang memeluk Erland dari samping. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya yang sangat nyaman itu.


"Ya Allah, kapan aku akan terbebas dari penyiksaan ini" Seloroh Erland dengan menahan gejolak dalam dirinya yang sudah dipendamnya beberapa bulan ini.


Viola geli sendiri dengan kelakuan suaminya itu. Viola juga merasa sangat bersalah karena selama ini belum menjadi istri yang baik buat Erland. Harusnya dia tau jika keinginan lelaki yang satu itu tidak bisa di tahan. Kalaupun nyatanya Erland bisa menahannya sampai saat ini, pastilah dia sangat tersiksa.


"Abang??" Panggil Viola karena Erland tak menyahut.


"Iya-iya sayang, Abang sudah menahannya selama sembilan bulan. Masa cuma empat puluh hari Abang nggak sanggup" Erland menyombongkan diri.


"Yakin??"


"Tapi kalau cium boleh kan??" Mata Erland kembali terbuka dengan harapan besar di dalamnya.


"Kalau itu..."


"Kali ini Abang tidak menerima penolakan!!"


Erland langsung meraup bibir Viola dengan bibirnya yang hangat. Menjelajahi bibir yang sudah menjadi candu baginya itu.


Viola yang masih amatiran, hanya berusaha untuk mengimbangi Erland. Dari cara Erland mencium Viola saja, dia sudah tau kalau kalau suaminya itu sudah on saat ini.


Viola menepuk dada Erland agar melepaskan ciumannya. Rasanya sudah sesak dan gelagapan saat ini.

__ADS_1


"Sudah sampai sini aja. Takut nanti nggak bisa mengendalikan diri Abang. Ayo tidur" Erland mengambil posisi berbaring. Menarik Viola ke dalam dekapannya yang hangat.


*


*


*


Pagi harinya Erland di kejutkan dengan laporan pengacaranya jika kemarin ada yang sudah mencairkan uang atas pembagian harta gono gininya kepada Sarah.


Erland sungguh tak maslah dan tidak peduli lagi dengan uang itu. Tapi yang membuat penasaran, siapa yang mencairkan uang itu, sedangkan Sarah saja masih di dalam penjara.


"Abang mikirin apa??"


Viola datang dengan dua cangkir teh di tangannya.


"Abang baru saja mendapat laporan dari pengacara Abang, kalau Sarah sudah mengambil semua uang itu" Erland menerima tah buatan istrinya itu.


"Lalu apa yang Abang pikirkan?? Bukannya itu sudah menjadi haknya??"


Mereka berdua duduk di taman belakang. Menikmati pagi yang naru saja menampakkan sang surya. Ezra juga belum tau bangun, jadi Viola memanfaatkan momen itu untuk sekedar quality time.


"Abang tau, tapi Surah kan masih di dalam penjara. Sementara uang itu tidak sedikit loh yank"


"Mungkin saja Mamanya yang mencairkan untuk Sarah. Pasti juga mereka butuh uang yang banyak untuk membayar pengacaranya"


Dugaan Viola itu memang masuk akal juga bagi Erland.


"Jangan pikirkan lagi Bang. Terserah dia mau ambil sendiri atau menyuruh Mamanya. Yang jelas, Abang sudah memberikan semua itu dengan ikhlas kan??"


Erland mengangguk pelan. Benar jika dirinya sudah sangat ikhlas memberikan semua itu untuk Sarah. Jadi tidak ranahnya lagi untuk ikut campur. Entah itu mantan Mama mertuanya yang mencairkannya atau orang lain. Erland sudah seharusnya tidak ikut campur.


"Kamu benar sayang"


"Ya udah, sekarang aku mau siapin keperluan Ezra dulu. Setelah itu kita ke rumah Mami ya Bang?? Aku mau bantuin Mami siapin acara buat lamaran Beca nanti malam" Viola bangkit lebih dulu.


"Iya, ayo Abang bantu"

__ADS_1


__ADS_2