Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
42. Perasaan Yovi


__ADS_3

Viola yang masih kesal langsung turun begitu saja dari mobil Erland. Mengabaikan tangan Erland yang terulur untuk Viola. Tanpa melambaikan tangannya dan tanpa menoleh kebelakang, Viola terus saja berjalan memasuki kampusnya.


Erland hanya pasrah menerima kemarahan Viola. Setelah memastikan istrinya itu tak terlihat lago, barulah Erland kembali menginjak pedal gasnya.


Erland bukannya tak mau memberi tau apa alasannya dia melarang Viola dekat-dekat dengan Yovi. Tapi dia sendiri juga bingung kenapa bisa begitu marah saat Yovi mengatakan ingin merebut Viola darinya. Dia tidak suka Yovi menatap Viola dengan tatapan mendamba dan penuh cinta. Baginya Viola sekarang ini adalah miliknya, jadi siapapun tidak berhak memiliki niat untuk memiliki Viola walau sehelai rambut pun.


"Vio!!"


Dari kejauhan Yovi sudah melambaikan tangannya pada Viola.


Viola tersenyum lalu menghampiri Yovi. Dia sepertinya harus meminta maaf tentang kejadian semalam pada Yovi.


"Hay Kak, ada jadwal pagi ya??"


"Sebenarnya masih nanti jam sepuluh sih, tapi pingin ketemu kamu aja" Yovi menunjukkan senyumnya yang manis pada Viola.


Memang ketiga lelaki yang berteman itu semakin bertambah umur bukannya semakin keriput dan menua, tapi justru semakin meresahkan dengan wajahnya yang semakin tampan dan berkarisma.


"Emm Kak Yovi, aku minta maaf untuk yang semalam ya?? Maaf karena aku nggak bisa angkat telepon dari kamu" Ucap Viola dengan rasa canggung.


Bagaimanapun juga Yovi sudah membantunya mengurus pendaftarannya dengan mudah. Tapi Viola justru terkesan mengabaikannya.


"Tidak papa Vi. Aku tau itu ulah Erland kan?? Sebenarnya aku sudah tau semuanya dari Vino"


"Apa Kak?? Kak Vino udah cerita semuanya??"


"Kamu masih ada waktu sekitar setengah jam kan?? Kita bicara sebentar yuk??"


Vino membawa Viola duduk di taman belakang kampus yang cukup sepi. Meski Viola sudah tidak peduli lagi tetang statusnya, tapi ada rasa malu ketika orang lain tau jika pernikahan mereka hanya karena terpaksa.


"Kamu masih mencintainya Vi??"


Mereka berdua duduk bersebelahan dengan pandangan mereka yang sama-sama lurus ke depan melihat lalu lalang para mahasiswa dari kejauhan.


"Aku tidak tau Kak" Memang Viola sendiri masih bingung dengan perasannya.


"Kenapa kamu tidak meminta pisah darinya saja?? Lagipula kamu masih muda, cantik, pintar, seorang Dokter, pasti banyak yang ingin meminang kamu lagi Vi. Bahkan aku siap untuk menjadikan kamu istriku. Omonganku di depan Erland itu tidak main-main. Daripada kamu harus menjadi istri ke dua, berbagi suami, apalagi harus tinggal satu atap" Yovi tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya Viola.


"Benar, semua yang Kak Yovi katakan itu benar. Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi semuanya tak semudah itu Kak" Setiap kata dari Viola mengisyaratkan luapan emosi dalam dirinya. Kesal dan marah pada dirinya sendiri yang sudah pasrah pada keadaan.

__ADS_1


"Apalagi yang jadi pertimbangan kamu Vi?? Meski kamu masih mencintainya, apa kamu sanggup terus bertahan di dalam cinta yang tak utuh?? Cinta yang semestinya di miliki kamu sepenuhnya, jadi harus di bagi untuk dua orang"


"Mami, kedua orang tuaku. Mereka pertimbangan ku Kak. Mami jadi sakit-sakitan seperti ini karena terus memikirkan aku yang terlalu larut dalam kekecewaan. Bertahun-tahun aku meninggalkan mereka. Dan kini Mami meminta aku bertahan, karena Mami tidak ingin melihatku terluka lagi karena perceraian" Hampir saja Viola menitikkan air mata jika dia tak bisa mengendalikannya.


"Aku tau ini sulit kalau sudah menyangkut orang tua Vi" Kini Yovi terdiam. Bisa apa dia kalau Viola sudah bilang seperti itu.


"Sekarang Kak Yovi sudah tau semuanya. Kak Yovi mau memandangku bagaimana juga terserah. Memang nyatanya aku adalah istri ke dua yang di nikahi secara terpaksa karena di ambang kematian" Viola tersenyum miris untuk dirinya sendiri.


"Aku tidak akan memandang mu seperti yang ada dalam pikiranmu saat ini. Aku tetap memandang mu sebagai Viola, seorang wanita yang berhasil merebut hatiku. Maaf kalau pernyataan ku ini membuatmu risih. Tapi aku mohon, jangan menjauh dariku. Aku hanya ingin berteman denganmu. Bahkan jika kamu memintaku untuk menunggumu lepas dari Erland aku siap"


Yovi menatap Viola dengan begitu dalam meski Viola tak mengalihkan pandangannya sekalipun.


"Maaf Kak, jujur aku belum siap dengan semua ini. Aku cukup terkejut kalau ternyata Kak Yovi menyukaiku, tapi aku sungguh tersanjung. Untuk saat ini, lebih baik kita berteman seperti ini saja. Ini juga untuk kebaikan kita bersama. Aku harap setelah ini, tidak ada yang akan berubah di antara kita berdua" Viola tersenyum tipis yang mampu menyiram hati Yovi yang sudah terlanjur gersang.


"Tentu saja, apapun untuk kamu Vi. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu"


Lagi-lagi Viola tersenyum pada Yovi. Sungguh, jika pernikahan itu belum terjadi, mungkin Viola akan mencoba membuka hatinya untuk Yovi.


*


*


*


*


Uang yang Sarah katakan untuk merenovasi rumah Ibunya juga hanyalah alibi belaka, karena sebenarnya uang itu Sarah gunakan untuk membayar arisan berlian bersama teman sosialitanya.


Gaya hidupnya yang dulu sempat terkubur karena hutang keluarganya, kini kembali di lakoni Sarah karena suaminya yang kaya raya itu.


Jika Erland selalu melihat Sarah terus bersembunyi di dalam kamarnya seharian penuh untuk bekerja, maka itu salah. Sarah memang masih menerima pekerjaan, tapi hanya sedikit sebagai bukti pada Erland jika dia juga bisa menghasilkan uang sendiri. Sarah akan diam-diam pergi keluar setelah Erland berangkat bekerja, juga akan kembali sebelum Erland pulang. Itu dilakukannya agar Erland tak curiga jika Sarah terus berhubungan dengan teman-temannya yang toxic.


"Wah, tajir nih bocah" Ucap salah satu teman Sarah, karena Sarah sengaja membayar semua yang mereka pesan siang ini.


"Jelas dong, suami gue bakalan kasih berapapun yang gue mau selama gue jadi istri yang baik buat dia" Sarah mengibaskan kartu debitnya yang telah kehilangan beberapa juta saldonya demi pamer di depan teman-temannya.


"Beruntung banget lo bisa dapet suami kaya gitu. Mau dong jadi istri ke dua suami lo" Ucap teman Sarah yang lain.


Kali ini wajah Sarah berubah drastis, merasa tersindir dengan ucapan salah satu temannya itu. Karena memang nyatanya, suaminya sudah mempunyai dua istri.

__ADS_1


"Kenapa lo diem gitu?? Gue cuma bercanda kali. Ngga usah lo masukin hati" Mereka semua tertawa karena mereka mengira Sarah menganggap serius candaan mereka.


"Sorry, suami gue bentar lagi balik. Gue harus cabut. Kalau ada apa-apa kabarin gue aja"


Sarah langsung pergi dari tempat itu karena sudah hilang semangat berada di tengah-tengah mereka


"S*alan!! Apa jadinya kalau mereka tau gue punya madu"


*


*


*


Sore harinya Erland benar-benar menjemput Viola ke kampusnya. Erland sudah menunggu selama tiga puluh menit sebelum jam yang di beritahukan oleh Viola, karena Erland tidak ingin Viola menunggunya terlalu lama.


Erland hanya menunggu di dalam mobil sambil matanya terus melihat ke seluruh area depa fakultas itu.


Dari kejauhan Erland bisa melihat Viola karena tak lupa dengan bentuk dan warna baju yang di kenakan istrinya itu. Tapi Erland masih belum tau siapa pria yang berjalan bersama Viola karena masih terlalu jauh. Hingga semakin dekat, semakin dekat Erland mulai mencengkeram kemudinya dengan kuat. Erland tau betul siapa pria yang sedang tertawa bersama Viola itu.


"Viola!!" Panggil Erland yang tiba-tiba sudah keluar dadi mobil.


Dengan sikap yang sengaja di buat setenang mungkin, Erland menghampiri Viola dan Yovi.


"Hay bro, makasih ya udah jagain bini gue" Erland menarik pinggang Viola begitu saja hingga menempel pada badannya.


Viola ingin memberontak tapi cengkeraman pada pinggangnya menguat serta lirikan tajam Erland padanya membuat Viola tak berkutik.


"Santai bro, gue malah seneng kalau di suruh jagain Viola" Yovi ternyata tak mau kalah.


"Kalau gitu gue pulang dulu, kasian Viola udah capek kayaknya"


"Aku pulang dulu ya Kak"


Tanpa menunggu jawaban Yovi, Erland sudah menarik pinggang Viola untuk mengikutinya.


"Lepas!!" Bisik Viola karena Yovi masih terus melihatnya.


"Tidak akan, karena kamu tidak menuruti perintahku untuk menjauhi pria itu!!"

__ADS_1


__ADS_2