
"Abang menyesal telah menjadikan kamu istri kedua Abang"
Deg...
Hati Viola seperti di hantam batu dengan begitu keras.
"Kenapa??"
"Aku mohon, jangan hancurkan hancurkan hatiku lagi" Batin Viola sudah menangis.
"Abang menyesal karena tidak menjadikan kamu yang pertama untuk Abang. Ternyata benar jika penyesalan itu datangnya di akhir. Tapi Abang bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk memiliki kamu" Ungkap hati Erland yang sudah merasakan cinta yang begitu mendalam untuk Viola.
"Tapi, bukankah Abang mau menikahi ku karena aku akan meninggal?? Kalau seandainya tidak, mana mau Abang menikah denganku" Viola tersenyum pilu.
Erland sempat terdiam sejenak, mengingat bagaimana tiga tahun yang lalu Dito dan Vino bergantian menemuinya hanya untuk memohon agar Erland mau menikahi Viola.
"Sayang, dengarkan Abang!! Waktu itu Abang memang menolak permintaan Papi dan Vino. Tapi setelah Abang meminta petunjuk sama Allah, wajah kamu selalu muncul di dalam mimpi Abang. Saat mengucapkan ijab kabul itu, Abang bahkan sudah merasakan kalau kamu tidak akan pergi secepat itu. Firasat Abang mengatakan, kalau kamu akan terbangun dari tidur kamu itu. Jadi Abang semakin yakin jika kita memang di ditakdirkan bersama"
Viola menatap Erland begitu dalam. Banyak perubahan dalam pria di depannya ini. Jika dulu Erland ketus dan selalu menganggap Viola sebagai seorang pengganggu. Kini menjadi pria matang yang hangat dan penuh perhatian.
"Kamu mau tau apa yang ada di dalam mimpi Abang??" Erland masih terus menggenggam tangan kiri Viola.
"Apa??" Suara Viola sangat pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Di dalam mimpi Abang, kita berdua menjadi keluarga yang bahagia bersama anak-anak kita" Bisik Erland pada Viola.
Seketika Viola menundukkan wajahnya, air matanya tiba-tiba sudah menyeruak keluar. Hatinya mudah sekali tersentuh akhir-akhir ini.
"Sampai saat ini Abang masih berharap kalau mimpi itu akan jadi kenyataan" Erland mengusap pipi Viola yang sudah basah itu.
"Seandainya aku tidak bisa bertahan di sisimu bagaimana??" Tanya Viola dengan parau.
Memang rasa ingin menyerah itu sempat terbesit di pikiran Viola. Tapi banyak sekali yang akan dia tanggung di pundaknya ketika Viola benar mengambil keputusan itu.
"Sebisa mungkin Abang akan pertahankan kamu" Tegas Erland.
"Kalau tetap tidak bisa??"
"Kalau gitu, Abang tinggal kencengin aja doanya sama Allah. Karena Allah pasti akan mendengarkan doa Abang" Ucap Erland dengan penuh percaya diri.
"Cih...pede banget jadi orang" Ucapan Viola membuat Erland terkekeh.
"Udah dong jangan sedih gini. Nanti anak kita ikutan sedih kalau Mamanya sedih. Abang nggak mau anak kita jadi benci sama Abang karena Mamanya menangis gara-gara Papanya" Erland benar-benar mengusap air mata Viola hingga kering.
"Maaf ya, gara-gara dia Abang jadi sering ngidam malam-malam begini" Erland senang karena Viola sudah mulai mengubah cara berbicaranya. Tak lagi dingin seperti tadi.
"Nggak papa, Abang justru senang karena tandanya dia juga sayang sama Abang. Ayo suapi Abang lagi, setelah ini kita sholat subuh sekalian"
Viola mengangguk, dia hampir lupa kalau dia sedang menyuapi suaminya itu.
__ADS_1
"Tapi nasinya udah dingin, mau ganti yang hangat lagi??" Viola merasa bersalah, karena terlalu lama mengajak Erland berbicara.
"Nggak usah ini aja. Aaaakkkk" Viola tersenyum karena Erland sudah membuka mulutnya.
"Apa kamu masih sering mual yank??" Tanya Erland setelah menelan nasinya.
"Udah enggak karena setiap pagi aku minum obat dari Niken"
"Syukurlah, Abang nggak tega lihat kamu mual-mual terus" Erland mengusap pipi Viola dengan lembut.
"Semua ini masih seperti mimpi bagiku. Rasanya aku masih tertidur seperti tiga tahun yang lalu yang tertidur panjang dengan mimpi yang begitu lama seperti ini. Menikah dengan pria yang begitu aku cintai, mengandung anaknya, dan saat kini duduk berdua seperti ini sungguh di luar perkiraan ku. Seandainya waktu itu aku tidak berniat mengakhiri hidupku, apa aku bisa merasakan ini sekarang??" Viola buru-buru mengusap air matanya yang kembali jatuh sebelum Erland melihatnya.
*
*
*
Edgar terus mencoba menghubungi Alisa, kekasihnya itu. Edgar begitu di buat frustasi karena Alisa tidak bisa di hubungi sejak terakhir kali mereka bertemu di acara lamaran Endah dan Vino.
Saat itu Edgar tidak merasa curiga pada Alisa yang tiba-tiba mengirimkan pesan padanya jika dia harus pulang lebih dulu. Edgar kira ada pekerjaan di rumah sakit yang mengharuskan Alisa untuk datang ke sana. Namun setelah itu Alisa tidak bisa di hubungi lagi. Pesan Edgar juga tidak ada yang dia baca sama sekali.
Kini Edgar sudah menunggu Alisa di depan rumah sakit tempat wanita itu bekerja. Edgar ingin tau apa yang terjadi pada Alisa.
"Alisa!!" Panggil Edgar ketika melihat Alisa keluar dari rumah sakit.
"Alisa tunggu!!"
Terlambat, Edgar berhasil meraih tangan Alisa lebih dulu.
"Aku sedang buru-buru, jadi aku mohon lepaskan tanganku" Alisa mencoba melepaskan tangannya.
"Tidak sebelum kamu katakan apa alasan kamu tidak bisa di hubungi beberapa hari ini!!" Ucap Edgar dengan tegas. Karena wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu justru bersikap acuh seperti itu.
"Maaf Mas, sepertinya aku aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Jadi mulai sekarang jangan temui aku lagi!!" Tangan Edgar menganggur karena sempat terkejut dengan perkataan Alisa.
"A-apa maksud kamu Al. Kenapa kamu tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan kita?? Apa aku ada salah atau ada hal yang membuat kamu marah?? Katakan Alisa!!" Tanya Edgar dengan ketakutannya.
Alisa adalah wanita satu-satunya yang berhasil menarik perhatiannya. Wanita lembut, baik hati dan penuh perhatian, jadi Edgar begitu mencintai wanita itu.
"Kamu nggak salah apa-apa Mas. Aku cuma berpikir kita nggak cocok aja. Kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dari aku. Jadi hubungan kita cukup sampai di sini saja!!" Alisa langsung menghentakkan tangannya hingga genggaman tangan Erland terlepas.
"Alisa!! Tunggu!!"
"Alisa!!"
Alisa sama sekali tak mempedulikan Edgar yang terus mengejarnya meski Alisa sudah masuk ke dalam taksi.
Alisa tak kuasa menahan tangisnya melihat Edgar yang terus mencoba mengejar taksi yang ditumpanginya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas, aku sebenarnya juga tidak mau berpisah darimu"
FLASHBACK ON
"Kakak!! Kak Radian!! Kak!!" Alisa memasuki rumahnya dengan teriakannya yang keras memanggil Radian.
"Alisa, kenapa kamu teriak-teriak kaya gitu. Pelankan suaramu!!" Radian keluar dari kamarnya dengan handuk ditangannya. Sepetinya dia baru saja mandi kalau di lihat dari rambutnya yang basah.
"Kakak, jawab dengan jujur. Apa sebenarnya Kakak tau kalau Mbak Sarah itu bersuami??" Alisa menatap Kakaknya dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa mata kamu itu, sudah berani sekarang menatap Kakak seperti itu??"
"Jawab pertanyaan ku dulu Kak!! Itu semua bohong kan?? Kakak tidak tau kalau Mbak Sarah sudah sudah bersuami jadi Kakak masih berhubungan dengannya kan??" Alisa sangat berharap jika Kakaknya itu tak tau status Sarah.
"Kamu tidak usah ikut campur. Lebih baik kamu urus urusan kamu sendiri!!"
Alisa limbung hampir saja badannya ambruk. Dari jawaban Radian saja Alisa sudah tau kalau Kakaknya itu memang sudah tau status Sarah.
"Kak, kenapa Kakak masih menjalin hubungan dengan Mbak Sarah?? Kakak nggak sejahat itu kan untuk menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga orang??"
"Cukup Alisa!! Kamu tidak tau apa-apa, jadi kamu tidak usah ikut campur!! Sarah itu dari dulu sudah menjadi kekasihku. Tapi dia menikah hanya untuk melunasi semua hutang keluarganya saja. Kita masih saling mencintai seperti dulu, tak ada yang berubah sama sekali!!" Baru kali ini Radian benar-benar mengeluarkan uratnya untuk Alisa.
Kini Alisa tau apa alasan mereka tak kunjung menikah selama ini.
"Tapi sekarang ini menjadi urusanku Kak. Asal Kakak tau, suami Mbak Sarah itu Kakak dari Mas Edgar, pacar aku Kak!!" Ucap Alisa dengan frustasi.
"Apa?? Kadi Edgar adik ipar Sarah??"
"Iya!! Dan sekarang aku sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan keluarganya yang begitu baik kepadaku!!" Alisa meraup wajahnya yang penuh air mata itu.
Sedetik kemudian, wajah Radian justru menampilkan senyuman liciknya.
"Bagus kalau begitu!! Kakaknya kaya raya, jadi hidup kamu pasti enak setelah ini. Terutama keluarganya baik kepadamu"
Alisa gak habis pikir dengan pola pikir Kakaknya itu.
"Tidak, aku tidak akan menjadi penjilat seperti Kakak. Aku tidak mau memanfaatkan Mas Edgar untuk mendapatkan kesenangan seperti Mbak Sarah. Sekarang aku tau, restoran itu di bangun dari uang suami Mbak Sarah kan??"
"Jaga bicaramu Alisa. Kalau kamu tidak mau ya sudah, akhiri saja hubunganmu dengan kekasihmu itu!! Tidak usah mencampuri urusanku lagi!!"
BRAKKK....
Radian membanting pintu kamarnya hingga membuat Alisa terlonjak.
Dia tak menyangka jika hubungan asmaranya harus berakhir dengan cara seperti itu. Alisa lebih memilih mengalah dari pada kelak Edgar dan keluarganya tau jika Kakaknya adalah orang ke tiga dalam pernikahan Erland.
FLASHBACK OFF
Sepanjang perjalanan Alisa terus saja menangis. Melepaskan seseorang yang begitu ia cintai ternyata begitu menyakitkan untuknya.
__ADS_1