Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
135. Sidang terakhir


__ADS_3

Hari yang di nanti-nanti Sarah telah tiba. Sidang ke dua yang harusnya menjadi sidang bacaan putusan hukuman Sarah. Tapi Sarah tak khawatir karena Mamanya sudah berjanji akan menghadirkan pengacara yang akan merubah hasil putusan sidang menjadi hari kebebasannya.


Sarah tak masalah membayar pengacara itu dengan begitu mahal asalkan dia benar-benar bebas dari penjara. Lagipula uangnya saat ini cukup banyak karena hasil dari bagian harta gono gini.


Dengan wajahnya yang tampak berbeda dari persidangan sebelumnya, yang kini tampak cerah dan terus mengulas senyumnya. Sarah siap masuk ke ruang sidang di temani sipir bertubuh gempal seperti sebelumnya.


Begitu ia masuk ke dalam sana, pandangan mata Sarah langsung tertuju pada deretan kursi pengunjung sidang. Mata Sarah menangkap orang-orang yang sangat ia kenal. Semua keluarga mantan suami dan juga madunya ada di sana. Termasuk Erland yang terus berada di sisi Viola.


Sarah tersenyum miring mantap mereka semua. Karena menurut Sarah, kedatangan mereka di sana hanya ingin melihat penderitaannya saja ketika Hakim sudah memvonisnya, ramai-ramai bersorak atas kehancuran Sarah.


"Lihat saja nanti, bukan kalian yang akan menyoraki ku. Tapi aku yang akan menertawakan wajah kecewa kalian"


"Ayo cepat!!"


Sarah kembali berjalan menuju kursinya saat bahunya di dorong sedikit kasar oleh sipir tadi.


Duduk dengan manis dan tenang, seolah-olah ini adalah hari yang akan menjadi titik baliknya. Hari dimana dia akan kembali menghirup udara yang bebas di luar sana. Entah apa lagi yang akan di lakukan Sarah setelahnya, tapi kali ini dia hanya ingin segera keluar dari sana dengan menikmati semua hartanya saat ini.


Setelah beberapa saat menunggu, kini tiba waktunya Hakim memasuki ruangan sidang. Namun hal itu membuat Sarah sedikit takut. Rasti belum juga datang sampai saat ini Sarah juga tidak tau harus menghubungi siapa.


Jantung Sarah semakin berpacu dengan cepat. Berharap Rasti akan segera muncul dari belakangnya.


"Sidang bisa kita mulai"


"Tunggu!! Tunggu Yang Mulia. Sebentar lagi pengacara saya akan datang" Ucap Sarah dengan panik.


"Apa maksud terdakwa?? Pengacara anda sudah duduk di sana" Tunjuk Hakim pada pengacara Sarah.


"Bukan, Mama saya gang akan membawanya kesini. Saya mohon tunggu sebentar lagi" Mohon Sarah sudah ingin menangis.


"Tidak bisa Bu Sarah. Sidang harus segera di mulai. Lagipula penggantian pengacara secara mendadak seperti ini menyalahi prosedur" Jelas pengacara Sarah.


"A-apa?? Bukannya Mama sudah membicarakan masalah ini denganmu??"


Pengacara Sarah itu tampak bingung. Dia saja belum pernah bertemu dengan Mama dari kliennya itu. Bagaimana bisa Sarah mengira kalau ia sudah membicarakan masalah penggantian pengacara.

__ADS_1


"Saya tidak tau apa yang anda maksud Bu Sarah" Ucap pengacaranya.


"Tidak, ini tidak mungkin!!" Sarah terlihat sangat frustasi.


TOK..TOK..TOK..


"Harap tenang. Kita mulai sidangnya!!" Hakim tadi mengambil keputusan dengan memukulkan palunya.


"Mama, apa yang Mama lakukan?? Apa Mama membohongiku??"


Sarah kembali terduduk dengan lemas. Semangat dan juga senyumnya yang tadi terus terukir kini sudah lenyap. Yang ada hanya tatapan kosong dan juga wajahnya yang lesu. Badannya lunglai seperti tak bertulang.


"Sebenarnya apa yang terjadi Bang??" Tanya Viola pada suaminya.


"Sepertinya Sarah ingin mengganti pengacara, dia, menyebut Mamanya. Atau mungkin Mamanya yang berjanji ingin membawakan pengacara pengganti untuknya. Namun tidak ada yang datang ke pengadilan. Tapi itu cuma dugaan Abang" Bisik Erland pada Viola.


"Sudah, jangan pikirkan lagi. Abang yakin kalau hari ini, keputusan Hakim tidak akan mengecewakan"


"Semoga saja Bang " Viola menghembuskan nafasnya secara kasar.


Sarah benar-benar menitikkan air matanya saat Hakim mulai membacakan putusannya.


Tangan viola dan erland juga saling menggenggam dengan erat. Mendengarkan dengan seksama, suara pira yang sudah sedikit bergetar itu.


"Menyatakan terdakwa Sarah. Telah terbukti secara sadar melakukan tindak kejahatan percobaan pemb unuhan. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan penjara selama 10 tahun penjara"


TOk..TOK..Tok..


Sarah langsung terpuruk tertunduk. Dia percaya dengan orang yang salah. Walau Rasti Ibu kandungnya sendiri. Tapi nyatanya tega mengambil semua harta Sarah dan kini meninggalkan.


"Alhamdulillah Mas" Viola memeluk suaminya. Bergantian begitu pun dengan Via dan juga Gendis. Tak lupa Endah yang menyempatkan diri ikut ke sana meski wajahnya pucat.


Sekarang tidak ada harapan lagi bagi Sarah. Dia marah pada Mamanya namun hanya bisa diam. Dia kecewa namun tak bisa apa-apa. Sarah hanya bisa meratapi nasibnya saat ini. Sepuluh tahun ada di penjara bukanlah waktu yang sebentar. Tapi Sarah harus menghadapi itu semua seorang diri. Tidak ada siapapun di sampingnya yang akan mendukungnya.


Barulah kini Sarah merasa menyesal dengan perbuatannya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Walaupun Sarah mengemis ampunan dari Erland dan Viola, itu juga tidak akan mengubah segalanya.

__ADS_1


Setitik air mata turun membasahi pipinya saat masih duduk di kursi penghakimannya. Menangisi penyesalannya yang datang sungguh sangat terlambat.


Sidang yang hanya berjalan selama dua kali itu kini telah usai. Dari awal juga sudah bisa di tebak jika pemenangnya adalah pihak penggugat. Kini sudah waktunya Sarah di giring ke dalam selnya yang sesungguhnya.


Sebelum sopir menghampiri dan sering menariknya tak manusiawi, Sarah sudah berdiri terlebih dahulu setelah Hakim keluar dari ruang sidang.


"Mbak Sarah!!"


Sarah berbalik karena mendengar suara seseorang yang sangat familiar memanggilnya.


"Alisa??"


"Gimana Mbak?? Sudah merasakan akibat dari perbuatan Mbak Sarah??"


Sarah mendengus, benar dugaannya jika mereka hanya akan mengolok-oloknya saja.


"Tenang Mbak, jangan marah dulu. Aku menemui Mbak Sarah hanya karena ingin memberikan titipan dari Kakakku"


Alisa mengulurkan sebuah amplop berwarna putih kepada Sarah.


"Apa ini??" Sarah meminta penjelasan dari Alisa.


"Baca sendiri saja"


Dengan kedua tangannya yang sudah di borgol, Sarah menerima surat itu dari Alisa.


"Oh ya satu lagi, Kak Radian sebentar lagi akan menikah"


"A-apa?? Menikah??" Sarah gak menyangka jika Radian akan melupakannya secepat itu. Bahkan sudah berani mengambil keputusan untuk menikah.


"Hemmm. Semua orang berhak melanjutkan hidup dengan pilihannya masing-masing. Mbak Sarah juga, tapi sayangnya Mbak Sarah memilih pilihan yang salah dan malah berakhir di dalam sini"


"Sepertinya Mbak Sarah sudah harus pergi. Baik-baik di dalam sana ya Mbak. Semoga saat bebas nanti, Mbak Sarah bisa menjadi orang yang lebih baik lagi"


Satu-satunya orang yang mau menghampiri Sarah meski dengan maksud memberikan surat dari Radian, tapi hanya Alisa yang mengatakan hal itu kepadanya bukan Mamanya.

__ADS_1


Sarah tak menjawab Alisa. Pandangannya sudah kosong seperti tak ada isi lagi di dalam otaknya.


__ADS_2