
"Sebenarnya Abang mau bawa aku kemana sih??"
Sarah semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Erland. Bagaimana tidak, saat ini matanya sedang di tutup selembar kain sejak dari rumah tadi.
Erland yang sengaja melakukan itu karena ingin membawa Viola ke suatu tempat katanya. Erland hanya memberi Viola sebuah gaun untuk di kenakannya malam ini, tanpa Erland akan membawanya ke mana.
"Sebentar lagi kita sampai. Awas ada tangga di depan!!"
Viola benar-benar seperti bayi yang sedang belajar berjalan karen terus tertatih-tatih sedari tadi.
"Ini nggak aneh-aneh kan Bang?? Kamu nggak akan dorong aku ke jurang kan Bang??" Tanya Viola mengkhawatirkan dirinya sendiri.
"Enggak lah sayang. Masa Abang tega dorong istrinya sendiri ke jurang" Erland menahan geli karena sejak tadi Viola selalu menuduhnya ingin mencelakai Viola.
"Kok lama banget sampainya Bang. Aku udah capek lho jalan kaya gini" Keluh Viola.
"Sudah sampai kok. Sekarang Abang buka dulu penutup matanya"
Viola merasakan tangan Erland bergerak melepaskan tali yang tersimpul di belakang kepala.
"Bang, i-ini??"
Begitu mata Viola terbuka, di depannya langsung di suguhkan sebuah meja lengkap dengan dua kursi yang saling berhadapan. Lilin-lilin yang menyala di sekelilingnya membuat sekitarnya terlihat terang meski di malam hari. Jangan lupakan puluhan bahkan, ratusan tangkai mawar merah di rangkai dengan indah mengelilingi mereka berdua.
"Iya, Abang yang siapkan semua ini buat istri Abang tercinta" Erland meraih kedua tangan Viola.
"Tapi dalam rangka apa Bang?? Ini juga bukan hari ulang tahunku" Viola tidak merasa ada yang spesial di hari ini.
"Memang bukan" Erland seperti tak pernah bosan memandangi wajah Viola, apalagi saat ini Viola yang sengaja memoles wajahnya dengan lebih berani sehingga membuat Viola lebih memancarkan kecantikannya.
"Lalu??" Viola masih mencoba mengingat momen penting yang terjadi di tanggal ini.
"Sayang, empat tahun yang lalu, tepat di tanggal ini, Abang menikahi kamu yang tak sadarkan diri di rumah sakit"
Viola tampak terkejut, karena dirinya benar-benar melupakan hari itu. Hari dimana dirinya dan Erland akhirnya dipersatukan oleh takdir.
__ADS_1
"Abang maaf aku.."
"Ssttttt.." Erland menaruh jari telunjuknya di bibir Viola.
"Tidak usah minta maaf. Kamu cukup dengarkan Abang saja" Erland berkata begitu dekat hingga nafasnya yang beraroma mint itu menerpa wajah Viola.
"Viola, istri Abang, maafkan semua kesalahan Abang ya?? Meski Abang sudah mengatakan kata maaf berkali-kali padamu, tapi Abang tidak akan pernah bosan. Abang juga akan terus mengucapkan terimakasih karena sudah mau bertahan di sisi Abang meski kita sempat berpisah selama tiga tahun. Terimakasih juga sudah menjadi sumber kebahagiaan Abang. Juga untuk pengorbanan kamu untuk mengandung dan melahirkan anak Abang"
Viola menggeleng pelan "Aku tidak sesempurna tu untuk menerima semua pujian dari kamu ini Bang. Aku hanya manusia biasa"
"Kamu memang manusia biasa sayang, tapi cintamu sungguh luar biasa. Cinta kamu yang menuntun kamu untuk tetap mempertahankan pernikahan kita ini"
"Sebenarnya aku juga tidak tau kenapa dulu tidak menggugat mu lebih dulu. Padahal bisa saja aku lepas darimu dengan mudahnya. Tapi waktu itu tidak pernah terlintas sedikitpun di otakku tentang perceraian kita"
Erland menarik Viola agar lebih mendekat kepadanya.
"Itu tandanya Allah tidak mengijinkan kita berpisah sedari awal"
Cup...
"Kalau sekarang, aku juga tidak mau berpisah"
"Abang juga tidak akan pernah membiarkan kamu lepas dari Abang"
Viola menghambur memeluk tubuh berotot yang begitu harum milik Erland. Menurut Viola walau Erland tak memakai parfum, tubuhnya selalu mengeluarkan feromon yang menurutnya begitu wangi dan membuatnya betah berada di dekat suaminya itu.
"Sayang"
Erland sedikit menjauh dari Viola membuat Viola mengerut keheranan.
Namun setelah itu, Erland bersimpuh dengan menekuk satu kakinya. Tangannya mengambil sesuatu dari saku jasnya.
"Sayang, maafkan Abang jika yang Abang lakukan ini sungguh amat terlambat. Tapi itu semua tidak menyurutkan niat Abang untuk tetap melakukan hal ini di hadapan kamu. Meski kamu mengatakan ini hanyalah sia-sia belaka, atau kamu tak butuh Abang tak peduli"
Erland menunjukkan pada Viola apa yang dia bawa di tangannya. Kotak beludru berwarna navy itu menyimpan sebuah cincin berlian di dalamnya.
__ADS_1
"Abang hanya ingin mengungkapkan kebahagiaan Abang karena memiliki kamu dengan melakukan ini"
Viola terpana dengan apa yang Erland lakukan saat ini. Di depannya pria itu sudah menyodorkan cincin kepadanya. Rasa bahagia membuat Viola hampir menitikkan air matanya.
"Viola Tania Raharja, maukah kamu menjadi wanita satu-satunya dalam hidup Abang?? Bersediakah kamu menjalani sisa umur kita bersama-sama, selalu di sisi Abang dan menjadi tempat Abang pulang??"
Viola tak kuasa menahan rasa harunya. Seorang wanita yang biasanya akan tertawa bahagia ketika di lamar oleh kekasihnya, namun Viola justru menangis hingga hampir mengeluarkan suara isakkannya.
"Berikan jawaban kamu sayang!! Jangan biarkan Abang menunggumu terlalu lama"
"Abang melamar ku?? Bukannya aku sudah menjadi istrimu bang?? Kenapa aku harus menjawabnya lagi??" Viola juga merasa geli dengan apa yang di lakukan Erland. Meskipun Viola mengakui jika Erland sangat romantis kali ini, tapi kenapa dia melamar istrinya sendiri.
"Jawab saja sayang. Apa kamu tega menghancurkan apa yang sudah Abang siapkan ini??" Kesal Erland karena Viola tak kunjung menjawabnya sementara tangannya sudah terasa kebas.
Viola sempat terkekeh di antara tangisannya setelah melihat wajah Erland yang sudah mulai kesal.
"Iya Bang Erland, aku terima lamaran Abang meski sudah kadaluarsa. Aku mau, aku mau menjadi istrimu, temanmu, tempat keluh kesah mu. Apapun itu asal denganmu aku mau" Ucap Viola dengan lugas.
Erland bernafas lega setelah mendengar semua itu langsung dari bibir Viola. Mereka memang sudah menikah, tapi apa yang sedang mereka lakukan saat ini adalah hal yang baru pertama kali mereka lakukan.
Erland meraih tangan kanan Viola, karena tangan kirinya sudah tersemat cincin pernikahan mereka.
"Jangan pernah lepaskan kedua cincin ini dari tangan kamu selama Abang masih hidup di dunia ini sayang" Ucap Erland seraya memasangkan cincin berlian itu di jari manis Viola.
Viola hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan Erland itu. Permintaan yang sangat mudah sebenarnya, namun terdapat beban yang sangat berat di dalamnya. Menjaga cincin itu tetap melingkar di jarinya memang mudah, namun menjaga hubungan mereka bukanlah hal yang mudah. Namun Viola tidak takut untuk memberikan janji itu kepada Erland.
Erland mendaratkan ciumannya pada punggung tangan Viola.
"Terimakasih sayang"
Mereka berdua kembali menyatukan tubuh mereka dalam pelukan yang hangat. Rasanya tak ada bosannya bagi Erland untuk mendekap tubuh yang begitu pas dalam pelukannya itu.
"Sekarang kita makan dulu, aku tidak mau istriku pingsan karena menahan lapar"
Erland menggoda Viola karena dia mendengar suara perut yang pastinya bukanlah miliknya.
__ADS_1
Wajah Viola hanya bisa memerah sebagai reaksi dari ucapan Erland itu. Betapa malunya dia karena suara perutnya mengganggu momen romantis mereka.