
Hati ini sidang pertama Sarah atas tuntutan Viola akan di gelar. Sesuai janji Erland, Viola juga akan turut hadir di sana. Untuk pertama kalinya juga Viola akan bertatap muka langsung dengan Viola setelah pemeriksaa di kantor polisi beberapa waktu yang lalu Viola tak di ijinkan Erland untuk menemui Sarah.
Wajah Viola terlihat semakin pucat saat memasuki ruang sidang. Bukan karena sakit, melainkan karena kegugupannya melawan orang dalam sebuah persidangan untuk pertama kalinya. Bukan juga karena takut menghadapi wanita itu. Tapi lebih ke gugup jika Sarah tidak mendapatkan hukuman yang setimpal.
Tangan Viola yang dingin itu di genggam oleh Erland. Pria itu mencoba memenangkan istrinya yang terlihat sangat gugup.
"Jangan khawatir, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Hilangkan rasa gugup itu dalam diri kamu. Jangan tunjukkan jika kamu lemah di hadapan Sarah" Ucap Erland pada istri satu-satunya itu.
"Benar kata Erland Vi. Nanti saat kamu bersaksi juga harus tegas dan tidak boleh terlihat lemah di depan sana" Sealin bersama Erland, Viola juga di temani oleh Yovi di dalam sana. Kali ini tanpa Endah. Karena wanita itu sedang mabuk di awal kehamilan katanya.
"Iya Bang aku ngerti" Saur Viola sambil mengatur nafas untuk menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama setelah itu. Sidang pun akhirnya di mulai. Sarah juga sudah tiba di kursi penghakiman.
Sementara Viola dan Erland duduk di sebelah pengacara mereka. Tepat berada di sisi kanan Sarah yang duduk di depan Hakim.
Dapat Viola lihat jika wanita itu tampak berbeda dari biasanya. Meski menggunakan baju yang rapi dan rambutnya yang di ikat separuh ke belakang namun wajahnya terlihat lusuh dan tak terlihat dalam keadaan Baik.
Tapi rasa empati di hati Viola sudah hilang untuk wanita itu. Jik adia mencelakai dirinya seorang, Viola akan memikirkan lagi untuk menyeret Sarah ke dalam jeruji besi. Namun karena Sarah telah berani menyentuh anaknya. Dengan sengaja ingin melenyapkan anak dalam kandungan Viola. Maka hati Viola sudah membatu untuk Sarah.Bahkan hewan pun akan marah jika anaknya di usik. Bagaimana dengan Viola yang seorang manusia.
Pembacaan tuntutan telah di lakukan oleh pengacara Erland. Pembacaan nota pembelaan juga sudah di lakukan oleh Sarah. Semua bukti yang Erland miliki termasuk rekaman cctv saat Sarah secara sembunyi-sembunyi membuang botol yang Yovi temukan waktu itu.
Viola bersandar dengan lesu karena Hakim belum juga memberikan putusan pada sidang yang telah berjalan selama tiga jam itu.
Menurut Hakim, sidang itu akan di gelar lagi minggu depan karena di dalam rekaman cctv itu tidak terlihat jelas saat Sarah menuangkan cairan di dalam botol ke minuman Viola. Hanya terlihat saat Sarah membuang botol itu saja. Jadi menurut Hakim, mereka masih harus menimbang semua itu sebelum membacakan putusan untuk Sarah.
"Kenapa sayang??" Erland melihat Viola yang tampak lemas.
__ADS_1
"Nggak papa Bang"
"Kamu kecewa ya karena putusannya masih minggu depan??"
Viola mengangguk, dia ingin masalah ini cepat selesai. Tapi masih harus menunggu seminggu ke depan tentu saja perasaannya tak kunjung tenang. Viola bukan wanita spek bidadari yang besar hati dan pemaaf. Dia juga manusia yang bisa marah dan kecewa. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Sarah. Viola hanya merasa jika Sarah akan benar-benar berubah jika sudah merasakan di penjara yang sesungguhnya.
"Kamu tenang saja. Sekarang ataupun minggu depan, Sarah akan tetap menerima hukuman yang setimpal. Percaya sama Abang" Erland mengusap pipi Viola sebentar sebelum mereka meninggalkan ruang sidang.
Tapi mata Viola tak sengaja bersinggungan dengan mata Sarah yang sedang menatapnya tajam. Meski jarak mereka cukup jauh namun Viola bisa dengan jelas menafsirkan tatapan Sarah itu penuh kebencian.
Untuk beberapa saat mereka berdua terus beradu pandangan yang bisa mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Jelas ada amarah dalam diri mereka berdua.
Jika Sarah marah karena masih menganggap Viola yang menghancurkan hidupnya hingga dia di perlakukan layaknya hewan di dalam bui. Namun kemarahan di dalam diri Viola lebih kepada kecewa yang amat mendalam. Dia tidak menyangka jika Sarah bisa kehilangan anti patinya pada wanita yang sedang mengandung bayi yang tak berdosa.
"Ayo kita pulang sayang" Erland sengaja memutus kontak mata di antara mereka berdua. Dia tidak ingin istrinya semakin terluka jika melihat seseorang yang telah mencelakainya.
Tangan Sarah yang telah di borgol itu mengepal kuat. Rasa cemburu, benci dan marah mengguyur hati Sarah secara bersamaan.
Kali ini dia benar-benar sendiri. Tak ada suami ataupun Radian si laki-laki yang bertahun-tahun menemaninya. Bahkan Rasti juga tak menampakkan diri di sidang perdana putri satu-satunya itu.
Dengan kaki yang terseok-seok, Sarah di tarik begitu saja untuk keluar dari ruang sidang. Sipir wanita bertubuh gempal itu sama sekali tak menggunakan perasaannya saat membawa Sarah melewati pintu yang berbeda dengan yang di lewati Viola dan Erland.
*
*
*
__ADS_1
"Ngapain kamu minum kaya gini??!!"
Yovi melempar plastik berisi obat ke lantai dengan kasar hingga membuat Beca sedikit terkejut. Dari wajah Yovi yang merah padam saja sudah Beca tebak jika pria itu marah besar saat ini.
"Ya buat jaga-jaga aja" Beca mencoba mengendalikan dirinya dari keterkejutan yang baru saja dia alami.
"Jaga-jaga apa?? Biar kamu nggak hamil gitu??" Yovi masih meninggikan suaranya. Bukan karena benci pada Beca, namun dia kesal karena Beca mencoba meminum pil penunda kehamilan selama beberapa hari ini.
"Siapa tau kamu nggak jadi tanggung jawab. Ya kau harus cari cara dong. Mana mau aku kalau hamil tanpa suami" Jawab Beca mencoba acuh meski dadanya sudah berdetak kacang karena ketakutan. Baru kali ini dia melihat Yovi semarah itu.
"Kamu nggak ngaca kasus Sarah??"
"Ya beda dong!! Kalau Sarah kan memang sudah jelas dia hamil. Kalau aku kan belum tentu hamil makanya aku mencoba mencegahnya. Kalau aku memang mengandung anakmu, mana mungkin aku tega menggugurkannya" Beca menunduk mengambil obat yang di buang Yovi tadi.
Tapi naas, Yovi bergerak lebih cepat dengan menendang plastik itu menjauh.
"Jangan coba-coba Beca!! Aku tetap akan menikahi mu walaupun dia belum tumbuh di dalam perutmu" Tegas Yovi tepat di depan wajah Beca.
"Tap..."
"Ayo ikut!!" Yovi menarik tangan Beca begitu saja untuk mengikutinya.
"Kemana??" Beca hampir saja terjatuh karena tak bisa mengimbangi langkah Yovi.
"Mengenalkan mu pada calon mertua mu!!"
"HAH??"
__ADS_1