Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
144. Terpuruk


__ADS_3

Sudah berhari-hari berlalu, namun Beca masih diselimuti duka. Dia masih diam dengan keterpurukannya. Baru kali ini dia kehilangan semangat hidupnya. Meski Yovi hanya singgah sebentar di dalam hidupnya, namun pria itu mampu membuat hati dan pikiran Beca terpaut sejauh ini.


Beca kembali membuka galeri ponselnya. Memandangi satu-satunya foto yang Beca punya bersama Yovi. Foto yang di ambil dua hari sebelum kejadian naas itu terjadi. Saat itu Yovi memaksa Beca untuk berfoto dengannya saat menggunakan gaun pengantinnya.


"Apa itu firasat kamu Kak?? Saat itu kamu terus membicarakan hal yang aneh-aneh. Kamu juga bilang kalau foto ini akan menjadi kenang-kenangan. Dan benar saja, foto ini memang menjadi kenang-kenangan buat aku"


Beca terus bermonolog di dalam kamarnya. Sudah beberapa hari sejak kepergian Yovi, Beca menjadi pendiam dan jarang keluar kamar. Via bahkan sampai berkali-kali meminta Viola datang untuk membujuk Beca agar mau keluar kamar untuk sekedar mengisi perutnya.


Seperti siang ini, Viola dan Ezra datang ke rumah Via dengan di antar oleh Erland.


"Cucu Oma udah dataaaaangg" Via langsung mengambil alih Ezra dari gendongan Viola.


"Cucu Oma makin ganteng aja nih yaa" 0Via menghujani bayi kecil itu dengan ciuman-ciuman kecil.


"Papi di mana Ma??" Tanya Erland yang tak melihat Dito di ruang tamu.


"Di taman belakang. Lagi bersihin kandang burungnya"


"Kalau gitu, Erland cari Papi dulu ya Mi. Abang kebelakang ya yank"


Kedua wanita itu hanya mengangguk. Mereka tau jika Erland tidak akan satu server jika berada di antara Via dan Viola, makanya dia mencari Dito.


"Gimana Ma?? Dia udah keluar??" Via paham siapa yang di maksud Viola.


"Belum, sejak tadi pagi dia belum juga keluar. Sarapan juga belum sampai sekarang. Mama takut dia kenapa-kenapa Vi"


"Ya udah, Vio ke atas dulu. Titip Ezra ya Mi"


"Iya, nggak usah khawatir"


Viola menuju kamar Beca yang berada di lantai dua rumahnya. Kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar milik Viola dulu.


Tok..Tok..Tok..


"Beca, ini Viola. Boleh aku masuk??"

__ADS_1


Tak ada jawaban, namun tak berapa lama, pintu kamar itu terbuka.


Wajah putus asa itu langsung menyambut Viola. Beca yang memiliki kulit wajah putih bersih itu kini terlihat berbeda. Wajahnya terlihat lusuh dan lingkaran hitam di kedua kelopak matanya terlihat sangat jelas.


Beca menggeser tubuhnya ke sampung. Meski belum ada sepatah kata pun keluar dari bibir Beca, namun Beca membiarkan Viola masuk ke dalam kamarnya.


"Nggak laper??" Tanya Viola sembari duduk di sofa yang tadi di gunakan Beca untuk mengenang Yovi.


"Udah aku tebak, kalau kamu kesini cuma mau suruh aku makan. Kalau aku lapar pasti aku makan Vi, tenang aja. Tapi ya memang aku nggak lapar" Jelas Beca berulang kali seperti hari-hari sebelumnya.


"Oke aku percaya kalau kamu nggak lapar. Tapi tubuh kamu butuh asupan. Lihat wajah dan badan kamu udah kaya gini, kasihan sama diri kamu sendiri Ca!! Please, pikirin masa depan mu juga. Lihat Mami, dia begitu mencemaskan kamu. Dia sayang sama kamu, dia nggak mau kamu kenapa-napa"


Viola berdiri mendekati Beca yang berdiri di depan jendela.


"Kalau kamu merasa sendirian kamu salah. Lihatlah Mami dan Papi yang selalu menghkawatirkan kamu, mereka selalu ada untuk kamu Beca. Apa kamu nggak bisa lihat ketulusan mereka??"


Viola menarik bahu Beca hingga Viola bisa menatap wajah sendu itu dengan jelas.


"Masih mau kaya gini terus??" Tanya Viola dengan kesal.


Wajah yang sendu itu bedubah semakin mendung. Kini tetes demi tetes air mengalir dari mata Beca.


Viola langsung merengkuh Beca ke dalam pelukannya. Dia merasa bersalah karena telah menunggikan suaranya pada Beca. Harusnya dia tau kalau Beca sedang rapuh saat ini.


"Gimana kalau nanti aku benar-benar mengandung anak Kak Yovi?? Bagaimana bisa aku melewati ini sendirian tanpa ada dia di sisiku Vi?? Anakku nantinya tidak bisa nerasakan kasih sayang Ayahnya sejak di dalam kandungan. Rasamya aku tidak sanggup Vi. Aku harus bagaimana??"Beca terisak di dalam pelukan Viola. Sama seperti saat pertama kali mendengar kabar menunggalnya Yovi.


"Beca, dengarkan aku!!" Viola mengurai pelukannya.


"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Ada aku di sini, selama aku di samping kamu. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak perku memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Kalau kamu sampai hamil, terima dengan lapang dada, dia akan menjadi penggati Ayahnya menjadi satu-satunya keluargamu. Tidak perlu memikirkan omongan orang lain. Kamu Beca, kamu wanita yang kuat sejak dulu, jangan terus terpuruk karena kepergian Yovi. Aku yakin kalau Yovi juga tidak akan bahagia melihat kamu seperti ini. Jadi aku mohon Beca, kembalikan lagi semangat hidupmu. Kita selalu menunggu mu di luar sana. Mulailah merangkai hidup yang baru. Aku yakin kalau Allah pasti punya rencana lain di balik ini semua"


Viola mengusap air mata Beca yang membasahi wajah mulus bak artis Korea itu.


"Apa yang Viola katakan memang benar aku tidak boleh terus seperti ini. Aku yakin Kak Yovi juga sudah tenang di sana. Aku tidak mau memperberat langkahnya dengan memupuk keterpurukan ini"


"Maafkan aku karena sudah membuat kalian semua khawatir"

__ADS_1


"Tidak papa, yang penting setelah ini kamu harus bangkit lagi. Tunjukkan pada Mami dan Papi, pasti mereka akan bahagia sekali" Viola kembali menunjukkan senyumnya yang menawan.


"Tapi Vi"


"Kenapa??"


"Gimana caranya bilang sama Mami dan Papi kalau seandainya aku hamil?? Aku takut emreka akan kecewa sama aku Vi" Beca kembali menunduk sedih.


"Kamu tidak perlu khawatir Beca. Mami sudah tau"


Beca tersentak karena suara lembut itu menyahut begitu saja dari pintu kamarnya.


"Mami??" Ucap Beca dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Viola sudah menceritakan semuanya. Mami yang memaksanya karena Mami sempat mendengar beberapa perkataan kamu yang begitu aneh saat di hotel dan di rimah sakit" Via masuk ke dalam kamar Beca. Sebenarnya sudah sejak tadi dia di sana, namun dia tidak berani untuk ikut bersinggungan dengan jedua anaknya itu.


"Maafkan Beca Mi" Beca benar-benar ketajutan hingga menunduk begitu dalam.


"Mami sudah mendengar apa yang terjadi pada kamu hingga peristiwa itu bisa terjadi. Tapi Mami tidak akan menghakimi kamu. Mama hanya minta sama kamu untuk menjaga kondisi badan kamu. Jika benar di dalam rahim kamu sudah tumbuh janin, maka dia tidak akan kekurangan nutrisi dari kamu. Ngerti kan sekarang, kenapa Mami terus memaksa kamu untuk makan??" Beca mengangguk pelan.


"Semua yang di katakan Viola juga benar adanya. Mami tidak akan mengulangnya lagi. Yang jelas kami semua selaku ada untuk kamu"


"Makasih Mami, Vio. Kalian memang ornag-orang yang dikirimkan Tuhan untukku"


Mereka bertiga saling berpelukan, menyalurkan kasih sayang mereka satu per satu.


"Tapi Vi, apa Beca belum bisa di cek sekarang??"


"Bisa Mi, karena kehamilan bisa terdeteksi sejak usia dua mingguan. Tapi sejak kemarin, kindisi Beca belum memungkinkan. Jadi Viola belum berani mengajak Beca untuk periksa ke Dokter" Jelas Viola.


"Kalau gitu, lebih baik besok kamu ke Dokter dulu Ca. Biar perasaan kamu lebih tenang kalau sudah tau hasilnya seperti apa"


"Tapi Mi, Beca takut"


"Justru kalau kamu terus menghindar seperti ini, yang ada kamu semakin kepikiran Beca. Apapun hasilnya nanti, kita akan tetap menemani kamu. Jadi jangan khawatri. Kalau kamu tidak hamil ya Alhamdulilah, bararti Allah amsih memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata hidupmu lagi. Tapi kalau hamil, kita bisa pikirkan langkah kedepannya bagaimana" Via begitu lemnut menasehati Beca.

__ADS_1


"Pikirkan dengan baik, apa kata Mami itu Ca"


"Baiklah, besok antar aku ke Dokter Vi"


__ADS_2