
"Sarah!!" Erland kembali ke meja makan lagi setelah tak berhasil mengejar Viola.
"Kenapa sih Mas??" Sarah tetap tenang menikmati sarapannya.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu di depan Viola??" Erland benar-benar menatap Sarah dengan tajam.
"Mas, kenapa sih kalian bersikap aneh?? Bukankah wajar kalau kita melakukan hubungan suami istri?? Kenapa kalian justru bersikap seolah-olah aku melakukan kejahatan??" Sarah menantang mata tajam milik Erland itu.
"Tapi maslahatnya aku tidak merasa melakukan itu kepadamu. Tadi malam aku tertidur, bahkan tidak terbangun sama sekali sampai pagi. Bagaimana bisa kita melakukan itu??"
Erland belum juga mendapatkan ingatannya tadi malam. Yang dia ingat hanya rasa kantuknya tadi malam di ruang kerjanya. Lalau berjalan dengan Sarah menuju kamarnya. Hanya sebatas itu tak ada yang lain.
"Kamu jahat Mas!! Aku sudah melayani kamu semalaman tapi kamu tidak mengakuinya sama sekali?? Benar-benar tega kamu!!" Mata Sarah sudah berkaca-kaca, Sarah langsung pergi meninggalkan Erland dengan tangisannya yang mulai terdengar.
"Aakkhhhh!!!" Erlang tampak sangat fristasi dengan mengacak rambutnya yang sudah sangat rapi.
Sementara itu di dalam kamarnya, Viola tidak menangis atau mengeluarkan air matanya sama sekali. Hanya ada kilatan-kilatan menyeramkan dari matanya yang memerah itu.
Bukan masalah baginya jika Erland akan bers***buh dengan Sarah karena memang dia juga istrinya. Lagipula dari awal juga mereka sudah sering melakukannya. Yang Viola tidak suka hanyalah kebohongan yang dilakukan Erland.
"Untuk apa kemarin kamu bilang tidak menyentuh dia selama dua bulan?? Untuk apa juga kamu bilang jika kamu tidak bisa bangun jika melakukannya dengan Sarah?? Sungguh kamu memang pembual yang hebat!!" Gumam Viola dengan tangannya yang mencengkeram seperi sangat kuat.
Dug..
"Awww"
Viola merasakan pergerakan dari dalam perutnya. Memang bukan hanya sekali Viola merasakan gerakan janinnya itu. Tapi kali ini merupakan gerakan yang paling keras menurutnya.
"Kamu tau kalau Mama lagi Marah ya?? Kamu nggak mau Mama marah??" Viola mengusap perutnya dengan lembut.
"Sekarang kamu sudah semakin besar ya, sampai kuat banget tendang Mamanya" Suara Viola sangat lembut menyapa anaknya.
"Sayang sekali, Papa kamu belum bisa merasakan tendangan kamu ini. Biarin aja, mama nggak suka orang tukang bohong kaya Papa. Besok tendangin Papa buat Mama ya. Jangan lupa, harus yang keras, oke??"
Sedetik kemudian Viola menyadari kata-katanya. Bagaimana mungkin dia sudah menghasut anaknya untuk berbuat kurang ajar dengan Ayahnya sendiri.
Viola terus mengusap perutnya sambil pikirannya menerawang jauh. Dia tak menyangka jika pria yang ia cintai selama ini mempunyai sifat suka membual seperti itu. Apa perpisahan selama tiga belas tahun mampu mengubah sifat seseorang, atau mungkin Viola yang tak pernah tau sifat Erland yang sesungguhnya.
"Baiklah, mulai sekarang berbuatlah sesukamu, aku juga akan melakukan apapun sesukaku" Viola menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya berlahan. Pertanda di benar-benar yakin dengan ucapannya itu.
__ADS_1
*
*
*
Malam harinya, Erland langsung menuju kamar Viola. Kamar hang seharunya ia tempati untuk malam ini. Pemiliknya adalah seseorang yang sejak tadi pagi mengacaukan pikirannya. Pesan dan panggilan telepon dari Erland saja tidak di gubrisnya sama sekali.
Erland jelas tau apa penyebab Viola seperti itu, pastinya karena mengira Erland berbohong kepadanya. Tapi Erland juga tidak bisa apa-apa, Erland sendiri bingung bagaimana menjelaskan semuanya kepada Viola sedangkan dia sendiri tidak punya bukti untuk membantah Sarah. Satu-satunya yang bisa membantah adalah ingatannya sendiri. Namun Erland hanya mampu mengingat sampai Sarah membantunya keluar dari ruang kerjanya. Hanya itu saja, selebihnya tidak ingat lagi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang, buka pintunya ini Abang!!"
Erland mencoba membujuk Viola agar membuka pintu kamarnya.
"Sayang, ijinkan Abang masuk. Malam ini kan Abang tidur di sini, boleh Abang masuk ya??"
Tok.. Tok.. Tok...
Masih tak ada jawaban atau pergerakan sama sekali dari dalam sana.
"Yank, kamu harus percaya sama Abang. Sungguh Abang tidak bohong sama kamu. Ijinkan Abang untuk menjelaskannya sama kamu" Erland masih terus berbicara di depan pintu.
Malang yang di terima Erland, Viola sama sekali tak tergerak hatinya untuk membuka pintu untuknya.
Viola bahkan sengaja melewatkan makan malamnya hanya demi menghindari Erland.
"Sayang, ini sudah jam sebelas malam loh. Kamu nggak makan dulu?? Kamu nggak lapar??" Erland kembali nongkrong di depan kamar Viola setelah mandi dan mengganti bajunya.
"Kamu udah tidur yank??" Erland sama sekali tak menyerah walau tak ada sahutan sekalipun dari Viola.
"Huffttt...." Erland menggembungkan pipinya menyerah. Dia kembali duduk pada sofa yang tepat menghadap ke kamar Viola. Seperti dejavu, dia pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.
*
*
*
__ADS_1
*
Hari berganti hari berlalu, sudah satu bulan lamanya hubungan Viola dan Erland juga tak kunjung membaik. Viola tetap menghindar dari Erland, bahkan tak jarang Viola akan keluar kamar setelah Erland benar-benar pergi. Erland juga tak pernah di ijinkan untuk masuk ke dalam kamar Viola.
Usia kandungan Viola juga kini sudah memasuki usia tujuh bulan. Sebentar lagi mereka akan mengadakan acara tujuh bulanan beberapa hari setelah pernikahan Endah dan Vino di adakan. Meski hubungan Viola dan Erland kurang baik untuk mengadakan acara yang mengharuskan mereka berdekatan, namun Viola tak khawatir, karena dirinya bisa pura-pura baik-baik saja di depan keluarganya.
Selama satu bulan ini, tempat paling favorit bagi Erland adalah sofa di depan kamar Viola. Seperti biasa, sekarang Erland juga masih duduk di sana dengan pekerjaannya. Dia akan terus menunggu di sana sampai pagi. Erland rela tidur di sofa meski di pagi hari badannya akan terasa remuk semua.
Kadang di saat menunggunya seperti itu, pernah juga Erland mendapati Viola keluar kamar untuk mengambil makanan dari dapur. Namun tak lama setelah itu, Viola langsung kembali ke kamarnya lagi.
Mungkin malam ini juga termasuk malam keberuntungan bagi Erland karena dia mendengar suara pintu di buka dari dalam.
Tak.lama setelah itu muncul wanita hamil dengan badannya yang sedikit berisi namun tertutup gaun tidurnya yang berlengan panjang.
Wanita yang sangat dirindukan Erland itu dengan santainya lewat di depan Erland, seolah tak menganggap keberadaan Erland.
"Sayang, kamu mau ke depan?? Kamu pesan makanan?? Kenapa ngga minta Abang aja yang belikan??" Viola tetap tuli tak mau mendengar apa yang Erland katakan.
"Hay Vi, ini bakso kesukaan kamu"
Betapa terkejutnya Erland ketika yang muncul di balik pintu itu adalah Yovi. Hatinya mencelos, terasa sangat sesak. Viola bahkan meminta Yovi untuk membelikan untuknya padahal Erland saja ada di rumah sejak tadi
"Makasih banget ya Kak" Viola berbinar menatap makanan kesukaannya yang di bawakan Yovi itu.
"Kenapa lo bela-belain beli bakso buat Viola malam-malam begini??" Tanya Erland berusaha menahan kemarahan dalam dirinya.
"Sorry man, tadi gue sama Beca lagi makan bakso dan kebetulan Viola juga pingin jadi ya gue bawa sekalian buat dia" Jelas Yovi namun belum bisa di terima otak Erland yang sudah terkontaminasi oleh kecemburuan.
"Ya udah Vi aku pulang dulu ya?? Duluan ya men!!" Yovi sempat menepuk bahu Erland namun langsung di tepis oleh Erland.
"Hati-hati ya Kak" Ucapan Viola itu hanya diangguki Yovi.
Viola yang acuh tak acuh itu langsung berbalik pergi dari sana. Dia terlihat sangat tidak peduli dengan pria yang berstatus suaminya itu.
"Viola, apa kamu sangat membenci Abang sampai membeli makanan pun kamu lebih memilih orang lain dari pada suami kamu sendiri??" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Erland itu terdengar sangat putus asa.
Viola hanya menghentikan langkahnya, tanpa berbalik dan tanpa jawaban.
Sedetik kemudian Erland yang pergi dari ruang tamu itu, rasa kecewanya membuat dia melewati Viola begitu saja tanpa menoleh pada Viola sedikitpun.
__ADS_1