
Hari ini Beca benar-benar menepati janjinya untuk ke Dokter. Dengan di antar oleh Viola yang semalam memutuskan untuk menginap di Rumah Via lagi.
Erland yang tak kuasa menolak keinginan istrinya hanya menurut saja. Dia sekarang ini hanyalah budak cinta yang tak bisa berkutik jika istri tercintanya meminta suatu hal.
"Abang nanti pulang jam berapa?? Atau nanti nggak usah jemput ke sini aja, biar aku pulang di antar sama supir Papi"
Erland memang belum aktif lagi ke kantor karena dia memang sudah berjanji untuk menemani Viola mengurus Ezra hingga berumur dua bulan. Namun hari ini ada maslaah yang harus di selesaikan Erland sendiri di kantornya. Jadi hari ini Erland akan ke kantor sementara Viola akan mengantarkan Beca ke Rumah sakit.
"Enggak, pokoknya kamu harus pulang sama Abang!! Tunggu sampai Abang pulang, kamu jangan pulang lebih dulu!!"
"Iya Abang sayang" Jawab Viola sambil merapikan dari yang di kenakan Erland.
Erland yang mendapat panggilan sayang langsung tersipu malu. Jarang-jarang Viola mau memanggilnya seperti itu.
"Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Abang"
Cupp..
Viola mengecup pipi kiri Erland. "Iya Abang bawel"
"Kamu ngatain Abang bawel?? Abang khawatir sama kamu tau nggak!!" Hidung mancung Viola menjadi sasaran Erland.
"Sakit Bang!!" Viola mengusap hidungnya yang varu saja di cubit suaminya.
"Makanya jangan ngatain bawel sama suaminya"
"Iya iya Bang, maaf"
"Iya, masa Abang nggak maafin istri Abang yang cantik ini"
"Ishh.. Apa sih Abang pagi-pagi udah gombal!! Tapi ngomong-ngomong doain semoga hasil pemeriksaan Beca membuahkan hasil yang terbaik ya Bang??"
"Itu pasti sayang" Erland menghadiahkan satu kecupan manis di kening Viola sebelum mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan sebelum mereka berdua pergi dengan tujuannya masing-masing.
*
*
*
"Tenang ya" Viola menggenggam erat tangan Beca.
__ADS_1
"Doakan ya Vi. Tapi apapun hasilnya aku akan menerimanya"
"Itu pasti!!"
Mereka berdua kini sudah tiba di Rumah sakit. Di depan ruangan Dokter Niken, dokter sahabat Viola.
Jika Beca tidak gugup itu bohong namanya. Pastinya ada rasa cemas di dalam hatinya saat ini. Namun ia mencoba untuk tetap tenang meski tangannya sudah berkeringat dingin sejak tadi.
"Kak, kalau hasilnya aku benar-benar hamil. Apa kamu bahagia di sana??"
"Nyonya Beca!!"
Panggilan dari seorang perawat membiarkan lamunan Beca.
"Ayo!!" Viola menggenggam tangan Beca untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Niken.
"Hay Ken!!"
"Wah, kedatangan pasien istimewa lagi nih aku. Kamu udah isi lagi Vi??"
Niken yang sebelumnya belum tau jika salah satu pasiennya hari ini adalah sahabatnya tampak sumringah menyambut Viola.
"Enggak lah Ken. Gila aja, baru brojol udah isi lagi"
"Jadi mau apa ni??"
"Ken, sebenarnya yang mau cek kandungan itu Beca, bukan aku" Viola kembali menggenggam tangan Beca.
"Oh ya?? Beca hamil??" Niken tentu saja bersikap biasa saja pada Beca karena sudah bertemu dengannya sebumnya.
"Belum tau Ken. Makanya aku bawa dia kesini"
"Oke kalau gitu, udah pernah testpack sebelumnya??" Pertanyaan Niken ini hanya di jawab gelengan kepala oleh Beca.
"Lalu apa kamu merasakan tanda-tanda kehamilan?? Seperti mual muntah begitu??" Lagi-lagi Beca menggeleng.
"Ya udah, kita langsung USG aja ya. Biar tau lebih jelasnya.
Beca di bantu oleh perawat untuk berbaring di brankar ruangan itu. Melakukan sama seperti yang pernah Viola lakukan dulu. Dokter Niken juga sudah duduk di samping Beca. Dengan alat yang sudah di genggamannya.
Beca merasakan dingin pada permukaan kulitnya saat perawat itu mengoleskan cairan yang Beca tak tau namanya.
__ADS_1
Niken sudah beberapa kali memutar-mutar alat itu di atas perut bagian bawah milik Beca. Tapi dia tak kunjung mengeluarkan suaranya. Hal itu justru membuat Viola tampak tidak sabar.
"Ken, gimana hasilnya??" Tanya Viola.
Niken justru menampakkan wajah kecewa pada Viola.
"Maaf Vi, tapi tampaknya belum ada tanda-tanda. Jangan kecewa ya, kalau kamu terus berusaha pasti akan ada keajaiban buat kamu"
Reaksi berbeda justru terlihat dari Beca dan Viola. Dengan mata yang berkaca-kaca, kegundahan menyerang Beca lali ini.
Dia bahagia karena dia tidak mengandung tanpa suami. Tapi dia sedih karena tidak ada seorang bayi kecil yang di tinggalkan Yovi untuknya.
"Vi!!"
"Beca!! Alhamdulillah" Viola memeluk Beca. Kata yang terucap dari Viola justru membuat Niken menganga.
Niken hanya bisa diam sampai kedua wanita di depannya itu sedikit tenang.
"Beca, sekarang kamu bisa tenang. Setelah ini kamu tidak perlu khawatir lagi dengan masa depan kamu. Aku tau kalau kamu juga sedih karena Yovi menginginkan hadirnya bayi dari kamu tapi kini keadaannya sudah berbeda. Lain halnya jika kamu sudah menikah. Pasti kamu akan bersyukur dia ada dalam rahim kamu"
Niken masih belum bisa mencerna apa yang Viola katakan itu. Aneh saja sahabatnya kali ini. Bukannya yang datang kepadanya itu ingin program kehamilan dan segera memiliki bayi atau memeriksakan bayi dalam kandungannya. Tapi kali ini mereka malah bahagia karena tidak adanya bayi di dalam rahim Beca.
Beca tak bisa berkata apa-apa selain menangis. Mungkin itu yang bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini.
"Maaf Ken, kamu pasti bingung dengan semua ini"
"Nggak papa Vi. Aku yakin kalian pasti punya alasan tersendiri" Niken mencoba mengerti. Memang itu bukan ranahnya, dia hanyalah seorang Dokter yang menjalankan tugasnya sesuai permintaan pasiennya. Kecuali si pasien menginginkan Niken bertindak ilegal, barulah Niken melawan.
"Calon suami ku meninggal Dokter Niken"
Setelah Niken mencoba tak peduli, justru kata-kata itu yang keluar dari mulut Beca.
"Maksudnya??" Niken langsung mengerutkan keningnya.
Sementara Viola hanya bisa diam. Karena cerita yang akan keluar bukan dari dirinya, melainkan dari Beca sendiri.
"Sekarang saya tanya sama Dokter Niken. Apa yang Dokter Niken rasakan kalau Dokter ada di posisi saya??" Beca langsung menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Membuka lukanya lagi yang belum mengering.
"Jadi jawaban Dokter?? Apa Dokter akan senang atau sedih??"
Beca menatap penuh harap pada Dokter Niken. Jiak jawaban Dokter Niken ini sama dengan apa yang Viola katakan. Maka Beca berjanji akan bangkit lagi setelah ini.
__ADS_1
"Saya memang tidak berada di dalam posisi itu saat ini. Tapi saya tidak akan menolak jika memang telah tumbuh janin dalam rahim saya. Dengan setulus hati saya akan membesarkannya meski tanpa suami, tak peduli dengan pandangan orang lain di luaran sana. Tapi jika memang begini hasilnya, saya juga tidak akan sedih. Pasti Allah telah merencanakan takdir yang lain untuk saya"
Beca tersenyum membuang semua beban dan luka di dalam hatinya.