
"Mas, aku dengar dari Bi Tum katanya kemarin kamu pingsan ya?? Kenapa bisa sampai pingsan Mas?? Sekarang gimana, masih sakit??" Sarah dengan raut khawatirnya mengusap wajah Erland dengan lembut saat tiba di meja makan.
Tadi malam Sarah baru menginjakkan kakinya di rumah, itu pun sudah larut malam. Karena tadi malam akhirnya Erland tak jadi pindah dari kamar Viola, jadi mereka baru bertemu pagi ini.
"Kemana saja kamu, kenapa baru pulang tadi malam?? Aku sakit pun kamu mana peduli" Erland menyingkirkan tangan Sarah dari wajahnya.
"Aku minta maaf Mas. Aku kemarin akhirnya menginap di rumah Mama. Aku sudah mengingatkan Mama tentang peringatan kamu itu. Jadi mama sangat terpukul dan merasa bersalah, aku tidak tega meninggalkan dia sendirian saat keadaannya seperti itu" Jelas Sarah.
"Mama minta maaf karena sudah mengadakan pesta seperti itu dengan uang dari kamu"
"Kamu tidak bohong??" Selidik Erland.
"Te-tentu saja aku tidak bohong Mas. Mana berani aku bohong sama kamu. Aku benar-benar di rumah Mama kok. Aku tidak pergi kemanapun setelah itu. Aku juga tidak bertemu siapa-siapa" Mata Sarah bergerak tak tenang, seperti menyembunyikan sesuatu dari Erland.
Erland mengerutkan keningnya karena jawaban dari Sarah itu.
"Bukan itu yang aku maksud Sarah. Yang aku tanyakan itu, kamu nggak bohong kan kalau kamu susah memberitahu Mama kamu tentang peringatan dariku??"
"Ooohhhh itu, iya sudah Mas. Itu juga yang aku maksud" Sarah tampak gelagapan di depan Erland.
"Kenapa kamu gugup?? Jangan-jangan kamu memang pergi keluar??"
Sarah menelan ludahnya dengan kasar, terlihat di mata Erland jika istrinya itu benar-benar gugup.
"Hemm" Kedatangan Viola membuat Sarah bernafas lega.
"Viola, makasih ya karena kemarin kamu udah rawat Mas Erland" Ucap Sarah degan senyumnya yang manis.
Viola tau itu hanyalah senyum penuh dengan kepura-puraan.
"Emangnya kamu kemana aja kemarin sampai suaminya tepar kamu nggak tau??"
"Aku kemarin di rumah Mama, Mama sedih karena Mas Erland pergi gitu aja saat pesta. Jadinya aku nggak tega ninggalin Mama" Ulang Sarah lagi di depan Viola.
"Yakin?" Tatap Viola penuh curiga.
"Maksud kamu??" Mata Sarah langsung melebar tanda tak suka dengan pertanyaan Viola.
"Abang, katanya kamu nggak akan pernah menceraikan salah satu dari kita kan?? Tapi kalau kita melakukan kesalahan yang besar, apa kamu masih akan mempertahankan kita??"
__ADS_1
Erland meletakan roti dari tangannya, menatap Viola dengan dalam. Menelisik mata itu, mencari tau alasan Viola tiba-tiba bertanya seperti itu. Mengingat mereka baru saja bertengkar.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?? Jangan aneh-aneh ya!!"
"Jawab saja Bang, apa Abang masih mau mempertahankan kita??" Sarah ikut menatap Erland, menunggu jawaban yang keluar dari suaminya itu.
"Tergantung kesalahan apa yang kalian perbuat" Jawab Erland bergantian menatap Viola dan Sarah.
"Contohnya??" Desak Viola.
Erland semakin curiga dengan Viola, dia takut istrinya itu sengaja membuat kesalahan yang bisa menuntut perceraian darinya.
"Perselingkuhan dan kebohongan. Kalau kalian sampai berselingkuh, aku tidak akan pernah memaafkan kalian untuk kebohongan pasti itu ada maksud tertentu kenapa kalian membohongi ku. Aku akan melihat kebohongan apa yang kalian tutupi itu, tapi kalau sampai satu kebohongan itu sampai menciptakan kebohongan-kebohongan yang lain terutama menyangkut rumah tangga ini, tentu aku tidak akan memaafkan kalian!!" Ucap Erland dengan tegas.
Viola beralih menatap Sarah, raut wajah wanita itu sudah berubah memerah. Terlihat jelas sekali jika sesuatu yang besar telah berhasil dia sembunyikan.
"Kenapa Sarah?? Kamu gugup seperti itu,apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan??" Pertanyaan Viola langsung membuat Sarah gelagapan takut pada Erland yang juga menatapnya penuh tanya.
"Enggak, kenapa juga aku harus gugup. Aku tidak merasa menyembunyikan apapun dari Mas Erland" Tegas Sarah yang berhasil menyamarkan kegugupannya.
"Benarkah??" Viola tersenyum miring pada Sarah.
"Nggak papa kok, nggak penting juga. Oh ya, jangan lupa besok acara lamaran Bang Vino" Viola lantas meraih tas kerjanya, tak sempat menyentuh sarapannya sama sekali.
"Ingat, JA-NGAN LU-PA!!" Viola dengan sengaja menekankan ejaannya itu di depan Erland. Sengaja menyindirnya karena sempat melupakan janjinya kemarin.
"Aku berangkat dulu!!"
"Viola, tunggu Abang!!" Ucap Erland dengan keras karena Viola sudah berjalan keluar.
"S*alan!! Drama apa lagi yang dia buat!!" Gumam Sarah setelah Erland pergi menyusul Viola tanpa berpamitan kepadanya.
"Kenapa dia bersikap seolah-olah dia tau sesuatu tentang gue?? Apa memang dia tau?? Gue nggak bisa diam aja, gue nggak akan biarin dia bahagia kalau sampai berani mengusik hidup gue!!" Sarah meremas roti berselai kacang di tangannya sampai hancur, seolah-olah itu adalah Viola yang siap dihancurkan jika berani mengusik Sarah.
"Sayang, tunggu Abang!!"
Erland meraih tangan Viola yang terus berjalan keluar dari rumah.
"Abang antar ya??"
__ADS_1
"Sudah ada taksi" Tunjuk Viola pada mobil yang sudah menunggu di depan rumah.
"Nggak papa biar Abang bayar, tapi kamu berangkatnya sama Abang ya??" Erland masih merayu Viola agar mau berangkat bersamanya.
**** badannya masih belum sembuh benar, tapi Erland rela berangkat ke kantor demi bisa mengantar Viola.
"Nggak usah, lagian kan masih sakit. Kenapa juga harus ke kantor"
"Abang ada pekerjaan yang harus di selesaikan"
"Ya udah aku berangkat dulu, Assalamualaikum" Viola langsung melesat menuju taksi online yang sudah di pesannya itu.
"Sayang!!"
Erland mencoba mengejar Viola namun sayang, mobil itu sudah membawa Viola pergi. Erland hanya menatap mobil yang mulai menjauh itu dengan kecewa.
"Walaikumsalam" Gumam Erland menjawab salam dari istrinya itu.
*
*
*
"Siapa Bu??" Endah turun dari lantai dua, dia ingin tau siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
"Itu tadi orang butik. Nganterin baju kita buat acara nak Vino besok. Ini baju kamu"
Endah menerima kotak yang di berikan oleh Gendis. Wajahnya yang tadinya cerah karena baru saja di poles make up tipis langsung berubah sendu.
"Kenapa Ndah??" Tanya Gendis yang melihat anaknya tiba-tiba terdiam.
"Nggak papa Bu, Endah ke kamar dulu ya"
Endah kembali ke kamarnya membawa kotak berisi baju yang besok akan dikenakannya. Baju yang akan menutupi hatinya dari kehancuran yang tidak akan pernah di lihat Vino. Baju yang akan menjadi saksi betapa tersiksanya Endah menyaksikan pertunangan pria yang sudah sangat lama dicintainya itu.
Air mata Endah luruh seketika saat membuka kotak berisi kebaya berwarna rose itu. Kebaya dengan warna kesukaannya.
"Kenapa harus seperti ini?? Apa aku sanggup memakainya??" Air mata Endah menetes membasahi kebaya yang begitu indah itu.
__ADS_1
"Bang, apa kamu tidak pernah melihatku sedikitpun?? Selama belasan tahun aku memendam perasaan ini sendiri, tidakkah kamu pernah merasakannya walau sedikit saja??"