Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
91. Tes DNA


__ADS_3

Viola masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Di dalam kamarnya Viola terus berjalan mondar-mandir memikirkan apa kata Erland tadi. Terutama penyebab Erland ingin menceraikan Sarah.


"Kenapa Bang Erland ingin menceriakan Sarah?? Bukankah hubungan mereka baik-baik saja?? Waktu itu Bang Erland juga mengatakan jika Sarah berhak mendapatkan kesempatan ke dua. Sebenarnya apa yang Bang Erland sembunyikan??" Ucap Viola di tengah kebingungannya.


Tak hanya itu, tapi juga maslah kehamilan Sarah. Dulu Erland dan Sarah begitu mendambakan hadirnya seorang anak dalam pernikahan mereka. Berbagai macam cara juga sudah mereka lakukan termasuk bayi tabung. Namun di saat Sarah benar-benar hamil, Erland tak terlihat bahagia sama sekali.


Viola tiba-tiba menatap bayangan dirinya pada cermin. Matanya menatap tajam ke arahnya dengan bibir sisi kirinya yang sedikit terangkat.


"Sarah, kamu pikir dengan kabar kehamilan mu ini bisa menghancurkan ku?? Kamu salah Sarah, kehamilan itu akan menjadi boomerang untuk dirimu sendiri" Ucap Viola dengan senyum liciknya.


*


*


*


"Mas" Panggil Sarah dengan lembut.


"Hemm" Saur Erland terdengar malas.


Sarah mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan sikap Erland. Dalam bayangannya, Erland akan memperlakukannya sama seperti Viola. Dimanja dan di perhatikan, namun nyatanya Erland justru terlihat acuh tak acuh kepadanya.


"Mas, perut aku sakit banget. Boleh nggak kalau aku minta di usap sampai aku ketiduran??" Pinta Sarah dengan manjanya.


Erland menghentikan jarinya yang sedang menari di atas laptopnya, lalu menoleh pada Sarah.


"Aku masih banyak pekerjaan Sarah. Kamu tidur duluan ya" Erland kembali fokus pada laptopnya.


Sarah meremas jarinya dengan kesal. Sudah satu minggu ini alasan Erland selalu sama. Dia sama sekali tak mau menuruti keinginan Sarah.


Sebenarnya bisa saja Erland meninggalkan pekerjaannya itu, tapi memang Erland yang tak ada niat untuk mengusap perut Sarah. Jika saja Viola yang meminta, pasti dengan senang hati Erland akan menutup laptopnya itu. Tapi rasa tidak yakin jika Sarah tidak mengandung anaknya yang mendorong semua itu.


"Apa Viola juga sering meminta kamu mengusap perutnya Mas??" Tanya Sarah.


"Tidak" Jawan Erland singkat.

__ADS_1


"Tapi apa salahnya jika aku meminta perhatian dari kamu Mas. Aku mengandung anak kamu, darah daging kamu. Sudah seharusnya kamu mencurahkan perhatian kamu sama aku" Sarah mulai mengubah nada bicaranya menjadi lebih keras.


Hamil bukanlah perkara yang mudah bagi Sarah, jadi dia merasa perhatian dan cinta dari Erland adah yang paling utama.


"Kalau kamu masih ragu dengan anak ini. Aku berani melakukan tes DNA setelah anak ini lahir. Aku bisa menjamin seratus persen jika anak ini adalah kamu" Ucap Sarah berapi-api.


Erland langsung beralih menatap Sarah, sorot mata wanita itu begitu tegas menantang Erland.


"Apa yang kamu katakan Sarah!!" Erland mendekat pada Sarah yang duduk bersandar di ranjang.


"Hanya itu salah satu cara agar kamu mau memperhatikan aku sama halnya dengan Viola"


Sarah yang dulunya dengan begitu mudah menarik perhatian Erland, hingga bisa membuat Erland jatuh cinta dan menikahinya, kini Sarah justru harus mengemis hanya untuk sekedar perhatian.


"Oke, aku akan memperlakukan kamu sama seperti Viola. Tapi tidak perlu melakukan tes DNA, karena itu bisa menyakiti hatinya saat dia dewasa nanti. Dia bisa berpikir kalau kehadirannya tidak diinginkan di dunia ini" Erland duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan Sarah.


"Memang kenyataannya begitu kan?? Kamu hanya menginginkan anak dari Viola??"


Gemuruh dalam hati Sarah belum juga reda, hingga membuatnya mengeluarkan kata-kata sendirian seperti itu.


"Sarah, jangan memulainya lagi!! Sekarang berbaringlah, aku akan mengusap perutmu!!" Perintah Erland.


Tangan Erland mulai mengusap lembut perut Sarah yang masih tertutup piyama tipis itu.


"Makasih ya Mas??" Ucap Sarah dengan wajahnya yang kembali ceria.


"Hemm, sekarang tidurlah!!"


Sarah mengangguk lalu mulai memejamkan matanya. Dia merasa senang karena akhirnya bisa membujuk Erland meski dengan cara liciknya.


"Aku yakin kalau aku bisa menaklukan kamu lagi Mas" Batin Sarah.


"Aku juga tidak menyalahkan dia yang hadir di saat seperti ini Sarah. Kalau dia memang benar anakku, aku pasti akan sangat menyayanginya. Mungkin saat ini aku mengalah, namun bukan berarti aku kalah. Aku sudah mendapatkan bukti kecurangan kamu dalam pernikahan kita. Saat ini aku mempertahankan kamu hanya karena sedang mengandung"


*

__ADS_1


*


*


Sarah menggandeng mesra lengan Erland saat turun dari kamarnya. Bukan tanpa sengaja, tentu saja ada maksud terselubung dari Sarah.


Apalagi kalau bukan untuk membuat Viola cemburu, karena Viola sudah duduk di meja makan saat mereka berdua turun dari kamar.


"Sayang, Abang pergi antar Sarah ke Dokter dulu ya??" Erland meminta ijin pada istri keduanya itu.


"Iya Bang, semoga kandungan Sarah sehat ya. Karena yang di kandung Viola itu termasuk bayi mahal. Sayang kan kalau udah terlalu lama nunggu isi tapi pada akhirnya zonk juga"


"Apa maksud kamu Viola??!!" Geram Sarah karena kata-kata Viola yang terdengar menyinggungnya.


"Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu??" Erland terlihat bingung namun tak menunjukkan ekspresi marah pada Viola sedikitpun.


Dengan pembawaannya yang tenang, Viola hanya mengedikkan bahunya saja secara acuh tak acuh.


"Sebenarnya kamu kenapa sih Vi?? Kamu kok kayaknya nggak suka dengan kehamilanku. Apa kamu takut perhatian Mas Erland akan terbagi pada anak yang aku kandung??" Sarah merubah mimik wajahnya menjadi sendu.


"Apa kamu takut kalau perhatian Mas Erland pada kamu dan anak kamu berkurang??" Imbuh Sarah agar bisa menarik perhatian Erland.


"Kamu ngomong apa sih Sarah?? Nggak ada yang nggak suka dengan kehamilan kamu itu. Mana mungkin aku membenci ciptaan tuhan dalam perut kamu itu. Aku juga yakin perhatian Bang Erland tidak akan berkurang kepadaku, karena aku tau kalau Bang Erland sangat mencintaiku. Iya kan Bang??" Balas Viola.


Sarah tersenyum kecut karena bisa melihat kepura-puraan dari wajah Viola. Sarah tak mengira jika perempuan di depannya itu bisa licik juga.


"Iya sayang" Erland mengusap kepala Viola dengan lembut.


"Sekarang kita sarapan dulu, tidak usah berdebat. Kasihan anak kamu kalau belum di kasih makan Sarah" Senyum mengejek mengiringi perkataan Viola pada Sarah.


Dengan wajah kesalnya, Sarah mendudukkan bokongnya dengan kasar.


"Dasar bermuka dua. Gue nggak nyangka kalau dia pinter juga berpura-pura kaya gini. Dasar wanita s*alan!!" Umpat Sarah di dalam hatinya.


Kehamilannya yang seharunya menjadi senjata itu justru seperti tak berarti apa-apa bagi Viola.

__ADS_1


"Abang mau makan apa, Vio ambilin ya??"


Erland sempat terperangah mendengar manisnya Viola kepadanya pagi ini. Walaupun Viola akan melakukan itu hanya di depan Sarah, Erland tak peduli, yang jelas dia sungguh bahagia saat ini.


__ADS_2