
Hancur hati Beca melihat sosok pria yabg mulai mengisi hari-harinya terbujur kaku dengan wajah pucat seperti itu. Kini tak ada lagi Yovi yang menamainya berdebat atau Yovi yang mulai bersikap manis kepadanya. Bahkan Yovi yang berada di hadapannya saat ini tidak sudi untuk membuka matanya menatap Beca.
Tangis Beca yang sejak tadi tak bisa di tahan, kini juga menemani Yovi di dalam ruangan dingin itu. Tangan Beca yang gemetar menyentuh wajah Yovi yang terlihat damai meski ada bekas luka di pelipisnya.
"Kak, kenapa kamu jahat sama aku?? Kenapa tega ninggalin aku kaya gini??" Air mata Beca terus mengalir bahkan tak sengaja menetes pada bahu Yovi.
"Mana janji kamu Kak, kamu bilang kamu mau jadi jadi keluarga aku. Kamu bilang mau belajar mencintaiku. Kenapa sekarang pergi?? Gimana nasibku kedepannya Kak?? Kamu bilang mau tanggung jawab. Sekarang gimana kalau aku hamil Kak?? Kenapa kamu tega membiarkan dia hidup tanpa Ayah" Beca terus meracau dengan putus asa.
Vino yang juga ada di ruangan itu meski di kejauhan kini mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Sejak tadi Beca terus mengatakan hal-hal yang tidak ia ketahui. Namun kali ini, Vino bisa menyimpulkan dengan jelas jika Beca dan Yovi menikah di karenakan suatu hubungan terlarang.
"Bang" Bisik Endah. Wanita itu juga sedikit terkejut dengan kebenaran yang ia dengar.
"Iya, Abang tau, tapi kita diam saja dulu sampai suasananya benar-benar kembali tenang" Bisik Vino pada istrinya.
"Iya Bang"
"Sebenarnya bagaimana ceritanya sampai Yovi terlibat kecelakaan ini Om??"
Vino yang penasaran mulai bertanya pada Papa Yovi yang kini sudah lebih tenang dan terlihat ikhlas dengan kepergian anaknya.
Pria paruh baya itu menarik nafasnya panjang sambil mengingat kejadian tadip!.
"Tadi pagi, Yovi meminta kita untuk pergi dengan mobil berbeda. Mungkin dia sudah mempunyai firasat. Lalu kami naik mobil yang berada agak jauh di belakangnya. Dia bersama Pak Dodi, sopir kami. Saat di lampu merah, kami semua berhenti namun kami di lajur yang berbeda. Dia di sebelah kanan kami. Tak ada tanda-tanda apapun, kami juga masih melihat Yovi terus menampakkan senyumnya karena kami memang benar-benar di sebelahnya. Sampai sebuah truk menghantam mobil yang dinaiki Yovi. Tepat di depan mata kami, kami melihat mobil Yovi ringsek terhimpit...." Papa Yovi yang sejak tadi terlihat tegar itu kali ini benar-benar tak kuasa menahan tangisnya saat menceritakan apa yang terjadi pada anaknya.
__ADS_1
"Sudah Om, jangan di lanjutkan. Lebih baik Om duduk dulu" Erland memapah tubuh tua itu keluar dari ruang jenazah.
Mereka lupa jika apa yang Papa Yovi ceritakan itu di dengar kelas oleh Beca. Tubuh Beca yang masih terbalut gaun pengantin itu melosot ke bawah. Tangannya masih menyentuh tangan Yovi yang terasa amat dingin itu.
Rasanya hancur hanya dengan membayangkan bagaimana tubuh Yovi yang di hantam seperti cerita Papanya itu. Andai Beca ada di sama saat itu, mungkin dia sudah pingsan tak sanggup melihat keadaan Yovi.
"Kak, aku sendirian di sini. Kamu telah memberikan harapan yang besar pada hatiku. Tapi sekarang kamu mencampakkannya begitu saja. Andai akhir-akhir ini kamu tidak membuatku nyaman, rasanya tidak akan sesakit ini Kak. Kamu sungguh tega"
Beca terus memegang dadanya, rasanya ingin merobek dan mengeluarkan isinya sekarang juga. Dia tidak kuat menahan rasa sakit dalam dadanya itu.
"Beca" Tangan lembut Viola menyentuh pundak Beca.
"Beca, kita keluar dulu yuk. Yovi harus segera di bawa pulang" Beca tak menjawab apapun tapi dia menuruti apa kata Viola.
Setelah itu mereka semua kembali ke rumah Yovi mengikuti Ambulance yang membawa jenazah Yovi.
Suasana duka jelas terasa di tengah-tengah keluarga dan sahabat Yovi. Kehancuran kedua orag tua Yovi karena kehilangan anak sematawayangnya. Juga hancurnya Beca sebagai calon istri yang di tinggal pergi beberapa saat sebelum pernikahan mereka.
Isak tangis mengiringi proses pemakaman saat tubuh yang sudah tak bernyawa itu mulai di turunkan ke dalam liang lahat.
Kali terakhir bagi Beca dan yang lainnya untuk melihat sosok Yovi sebelum pria itu hanya akan menjadi kenangan yang terekam jelas di dalam ingatan Beca.
"Pergilah dengan tenang Kak. Aku ikhlas"
__ADS_1
Pandangan Beca tak pernah lepas dari orang-orang yang mengangkat tubuh tak berdaya itu. Bahkan mata Beca sering kali memicing tajam kala ada salah satu dari orang-orang itu yang tak sengaja mengangkat Yovi dengan kasar. Seakan tak rela jika tubuh Yovi akan tersakiti oleh orang-orang itu.
Proses pemakaman berjalan lancar dan terhitung cepat, mengingat hari yang sudah mulai gelap. Para pelayat juga mulai kembali satu per satu. Yang ada di sana tinggal kedua orang tua Yovi, Beca, Erland dan Endah lalu Vino dan istrinya.
Mereka semua tak mungkin meninggalkan Beca dan kedua orang tua yang sedang terpukul itu sendirian dia sana.
"Om, Tante, lebih baik sekarang pulang dulu. Hari sudah gelap, kalian juga butuh istirahat. Besok bisa datang lagi kalau kalian merindukan Yovi. Pasto Yovi juga tidak akan senang melihat Om dan Tante seperti ini" Vino mencoba membujuk Mama dan Papa Yovi untuk kembali ke rumah.
"Iya, kami akan pulang. Kami tidak akan membuat Yovi sedih di atas sana. Tolong bujuk Beca untuk pulang juga"
"Itu pasti Om" Balas Vino.
"Kalau gitu kita pulang dulu. Ayo Ma!!" Papa Yovi merangkul pundak istrinya yang masih terus terisak tak rela meninggalkan putranya sendirian di sana.
"Hati-hati Om"
Kini tinggal Beca yang masih setia memeluk nisan Yovi dengan tangisannya yang sudah tak mengeluarkan suara lagi.
"Sudah maghrib. Kita pulang dulu ya??" Ajak Viola.
Beca mengangguk" Kak aku pulang dulu. Besok aku datang lagi kesini. Jangan sedih, berbahagialah di sana, aku ikhlas Kak. Aku akan selalu mendoakan kamu di sini"
Beca menyeka air matanya lagi dengan punggung tangannya. Sudah tak terhitung lagi berapa kali air mata itu turun namun tak kunjung habis.
__ADS_1
"Kamu nggak usah khawatir kalau seandainya anak kamu benar-benar tumbuh di dalam rahim ku. Aku tidak akan meminum obat pencegah kehamilan atau memikirkan hal bodoh untuk menyingkirkannya. Aku akan menerimanya dengan senang hati seperti kamu"
"Makasih karena udah mau menjadikan aku wanita terakhirmu. Makasih juga karena kamu sudah memberikan kenangan manis sebelum kepergian mu. Perhatian dan sikap manis kamu itu akan selalu ku ingat sampai kapanpun Kak. Selamat jalan calon suamiku. Aku menyayangimu"