
Malam ini suasana di rumah Via tak sepi seperti biasanya. Karena acara lamaran Beca, membuat rumah itu menjadi ramai. Viola datang sejak pagi tadi bersama Erland dan bayinya. Sedangkan Vino dan Endah yang sudah menempati rumah mereka sendiri juga datang sore tadi karena mereka masih harus menyelesaikan pekerjaan mereka terlebih dahulu.
"Makasih ya Ndah. Kamu udah bawain makanan dari toko kamu buat acara ku ini" Ucap Beca.
"Sama-sama Beca, nggak usah sungkan. Besok kalau acara nikahan, mau pakai kue dari aku juga nggak papa. Gratis, iya kan Bang??" Endah meminta pendapat Vino.
"Enak aja gratis. Calon suaminya kaya, biar aja dia yang bayar" Ucap Vino mengundang gelak tawa.
"Istrinya sih baik banget, tapi kenapa suaminya pelit kaya gini" Balas Beca pada Vino yang tiba-tiba perhitungan seperti itu.
"Jangan dengerin Bang Vino Ca. Lagi mood swing dia" Bela Viola
"Perasaan yang hamil Endah, kenapa dia yang aneh-aneh" Beca mencibir seakan tak ada Vino di sana.
Mereka semua hanyut dalam obrolan hangat. Benar-benar beruntung karena hadir di tengah keluarga itu. Dirinya yang bukan siapa-siapa di berikan tempat yang sama dengan Viola dan Endah. Beca bagaikan anak sendiri bagi Via dan Dito.
Beca tidak tau lagi, kelak harus bagaimana membalas kebaikan keluarga Viola kepadanya. Sampai acara lamaran hari ini pun Via tampak antusias menyambutnya. Wanita paruh baya yang kini kesehatannya semakin membaik itu sudah sibuk dari pagi mempersiapkan hidangan untuk menyambut calon suami Beca dan keluarganya.
Tadi malam saja, saat Beca memberitahu Dito dan Via tentang lamaran dadakan ini, Via sempat menjewer telinga Beca karena tidak memberitahunya jauh-jauh hari.Tapi di balik itu semua, Via sangat senang karena putrinya yang satu lagi akan segala menikah.
"Beca, kamu kok belum siap-siap?? Ini udah jam berapa?? Nanti mereka keburu datang, kamunya belum siap lagi!!" Omel Via yang sudah terlihat cantik dan rapi.
"Iya bentar Mi" Beca bangkit dari sofa. Meninggalkan Viola dan yang lainnya.
"Mami, kayaknya seneng banget nih mau terima tamu" Goda Viola.
Viola yang sejak tadi memperhatikan Maminya tampak antusias ikut semang melihatnya.
"Viola" Via lekas duduk di dekat Viola mengambil posisi yang di duduki Beca tadi.
"Maafkan Mami ya, bukan maksud Mami untuk menyakiti hati kamu karena Mama mempersiapkan semua ini untuk lamaran Beca. Padahal kamu yang anak Mami, tapi dulu tidak sempat melewati proses seperti ini" Viola salah paham dengan candaan Viola tadi.
"Loh, loh Mi. Bukan maksud Viola seperti itu. Viola justru seneng lihat Mami sehat dan antusias seperti ini. Bukannya Mami sudah menganggap Beca sebagai anak Mami sendiri??"
__ADS_1
"Viola benar-benar nggak punya pikiran iri atau apapun sama semua yang Mami lakukan pada Beca. Justru Viola mau bilang makasih karena Mami bersedia menganggap Beca seperti anak Mami dan Papi sendiri, karena kalau tidak ada Beca, Viola tidak tau lagi akan jadi apa di Korea waktu itu"
"Kamu tidak perlu berterimakasih Nak. Papi dan Mami memang tulus menganggap Beca sebagai anak kami. Bukan hanya sekedar rasa balas budi karena sudah menolong kamu saja" Kini giliran Dito yang karang mengeluarkan suaranya.
"Iya Pi, Viola percaya kalau Papi dan Mami memang baik banget"
Beca yang sebenarnya masih di ujung tangga mendengarkan semuanya dengan haru. Meski selama ini dia bisa merasakan jika perasaan mereka tulus kepadanya, namun dengan mendengar itu semua, Beca semakin merasa beruntung. Disayangi dan di anggap anak oleh orang yang tidak ada hubungan darah sekalipun kepadanya.
*
*
*
Semuanya kini sudah siap menyambut kedatangan Yovi dan kedua orang tuanya. Memang Beca dan Yovi sepakat untuk mengadakan pertemuan keluarga saja tanpa adanya acara yang besar dan meriah sama seperti Endah dan Vino waktu itu.
Tak lama setelahnya, Yovi benar-benar datang membawa serta kedua orang tuanya. Beca yang sudah tampak anggun dengan dress putihnya juga sudah turun di jemput oleh Viola.
"Jadi ini calon menantu Papa Vi?? Akhirnya Papa bisa melihat wanita yang bisa menaklukan kamu yang sudah berusia matang ini. Papa percaya kalau di cantik, sampai kamu lupa mengusap air liur mu itu"
Yovi langsung memutus pandangannya kepada Beca karena tampak salah tingkah setelah si tertawaan semua orang yang ada di sana.
Jangan heran kenapa Papanya Yovi bisa sesantai itu di hadapan keluarga Viola. Karena mereka memang sudah saling mengenal. Papa Yovi dulunya adalah rekan kerja Dito sebelum perusahaan di ambil alih oleh Vino. Dan sekarang Vino yang lebih sering bertemu dengan Papanya Yovi untuk masalah pekerjaan karena Yovi sendiri belum mau menggantikan posisi Papanya seperti yang Vino lakukan.
"Makanya itu Pa, Mama sampai kaget karena Yovi mendadak meminta ijin Mama untuk menikahi Beca"
"Biasa jeng, kalau udah ngebet mana bisa di tahan" Imbuh Via.
"Iya, padahal dari dulu udah aku kenalin sama beberapa anak teman-teman ku. Tapi dia selalu nolak. Giliran udah ketemu tang pas, langsung di gas aja sama dia" Yovi kesal sendiri dengan Mamanya yang sering sekali tidak bisa mengontrol ucapannya.
Sementara Beca dan Yovi saling melirik pada Viola dan Erland yang hanya menahan senyum karena mengetahui cerita yang sebenarnya.
Mereka berempat merasa bersalah karena sudah membohongi orang tua mereka.
__ADS_1
Sejak semalam Yovi juga sudah memohon pada Mamanya untuk tidak mengungkit kejadian malam itu, di depan keluarga Beca. Untungnya Mamanya setuju karena tidak mau di buat malu oleh kelakuan anaknya itu.
Obrolan mereka berlanjut sampai Papa Yovi mengutarakan niatnya datang ke rumah keluarga Raharja.
"Bagaimana Beca?? Apa kamu mau menerima lamaran dari Yovi??" Tanya Dito.
Beca mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Meski wajah Papa Yovi tampak ramah tapi dia tetap saja gugup karen baru kali ini berhadapan dengannya.
"Om, Tante. Sebelum saya memberikan jawaban, saya mau mengatakan sesuatu dulu tentang saya"
Yovi tampak tegang karena Beca tidak mengatakan apapun kepadanya.
"Saya tau, kalau Om dan Tante pasti sudah mendengar latar belakang saya dari Kak Yovi. Tapi kali ini, saya juga akan mengatakan langsung kepada Om dan Tante, tentang saya dan keluarga saya"
"Saya awalnya ragu untuk menerima ajakan Kak Yovi untuk menikah. Karena latar belakang saya dan keluarga Kak Yovi yang sangat jauh berbeda. Saya hanyalah anak yang di tinggalkan kedua orang tua saya. Sampai saat ini, saya juga tidak tau dimana mereka. Dari dulu saya hanya wanita biasa yang hidup dan bekerja serabutan demi mendapatkan sesuap nasi. Jadi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Om dan Tante, apa Om tidak keberatan jika Kak Yovi menikahi wanita seperti saya??" Meski dada Beca bergemuruh ketakutan tapi dia tetap berusaha setenang mungkin.
"Beca, apa yang kamu katakan!!" Yovi ingin berdiri untuk mengajak Beca berbicara berdua, namun sudah lebih dulu di cegah oleh Papanya Yovi.
"Begini Beca. Sebenarnya Om sangat tersinggung dengan apa yang kamu katakan ini"
"Maafkan saya Om" Beca menunduk ketakutan.
"Kamu sudah menilai saya dengan salah. Saya dan istri saya tidak seperti yang kamu pikirkan!!"
Beca mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap calon mertuanya itu.
"Saya tidak pernah memandang orang dari materi saja. Yang saya ingin adalah wanita yang mampu mencintai dan menyayangi anak saya dan keluarganya. Saya tidak peduli mau dia berasal dari keluarga miskin atau kaya. Yang jelas dia mempunyai sifat yang baik" Jelas Papanya Yovi.
"Percaya dengan apa yang Papanya Yovi katakan Beca. Mami sudah mengenal mereka" Beca mengangguk kepada Via.
"Jadi bagaimana??" Tanya Papanya Yovi.
"Saya mau menerima Kak Yovi sebagai calon suami saya Om, Tante"
__ADS_1