
"Astaghfirullah"
Viola melonjak langsung berdiri dari yang sebelumnya bersandar di dada Erland.
"Emmhhhh" Erland melenguh meregangkan otot-ototnya karena merasakan pergerakan di sampingnya.
Viola baru sadar jika semalaman dia tertidur dalam posisi duduk di pelukan Erland. Anehnya lagi Viola tidak terbangun sekalipun hingga pagi.
"Pagi Vi"
"Maaf, aku tidak sengaja tertidur. Harusnya kan tadi malam kamu di kamar Sarah" Viola melepas mukena yang telah semalaman di pakainya.
"Nggak papa, nanti Abang akan jelaskan kepadanya"
Viola mengangguk kemudian meninggalkan Erland ke kamar mandi.
Erland menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu dengan miris. Sepertinya Viola yang tadi malam sudah hilang, Erland harus sabar menghadapi sikap Viola yang masih berubah-ubah itu.
Erland beranjak dari sofa, dia memilih kemabli ke kamarnya. Untuk menunaikan sholat subuh juga kesiangan karena matahari sudah terlihat meninggi. Dia harus bersiap menghadapi kemarahan istrinya yang satu lagi.
Suasana di meja makan masih sepi, bahkan Bi Tum juga tidak terlihat di sana. Erland langsung menuju ke kamarnya dimana istrinya biasanya menyembunyikan diri.
"Masih ingat kalau kamarnya di sini ternyata" Baru saja Erland masuk sudah di sambut wajah menyeramkan milik Sarah.
"Maaf Sarah, tadi malam aku nggak sengaja ketiduran di kamar Viola" Erland mendekati Sarah yang duduk di depan meja penuh make upnya.
"Mau sengaja atau nggak sengaja, mau jujur atau enggak aku juga nggak tau kan. Jadi aku iyain aja deh" Sarah melirik Erland dari pantulan cermin di depannya.
"Maaf Sarah, biar nanti malam dan besok malam aku tidur di sini. Jangan marah lagi ya??" Rayu Erland pada wanita yang sudah tampak rapi dengan baju dan make up yang menunjukkan ciri khasnya.
"Ya udah sana cepat mandi, aku mau buat sarapan spesial untuk kita berdua" Sarah mendorong Erland masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Tapi dalam batin Erland sempat tak yakin dengan apa yang Sarah katakan. Pasalnya Erland tau kalau istrinya itu tidak bisa memasak.
-
-
Tiga puluh menit kemudian Erland sudah rapi dengan setelan jasnya, juga rambutnya yang sengaja di buat agak berantakan namun terlihat cocok untuknya. Pria tiga puluh lima tahun itu justru terlihat lebih muda dengan selera fashion yang pas.
"Sini duduk Mas!!" Sara menarik kursi untuk Erland.
Erland melihat ke atas meja, di sana hanya ada dua piring nasi goreng dan dua susu putih hangat kesukaan Erland.
Erland menoleh ke belakangnya, melihat wanita yang tadi malam berwajah sembab kini sudah terlihat lebih segar dan cantik seperti biasanya.
"Sarah, kenapa nasi gorengnya hanya ada dua?? Untuk Viola mana??" Tanya Erland pada Sarah yang pura-pura tidak menyadari kedatangan Viola.
Viola yang sudah berdiri di samping Erland juga tampak bingung, karena biasanya Bi Tum akan menyajikan beberapa masakan di sana.
Viola tau itu hanya akal-akalan Sarah saja, dan Viola sama sekali tidak terpancing sama sekali. Dia justru duduk di tempat biasanya, di sebelah Erland dan berseberangan dengan Sarah.
"Kamu mau makan apa Vi, atau makan punya Abang aja??" Erland menggeser piringnya ke depan Viola namun langsung di cegah oleh Sarah.
"Mas!! Ini kan aku masakin khusus buat kamu. Kamu hargain aku dong. Selama ini kan aku nggak pernah masak buat kamu. Viola biar masak sendiri, dia pasti bisa kok. Jadi kamu nggak usah khawatir, iya kan Vi??" Kini Sarah menatap Viola meminta persetujuan atas ucapannya itu.
Sejak tadi Viola hanya diam menikmati permainan yang sedang Sarah lakukan.
"Emm masak ya??" Kini Viola yang akan memerankan apa yang Sarah ajarkan lebih dulu.
"Sebenarnya bisa sih, tapi karena badan aku pegel semua gara-gara tadi malam nggak sengaja ketiduran di pelukan Bang Erland jadinya males masak" Wajah Sarah langsung berubah memerah.
Sementara Erland merasa tersudut dengan apa yang Viola katakan. Karena itu pasti akan memicu pertengkarannya dengan Sarah.
__ADS_1
"Vi.." Sela Erland namun Viola tak memberikan kesempatan pada Erland untuk berbicara.
"Abang, ini kan nasi goreng yang di buat Sarah khusus buat kamu. Kalau aku makan semua kan kasihan Sarah yang sudah susah payah masak pagi-pagi begini. Jadi boleh kan kalau aku minta dikiiittt aja dari Abang??" Viola begitu manis memainkan kata demi katanya hingga membuat Erland tak berkutik.
Sarah tampak sangat terkejut dengan permintaan Viola itu. Ingin rasanya Sarah langsung meminta Erland untuk menolak permintaan Viola, namun Viola lebih dulu menyela lagi.
"Boleh kan Bang??" Erland langsung mengangguki apa yang Viola.
"Boleh Vi, biar Abang ambil piring buat kamu ya??" Erland ingin beranjak namun tangannya di tahan oleh Viola.
"Bukan pakai piring lain Bang. Tapi pakai tangan Abang"
"Hah?? Jangan aneh-aneh kamu Viola!!" Bentak Sarah.
"Abang tentunya tau kan, kalau seorang suami menyuapi istri saat makan, maka akan di beri ganjaran pahala dan rezeki yang akan datang melimpah. Lagi pula aku juga tidak terbiasa makan nasi di pagi hari, jadi tidak akan menghabiskan separuh dari nasi goreng Abang. Jadi Abang mau kan??" Erland lagi-lagi terhipnotis dengan Viola hingga menganggukkan kepalanya begitu saja.
"Maasss!!" Tegur Sarah dengan kesal.
"Nggak papa Sarah. Lagian ini juga terlalu banyak untuk aku makan sendiri" Erland mulai menyodokkan nasi gorengnya lalu menyodorkannya ke pada Viola.
"Tidak Bang, suapan pertama tentunya untuk Abang" Viola mengarahkan tangan Erland ke mulutnya sendiri. Kemudian baru suapan ke dua untuk Viola.
Sarah mencengkeram sendoknya dengan kuat. Sejak tadi pagi dia menyusun rencana untuk membuat Viola kesal. Bahkan dengan sengaja memerintah Bi Tum pergi ke pasar di saat hari masih gelap. Tapi rencananya justru di balas dengan telak oleh Viola.
"Masakan Sarah enak ya Mas?? Rasanya bisa mirip sama masakan Bi Tum" Sarkas Viola dengan ekor matanya yang melirik Sarah.
"Iya masakan kamu enak Sarah. Kamu belajar dari Bi Tum ya, rasanya bisa persis gini" Erland memang merasakan masakan Sarah seperti apa yang Viola katakan. Tapi Erlan yang tidak tau apa maksud Viola sebenarnya justru memuji Sarah.
Karena sudah tak tahan lagi dengan wanita di depannya, yang sempat di anggap remeh olehnya. Sarah memilih meninggalkan meja makan dengan membanting sendoknya dengan keras.
"Sarah, kamu mau kemana?? Kenapa nasi gorengnya tidak jadi di makan??" Teriak Erland pada Sarah yang sudah menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Viola hanya tersenyum tipis penuh kemenangan. Sudah bisa di tebak dari awal jika Sarah sengaja mempermainkannya. Viola bukanlah wanita lemah yang mudah ditindas. Jadi Viola akan memerankan apa yang sudah Sarah ajarkan lebih dulu pada Viola.