
Sudah satu bulan berlalu kini hubungan Viola dan Erland semakin membaik. Viola sudah bersikap hangat pada Erland, dia juga lebih terbuka pada suaminya itu.
Kini kandungan Viola juga sudah menginjak usia empat bulan. Perubahan pada tubuh Viola juga semakin terlihat. Perutnya yang membuncit juga tubuhnya yang sedikit berisi membuat Erland semakin gemas dengan istrinya itu.
Sementara hubungan Erland dan Sarah juga masih seperti itu saja. Sarah yang jarang pulang, juga Sarah yang selalu beralasan sibuk membuat Erland sedikit melupakan keberadaan Sarah di sisinya.
Sarah bak seorang tamu yang datang di saat malam dan pergi di saat pagi menjelang. Begitu terus sampai Erland jarang bertemu dengan istri pertamanya itu.
Jika kemarin Sarah selalu marah jika Erland lebih perhatian pada Viola, kini justru sebaliknya. Sarah tampak tak peduli sekalipun walau Erland terus berada di kamar Viola.
Tapi Erland tak ambil pusing, baginya sekarang Viola dan calon anaknya adalah segalanya. Meski begitu Erland juga tidak pernah lapas tanggung jawab pada Sarah. Dia tetap berusaha menjadi suami hang baik untuk Sarah, meski Sarah sekarang ini jarang meminta tidur dengan Erland.
Pagi ini Erland sudah rapi dengan baju kasualnya. Padahal ini hari sabtu dan sudah seharunya Erland tidak masuk ke kantor.
"Abang mau ke mana??" Heran Viola.
Dengan senyumnya yang tampan, Erland langsung duduk di samping Viola.
"Abang mau jalan-jalan sama istri Abang yang cantik ini. Setelah itu, nanti malam kita tidur di rumah Mami. Mau kan?" Mata Viola langsung berbinar.
"Benarkah Bang??" Erland mengangguk mengiyakan Viola.
"Kalau gitu aku ganti baju dulu ya" Viola beranjak dari sofa dengan begitu bersemangat.
"Pelan-pelan sayang!!" Erland ngeri sendiri melihat Viola yang sedikit berlari dengan perutnya yang sudah membesar itu.
Hanya setengah jam Erland menunggu Viola berdandan, wanita itu sudah keluar dari kamar dengan begitu cantiknya.
"Kenapa aku nggak jemput Viola dari dulu aja. Melihatnya secantik ini membuatku ingin menguncinya di dalam kamar seharian" Batin Erland karena terpesona dengan kecantikan Viola.
"Abang kok bengong??" Viola mengibaskan tangannya di depan wajah Erland.
"Hah apa yank??" Erland mengerjabkan matanya yang baru saja di beri Vitamin itu.
"Kenapa melamun??"
__ADS_1
"Abang nggak melamun, Abang cuma terpesona melihat istri Abang ini" Kejujuran Erland yang membuat Viola tersipu.
"Apaan sih, ayo jalan!!" Viola berjalan keluar terlebih dahulu. Meninggalkan Erland yang masih gemas dengan tingkah istrinya.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih Bang??" Tanya Viola saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Jalan-jalan aja, ke mall atau kemana gitu yang dekat-dekat aja. Maaf karena Abang belum bisa ngajak kamu liburan yang jauh. Itu karena Abang memikirkan kesehatan kamu dan anak kita" Tangan Erland langsung bertengger di perut Viola.
"Nggak papa kok. Kasian dia kalau di ajak bepergian jauh"
"Makasih ya karena kamu sudah menjadi istri yang tidak banyak menuntut sama Abang" Viola hanya mengangguk dengan senyumannya yang cantik.
"Apa kamu sudah merasakan gerakannya di salam sana yank??" Erland terus mengusap perut Viola dengan satu tangannya, sementara yang satunya lagi ia gunakan untuk memegangi kemudi mobilnya.
"Sudah tapi cuma kedutan halus aja, belum begitu terasa kalau dari luar" Tangan Viola berada di atas tangan Erland, mengikuti gerakan tangan Erland yang terus mengusap perutnya.
"Abang udah nggak sabar pingin merasakan tendangannya yank"
"Sabar dong Bang, kalau udah enam bulan baru bisa terasa" Jelas Viola.
"Ngomong-ngomong kapan kuliah kamu selesai yank, bukannya cuma enam bulan ya??"
"Kurang lebih dua bulan lagi. Habis itu istirahat dulu di rumah, sampai lahiran. Baru setelah itu mikirin buat bikin klinik lagi. Bolehkan Bang??"
"Boleh dong sayang, Abang tidak akan menghalangi apapun pekerjaan kamu yang penting hanya satu, jangan lupakan kewajiban kamu sebagai seorang Ibu dan sebagai istri Abang"
"Abang tenang aja, nantinya aku nggak akan full seharian di klinik kok. Beca yang akan membantu mengurus semuanya. Saat ini Beca juga sedang mencari tempat yang cocok untuk klinik kita" Penjelasan Viola itu membuat Erland sedikit lega.
"Abang percaya sama kamu"
Mereka berdua akhirnya sampai di parkiran sebuah mall paling besar di Jakarta. Sejak turun dari mobil, Erland bahkan tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Viola.
"Kamu mau beli apa yank??" Mereka berdua berjalan di depan outlet merk-merk ternama yang harganya selangit.
"Lagi nggak kepingin beli apa-apa sebenarnya"
__ADS_1
"Kamu nggak suka shoping ya??" Viola mengangguk.
Sebagian wanita menyukai hal yang satu itu, kecuali Viola. Dia juga merasa aneh pada dirinya sendiri, karena dia hanya akan membeli sesuatu yang benar-benar dia butuhkan. Dulu saat remaja, semua isi lemarinya saja yang memenuhi adalah Maminya. Setiap Maminya pergi berbelanja pasti akan ada barang baru di kamar Viola.
"Ya udah, ikut Abang yuk!!"
"Kemana??"
"Nanti juga tau"
Erland membawa Viola ke dalam toko perlengkapan untuk bayi dan anak-anak.
"Menurut kamu terlalu cepat nggak sih yank, kalau Abang kepingin beli baju yang lucu-lucu ini buat anak kita??" Erland terus memegang satu demi satu baju, sepatu dan juga topi yang menggemaskan itu.
"Iya dong Bang. Kan baru mau empat bulan. Masih lama banget. Besok belinya kalau udah delapan bulanan aja" Sebenarnya Viola juga sangat antusias namun dia ingat jika jenis kelamin anaknya sana belum tau.
"Masih lama dong yank. Padahal Abang udah gemes banget sama baju-baju ini"
"Laki-laki atau perempuan saja kita belum tau Bang. Jadi besok aja ya??" Akhirnya Erland meletakkan lagi baju yang sempat ia ambil tadi.
"Kalau Abang maunya anak laki-laki atau perempuan??" Viola menatap suaminya.
"Apapun yang printing kalian berdua sehat" jawaban Erland membuat Viola ikut bahagia. Ternyata pria di depannya sedewasa umurnya.
"Kita cari makan yuk??"
"Pingin es krim bang" Viola mendadak membayangkan makanan yang manis dan dingin itu.
"Ayo kita beli es krim" Tangan Erland kembali terulur menggenggam tangan Viola.
Mereka berdua bak pasangan muda yang sedang di mabuk cinta. Tak akan ada yang mengira bagaimana rumitnya kisah cinta mereka hingga Erland mempunyai du istri. Yang orang lain lihat hanyalah betapa serasinya mereka berdua.
"Sarah??" Ucap Erland melihat seseorang yang mirip dengan Sarah dari kejauhan.
"Mana Bang?"
__ADS_1
"Itu, tapi dengan siapa dia??" Tunjuk Erland pada perempuan yang sedang bergelayut manja di lengan pasangannya.