Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
44. Tak sanggup jauh darimu


__ADS_3

TOK..TOK..TOK..TOK..


Suara ketukan pintu yang sangat keras membuat kedua insan yang masih menikmati kehangatan itu menjadi terusik.


Meski ketukan pintu semakin keras tapi si lelaki sepertinya enggan melepaskan pinggang yang begitu hangat di peluk itu.


"Lepas dulu!! Aku ingin siapa yang mengetuk pintu sekeras itu pagi buta begini" Ucap si wanita.


Dengan terpaksa si lelaki menarik paksa tangannya dari pinggang istrinya dan memilih melanjutkan tidurnya.


"Mana suami gue??" Kalimat itu yang pertama kali si wanita terima saat pintu kamarnya di buka.


"Suami mana yang lo maksud?? Gue nggak ngerasa sama suami lo, dia suami gue" Sinis Viola tak mau kalah.


Walau matanya masih berat tapi menghadapi wanita seperti Sarah seakan sudah tersiram air satu gayung, langsung melek.


"Minggir!!" Sarah mendorong bahu Viola hingga terhuyung ke belakang. Tanpa permisi si paling merasa dicintai Erland itu masuk tanpa permisi.


Sarah semakin kesal karena melihat Erland masih tertidur lelap di ranjang. Sama sekali tak terusik dengan suara Sarah.


Apalagi posisi tidur Erland yang yang berada di tengah dan miring ke kanan. Kasur di belakang Erland masih rapi sedangkan di depannya terlihat bekas di tiduri seseorang. Sudah bisa di bayangkan Sarah bagaimana posisi tidur mereka.


"Suami gue masih tidur, kayaknya dia kelelahan harus ngurusin istrinya yang pura-pura sakit semalam" Saraks Viola membuat Sarah menatapnya tajam.


"Jangan sok tau lo!!"


"Lo lupa kalau gue Dokter?? Akting lo kurang maksimal" Sindir Viola habis-habisan.


"Lo bener-bener ya!! Awas lo, gue nggak akan biarin lo merebut Mas Erland dari gue!!" Tunjuk Sarah pada wajah Viola.


"Kalau udah nggak ada urusan, mendingan lo keluar!!" Tunjuk Viola pada pintu yang masih terbuka.


Tapi Sarah tak mengindahkan perintah Viola. Dia justru bergerak ke ranjang dan mulai menggoyangkan lengan Erland.


"Mas!! Bangun Mas!!"


Erland mulai terusik, dia mengerjabkan matanya melihat Sarah yang sudah berdiri di depannya.


"Mas, kamu tega ya sama aku?? Aku lagi sakit Mas, tapi kenapa kamu malah pindah kesini" Sarah mengeluarkan apa yang membuatnya mengetuk pintu kamar Viola pagi buta seperti itu.


"Sarah, kenapa sih pagi-pagi udah marah-marah?? Aku pindah kesini juga karena kamu udah baikan tadi malam kan?? Tadi malam juga seharusnya aku ada di sini" Erland lalu duduk di sisi ranjang. Masih mengumpulkan nyawanya yang belum kembali sepenuhnya.


"Kamu benar-benar nggak adil Mas!!"


"Sarah, kalau mau hitung-hitungan. Kamu yang sudah menang banyak. Selama tiga tahun aku selalu ada bersama kamu, sedangkan Viola belum juga ada satu bulan. Kamu mau bandingkan tiga tahun mu itu??" Kesal Erland karena pagi-pagi sudah di ajak bertengkar.


"Kalian kalau mau adu mulut jangan di sini. Ini kamar ku, jadi silahkan keluar dan selesaikan masalah kalian di mana saja selain di sini!! Aku masih ngantuk!!" Tatap Viola tajam pada kedua orang yang masih bersitegang itu.


Dengan langkah berat akhirnya Erland lebih dulu keluar dari sana. Dia tidak mau membuat Viola semakin kesal karena dirinya yang membuat Sarah masuk ke dalam kamarnya.


Sarah mengikuti Erland namun sempat memberikan lirikan tajam yang tak di gubris sama sekali oleh Viola.

__ADS_1


"Mas!!" Sarah terus mencoba mengajak Erland berbicara sampai ke kamarnya namun pria itu masih bungkam.


"Jangan diam aja dong Mas!!"


"Terus aku harus bagaimana Sarah?? Aku sudah menjawab semua pertanyaan mu. Aku diam karena tidak ingin memperpanjang maslaah ini. Karena aku yakin, semakin aku bersuara akan semakin panjang urusannya"


"Oke hanya satu pertanyaan. Aku hanya ingin memastikan saja. Apa kamu mulai mencintainya??" Sarah berharap jawaban Erland sesuai dengan apa yang diharapkannya.


"Iya!!" Jawab Erland dengan yakin dan sangat tegas.


Sarah tampak sangat terkejut. Berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang ia dengar itu.


"Enggak, itu nggak mungkin kan Mas??" Sarah terus menggelengkan kepalanya.


"Tapi itu kenyataannya Sarah. Maafkan aku karena aku sudah membagi cintaku pada kalian berdua"


Sesungguhnya menjadi Erland juga tidak mudah. Dia harus di bebani dua tanggung jawab yang sangat besar. Bersikap adil juga sudah sebisa mungkin dilakukannya. Tapi semuanya begitu berat.


"Tapi dia sudah tidak mencintaimu Mas!! Dia membencimu, kamu lupa??" Sarah masih terus berusaha menolak kenyataan jika hati suaminya telah berubah.


Benar saja, jika Erland terus saja mengeluarkan suaranya, pasti perdebatan mereka tidak akan selesai. Memang sebaiknya tadi Erland tetap diam.


"Aku tidak lupa. Biarkan dia membenciku, tugasku hanya membuatnya kembali mencintaiku"


Sakit, hati Sarah semakin sakit mendengar pernyataan demi pernyataan dari Erland untuk Viola.


"Kalau begitu, apa kamu masih mencintaiku??" Sarah sudah membasahi pipinya dengan air matanya.


"Kalau begitu ceraikan dia!!"


"Apa yang kamu katakan Sarah??" Erland sudah hampir habis kesabarannya.


"Aku memberimu pilihan, ceraikan atau aku yang akan pergi!! Aku sudah tidak tahan lagi, aku tidak mau terus seperti ini. Apa kata orang nanti kalau tau statusku yang mempunyai madu"


Sarah tiba-tiba histeris, menangis dengan suaranya yang keras dan meraung-raung.


"Tenang Sarah, kendalikan dirimu!!" Erland mencoba meraih Sarah ke dalam pelukannya. Namun wanita itu menolak.


"Sarah, maafkan aku. Tolong mengertilah keadaanku. Aku akan berusaha lebih adil lagi, aku janji. Apa yang harus aku lakukan agar membuatmu bisa menerima semua ini Sarah?? Katakan!!"


Sarah menatap mata Erland yang terlihat begitu putus asa itu.


"Kamu ingin membuatku bahagia dan menerima semua ini Mas??" Erland mengangguk.


"Ayo kita pergi bulan madu lagi. Siapa tau setelah kita pulang, aku di beri kepercayaan untuk mengandung anakmu"


Erland sempat terkejut dengan permintaan Sarah, namun demi mempertahankan satu wanita yang mengisi sebagian hatinya akhirnya Erland setuju.


"Baiklah, tapi ijinkan aku memberi tahu Viola dulu. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja" Sarah mengangguk setuju.


"Ku ijinkan kamu menemuinya untuk memberi tahu rencana kita Mas. Sekalian saja hancurkan hatinya" Sarah tertawa di dalam hatinya.

__ADS_1


*


*


*


"Vi, boleh Abang bicara??"


Setelah makan malam, Erland dengan sengaja mendatangi Viola ke kamarnya.


"Ada apa??" Wanita itu masih terlihat dingin di mata Erland.


Erland mendekati Viola, duduk di samping istrinya itu. Seperti biasa, Viola masih mengenakan mukenanya selepas sholat isya.


"Sarah meminta cerai dari Abang"


"Apa??" Viola kira perdebatan mereka tadi pagi sudah berakhir. Tapi nyatanya masih begitu panjang.


"Sarah akan membatalkan niatnya itu, tapi dengan satu syarat" Erland sudah tampak tak bersemangat sejak masuk ke dalam kamar Viola tadi.


"Apa itu??"


"Dia mengajak Abang untuk pergi liburan. Dengan harapan dia akan segera hamil setelah pulang nanti" Erland menundukkan wajahnya. Dia sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakan itu pada Viola.


NYES....


Viola sepeti terkena taburan garam di hatinya yang terluka.


"Abang harus bagiamana Vi?? Abang berat sekali meninggalkan kamu di sini meski hanya beberapa hari. Tapi Abang juga tidak mungkin melepaskan Sarah begitu saja. Abang menyayangi kalian berdua. Rasanya pundak Abang sudah hampir patah menanggung semua ini"


Punggung Erland bergetar dengan kuat. Meski tak bersuara, namun pria itu menangis di depan Viola.


"Pergilah, aku tidak papa" Hanya kalimat yang begitu pendek namun bisa meluluh lantahkan hati Erland. Rasanya perih seperti Erland yang akan di tinggalkan pergi.


Viola tersentak karena tiba-tiba Erland meletakkan kepalanya pada paha Viola. Menyembunyikan wajahnya pada perut Viola. Menangis sesenggukan di sana dengan tangannya yang memeluk erat pinggang milik Viola.


Ini untuk kali ke dua Viola melihat Erland menangis. Tapi kali ini Viola ikut merasa kesakitan mendengar isakan laki-laki yang menjadi suaminya itu.


Selama ini Viola merasa yang paling tersakiti. Tapi nyatanya Erland juga sesakit itu.


"Abang ingin sekali mengajakmu Vi, rasanya Abang tak mampu jauh darimu" Suara Erland tertahan di perut Viola.


Tangan Viola bergerak mengusap lembut kepala Erland.


"Pergilah Bang, lakukan tugasmu sebagai seorang suami. Bahagiakan istrimu, pertahankan rumah tanggamu. Aku tidak papa, insyaallah jika Allah masih mengijinkan, aku akan tetap di sini sampai Abang kembali"


Bahagia rasanya karena Erland kembali mendengar Viola memanggilnya Abang di saat berdua seperti ini. Karena biasanya Vila akan memanggilnya seperti itu hanya sesat di depan Sarah.


Tapi Erland begitu tersayat mendengar kalimat yang bagaikan perpisahan itu.


"Semoga kamu masih di sini sampai Abang kembali Vi"

__ADS_1


"Aku tidak tau Bang, hanya Allah yang akan menentukan"


__ADS_2