Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
124. Menemui Sarah


__ADS_3

Pagi ini Erland sudah rapi namun tak mengenakan pakaian seperti biasanya. Berjas rapi dengan celana bahannya yang di setrika dengan satu garis lurus yang rapi tapi Erland hanya mengenakan celana jeans dan juga kemeja yang lengannya di lipat hingga sebatas siku. Tak lupa sneakers berwarna putih yang memperlengkap penampilannya. Sungguh Erland tidak seperti pria yang hampir berusia tiga puluh enam tahun. Melainkan seperti pemuda yang masih berusia dua puluhan.


"Kamu baik-baik di rumah ya. Kalau ada apa-apa hubungi Abang"


Erland menghampiri istrinya yang sedang berjemur bersama putra kesayangannya.


"Abang yakin nggak bolehin aku ikut ke sana??"


Melihat istrinya yang mendadak cemberut membuat Erland duduk di samping Viola.


"Bukan nggak boleh sayang. Tapi kamu baru saja keluar dari Rumah sakit. Kondisi kamu belum pulih betul. Kamu ikut saat polisi meminta kamu untuk memberikan keterangan saja ya?? Lagipula Ezra juga belum ada pengasuhnya. Nanti dia kesepian di rumah"


Meski Erland sudah menjelaskan tentang kondisi Viola. Tapi Viola seakan tidak rela jika suaminya itu menemui mantan istrinya.


Hari ini memang Erland bersama pengacaranya akan datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan atas laporannya kepada Sarah.


"Tapi Bang..."


"Sayang, Abang nggak bakal ngapa-ngapain sama Sarah. Abang ke sana juga sama pengacara Abang. Jadi kamu nggak usah cemburu kaya gini" Goda Erland.


"Dih, siapa juga yang cemburu" Viola melengos membuang mukanya ke arah lain.


Erland sengaja mengacak rambut Viola dengan pelan. Istrinya itu sungguh menggemaskan kalau sedang cemburu seperti itu.


"Abang tau kok, kalau sebenarnya kamu ingin ikut ke sana cuma mau jagain Abang dari perempuan lain aja kan?" Erland semakin menggoda Viola. Melihat wajah kesal Viola membuat suasana hati Erland meningkat.


"Dia bukan orang lain Abang. Dia mantan istri kamu. Dia wanita yang pernah kamu cintai. Bisa aja kan masih ada cinta di hati kamu buat dia. Jadi ka...."


Cup..


Viola melotot karena ciuman tiba-tiba dari Erland yang berhasil membungkam mulutnya.


"Kamu satu-satunya wanita yang Abang cintai. Memang Abang akui saat mengetahui kebohongan Sarah masih tersisa sedikit rasa untuknya. Tapi saat dia berusaha mencelakai kamu dan anak kita, rasa itu berubah menjadi kebencian. Jadi jangan pernah cemburu atas dasar apapun kepada perempuan itu sayang, karena di hati Abang hanya ada kamu"


Meski kata-kata Erland itu terdengar gombal tapi Viola tak menampik jika hatinya merasa senang mendengarnya.

__ADS_1


"Sekarang Abang berangkat dulu ya?? Pengacara Abang sudah jalan ke sana" Viola hanya bisa mengangguk menuruti suaminya.


"Ezra anak Papa yang gantengnya nggak ketulungan. Papa pergi dulu ya, jadi anak pinter di rumah yang nurut sama Mama. Nanti Papa beliin mainan kalau pulang. Oke??" Erland mengendus-endus pipi anaknya yang mengeluarkan bau harum khas bayi.


"Dia belum ngerti mainan kali Bang"


"Ya nggak papa, kan bisa di mainin besok kalau udah besar"


Viola hanya bisa diam setiap Erland berkata seperti itu. Dia mengerti jika suaminya itu terlampau senang karena memiliki sorang putra.


"Ya sudah sekarang papa berangkat aja. Hati-hati di jalan yaa. Jangan lupa bawa mainan yang banyak saat pulang nanti" Viola dengan lucunya menirukan suara anak kecil.


"Tentu saja papa nggak akan lupa buat anak Papa yang paling ganteng"


Ezra si bayi kecil itu hanya bisa menguap mendengar ucapan Papanya. Sontak respon bayi itu menjadi gelak tawa bagi kedua orang tuanya.


"Sudah sana Abang berangkat" Viola mendorong pelan bahu Erland.


"Iya, kalau ada apa-apa hubungi Abang ya"


*


*


*


*


Kedatangan Erland sudah di tunggu pengacaranya di depan kantor polisi. Mereka berdua memutuskan untuk masuk secara bersamaan. Pengacara yang ternyata teman sekolah Erland itu. Erland selalu mempercayakan semua urusan perusahaan yang berhubungan dengan hukum kepadanya. Tapi baru kali ini Erland menyeretnya ke dalam urusan rumah tangganya termasuk masalah perceraian waktu itu.


"Sudah siap Er?? Nanti ceritakan semua yang lo tau. Jangan mengatakan apapun yang memberatkan Sarah tanpa dasar yang jelas. Itu bisa saja menjadi boomerang buat lo sendiri kalau sampai penyidik tau lo berbohong dengan kesaksian lo" Pesan Denis selaku pengacara Erland.


"Tenang saja. Sebenci-bencinya gue sama Sarah, gue bukan orang yang kaya gitu"


"Bagus" Mereka berdua memasuki ruang pemeriksaan dengan berkas-berkas tebal di tangan Denis.

__ADS_1


Pengacara muda itu sudah sangat yakin jika kliennya itu akan memenangkan sidang berkat semua bukti yang mereka dapatkan.


Selama kurang lebih empat jam Erland di ruangan itu. Puluhan pertanyaan di berikan kepada Erland, meski pertanyaan itu mempunyai arti dan jawaban yang sama namun terus di tanyakan berulang-ulang pada Erland.


Setelah keluar dari sana, kini Erland duduk di ruang tunggu untuk bertemu dengan Sarah. Bertatap muka untuk pertama kalinya setelah kejadian yang membuat Sarah menginap penjara saat ini.


Erland sudah memandang Sarah dengan tatapan dinginnya sejak perempuan berstatus janda itu masuk ke dalam ruangan itu. Sarah tampak berantakan dengan rambutnya yang di ikat dengan asal juga bajunya yang lusuh.


"Mas" Sapa Sarah tak berani menatap Erland yang melihatnya dengan tatapan menusuk.


"Apa kabar Sarah??" Suara yang dingin itu seakan mampu membekukan bibir Sarah saat itu juga hingga tak mampu bersuara.


Sarah mengangkat wajahnya. Pria di depannya itu menanyakan kabarnya meski sikapnya tak sehangat dulu.


"Apa ini yang kamu harapkan?? Mendekam di penjara??" Suara Erland saja sudah begitu mengintimidasi Sarah.


"Mas, aku mohon maafkan aku. Bebaskan aku dari sini Mas. Aku akan melakukan apapun setelah kamu membebaskan aku. Atau kamu mau aku mengembalikan semua harta yang aku dapatkan?? Aku rela Mas, untuk apa juga kamu memberiku harta gono gini sebanyak itu kalau aku saja bisa membusuk di sini"


Erland tersenyum kecut. Dalam kondisi seperti ini, Sarah masih memikirkan hartanya.


"Ambillah Sarah, kau tidak butuh semua itu!! Aku datang kesini juga tidak ingin mendengar kata maaf darimu, karena semua itu tidak berarti bagiku. Aku datang menemui mu hanya ingin menanyakan suatu hal kepadamu"


Sarah bisa melihat kilat kemarahan dari mata Erland. Mata yang biasanya menatap dengan teduh itu kini memerah mengkilap seperti ada lapisan kaca di dalamnya.


"Apa kamu puas setelah mencoba melenyapkan anak dalam kandungan Viola?? Apa kamu puas telah mencoba memb unuh darah daging ku??"


Tangan Erland mengepal kuat di atas meja. Ingin sekali memukul meja di depannya itu hingga hancur berkeping-keping.


Sarah terdiam ketakutan. Tangannya bergetar karena amarah Erland itu.


"JAWAB SARAH!!" Bentak Erland.


"Aku nggak nyangka kamu berubah menjadi iblis seperti ini Sarah" Erland menurunkan nada bicaranya.


"Iya aku puas!! Bahkan lebih puas lagi jika anak s*alan itu benar-benar m*ti!!"

__ADS_1


__ADS_2