
"Dia kembali Dokter!!"
Suasana di dalam ruang operasi itu langsung riuh ucapan syukur kepada Tuhan. Mereka telah menyaksikan sebuah keajaiban Tuhan di depan mata mereka sendiri.
Bayi itu kemudian di ambil alih oleh perawat tadi untuk di periksa Dokter kembali. Mereka juga harus segera membersihkan bayi yang baru saja pulang dari jalan-jalannya itu.
Erland masih terus mengucap syukur di dalam hatinya. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terimakasih kepada Tuhan-Nya.
Dia mengusap wajahnya yang basah itu dengan kedua tangannya. Setitik senyum juga telah menggantikan tangisannya yang begitu pilu.
"Lalu bagaiman keadaan istri saya Dokter??" Erland kembali fokus pada Viola setelah melihat putranya terus bergerak dengan menggemaskan saat di bersihkan oleh dua orang perawat.
"Kondisi istri anda masih sangat lemah akibat pendarahannya. Namun kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri anda" Ucap Dokter itu.
"Terimakasih Dokter"
"Berjuanglah sayang, Abang keluar dulu" Sebelum Erland keluar, dia sempat mengecup kening Viola sebentar.
Erland di anatar keluar setelah melihat putranya baik-baik saja sekarang. Kini perasaannya sudah sedikit lega, meski masih memikirkan kondisi Viola yang belum stabil.
Keluarnya Erland dari ruang operasi langsung di sambut oleh keluarganya. Mereka jelas ingin tau apa yang telah terjadi hingga Erland di panggil masuk ke dalam.
"Ibu!!"
Erland langsung menghambur ke pelukan Ibunya dengan isak tangisnya yang kembali hadir. Putranya memang sudah kembali, dan juga sudan di pastikan baik-baik saja oleh Dokter spesialis anak, tapi perasaan takut itu masih ada.
"Kenapa Er?? Apa yang sebenarnya terjadi?? Jangan buat Ibu takut" Ucap Gendis mengusap-usap punggung Erland.
"Iya Er, ada apa. Bagaimana keadaan anak Papi?? Katakan Er!!" Erland baru sadar jika Ayah mertuanya sudah tiba di sana.
Erland mengurai pelukannya, juga mengusap air matanya sebelum dia mulai bercerita tentang apa yang baru saja terjadi. Suatu hal yang membuat Erland lenyap dari muka bumi ini jika harus kehilangan dua kesayangannya itu.
"Tapi, Alhamdulillah cucu laki-laki Papi masih mau Erland rawat Pi" Terlihat jelas rasa syukur di mata Erland saat menceritakan kejadian tadi kepada mertuanya.
"Alhamdulillah. Terimakasih sudah memberikan kesempatan untuk melihat cucu Hamba Ya Allah" Dito hampir menangis mengucap syukur pada Sang Maha Kuasa.
"Lalu keadaan Viola bagaimana Er??" Tanya Via.
Mereka boleh senang karena cucu pertama mereka masih bisa di selamatkan. Tapi mereka masih harus menunggu Viola yang masih berjuang sendirian.
__ADS_1
"Kalau Viola, keadaannya belum stabil Mi. Kita terus berdoa saja ya Mi"
Via kembali terduduk dengan lemas. Kebahagiaan menyambut cucu pertama di keluarga Raharja harus di iringi dengan ketakutan akan suatu hal yang menjadi momok menakutkan bagi semua orang, yaitu kehilangan.
Yovi yang sejak tadi diam, kini hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ingin rasanya mendekat ke pintu itu agar lebih dekat dengan wanita yang ia cintai. Namun melihat keadaan sahabatnya sendiri sudah begitu kalut, Yovi tidak tega menunjukkan rasa khawatirnya pada istri sahabatnya itu.
"Masih cinta banget ya??" Tanya Beca dengan pelan.
"Nggak perlu aku jawab kan??"
Beca tersenyum kecut. Ternyata ada pria yang begitu naif seperti Yovi. Sudah jelas wanita yang Yovi cintai itu telah menikah. Belum lagi hati wanitanya juga terpaut oleh pria lain, masih juga Yovi mengharapkan cinta dari Viola. Semua itu sia-sia bak mengail kucing yang hanyut.
"Kamu tau kan kalau Viola masih mencintai Erland mencintai Erland meski dia tidak pernah mengatakannya??"
"Tau, bahkan sangat terlihat jelas dari matanya" Jawaban Yovi semakin membuat Beca menepuk jidatnya.
"Terus kenapa masih tetap bertahan dengan perasaan yang sudah tidak ada artinya itu??" Bisik Beca.
"Aku sedang berusaha membu nuh perasaan ini. Tapi tidak bisa seinstan itu. Mie instan saja masih harus di masak untuk memakannya. Bagaimana dengan perasaanku yang sudah lama menjadi milik Viola??"
"Serah deh!!"
Kenapa percintaan orang kain begitu unik sedangkan dirinya hanya datar-datar saja. Beca sampai berpikir jika dirinya tidak normal karena tidak kunjung mendapatkan pria yang mencintainya di saat umurnya sudah berkepala tiga.
"Kalau nggak ada yang mau nikahin gue, apa harus gue yang menikahi mereka??"
Beca langsung menggelengkan kepalanya. Mengusir pikiran anehnya itu. Tidak sepantasnya dari tadi Beca membahas tentang perasannya ataupun perasaan Yovi tadi di saat Viola masih berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
"Ayo berjuang Vi. Lo harus bisa bertahan demi suami dan anak lo. Demi semua keluarga lo"
Perhatian semua orang kembali teralihkan saat pintu yang di jaga seluruh keluarga Erland itu terbuka. Dokter yang tadi menangani Viola telah keluar dari sana.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya??" Erland berharap Dokter itu membawa kabar bahagia untuknya.
"Istri Bapak sampai saat ini belum sadarkan diri. Namun jangan khawatir, karena keadaannya sudah stabil. Kita tunggu perkembangannya samapi nanti malam. Jika nanti malam belum sadar juga, kita akan melakukan pemeriksaan ulang pada pasien"
Perasaan Erland kini mengambang. Bisa di bilang lega karena keadaan Viola sudah stabil tapi masih khawatir karena Viola belum juga sadarkan diri.
"Tapi ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada anda Pak. Ini sehubungan dengan keadaan Ibu Viola yang sempat pendarahan tadi. Tadi anda bilang jika Ibu Viola tidak ada indikasi penyakit apapun, juga tidak ada keluhan sama sesekali pada kandungannya"
__ADS_1
"Benar Dok, saya bisa tunjukkan hasil pemeriksaan istri saya bulan lalu kalau Dokter ingin melihatnya"
"Tapi saya telah melakukan pengecekan darah pada Ibu Viola. Saya bahkan sangat terkejut dan hampir tidak percaya sama sekaki, karena di dalam darahnya di temukan kandungan obat penggugur kandungan dengan dosis yang sangat tinggi"
"Apa?? Tidak mungkin Dokter, istri saya juga seorang Dokter. Dia pasti tau obat yang ida konsumsi sendiri"
"Benar Dokter, anak saya tidak mungkin dengan sengaja meminum obat itu!!" Ucap Via tak terima.
Erland tentu saja tidak percaya dengan ucapan Dokter itu. Bagaimana bisa Viola mengkonsumsi obat semacam itu di saat bayi dalam kandungannya siap dilahirkan.
"Itu juga yang saya heran. Atau bisa saja obat itu tidak sengaja tertelan atau bagaimana caranya saya tidak tau karena pasien juga belum sadarkan diri. Efek dari obat itu juga yang membuat putra anda hampir saja tidak bisa selamat"
Erland mengingat jelas bagaimana putranya itu tidak bergerak sama sekali.
"Astagfirullah" Gendis merasa begitu lemas sehingga harus di bantu Endah untuk duduk di kursinya.
"Anak kita Pi" Via menatap Dito dengan berkaca-kaca.
"Tenang dulu" Dito mendekap istrinya dari samping.
"Untung saja Ibu Viola tidak telat di bawa ke Rumah sakit. Kalau sampai telat sedikit saja, kalian bisa benar-benar kehilangan bayi kalian, rahim ibu Viola juga bisa rusak, dan lebih parahnya lagi, nyawa Ibu dan anak tidak bisa di selamatkan"
Erland terhuyung ke belakang. Bagaimana jika dia benar-benar telat membawa Viola ke Rumah sakit. Hari ini pasti menjadi hari berduka untuknya.
"Lalu bagaimana keadaan istri saya Dokter?? Apa ada efek dari obat itu telah merusak rahim istri saya??" Tanya Erland begitu ketakutan.
Dokter itu menggeleng, lalu tersenyum dengan begitu tipis.
"Tenang Pak, Ibu Viola masih di beri kesempatan untuk memiliki rahimnya"
Elgrand menghela nafasnya panjang, karena merasa lega dengan penuturan Dokter itu.
"Saya permisi dulu"
"Terimakasih untuk semuanya Dokter" Dokter tadi hanya mengangguk dan menepuk bahu Erland dengan pelan.
Pikiran Erland langsung melayang, mengobrak-abrik otaknya sendiri untuk mengingat sesuatu.
Sesuatu lewat dalam pikiran Erland begitu saja. Tapi dia masih terdiam, dia ingin memastikannya terlebih dahulu saat Viola sadarkan diri nantinya.
__ADS_1