Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
109. Kedatangan keluarga besar


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu. Erland juga sudah menyerahkan gugatan perceraiannya ke pengadilan. Jadwal sidang pertama mereka juga sudah di jadwalkan tanpa mediasi terlebih dahulu. Pengacara mereka berdua juga sudah menjanjikan akan melakukan yang terbaik agar di hari pertama sidang sudah membuahkan keputusan telak dari hakim.


Sejak beberapa hari ini Sarah juga masih sama. Bersikap layaknya seorang wanita yang tidak akan menghadapi perceraian. Dia tetap bersikap baik pada Erland dan Viola. Sarah seolah-olah ingin membuktikan pada calon mantan suami dan calon mantan madunya itu jika dia benar-benar berubah.


Pagi ini pun sama, Sarah sudah sibuk di dapur menyiapkan berbagai masakan karena ia mendengar Ibu mertuanya akan datang berkunjung. Mungkin lebih pantas jika disebut mantan Ibu mertuanya juga.


Tanpa sepengetahuan Viola, Sarah sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut Gendis.


"Untuk apa kamu masak sebanyak ini Sarah??" Viola sampai heran melihat kegigihan Sarah belajar memasak dengan melihat konten-konten memasak di media sosial.


"Maaf Viola, aku dengar Ibu akan datang kesini. Jadi aku memasak semua ini untuk menyambut Ibu. Tapi kamu jangan salah paham dulu, aku bukan bermaksud untuk mencari muka di hadapan Ibu. Aku hanya menganggap ini sebagai perpisahan antara aku dan Ibu. Karena sebentar lagi hubungan ku dengan keluarga ini akan berakhir" Jelas Sarah.


"Aku tidak berpikir seperti itu. Hanya saja makanan sebanyak ini terlihat sangat mubazir jika tidak habis.Tapi tidak papa, karena nanti bukan hanya Ibu saja yang akan datang tapi Mami, Papi Endah, Kak Vino, Edgar dan kekasihnya juga akan datang kesini. Jadi mungkin makanan ini akan menjadi jamuan untuk mereka semua" Jawab Viola tanpa maksud apapun.


Sarah tidak tau jika yang akan datang sebanyak itu. Dia hanya mendengar jika Gendis gang akan datang.


"Kalau begitu, apa aku harus menambahnya lagi?"


"Tidak perlu, aku rasa ini sudah cukup"


Sarah mengangguk lalu dia kembali berkutat pada masakannya lagi. Dia terlihat sangat menikmati profesinya saat ini, yaitu tukang masak di keluarga mantan suaminya.


*


*


*


Yang di nanti-nanti pun tiba. Entah mereka sengaja datang bersamaan atau memang kebetulan, semuanya datang di waktu yang sama. Viia, Dito dan Beca juga datang bersamaan.


"Selamat datang Ibu, Mami, Papi dan semuanya" Aku kangen kalian semua" Viola merentangkan tangannya untuk memeluk mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kami juga kangen sama kamu sayang" Via memeluk putrinya dengan begitu Erat.


"Mami sehat ka?? Bagaimana perkembangan pengobatan Mami??" Tanya Viola mengkhawatirkan Maminya. Sudah lama pula dia tidak datang menginap di rumah Maminya.


"Mami sehat sayang. Pengobatan Mami juga berjalan dengan lancar. Sudah ada kemajuan selama beberapa bulan ini, iya kan Pi??"


"Benar sayang. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan Mami. Kamu harus fokus pada kehamilan mu ini" Sambung Dito.


"Papi benar sayang. Ayo sekarang kita duduk dulu. Nggak enak kalau terus berdiri seperti ini" Ucap Erland sambil memeluk pinggang Viola dari samping.


Kehangatan keluarga besar itu begitu terasa saat mereka duduk bersama di ruang keluarga. Obrolan hangat mereka saling bersahutan. Alisa yang masih baru di keluarga itu pun tampak begitu di rangkul dan tak merasa asing sama sekali. Semua menganggap Alisa sudah seperti istrinya Edgar walau hubungan mereka masih berstatus sebagai kekasih saja.


"Kapan kamu akan melamar kekasihmu itu Edgar?? Kalau kelamaan, bisa di ambil orang. Mana mau wanita secantik Alisa menunggu pria sepertimu begitu lama" Goda Dito pada satu-satunya bujangan di ruangan itu.


"Aku sudah memintanya secara pribadi Om. Kalau secara resminya, tinggal menunggu Bang Erland tidak sibuk saja" Edgar melirik ke arah Erland yang sudah ingin menumpuknya dengan vas bunga jika di lihat dari tatapannya.


"Dasar mulutmu itu Ed!! Kamu saja tidak bilang sama Abang kalau kamu sudah meminta Alisa menjadi istrimu. Mana tau kalau kamu meminta Abang segera melamarnya untuk mu!!" Sahut Erland tak terima.


Gelak tawa langsung terdengar di ruangan itu karena Edgar hanya bisa menggaruk belakang kepalanya saja.


"Jangan hanya goda Edgar Pi. Disini juga masih ada yang belum menikah loh" Ucap Viola melirik Beca.


Beca yang langsung di tatap beberapa pasang mata itu terlihat begitu salah tingkah.


"Beca, apa kamu mau Papi kenalkan salah satu rekan kerja Papi?? Sukses dan masih muda-muda juga loh atau teman Vino juga masih banyak yang lajang. Iya kan Vin??"


"Benar Pi, kalau Beca mau. Vino bisa mengenalkan mereka"


"Papi sama Bang Vino ini apaan sih. Beca bisa cari sendiri Kok. Lagi pula Beca juga belum kebelet nikah. Waktu masih panjang, nggak usah buru-buru. Iya kan Vi??" Beca mencoba mencari pembelaan dari sahabatnya itu.


"Heleh nggak ingat umur kamu Beca" Cibir Viola.

__ADS_1


"Kamu sama Endah juga baru menikah. Sama-sama perawan tua tidak usah menghina!!" Kesal Beca.


"Kenapa aku di bawa-bawa!!" Protes wanita yang sejak tadi hanya menyimak itu.


Lagi-lagi tawa mereka memenuhi rumah besar yang di huni dua wanita dalam satu pernikahan itu.


"Ibu, semuanya apa kabar??"


Sejak tadi Sarah baru menampakkan batang hidungnya.


"Sarah. Kemarilah!!"


Gendis memang sudah tau semua masalah rumah tangga Erland dari Edgar. Tapi bukan berarti dia juga membenci Sarah. Lagi pula sebentar lagi Erland juga akan bercerai dengan wanita yang dulu sempat di tentang oleh gendis itu.


Semua yang ada di sana mendadak diam saat kedatangan Sarah.


"Ibu, maafkan aku. Selama ini aku memang bukan menantu yang baik buat Ibu" Sarah langsung memeluk gendis saat sudah duduk di sisi wanita yang sudah beruban itu.


"Sudah Sarah. Semuanya sudah berlalu. Ibu memaafkan kamu, tapi mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi"


"Sekarang Ibu hanya bisa mendoakan semoga kedepannya kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Semoga kamu juga bisa mendapatkan laki-laki yang baik dan menerima kamu apa adanya di luar sana" Pesan Gendis setelah mengurai pelukannya.


"Terimakasih Bu" Sarah mengusap air matanya.


Sejak kedatangan Sarah ke ruangan itu, wajah gadis itu berubah dingin. Menatap Sarah dengan begitu sengit.


"Kalau begitu, kita semua makan dulu yuk. Aku sudah masak banyak untuk menyambut kedatangan kalian semua" Ucap Sarah sudah kembali dengan senyumannya.


"Benar Bu, Sarah sudah memasak banyak makanan dari tadi pagi. Ayo kita ke meja makan sekarang" Tambah Viola. Dia hanya ingin menghargai apa yang telah Sarah lakukan saja.


Tak ada salahnya jika dia mencoba untuk menyenangkan hati Sarah sebelum dia benar-benar pergi dari rumah itu untuk selamanya.

__ADS_1


"Gimana rasanya di buang begitu saja Mbak?? Kejahatan tidak akan selamanya menang. Ingat hukum tabur tuai. Harusnya Mbak bertaubat dari dulu, agar perceraian kalian tidak akan terjadi" Bisik Alisa yang menyamai langkah Sarah.


"Tidak usah sok suci kamu!!" Sarah berjalan lebih dulu dari Alisa. Kali ini dia tidak akan meladeni Alisa karena sedang berada di depan banyak orang. Bisa-bisa dia terlihat buruk di mata mereka semua.


__ADS_2