Bukan Kutukan

Bukan Kutukan
130. Pertemuan ibu dan anak


__ADS_3

Viola masih terdiam di depan samping pintu saat Erland pulang dengan beberapa orang yang tidak pernah di kenalnya.


Tiga orang pria mengikuti Erland masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai dua. Erland hanya sempat mengulurkan tangannya saja pada Viola. Setelahnya Erland pergi dan belum turun lagi hingga saat ini.


Viola tidak tau apa yang Erland lakukan dengan ketiga laki-laki itu di lantai atas. Tapi dari bawah sedikit terdengar suara berisik dari kamar yang dulu di tempati Sarah.


Sambil menggendong Ezra, Viola memilih duduk di sofa ruang tamu yang bisa melihat sedikit pintu kamar Sarah yang terbuka lebar di lantai dua.


"Sebenarnya apa yang sedang Papa lakukan di kamar itu, kenapa mereka lama sekali turunnya??" Viola mengajak bayinya berbicara.


Sampai saat ini memang Viola belum menginjakkan kakinya ke lantai dua rumah itu. Viola seperti tersugesti, dia bisa jijik sendiri membayangkan Erland memadu kasih dengan Sarah di kamar itu.


Jadi Viola hanya bisa menunggu Erland turun dengan sendirinya.


"Awas hati-hati Pak"


Erland membantu mengarahkan salah satu pria tadi yang sedang menuruni tangga dengan menggotong banyak barang di tangan dan bahunya.


"Ini langsung angkut aja Pak??" Tanya salah satu pria itu.


"Langsung aja, semua yang sudah saya tunjuk tadi" Erland berkacak pinggang di ujung tangga. Menunggu dua pria lagi yang sedang menggotong kasur berukuran lebar.


Viola masih jadi penonton di sana. Dia tau kalau barang-barang itu dari kamar Sarah. Tapi dia belum tau mau di bawa kemana barang-barang itu.


"Kebut aja Pak. Angkut semuanya, keburu hujan" Ucap Erland saat pria yang pertama keluar tadi kembali masuk.


"Baik Pak"


Erland kini beralih pada istrinya yang sejak tadi kebingungan menatapnya. Erland tau itu, karena dia belum memberitahu Viola tentang apa yang dilakukan dirinya dan orang-orang itu.


"Anak Papa bobok ya??" Erland mencium pipi Ezra dengan gemas.


"Apa yang mau kamu tanyakan sayang?? Kening kamu itu berkerut terus dari tadi" Erland mengusap kening Viola dengan ibu jarinya.


"Baru ingat kalau istrinya nungguin dari tadi??" Sindir Viola.


"Maaf sayang, Abang nggak bilang dulu sama kamu. Abang membersihkan kamar atas"


"Maksud Abang?? Bukannya tiap hari sudah di bersihkan sama Bi Tum ya??"

__ADS_1


"Beda sayang. Kali ini, membersihkan dalam arti yang sesungguhnya. Benar-benar bersih"


Viola dan Erland kembali menoleh saat melihat pekerja yang di bayar Erland itu turun membawa meja rias milik Sarah.


"Mengosongkan kamar itu maksud Abang??"


"Iya" Jawab Erland singkat.


"Kenapa??"


Erland menyelipkan anak rambut Viola ke belakang telinga Viola.


"Abang tau kalau sampai saat ini kamu belum mau naik ke lantai dua. Abang maklum karena kamu pasti tidak mau melihat kamar yang di huni suami kamu dengan istrinya terdahulu. Jadi Abang berusaha untuk membuang semua barang-barang yang berhubungan dengan Sarah. Meski Abang tau kalau itu tidak begitu berpengaruh, tapi ini salah satu cara yang bisa Abang lalukan agar bayang-bayang Sarag benar-benar hilang dari pandangan kamu"


Viola tidak tau harus menjawab apa tapi ia cukup senang karena dengan begitu, Viola percaya jika suaminya itu benar-benar melupakan Sarah. Viola tak munafik, jika dirinya senang dengan usaha Erland itu.


"Abang nggak memaksa kamu untuk naik ke lantai dua. Tapi ruang lingkup kamu jadi terbatas kalau hanya di lantai satu sayang"


"Nggak papa Bang. Maafkan aku yang terlalu berlebihan ya?? Mulai sekarang, aku akan usahakan naik ke sana walau hanya melihat-lihat saja. Tapi untuk kamar aku tetap minta di bawah saja"


"Kenapa?? Apa kamu mau kita pindah rumah saja??" Erland terlihat sedikit kecewa.


Kamar yang di atas lebih bagus dan lebih luas jika di bandingkan di kamar Viola sekarang. Meski kamar Viola juga tidak kalah bagus dan luas namun masih kalah jika di bandingkan kamar utama rumah itu.


Erland menghela nafasnya setelah mendapatkan penjelasan dari Viola. Meski sedikit kecewa namun dia bisa menerima apa yang Viola inginkan.


"Baiklah kalau begitu. Tapi Abang akan tetap mengosongkan kamar itu, lalu kita beli lagi isi kamarnya"


Viola mengangguk menyetujui apa yang Erland katakan.


"Lalu kamu kemanakan barang-barang tadi Bang?? Masih bagus-bagus kan harusnya"


"Mereka bertiga itu pengepul barang bekas yank. Abang memintanya untuk membereskan kamar ini namun Abang akan memberikannya secara cuma-cuma. Mungkin nisa juga mereka mengambil untuk keluarganya." Viola mengangguk-angguk mengerti.


*


*


*

__ADS_1


Rasti, Ibu-ibu sosialita yang seharunya sedang bahagia karena karena menikmati masa tuanya tanpa harus bekerja keras seperti saat ini. Namun semua impiannya itu hilang sekejap mata karena ulah anak yang ada didepannya saat ini.


Rasti menatap Sarah dengan miris. Putrinya itu memakai baju berwarna biru sama seperti orang-orang yang ada di sana.


"Ngapain Mama kesini??" Tanya Sarah dengan ketus.


Sarah marah karena saat sidang pertamanya kemarin. Rasti sama sekali tidak terlihat di ruang sidang.


"Jangan marah sama Mama sayang. Maafkan Mama karena kemarin nggak datang ke persidangan kamu" Ucap Rasti dengan sedih.


"Udah lupa sama anaknya??" Sarkas Sarah.


"Sayang, jangan bilang kaya gitu sama Mama. Kemarin Mama memang nggak datang kesini karena Mama sedang mencari orang yang bisa membebaskan kamu dari sini" Ucap Rasti dengan begitu meyakinkan.


"Jadi dapet nggak??" Sarah masih saja terlihat marah pada Mamanya itu.


Rasti menggeleng yang di sambut decakan kesal oleh Sarah.


"Mama nggak punya uang untuk membayarnya Sarah. Dia janji akan memenangkan persidangan besok tapi dia meminta bayaran yang tinggi Sarah. Sementara Mama nggak ada uang sama sekali"


"Terus harus gimana dong Ma?? Aku juga ada di sini, aku nggak akan bisa mengambil uang ku Ma" Sarah terlihat sedikit bersemangat karena adanya setitik harapan untuknya.


"Mama sebenarnya ada satu cara Sarah. Tapi Mama takut kalau kamu tidak percaya sama Mama"


"Apa itu Ma??"


Rasti merogoh tasnya. Mengambil selembar kertas uang telah terisi dengan tulisan-tulisan di dalamnya.


"Apa ini??" Sarah tidak mengerti dengan isi dari kertas itu.


"Hanya dengan cara ini agar Mama bisa membayar orang itu Sarah"


Sarah membaca sebagian isi dari kertas itu. Namun Viola sudah paham tentang kesimpulan dari keseluruhannya.


"Tapi Mama yakin kan dia bisa membebaskan ku??"


Rasti mengangguk "Percaya sama Mama"


"Jangan menyalahgunakan kepercayaan yang aku berikan ini Ma" Sarah mulai membubuhkan tanda tangannya pada selembar kertas surat kuasa itu.

__ADS_1


"Kamu tenang saja Sarah. Setelah Mama bisa mencairkan semua harta gono gini dari Erland dengan surat kuasa ini. Mama akan langsung menghubungi pengacara itu untuk membantu kamu keluar dari sini" Rasti meyakinkan anaknya itu.


"Aku percaya sama Mama"


__ADS_2