
"Assalamualaikum" Ucap Aisyah sambil membuka pintu kamar.
"Waalaikum salam" Jawab Dinda, Lina dan Syifa secara bersamaan.
"Syah Lo kenapa? kok nangis?" tanya Lina setelah melihat Aisyah datang.
"Nggak papa kok"
"Syah Lo jangan gitu dong, kalau punya masalah cerita aja sama kita" Sambung Syifa.
"Iya Syah, kan kita udah sepakat jadi sahabat. Jadi kalau ada apa apa kamu harus cerita ke kita siapa tau kita bisa bantu masalah kamu"
"Lo abis nangis kan"
"Nggak"
"Udah jangan bohong, Lo abis nangis kan syah, cerita lah Syah sama kita Lo ada masalah apa?"
"Iya aku habis nangis, tapi bukan karena ada masalah,,, tapi karena aku,,, " Jawab aisyah, ia tidak mau memberitahukan yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Dinda.
"Emmmm, aku ke kamar mandi dulu ya mau ganti baju" Ujar Aisyah mengalihkan pembicaraan.
Lantas Aisyah langsung mengambil bajunya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Gue rasa Aisyah sedih karena dihina terus deh sama orang orang" Ujar Syifa saat Aisyah sudah meninggalkan kamar untuk ganti baju.
"Iya bisa jadi, aku ga tau lagi deh harus gimana kalau jadi Aisyah. Dulu aja aku pernah dihina, sakit banget rasanya, apalagi Aisyah yang hampir setiap hari dihina sama mereka"
"Mereka itu kalau ngomong ga mikirin hatinya orang dulu, tinggal ceplas ceplus aja"
"Iya"
Beberapa menit kemudian Aisyah sudah kembali ke kamarnya. Dinda pun segera menghampiri Aisyah yang sudah terduduk di tempat tidur nya.
"Aisyah" Panggil Dinda sambil mengelus lembut tangan Aisyah.
"Kamu kalau ada masalah cerita aja" sambungnya pelan.
"Din,,, tolong biarin aku istirahat. Aku lagi pengen sendiri, dan makasih kamu udah perhatian sama aku. Sekarang aku mau tidur dulu ya, kamu juga harus istirahat" Jawab Aisyah dengan nada pelan dan suara agak serak, ia berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya saat ini sedang sedih.
Dinda pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Lalu Aisyah segera berbaring di tempat tidurnya dan menarik selimutnya hingga dada, dimiringkan badannya kearah kanan, lalu memejamkan kedua matanya. Sedangkan Dinda mengelus lembut lengan Aisyah, setelah itu ia kembali ke tempat tidurnya dan memilih untuk membaca buku.
•••••
21.35
Fariz baru saja selesai mengerjakan semua tugasnya, lalu ia langsung beristirahat sejenak sambil memikirkan bagaimana ia meminta maaf kepada Aisyah. Semua kata kata Aisyah selalu berada dibenak pikirannya, sehingga hal tersebut membuat Fariz semakin merasa bersalah bila ia belum meminta maaf kepada Aisyah.
•••••
Esok harinya mereka berempat bersiap siap untuk pergi ke sekolah.
"Bu saya izin mau ke toilet sebentar ya" Ujar Syifa saat pembelajaran berlangsung.
Bu Mila yang mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia pada saat itu pun mengizinkan.
"Tapi Aisyah juga pengen ke toilet Bu, gimana boleh ga kalau kita keluar berdua sekaligus"
"Syifa, kamu ngomong apa sih" Bisik aisyah.
"Udah Lo ikut gue aja ya"
Bu Mila pun mengangguk pelan.
Setelah mendapatkan izin dari Bu Mila, Syifa menarik paksa tangan Aisyah agar ia mau ikut ke toilet. Mau tidak mau Aisyah harus mengikuti kemauan sahabatnya tersebut.
"Fa,, kamu apa apaan sih pakai bilang begitu sama Bu Mila"
"Udah ga papa, ya sekali kali lah pas pelajaran keluar kelas biar ga mumet tu pikiran di suruh mikir terus."
"Terus nanti pas sampai toilet aku ngapain"
"Ya nungguin gue lah"
"Nungguin kamu?"
"Iya, buang air kecil heheh. Eh tapi nungguinnya diluar bukan di dalem "
"Ya iyalah masak iya didalam toilet aku nungguin kamu, ada ada aja deh" Ujar Aisyah sambil tertawa kecil.
"Syah Lo cantik kalo ketawa gitu, gue juga kangen banget sama senyuman lo"
Mendengar jawaban sahabatnya, Aisyah hanya bisa tersenyum. Sesampainya di toilet Syifa langsung masuk sedangkan Aisyah menunggu diluar. Kemudian datanglah Sasa seorang diri, melihat Sasa datang Aisyah hanya diam, mengingat Sasa lah yang sering mengejeknya selama ini.
"Eh ada Lo Syah, kebetulan banget ya kita ketemu disini" Ujar Sasa dengan nada sombong dan mengejek.
"Eh gue kemarin ga sengaja Lo liat Lo nangis, kenapa emangnya? oh gue tau pasti karena Lo dihina terus kan sama orang orang, yh kasian banget... gue juga mau kasih tau ke lo, Lo itu udah gede udah dewasa jangan gampang nangis kayak anak kecil"
"Heh, maksud Lo apa ngomong kayak gitu" Sahut Syifa sambil menghampiri mereka berdua.
"Lo nggak tau gimana rasanya dihina, Lo ngomong doang enak tapi orang yang Lo hina sakit hatinya"
"iihh,,, Bodo amat"
"Gue ga tau lagi deh sama Lo sa, Lo itu tinggal dipesantren tapi kok bisa ya Lo sering ngehina orang, sebelum Lo ngejek atau ngehina orang Lo intropeksi diri dulu"
"Yang gue omongin siapa yang sewot siapa. Lagi pula ya gue ngomong apa adanya kok"
"Udahlah Syah mendingan pergi aja dari sini, nglayanin orang yang suka ngehina kehidupan orang lain padahal hidupnya sendiri ga bener,,, itu gak penting"
Syifa pun menarik tangan Aisyah, dan mengajaknya pergi dari situ.
__ADS_1
"Tadi kata kata si Sasa jangan dimasukin hati ya" Ujar Syifa saat mereka berjalan menuju kelas.
"Iya ga papa, tapi kamu seharusnya ga ngomong gitu sama Sasa"
"Biarin aja biar tau rasa dia, dari dulu mulutnya pengen banget gue tampol. Heran deh gue sukanya ngehina, nyindir ngejekin orang Mulu. Cabe aja kalah pedesnya dibanding mulutnya dia"
"Udah biarin aja... toh yang nanggung dosanya juga dia kan"
"Gue bener bener ga ngerti sama Lo Syah, bisa bisanya Lo sabar menghadapi semua hinaan ini. Gue aja dulu pernah di sindir rasanya sakit banget apa lagi Lo yang ga berhenti untuk dihina. Temen satu kelas kek, luar kelas kek sama sama ga bisa jaga mulut"
"Husst,,,, ga boleh ngomong gitu, ga baik"
••••••
55 ( Waktunya Istirahat )
"Syah Lo nggak ke kantin"
"Aku nggak ke kantin fa, soalnya lupa bawa uang"
"Yaudah Lo temenin gue yok ke kantin"
Aisyah mengangguk pelan dan mereka berdua segera menuju kantin Bi Yuni. Sesampainya di sana mereka bertemu dengan Lina dan Dinda. Lantas mereka bertiga mengantri membeli makanan sedangkan Aisyah, ia duduk di salah satu kursi yang ada di kantin tersebut. Setelah beberapa menit mengantri mereka pun mendekati Aisyah masing-masing membawa satu buah piring berisi nasi goreng dan jus jambu. Setelah itu mereka duduk dikursi sebelah Aisyah dan sebagian duduk di kursi yang berhadapan dengan Aisyah. Setelah Dinda membawa makanan nya ke meja, ia langsung kembali ke arah bi Yuni untuk mengambil nasi goreng dan jus jambu dan menaruhnya didepan Aisyah.
"Ini buat siapa?" Tanya Aisyah saat nasi goreng dan jus jambu di taruh didepannya.
"Buat kamu"
"Tapi aku ga bawa uang, nanti bayarnya gimana?"
"Udah hari ini gratis buat Lo" sahut Lina.
"Tenang aja Syah, itu yang bayarin kita bertiga"
"Loh kok gitu,,, udah ah ga usah aku ga mau ngrepotin kalian"
"Nggak ngrepotin kok Syah, udah Lo tinggal makan aja" Sahut Syifa
"Iya Syah makan aja ga papa"
Mereka terus mendesak Aisyah agar mau memakan makanan tersebut, suka tidak suka Aisyah harus mengikuti permintaan mereka.
"Makasih ya,,, udah mau traktir aku" ujar Aisyah sambil tertawa kecil.
"Iya sama sama" Jawab mereka bersamaan.
Jam istirahat hampir habis, mereka bertiga langsung membayar total makanan yang telah dipesan. Lalu, mereka beranjak pergi menuju kelasnya masing-masing. Tiba tiba terdengarlah sebuah pengumuman dari kantor guru.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, untuk anak anak ku sekalian hari ini bapak ibu guru akan mengadakan rapat, oleh karena itu siswa siswi dipulangkan lebih awal dari hari biasanya, sekian terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Aisyah, gue duluan ya" Ujar Syifa saat ia sudah selesai membereskan barang-barangnya
"Mau kemana"
"Gue ada urusan sebentar, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Syifa pun bergegas keluar kelas, sedangkan Aisyah melanjutkan membereskan semua barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah semuanya selesai ia pergi menuju gerbang sekolah, disana ia bertemu dengan lina.
"Lin,, kamu kok sendirian disini,, Dinda mana"
"Dinda ada urusan, makannya dia pulang duluan"
"Pulang sendirian?"
"Sama Syifa"
"Ya udah kita langsung pulang ke pesantren ya"
"Eh tunggu tunggu,,, kok tiba tiba perut gue mules gini ya, emmm... gue ke kamar mandi dulu ya,, Lo tungguin gue disini aja"
"Ya udah kalau gitu"
Lina pun segera berlari menuju kamar mandi,, sedangkan Aisyah menunggunya di gerbang sekolah.
15 menit kemudian....
"Syah, maaf lama ya"
"Oh gak kok, gimana udah mendingan perutnya?"
"Masih sakit"
"Terus gimana?"
"Emmm,,, anterin gue beli minyak kayu putih ya"
"Iya"
Mereka langsung pergi ke toko terdekat dari sekolah. Sesampainya disana lina langsung membeli minyak kayu putih.
"Bu beli minyak kayu putih satu ya" Ujar Lina pada sang penjual.
Tidak lama kemudian minyak kayu putih sudah ada didepan Lina, lalu Lina membayar dengan beberapa lembar uang. Setelah itu, Lina memakai minyak kayu di bagian perut, leher bagian belakang, dan juga diatas kedua alisnya, Lina juga menghirup minyak kayu putih beberapa kali.
"Gimana? udah mendingan apa masih sakit"
"Emmm,,, iya Syah udah mendingan"
__ADS_1
"Kita pulang?"
"Iya"
Mereka langsung beranjak pergi menuju pesantren. Sesampainya di pesantren mereka lengsung menuju ke kamarnya, begitu pintu dibuka,, Aisyah kebingungan melihat beberapa balon dan kertas krep tertempel di dinding kamar.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Aisyah selamat ulang tahun"
Aisyah semakin bingung saat tiba tiba Dinda dan Syifa muncul begitu saja dengan membawa kue ulang tahun rasa coklat dan beberapa lilin kecil yang dipasang diatasnya.
"Mmmm, siapa yang ulang tahun" Tanya Aisyah
"Ya kamu lah siapa lagi"
"Aku?" Ujar Aisyah dengan mengerutkan dahinya.
Lalu Dinda, Syifa dan Lina mengangguk.
"Tapi hari ini aku ga ulang tahun"
"Tapi tadi aku ketemu orang, terus dia bilang kalau hari ini kamu ulang tahun" Kata Dinda.
"Tapi ulang tahunku masih lama, tanggal 15 April"
Lalu mereka bertiga bengong, melihat ekspresi mereka Aisyah pun tertawa.
"Ekspresi kalian lucu tau ga,,, " ujar Aisyah masih dengan tawanya.
Lalu Aisyah meniup setiap lilinnya.
"Sekarang giliran potong kuenya, pisaunya mana?" Ujar Aisyah.
Dengan ekspresi masih kebingungan Dinda memberi pisau kue ulang tahun kepada aisyah. Lalu Aisyah memotong kue tersebut dengan ukuran yang cukup besar.
"Oke, suapan pertama untuk Dinda, Lina dan Syifa"
"Kok kita bertiga, "
"Ya ga papa, ini aku motongnya gede cukup buat bertiga sekaligus"
Lalu Dinda, Lina dan Syifa memakan kuenya secara bersamaan. Aisyah kembali tertawa melihat mulut mereka yang belepotan oleh krim kue. Setelah itu Dinda pun memotong kue lalu menyuapi Aisyah, hal yang sama pun dilakukan oleh Syifa dan Lina.
Mereka langsung menghabiskan kue tersebut, bahkan krim yang ada di kue tersebut dijadikan sebagai candaan mereka. Sebagian wajah dan tangan mereka dipenuhi oleh krim. Mereka juga iseng dengan mengagetkan satu sama lain dengan menggunakan balon. Saat itu hanya gelak tawa yang menyerta mereka. Hingga Aisyah dan lina tidak sadar bahwa saat itu mereka masih memakai seragam sekolah.
"Duh seragamku kena krim nih" Ujar aisyah menyadari bahwa ada beberapa bagian diseragamnya yang tak sengaja terkena krim kue.
"Udah ga papa besok kan libur, jadi seragamnya besok bisa langsung kamu cuci" Ujar Dinda menenangkan.
"Ya udah aku ganti baju Dulu ya"
Aisyah langsung beranjak menuju lemari bajunya, lalu ia mengeluarkan baju berwarna hijau toska dan kerudung berwarna biru muda, setelah itu Aisyah langsung beranjak pergi menuju kamar mandi. Lina pun ingin mengganti seragamnya dengan baju.
"Lin, mau kemana Lo" Tanya syifa saat melihat Lina pergi dengan membawa baju ganti.
"Mau ganti bajulah"
"Bantuin beresin dulu, nanti baru ganti baju"
"Tapi... "
"Iya Lin, nanti keburu ustadzah lihat kamar kita berantakan, kamu ganti bajunya pas Aisyah udah balik kesini aja ya,,, gantian" Sambung dinda
"Iya udah deh kalau gitu"
Mereka bertiga langsung membereskan semuanya, dalam waktu sekejap semuanya sudah bersih seperti semula. Setelah selesai, mereka duduk dan berbincang bincang. Bertepatan dengan itu Aisyah sudah selesai ganti baju dan segera berjalan menuju kamarnya. Saat ingin masuk ke kamar Aisyah tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka dari luar.
"Gue seneng banget tadi liat Aisyah ketawa gitu" Ujar Syifa.
"Iya walaupun gue harus pura pura masuk angin untuk ngulur waktu biar kalian bisa nyiapin semuanya, tadi gue takut kalau semuanya belum selesai dipersiapakan pasti rencana kita gagal" Timpal Lina.
"Tenang aja tadi gue pas sampai sini langsung cepet cepet nyiapain semuanya, Iya kan Din"
"Iya, aku juga seneng lihat Aisyah ketawa lepas kayak gitu"
"Semuanya berkat Lo Din, ide Lo bener bener cemerlang, akting kalian juga bagus lho tadi pas bengong, bener bener perfect" Ujar Lina sambil tertawa kecil.
"Iya walaupun emang aku tau kalau hari ini emang bukan hari ulang tahun Aisyah"
"Jadi semua ini hanya sandiwara" Ujar aisyah,. membuat mereka kaget.
"Aisyah" Lirih Dinda.
"Kenapa sih, kenapa kalian nglakuin ini"
Lalu Aisyah berjalan mendekati mereka, mereka bertiga pun langsung berdiri melihat Aisyah mendekati mereka.
"Syah, Syah Lo jangan salah paham dulu,, kita bohongin Lo, kita buat sandiwara ini itu semata mata,,,, "
Belum lagi Lina menyelesaikan kata katanya sebuah pelukan hangat menyelimuti mereka. Aisyah memeluk erat mereka bertiga.
"Syah, kamu emmm kamu marah sama kita?" Tanya Dinda.
Mendengar pertanyaan sahabatnya Aisyah langsung melepas pelukannya.
"Kenapa? Kenapa aku harus marah sama kalian. Aku justru merasa beruntung banget punya sahabat sebaik kalian. Aku nggak tau lagi kenapa kalian sebaik itu sama aku"
"Syah kita ga baik sama kamu, emang itu yang harus dilakukan seorang sahabat. Dia harus selalu ada dalam suka maupun duka, harus berusaha menjadi lilin dimalam yang gelap. Kita juga ga mau lihat kamu sedih terus menerus"
"Iya Syah bener apa kata Dinda" Sambung Syifa.
Aisyah pun kembali memeluk mereka bertiga, dan mereka bertiga pun membalas pelukan dari Aisyah.
"Ya Allah begitu indahnya persahabatan, disaat semua orang menjatuhkan, sahabat yang berusaha untuk membangkitkan, disaat semua orang menutup cahaya disetiap celah, sahabat lah yang berusaha membukanya agar cahaya tersebut kembali terlihat, disaat semua orang berusaha menciptakan air mata tapi sahabat berusaha mengukir senyuman. Terima kasih telah mendatangkan Dinda, Syifa dan Lina dalam kehidupan hamba Ya Allah, terima kasih untuk seorang sahabat yang telah Engkau berikan kepada hamba" Kata hati Aisyah, Beberapa air mata pun keluar turut menyertai kebahagiaan Aisyah.
__ADS_1
...*********...