Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Kebenaran


__ADS_3

Tok tok tok...


Syifa membuka pintu. "Ya Allah Syah,,, kok basah gini sih?? Hujan hujan ya pasti, enak banget. Kenapa ga ngajak gue?"


"Fa, aku mau ganti baju dulu" Ujar Aisyah.


"Oh iya. Cepetan! Keburu masuk angin nanti."


Tiba tiba Dinda datang ke tengah tengah mereka. "Ini Syah, udah aku ambilin baju sekalian sama handuknya. Nanti kalau kamu masuk, takut basah lantai nya"


"Eh iya, lo basah banget. Sampe netes netes airnya"


"Iya. Makasih Din"


"Sini tasnya" Ujar Dinda.


Aisyah melepaskan tas punggungnya lalu menyerah kan kepada Dinda. "Aku ke kamar mandi dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka berdua.


"Ih tasnya basah, bukunya ikutan basah ga ya?" Tanya Syifa.


"Ya udah, nanti kita jemur kalau hujannya udah reda"


"Tapi kalau belum kering juga?"


"Soal tas, nanti aku bisa pinjemin tas lain ke Aisyah"


•••••


Keesokan harinya, Kania dan sheren berjalan beriringan menuju sekolah seperti biasa. Sheren menatap Kania. Sedari tadi gadis itu terlihat was was.


"Hah mau kemana Lo??"


Mereka menghentikan langkahnya. Yang Kania takutkan memang terjadi. Dua lelaki itu, botak dan gondrong kembali muncul.


"Gue udah cari Lo kemana mana, akhirnya ketemu juga"


Sheren menunjuk ragu dirinya. "Gue??"


"Iya Lo. Sekarang, Lo ikut gue. CEPET!!"


"Ih kemana?"


"Kalian yang kemarin ngaku om nya sheren kan?" Tanya Kania.


"Hah? Dia bukan om gue. Ih amit amit" Sahut sheren.


"Udah ga usah banyak omong, langsung sikat aja!!" Ujar yang gondrong membuat temannya langsung memegang erat pergelangan tangan sheren dan memaksanya untuk berjalan ke arah mobil.


"IH LEPASIN!! KANIA TOLONGIN GUE....!"


"Ah udah jangan teriak!!"


Seketika suara mobil polisi terdengar nyata di telinga mereka. "OM POLISI DATANG!! YAKIN GA MAU LARI??" Ujar Kania.


"Hah polisi bro."


"Haduh, kabur kabur. Dari pada kita ketangkap. Yok yok" Mereka berdua langsung melepaskan sheren dan pergi menggunakan mobil.


Kania menghampiri sheren. "Lo ga papa kan?"


"Nggak." Jawabnya. "Mana polisi?"


"Nggak ada. Ini cuma suara dari hape gue. Biar mereka pergi"


"Hah? Kok kebetulan Lo punya begituan"


"Ya karena gue emang udah siapin. Gue udah tahu niat mereka itu apa, dan gue takut Lo kenapa napa" Jelas Kania.


"Maksutnya? Emang niat mereka apa?"


"Kapan kapan gue jelasin. Mendingan kita langsung ke sekolah aja"

__ADS_1


"Iya"


•••••


Saat Fariz tiba di dalam kelas, dia langsung berjalan ke arah mejanya. Terdiam lama.


"Heh, tadi ada orang yang datang ke sini buat kasih makanan?" Tanya Fariz pada salah satu temannya.


"Nggak tuh. Gue ga lihat"


"Ya nggak lihat lah, Lo pikir Aisyah bakal kasih Lo makanan lagi? Lo ga inget Lina sampe marah marah kemarin? Kalau Lina aja sampe marah, dia pasti kecewa sama Lo. Kalau dia aja kecewa, gimana sama Aisyah??" Sahut Iqbal dengan duduk di atas kursinya.


Fariz melihat Iqbal sekilas lalu kembali beralih ke mejanya. Tangannya terselundup di dalam kolong meja. Di dalamnya juga kosong. Apa mungkin hari ini Aisyah memberinya makanan secara langsung seperti kemarin? Atau malah tidak memberinya sama sekali.


Hingga pulang sekolah di tunggunya pun, Aisyah belum memberinya nasi seperti biasa. Dan itu, berlanjut hingga satu Minggu lamanya. Bahkan selama satu Minggu, Aisyah seperti menjauh dari dirinya. Tidak pernah menyapa, selalu menghindar dan tidak pernah menemuinya. Hal yang menjadikan mereka seperti orang asing yang tak pernah kenal.


•••••


03.11


Syifa berjalan memasuki masjid, lalu meletakkan mukenanya di atas lantai. Dirinya menatap Aisyah sekilas. Dia lihat, akhir akhir ini gadis itu terlihat lebih tenang.


"Aisyah" Panggil Syifa.


"Hm??"


"Masih sedih?"


Aisyah terdiam. Lalu menggeleng. "Nggak. Kan ada kamu, Lina, Dinda yang selalu ada buat aku"


Syifa menganggukkan kepalanya. "Iya, pokoknya Lo jangan pernah sedih lagi. Kalau Lo sedih, kita juga ikutan sedih"


"He'em" Jawab Aisyah dengan mengangguk dan tersenyum. "Fa, aku boleh minta tolong sama kamu?"


"Boleh, apa?"


Aisyah menghela panjang. "Aku minta tolong sama kamu, apapun keadaan aku saat ini tolong jangan pernah bilang ke keluargaku ya. Terutama ke umi. Entah aku baik baik aja, aku sakit....pokoknya kalau sampe terjadi apa apa sama aku, jangan pernah kasih tahu ke mereka ya?!"


"Kok Lo bilangnya gitu sih? Kenapa ga boleh di kasih tahu?"


"Iya. In Syaa Allah" Jawab Syifa. "Ya udah, gue ambil wudhu dulu ya"


"Iya. Sebelumnya makasih fa"


"Buat apa? Eh tapi sama sama" Jawab Syifa dengan tersenyum lebar.


•••••


Hari itu, hari sabtu. Hujan deras mengawali pagi hari. Pelajaran sengaja di tiadakan. Di ganti dengan bersih bersih kelas masing masing. Karena saat hujan, kelas terasa lebih risih oleh jejak jejak sepatu murid yang menapak pada lantai kelas. Selain itu, hari Sabtu ini juga para guru sibuk rapat untuk ujian kelulusan.


"Syah, gue ambil pel dulu ya. Biar ini lebih bersih lantainya..." Ujar Syifa.


"Mau ambil di mana?"


"Di gudang. Mungkin ada di sana"


"Biar aku aja"


"Yakin?"


"Iya. Ambil berapa?"


"Dua"


"Iya. Kamu tunggu di sini ya. Aku ke gudang dulu"


"Oke"


"Assalamualaikum" Ujar aisyah.


"Waalaikum salam"


Aisyah langsung berjalan cepat menuju gudang. Beberapa saat, dia menghentikan langkahnya di samping pintu gudang saat melihat Ghea dan Naira ada di dalam. "Mbak Ghea? Ngapain dia?"

__ADS_1


Dirinya memilih untuk bersembunyi di balik dinding. Mendengarkan percakapan dua perempuan tersebut. Entahlah, hatinya menginginkan itu. Padahal, dia sama sekali bukan tipe orang yang suka nguping.


"Jadi gimana bisa Lo buat seolah olah Aisyah yang salah??" Tanya Kania.


Ghea tersenyum. "Oke gue ceritain. Berhubung, Aisyah waktu itu masih Deket sama Fariz jadi gue mau pisahin. Awalnya sih gue berpikir bakal buat Aisyah seolah olah Deket sama cowok lain, tapi ga semudah itu Fariz percaya. Jadilah gue keinget, kalau Fariz itu sayang banget sama keluarganya. Dan itu bisa jadi senjata gue buat jebak Aisyah" Jelas Ghea. "Gue suruh preman preman itu buat culik adiknya Fariz"


"Lo ga takut kalau preman suruhan Lo itu di penjara?"


"Nggak dong. Kan orang suruhan gue udah kasih bukti chatnya aisyah. Gue juga tahu Fariz ga akan tega penjarain Aisyah. Makannya gue suruh mereka bilang kalau mereka di penjara, Aisyah juga harus di penjara"


Naira terdiam. "Bukti chat?"


Ghea mengangguk.


"Lo nge-chat preman itu pakai nomor hape lain, atau pake nomornya Aisyah"


"Ya pake nomornya Aisyah lah. Kalau ga pake nomornya dia, Fariz ga akan mungkin percaya Ra"


"Aduuuhh, gue masih bingung. Kalau Lo chat pake nomornya Aisyah, terus Lo bisa dapetin ponselnya dia dari mana? Minta Langsung??"


"Ya kali gue minta langsung, yang ada dia malah curiga sama gue"


"Terus?"


Ghea menegakkan tubuhnya. "Jadi gini, waktu itu gue lagi mata matain Aisyah, kemanapun dia pergi gue ikutin"


"Tunggu tunggu, berarti waktu itu Lo ada di sana? Bukan di Jakarta?"


"Iya. Gue ada di sana. Tapi setelah itu gue langsung balik ke Jakarta"


"Terus?"


"Dan pada waktu itu, gue lihat Aisyah lagi jalan sama temennya ke sebuah cafe. Dan di sana gue langsung suruh orang buat nabrak dia. Dan waktu itu, gue langsung foto dong mereka seolah olah Deket dan gue kirim ke Fariz melalui nomor gue yang lain. Ya, itu bisa juga gue jadiin bahan buat Fariz semakin panas" Ujar Ghea. "Dan waktu di tabrak itu, Aisyah ga sadar kalau ponselnya di ambil sama orang suruhan gue. Dan ponselnya dia di kasih ke gue"


"Nah di situlah gue langsung nge-chat preman preman itu. Ya,, gue chat seolah olah emang Aisyah yang nyuruh. Habis itu, gue tinggal hapus semua jejaknya, dan suruh orang itu buat balikin ponsel Aisyah dengan alasan tadi ponselnya dia jatuh waktu ga sengaja ketabrak"


Naira diam mencermati. Dia langsung menatap tak percaya Ghea. "Gue ga nyangka, ternyata Lo punya pikiran selicik itu ya??!"


"Apapun demi Fariz bisa jauh dari cewek itu" Jawab Ghea. Dia melipat tangannya di depan dada, lalu melihat Naira. "Lo juga mau gue buat Syifa kayak gitu?"


Naira terpengarah. "Buat Syifa jauh dari Reyhan gitu??"


"Iya. Bukannya Lo suka ya sama Reyhan. Lo harus dapetin apa yang Lo suka, dan singkirin penghalangnya. Penghalang Lo Syifa kan? Yaudah kita buat kayak Aisyah. Gimana??" Tanya Ghea.


•••••


Bila terlanjur cinta buta kepada seseorang,


Tanpa di landasi ilmu agama, maka ingatlah,


Bahwa cinta itu, hanya akan menjerumuskan,


Pada duka lara,


Begitu juga cinta buta kepada kesenangan ibadah tanpa ilmu agama akan menjatuhkan diri pada taqlid buta yang menyengsarakan,


Cinta Sejati seorang manusia adalah,


Ketika cintanya di bangun karena Allah,


dan Rasul-Nya,


Cinta itu akan menjadikan fondasi yang kokoh,


dan saling menguatkan.


•••••


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ


Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (Q.S Al Hujurat : 6)


يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

__ADS_1


(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti. (Q.S Al Luqman : 16)


...*******...


__ADS_2