Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Ingat!!


__ADS_3

Gilang menarik kerah belakang Iqbal. "Jangan bal. Nanti toiletnya jadi bau"


"Aduuhh,,, gue udah kebelet. Udah ah minggir"


"Jangan!!!" Tegas Gilang.


"Gue kebelet ini.." Ujar Iqbal yang sudah tidak sabaran ingin membuang air kecil. Dia langsung memasuki toilet, tak peduli dengan Gilang yang merasa kesal setengah mati. Siap siap saja toilet menjadi kembali bau.


"Ah, lega..." Gumam Iqbal.


Gilang menoyor kepala Iqbal. "Lo yang lega...cium toilet nya jadi bau"


Tanpa disadari, Bu Desi berjalan menuju arah mereka, membuat keduanya terdiam. Lalu, ia mengecek toilet satu persatu.


"Ini kenapa bau??" Tanya Bu Desi dengan menutupi hidungnya.


"Tadi si Iq...."


Iqbal membekap mulut Gilang. "Belum dibersihin Bu dari kemarin. Tadi aja saya mau buang air kecil ga jadi" Bohongnya.


Bu Desi nampak terdiam sejenak. "Panggil Lina" Ucap Bu Desi.


"Iya bu" Iqbal mengangguk pada Bu Desi. "Ayo" Ucapnya pada Gilang yang mulutnya masih dibekap oleh Iqbal. Dengan segera mereka berjalan untuk mencari Lina. Selang beberapa menit ketiganya sudah kembali.


"Assalamualaikum" Ujar Lina.


"Waalaikum salam" Jawab Bu Desi.


"Ada apa Bu? Ibu manggil saya?!"


"Iya,,, ini kenapa toiletnya jadi bau. Kemarin kamu yang bersihin kan?"


"Masa sih Bu" Lina berjalan menuju arah toilet untuk mengeceknya, dan benar saja toilet yang kemarin harum kini sudah berstatus bau.


"Kok bisa jadi bau sih" Gumamnya.


"Apa kamu belum bersihin toiletnya" Tanya Bu Desi.


"Udah kok Bu. Kemarin sebelum pulang sekolah, ibu kan udah nge cek toiletnya terlebih dahulu"


Bu Desi terdiam. "Iya juga ya"


Lina menatap Iqbal. Kecurigaannya pun muncul. Lalu melotot padanya. Sedangkan Iqbal menggeleng kan kepalanya beberapa kali. Meminta Lina agar tidak memberitahu yang sebenarnya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu boleh kembali ke kelas"


"Iya Bu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Bu Desi, Gilang dan iqbal.


"Siapa yang habis dari toilet?" Tanya Bu Desi menyelidiki.


"Yang habis dari toil..." Iqbal kembali menutup mulut Gilang.


"Siapa?!" Tanya Bu Desi.


"Gak ada Bu" Jawab Iqbal. Bu Desi terdiam dengan menatap tajam mereka berdua.


"Wohoo Iqbal,,, wohooo Iqbal. Kau jelek sekali. Ngomel terus tiada henti,, sepanjang hari. Aku ingin memukulmu sepanjang waktu. Karena kamu toilet bau..." Nyanyi Ojit yang tiba tiba datang membuat Iqbal melotot.


"Bu..." Sapa Ojit dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Bu Desi.


"Kamu tadi ngomong apa?!" Tanya Bu Desi.


"Tadi saya ngomong, 'bu" Jawab Ojit.


"Bukan, yang maksut kamu toilet bau"


"Ooo iya Bu toiletnya bau itu gara gara si Iqbal" Jawab Ojit.


Iqbal melotot. Duh punya temen gini amat ya Allah. Batinnya.


"Jadi selama ini Iqbal sering makan jengkol, makannya toiletnya jadi bau gara gara dia" Tambahnya lagi. Gilang melepas tangan Iqbal yang sedari tadi menutupi mulutnya.


"Iya Bu, tadi saya mau bilang itu. Tapi mulut saya malah disumpel sama Iqbal" Timpal Gilang.


"Sumpal sumpel..." Gumam Iqbal kesal.


Bu Desi melotot tajam pada Iqbal. "IQBAALL" Teriaknya.


"Ayo terus....gosoknya yang kuat" Ujar Bu Desi dengan memantau iqbal yang tengah membersihkan toilet.


"Bu sampai kapan saya harus gosok lantai toilet terus. Pegel punggung saya" Keluh Iqbal.


"Udah, jangan banyak ngomel. Makannya gosoknya yang kuat biar cepet bersih. Itu tu yang pojok masih kotor" Ucap Bu Desi. Mengarahkan.


"Kamu ibu hukum untuk membersihkan toilet ini tiga hari berturut-turut" Kata Bu Desi.


"Loh kok gitu Bu"


"Ya salah sendiri toh. Eh, ga jadi ibu hukum tiga hari" Ralatnya.


"Hah beneran Bu?!" Ujar Iqbal senang.


"Iya ga jadi tiga hari. Tapi satu Minggu"


"Loh loh ga bisa gitu dong Bu..." Kata Iqbal tak terima.


"Itu hukuman karena kamu ga ngaku waktu ibu tanya kemarin di kantin"


"Saya itu dijebak sama macan betina Bu...Saya sengaja di suruh makan jengkol" Jelas Iqbal.


"Halah gak usah ngeles kamu"


"Beneran Bu, saya itu ga tau makanan yang saya makan itu namanya jengkol" Ucap Iqbal jujur.


"Tinggal dimana kamu sampai jengkol saja tidak tau"


"Ya dibumi lah Bu, ya kali saya tinggal di Venus"


"Diem kamu!! Gak usah ngejawab" Bentak Bu Desi.


"Udah gendut, mana muka udah kayak dikasih tepung, bibirnya merahnya minta ampun. Galak lagi" Gumam Iqbal.


"Bilang apa kamu?!" Gertak Bu Desi.


"Eh saya bilang Bu Desi cantik banget. Bu Mila aja guru yang paling muda itu lewat. Mana Bu Desi tubuhnya langsing pisan"


"Mau ngehina saya kamu"


"Saya memuji Bu, bukan menghina"


"Kamu pikir ibu bodoh. Sudah cepat bersihkan, nanti ibu akan cek" Kata Bu desi. "Ibu harus mengawasi kelas lain" Lanjutnya lagi. Lalu ia pergi dari toilet.


"Dari dulu sampe sekarang bawaannya emosi Mulu tu guru" Gumam Iqbal.


•••••


"Heh macan betina" Panggil Iqbal saat Lina sedang makan dikantin seorang diri.


"Gue Lina bukan macan betina. Enak aja kalau ngomong"


Iqbal duduk di hadapan Lina. "Eh eh ngapain Lo duduk disitu"


"Kenapa? Ini kursi juga ga punya Lo" Ucap Iqbal. "Heh, Lo sengaja kan kasih gue jengkol"


"Iya kenapa? Biar Lo tau rasa. Habisnya hobi banget cari masalah sama gue"


"Siapa? Gue? Lo kali yang cari masalah sama gue. Heh gue gak mau tau Lo yang harus bersihin tu toilet"


"ih,, ngapain? Yang dihukum kan Lo" Jawab Lina tak terima.


"Gue dihukum juga karena Lo."


"Salah sendiri. Kenapa Lo mau makan jengkol? Terus Lo sendiri kan yang nyuruh gue buat bawain jengkol hampir setiap hari" Jawab Lina.


Iqbal terdiam. Benar juga. "Tapi kenapa Lo ga bilang kalau jengkol itu bau"


"Ya Lo ga nanya sih."


"Pokoknya gue gak mau tau ya, Lo harus bersihin tu toilet"


Lina berdiri. "Ogah..." Ucapnya penuh penekanan. Lalu ia pergi dari kantin.


"Heh macan betina,,, mau kemana Lo. Gue belum selesai ngomong"


"Bodo,,, gue udah gak mood lihat muka Lo" Jawab Lina setengah berteriak.


"Eh tu bocah bener bener ya" Gumam iqbal.


•••••


tok tok tok


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Dinda dengan membuka pintu. "Ustadzah" Ucapnya lalu mencium punggung tangan perempuan cantik dihadapannya.


"Aisyah nya ada?" Tanya ustadzah.


Dinda mengangguk.


"Aisyah,,, ada ustadzah" Ujar Dinda. Lantas Aisyah keluar kamar di ikuti dengan Lina dan Syifa. Mereka menyalami ustadzah Rina secara bergantian.

__ADS_1


"Aisyah, ustadzah bisa minta tolong sama kamu?!"


"Minta tolong apa ya ustadzah"


"Jadi begini, bi irah saat ini sedang sakit. Kalau bi irah tetap membuat makanan untuk para santri sepertinya tidak memungkinkan. Tadi bi irah sempat cerita sama ustadzah kalau Aisyah biasanya bantuin Bi irah masak. Jadi ustadzah minta tolong sama Aisyah untuk masak makan siang untuk para santri. Kebetulan besok Aisyah libur sekolah kan?!"


"Iya ustadzah besok kan hari Ahad, jadi sekolahnya libur"


"Jadi gimana Aisyah? Kamu bisa kan?" Tanya ustadzah.


"In Syaa Allah ustadzah" Jawab Aisyah.


"Tapi makanan yang harus dibuat itu tidak sedikit, kamu sanggup. Apalagi santri disini lumayan banyak"


"Nanti Dinda bantuin Aisyah masak. Jadi ustadzah ga usah khawatir" Timpal Dinda.


"Saya juga iku bantuin" Tambah Lina.


"Saya saya,, saya juga ikut bantuin" Ujar Syifa dengan mengangkat tangan kanannya ke udara.


"Lo kan ga bisa masak" Bisik Lina.


"Ya gapapa. Itung itung lagi belajar" Balas Syifa.


Ustadzah Rina tersenyum. "Alhamdulillah kalau begitu."


"Em,, ustadzah. Bi irah sakit apa?" Tanya Lina.


"Sakit demam, jadi beliau perlu istirahat" Jawab ustadzah.


"Aisyah boleh lihat keadaan bi irah?" Tanya Aisyah.


"Iya, silahkan saja. Kalau begitu ustadzah pamit dulu ya"


Semuanya mengangguk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab ke empatnya.


"Aisyah mau jenguk bi irah?" Tanya Dinda.


Aisyah mengangguk.


"Aku ikut ya" Tambahnya lagi. "Gue juga ikut" Timpal Lina. "Gue,,, gue ikut dong. Boleh ya" Ujar Syifa.


"Ya udah ayok" Ajak Aisyah. Lalu mereka berjalan pergi menuju kamar BI irah.


tok tok tok


"Assalamualaikum, bi irah" Ujar Aisyah.


"Bi irah... bi irah..." Teriak Syifa.


Lina memukul lengan Syifa. "Aww,,, apaan?!"


"Jangan teriak teriak, bi irah nya lagi sakit" Tegur Lina.


"Ya kan biar bi irahnya denger"


"Lo pikir bi irah budeg? Lo panggil pelan bi irah udah denger" Jawab Lina.


"Assalamualaikum bi irah" Ucap Dinda. "Kok sepi ya, apa bi irahnya ga ada didalam?" Tanya Dinda.


"Dobrak aja" Usul Syifa ngawur.


"Ga sopan Syifa" Kata Aisyah.


"Coba cek Syah, bi irahnya ada didalam apa nggak" Kata Lina.


Aisyah membuka gagang pintu. "Ga dikunci" Gumamnya. Secara perlahan Aisyah membuka pintunya, lalu masuk kedalam. Terlihat bi irah sedang tidur pulas dengan wajah pucatnya, mengukir seulas senyum di wajah Aisyah. Aisyah mendekati Bi irah, lalu menarik selimutnya hingga leher. Agar terasa lebih hangat.


Ternyata BI irah tidur. Batinnya. Aisyah menghela pelan, lalu kembali keluar kamar. Menutup pintunya dengan hati hati.


"Bi irahnya tidur" Ujar Aisyah.


"Ya udah kalau gitu kita balik aja ke kamar, kasian juga kalau dibangunin" Ucap Syifa. Ketiganya mengangguk. Lalu kembali ke kamarnya.


•••••


"Fa,, ayo sholat Dhuha" Ajak Dinda.


"Nanti aja ya" Jawab Syifa yang terlihat malas.


"Sekarang aja. Nanti ga ada temennya lhoh"


"Dinda,, sekali aja ga sholat Dhuha. Boleh ya" Ucapnya membujuk.


"Kayaknya kudu gue ruqyah deh Lo. Biar ga males" Ujar Lina. "Sini gue ruqyah" Kata Lina dengan menaruh mukenanya di tempat tidur. Lalu Lina duduk di belakang syifa.


"Hilang,, hilang,, hilang. Setan hilanglah, jangan ganggu sahabat gue. Huuhhh..." Lina meniup wajah Syifa.


"Gimana? Udah ga males?" Tanya Lina.


"Masih..." Ucap Syifa.


Lina membuang nafas kasar. Dinda mendekat pada Syifa. "Fa ayok sholat Dhuha. Sholat Dhuha itu banyak manfaatnya lhoh"


"Emang apa aja?" Tanya Syifa yang masih dilanda rasa malas.


"Kalau kita sholat Dhuha 2 rakaat maka kita akan tercatat sebagai orang yang tidak lalay. 4 rakaat tercatat sebagai orang yang ahli ibadah. 6 rakaat akan diberi kecukupan pada hari itu. 8 rakaat tercatat sebagai hamba yang taat. 12 rakaat, maka akan Allah buat kan baginya satu istana di syurga" Jelas dinda. "Yakin, masih ga mau sholat dhuha"


"Ayo fa sholat,, walau cuma 2 rakaat" Timpal Aisyah.


"Emm,,, ya udah deh. Tapi 2 rakaat doang ya"


"Iya, ga papa. Ayok"


Syifa mengangguk. Ia segera menyiapkan mukenanya, setelah itu mereka pergi menuju mushola bersama sama. Mengambil wudhu, lalu melaksanakan sholat Dhuha masing masing.


"Aisyah, Dinda, Lin... gue duluan ya" Ucap Syifa pada ketiga sahabatnya setelah selesai menunaikan sholat.


"Iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.


Syifa segera keluar mushola, dan berjalan menuju kamarnya. Namun tak sengaja ia melihat Reyhan yang sedang duduk sendirian di taman. Syifa berjalan pelan ke arah Reyhan.


Syifa terdiam saat melihat foto di tangan Reyhan. Itu kan,,,, foto yang gak sengaja gue temuin kemarin. Batinnya dengan mengamati fotonya dengan seksama.


"Ngapain Lo disini" Tanya Reyhan membuat kesadaran Syifa kembali.


"Eh,,,"


Syifa duduk disamping Reyhan. "Tadi ga sengaja lihat kakak disini. Makannya aku samperin" Ujarnya.


"Itu,,,, foto siapa kak?" Tanya Syifa dengan menunjuk foto yang ada ditangan Reyhan.


"Bukan urusan Lo" Ketus Reyhan. "Assalamualaikum"


"Wa-Waalikum salam"


Reyhan berdiri dan pergi begitu saja. Syifa berdecak kecil. "Baru aja diajak ngobrol, udah main pergi aja. Nyebelin" Gumamnya.


"Biasalah.." Ujar Iqbal yang tiba tiba datang.


"Kak Iqbal,,, ngagetin aja. Kirain siapa"


"Udah biasa emang si Reyhan gitu. Jadi ga usah dipikirin" Katanya lagi dengan duduk disamping Syifa.


"Kak, kemarin itu aku nemuin foto perempuan cantik banget. Itu siapa ya? Kakak tahu?"


"Ya mana gue tahu,, lihat fotonya aja ga" Jawab Iqbal. "Emaknya kali" Tambahnya.


"Mamanya kak Reyhan?" Tanya Syifa.


"Ya mungkin aja. Reyhan itu anak tunggal. Dia itu ga mungkin nyimpen fotonya cewek yang bukan apa apanya dia. Masa iya neneknya? Gak mungkin kan. Berarti, kemungkinan itu foto emaknya" Jelas Iqbal.


Syifa terdiam. "Pantesan aja kak Reyhan ganteng, orang mamanya aja cantik banget" Gumam Syifa. "Kakak tahu mama kak Reyhan orang mana?!" Tanya Syifa.


"Emmm,,, Malaysia deh kayaknya. Gue kurang tahu sih, tapi denger denger emaknya Reyhan itu orang luar negeri. Yang masih bertetangga sama Indonesia"


"Beneran"


"Iya,,, atau Lo tanya Fariz deh. Mungkin dia tau lebih banyak tentang Reyhan. Kalau bapaknya Reyhan setahu gue itu orang Aceh"


Syifa manggut manggut. "Terus kak Reyhan tinggal dimana"


"Di Jakarta" Jawabnya.


"Terus terus kak Reyhan lahir dimana?" Tanya Syifa secara terus menerus.


Iqbal berdecih. "Mana gue tahu. Lo kalau mau tahu,,,, tanya langsung sama reyhannya. Lo juga mau tanya ke gue tentang buyut buyutnya si Reyhan ha?!"


Syifa nyengir tanpa dosa. "Ya udah kak makasih ya infonya. Lain kali aku bakal tanya lagi. Aku duluan ya kak. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


•••••


"Syah, segini berasnya cukup?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Iya cukup"


Dinda mengangguk, lalu segera mencuci berasnya. Sedangkan Aisyah menyiapkan semua bahan yang akan dimasak hari ini.


"Syah gue ngapain nih" Tanya Lina.


"Emm,,, kamu ngupas bawang merah sama bawang putih ya"


"Berapa?"


"Bawang merahnya sekitar 15 kalau bawang putihnya 6" Jawab Aisyah.


"Oke"


"Terus tugas gue apa?" Tanya Syifa. Aisyah terdiam. "Kamu potong tempe aja ya. Yang gampang" Jawab Aisyah dengan mengambilkan tempe untuk Syifa.


"Bisa kan?" Tanya Aisyah.


"Bisa dong" Jawab Syifa. Aisyah mengangguk, lalu menyiapkan bayam untuk ia masak hari ini. Tak perlu waktu lama untuk Aisyah menyiapkan daun bayamnya.


"Lin,,, udah selesai?" Tanya Aisyah.


"Belum Syah. Ini mata gue malah jadi pedes." Kata Lina dengan mengucek matanya.


"Ya udah, biar aku aja yang ngupas" Aisyah mengambil alih pekerjaan Lina.


"Aisyah, terus apa lagi?" Tanya dinda.


"Itu,,, tahu. Goreng tahu" Jawab Aisyah.


"Berapa bungkus?"


"Semuanya"


"Oke"


"Din,, tahunya dicuci dulu ya. Tapi hati hati nanti kalau patah"


"Oke"


"Syah,,, gini ya?!" Tanya Syifa dengan menunjukkam hasil potongan tempenya. Aisyah mengerutkan keningnya. Tempenya ada yang dipotong sangat tipis, seperti ingin membuat keripik. Ada juga yang terlalu tebal, ada yang pas. Ada juga yang kanan tebal, yang kiri tipis.


"Kok gini fa?"


"Yah,,, terus gimana"


Aisyah mengambil pisau, lalu memotong tempenya hingga beberapa potong. "Kayak gini" Ujarnya.


Syifa mengambil satu potong tempe, mengamatinya dengan baik. "Oke. Gue paham" Jawabnya. Aisyah kembali melakukan pekerjaannya.


"Syah,,, ada yang bisa gue bantu lagi?" Tanya Lina yang matanya sudah terasa lebih membaik.


"Tolong ambilin lengkuas Lin."


"Yah Syah, gue gak tahu lengkuas itu yang mana. Gue gak bisa bedain, mana lengkuas, mana jahe, mana kunyit. Gue gak paham" Jawab Lina jujur.


Aisyah menghela pelan. "Ya udah kamu rebus air aja"


"Oke" Jawab Lina dengan segera mengambil panci lalu mengisinya dengan air.


"Segini cukup?" Tanya nya lagi.


"Iya,,, Lin kalau udah selesai rebus air,, kamu siapin cabe ya. Buat sambel"


"Siap"


Setelah bumbunya sudah siap, Aisyah mulai memasak sayur. 15 menit kemudian, sayur pun sudah jadi.


"Fa, tempenya udah kamu potong semua?" Tanya Aisyah.


"Belum"


Aisyah terdiam. "Dari tadi, baru dapat ini?"


Syifa mengangguk. "Iya,,, kan gue harus hati hati biar ga Tebel juga ga tipis. Makannya lama" Jawab Syifa yang hanya membuat Aisyah menghela pelan.


"Ya udah, kamu ngulek sambel aja. Biar ini aku yang potong"


Syifa mengangguk. Lalu berjalan ke arah lina. "Lin,, sambelnya..."


"Iya ini bahan bahannya udah lengkap ada disini. Tinggal ngulek"


"Oke,, gue aja yang ngulek" Kata Syifa. Lalu mengulek sambal dengan cara memukulnya. Ya,, lebih tepatnya menumbuk sambal.


"Woy fa,,, bukan gitu cara ngulek sambel" Ujar Lina yang kesal setengah mati karena beberapa cabai berjatuhan karenanya.


"Fa,, bukan gitu caranya" Ujar Aisyah. Dengan segera ia mencontohkan bagaimana mengulek sambal yang benar.


"Syah,,, gue gak bisa.." Keluh Syifa. Aisyah menghela pasrah.


"Ya udah,,, kamu istirahat aja ya. Udahan bantuiinnya"


"Tapi gue masih mau bantuin"


Aisyah memijat pelipisnya yang mendadak pusing. "Ya udah, kamu sama Lina goreng tempe ya"


"Oke"


Lina segera menyiapkan bumbu tempenya. Lalu menyiapkan wajan yang di isi oleh minyak goreng. Sedangkan Syifa? Dia sibuk mencari barang untuk melindungi dirinya. Ya, melindungi agar tidak terkena minyak goreng saat menggoreng nanti.


"Ada helm ga ya?" Tanya Syifa.


"Ngapain cari helm?" Tanya Lina.


"Buat gue pakai lah" Jawab Syifa.


"Mau pergi kemana?"


"Bukan pergi, buat ngelindungin gue nanti kalau kena minyak"


Lina menepuk jidatnya. "Aelah ga usah pake begituan"


Syifa mengambil tutup panci yang cukup besar. Lalu kedua tangannya diberi palstik. "Fa,, ngapain tangannya dikasih plastik" Tanya Dinda.


"Buat jaga jaga" Jawabnya. Syifa mengarahkan pandangannya. Lalu ia mengambil panci.


"Masa gue pakai ini?" Gumamnya. Dengan sisa kepolosannya, Syifa menaruh panci di kepalanya hingga menutupi seluruh wajahnya Membuat ketiga sahabatnya melakukan aksi tepuk jidat.


Lina membuka panci yang berada di kepala Syifa. "Kalau Lo pakai panci, gimana Lo mau goreng? Mana kelihatan?!. Lo itu polos, apa bego sih"


Syifa mengerucutkan bibirnya. "Udah,,, ini goreng tempenya" perintah Lina.


Syifa langsung mengambil satu potong tempe dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri memegang tutup panci untuk melindunginya. Dicelupkannya tempe tersebut di bumbu yang sudah diracik Lina, lalu dilemparkannya tempe itu begitu saja di wajan. Membuat minyak tersebut menciprat di beberapa bagian. Dengan cepat, Syifa mengangkat tutup pancinya, untuk melindungi tubuhnya dari cipratan minyak panas.


Lina memukul lengan Syifa. "Bukan gitu gorengnya. Jangan asal dilempar. Kalau goreng itu yang halus, biar minyak nya ga kemana mana" Jelas Lina.


•••••


"Heh Han, Lo itu kalau jadi orang jangan cuek cuek amat kek" Ujar Iqbal. Reyhan hanya melirik sekilas Iqbal lalu kembali fokus pada bukunya.


"Nanti cewek yang pada demen sama Lo pada kabur semua gara gara sikap Lo yang dingin"


"Han,, ini foto siapa?" Tanya Fariz membuat Iqbal langsung mendekati Fariz.


"Mama" Jawab Reyhan.


"Emak Lo cantik bener" Gumam Iqbal. "oh, apa ini foto yang dimaksud Syifa ya?!"


"Han, emak Lo dari Malaysia kan?"


"Hm"


"Bapak Lo dari Aceh?"


"Medan" Jawab Reyhan.


"Kenapa emang? Kepo amat" Timpal Fariz.


"Tadi Syifa tanya ke gue" Jawab Iqbal.


"Heh Han Lo jangan jutek gitu sama Syifa. Kasian dia. Mana masih kecil" Ucap Iqbal. "Syifa itu udah baik lhoh sama Lo,, tiap hari dikasih bekal, setiap hari diperhatiin,, masih aja Lo cuekin kayak gitu. Nanti kalau Syifa nya pergi baru tau rasa Lo"


"Gue gak suka sama dia"


"Hari ini ga suka,, mungkin besok besok Lo jadi bucin sama dia"


"Gak akan mungkin" Ketus Reyhan.


"Gak ada yang gak mungkin. Inget itu!!" Ucap Iqbal. "Eeh,, kalau kata kata gue bener Lo harus kasih mobil buat gue"


"Dih,,, apaan sih Lo" Timpal Fariz dengan menyenggol lengan iqbal.


"Ga papa lah. Reyhan kan kaya, mobil satu juga ga bakal rugi dianya. Iya kan?"


"Mobil Lo itu udah kebanyakan" Jawab Fariz.


"Eh Han,,, Syifa itu manis lho..Imut lagi. Siapa sih yang gak mau sama dia,, ya walaupun kadang cerewet. Tapi kalau di ajak ngobrol Syifa itu asik"


"Bodo" Ujar Reyhan dingin.


"Kalau sampai Lo bucin sama Syifa,, gue bakal jadi pemimpin di garda terdepan buat bully Lo" Kata Iqbal.


"Heh,,, dari pada Lo ngurusin Reyhan syifa, mending urusin hidup Lo aja yang belum bener. Masih banyak dosa." Ujar Fariz.

__ADS_1


"Namanya manusia juga banyak dosa kali" Jawab Iqbal.


...******...


__ADS_2