Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Mengikhlaskan


__ADS_3

"FARIZ!!"


Deg


Saat nama itu di panggil oleh Ghea, jantung Aisyah langsung berdegup cepat. Aisyah langsung menundukkan kepalanya dalam dalam. Suara langkah kaki dengan sedikit berlari, kian terdengar dekat olehnya.


"Ini gue beliin minuman."Ujar Fariz tersenyum dengan memberikan sebotol minuman yogurt untuk Ghea.


"Makasih ya..." Ucap Ghea. "Oi ya Riz, ini tadi gue ketemu Aisyah..." Ghea menyelipkan tangannya di pundak gadis yang berdiri di samping nya.


Dengan mengumpulkan keberanian nya, aisyah mengarahkan pandangannya untuk melihat ke arah Fariz. Tatapan mereka bertemu. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang. Sebenarnya dia senang, karena inilah yang dirinya inginkan. Namun situasi nya berbeda, saat ini Fariz bertemu dengannya karena wanita lain.


"Riz, Aisyah mau pulang bareng kita. Soalnya dia tinggal di jalan seruni, kebetulan kita kan juga lewat sana. Iya kan?"


Fariz mengangguk pelan.


"Ya udah, Syah masuk yuk..." Ajak Ghea. Ia membukakan pintu penumpang untuk Aisyah, agar gadis itu bisa langsung memasuki nya. Di susul dengan dirinya, yang lebih memilih duduk di samping Aisyah dari pada duduk di kursi samping Fariz.


Tak lama dari itu, hal yang sama Fariz lakukan dengan duduk di kursi kemudi. Matanya melirik sekilas ke arah spion, lalu menyalakan mesin mobil. Perlahan mobil itu berjalan keluar dari area masjid.


Selama perjalanan, jujur Aisyah semakin yakin bahwa Ghea sudah berubah sekarang. Dia sama sekali tidak sungkan untuk bertanya kepadanya, apalagi soal agama. Dan pertanyaan yang membuatnya sedikit terkejut adalah bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Hal yang membuat Aisyah menatap Ghea lama. Apakah gadis itu sudah menikah?


"Emm stop stop kak...", Pinta Aisyah membuat Fariz menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. "Aisyah turun di sini aja."


"Lhoh, emang rumah kamu di mana?" Tanya Ghea.


"Deket kok mbak dari sini. Udah ya Aisyah turun aja. Makasih lhoh udah di anterin."


"Iya sama sama."


Aisyah membuka pintunya lalu turun dari mobil. Ia langsung melangkah ke arah rumah bibinya.

__ADS_1


"AISYAH...!"


Langkahnya terhenti, kepalanya menoleh ke arah Ghea yang turun dari mobil.


Gadis itu berjalan menghampirinya. "Syah...tunggu sebentar" Ujar Ghea dengan membuka tas lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. "Ini..."


Aisyah terdiam, melihat Ghea lalu beralih ke arah benda yang di sodorkan nya. "Jangan lupa datang ya..." Tambah Ghea.


Dengan pelan Aisyah menerima undangan itu. Ghea tersenyum. "Kalau Lo bisa datang Alhamdulillah. Gue pergi dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah memandangi punggung Ghea yang berjalan memasuki mobil, hingga tak lama mobil itu kembali pergi. Aisyah terpaku melihat undangan di tangannya.


F & G


Tulisan awal yang tercetak di atas undangan itu, membuat kaki Aisyah seketika lemas. Mereka....apa ini undangan pernikahan mereka?


Aisyah memilih untuk meneruskan langkahnya. Sesampainya di rumah, dirinya langsung memasuki kamar, mengunci pintunya dan mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpaku melihat undangan yang masih ada di tangannya. Dengan ragu dan pelan Aisyah berusaha membukanya.


...&...


...Ghea Leani Magnolya...


"Rabu, tiga belas Oktober..." Gumam Aisyah membacanya. Air matanya langsung runtuh seketika. Dadanya terasa sesak, matanya terasa panas, kepalanya mendadak pusing. Mengapa tidak? Orang yang selalu dia doakan, agar mereka bersatu namun nyatanya harus menelan kenyataan pahit dengan harus mengikhlaskan nya dengan wanita lain. Ikhlas, mungkin Aisyah bisa. Namun dia tidak mungkin semudah itu untuk melupakan semuanya. Semua yang telah terjadi antara mereka. Bertahun tahun lamanya, cinta ini bersarang di hatinya. Dan belum pernah kurang, apalagi hilang.


Aisyah memejamkan matanya. Air matanya terus mengalir. "Harusnya nggak! Harusnya aku nggak terlalu berharap! Harusnya kamu nggak perlu menggenggam erat Syah! Emang cinta, cinta banget kamunya! tapi kamu lupa bahwa ga semua orang yang saling mencintai itu bisa bersatu!" Ujarnya. "Lihat kan, kalau udah begini. Kamu sendiri yang terluka."


Bagaimana ini? Haruskah dia menghadiri nya? Siapkah hatinya? Kuatkah?


Sementara itu di dalam mobil, Ghea hanya terdiam menatap Fariz. Lelaki itu, entah ada apa dengannya. Dia hanya terdiam tak mau membuka topik pembicaraan seperti biasanya. "Riz, Lo kenapa?", Tanya nya namun Fariz hanya diam dengan tetap fokus melihat depan.


Ghea menundukkan kepalanya. Dalam hatinya muncul beberapa pertanyaan. Apakah Fariz masih menyimpan rasa dengan Aisyah? Apakah dia tidak bisa melupakan gadis itu? Bagaimana kalau semuanya benar? Apa yang dia lakukan nanti? Dia tahu, Fariz sangat mencintai Aisyah, dan hanya mencintai gadis itu. Dan dirinya juga tahu, Fariz tidak pernah mencintai nya. Lalu bagaimana nasib rumah tangga nya nanti? Terlepas Fariz tidak mencintai wanita yang akan di nikahinya. Fariz juga berhak memutuskan dengan gadis mana ia akan menjalin hubungan.

__ADS_1


"Udah sampe!"


Ghea menyeka air matanya, ia tersenyum. "Iya makasih...Gue turun dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam"


Ghea turun dari mobil, tanpa membuang waktu Fariz langsung menancap gas nya. Melajukan mobilnya. Dalam kesendirian nya, air matanya luruh begitu saja. Kenapa Syah? Kenapa baru sekarang Lo muncul? Kenapa baru sekarang? Hatinya bertanya tanya.


Kenapa Lo datang di saat saat seperti ini? Di saat gue berusaha melupakan dan membuang cinta ini, di saat gue ingin berusaha untuk mencintai wanita lain, di saat gue akan menikah sama wanita lain! Kemana Lo dulu? Kemana Lo saat gue duduk nunggu Lo! Berharap Lo datang, dan Lo yang akan jadi pendamping gue! Hatinya kembali bertanya pilu.


"KEMANA?? KENAPA BARU SEKARANG DATANG SYAH!! KENAPA?" Teriak Fariz. Ia sama sekali tak bisa membendung air matanya.


•••••


Maka malam itu, malam sebelum sebuah kalimat sakral di ucapkan, malam sebelum benar benar menjalin hubungan yang suci, malam sebelum pernikahannya di lakukan. Dalam sepinya mereka bertiga melakukan sujud dalam waktu yang hampir bersamaan. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi. Tapi iya, dalam waktu yang bersamaan. Dalam sujudnya mereka menangis. Dalam tangisnya, ada doa yang mereka panjatkan pada sang Rabb nya.


Dalam butiran tasbihnya, hati mereka saling berkata. Tak ada kebohongan untuk malam ini.


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Andai Engkau masih memberi hamba kesempatan, ingin rasanya hamba menikah dengan laki laki yang benar-benar mencintai hamba. Untuk apapun yang akan terjadi nanti, apapun itu tolong kuatkan hati hamba dalam menghadapi semuanya." Ujar Ghea dalam doanya. Tangisannya berarti untuk semuanya. Jujur, dia seorang wanita,,, dan ingin di nikahi oleh lelaki yang mencintai nya. Dan bener benar mencintai nya, bukan mencintai wanita lain. Pernah dirinya menemukan buku diary Fariz, dan di sana hanya ada nama Aisyah. Yang membuktikan memang lelaki itu hanya mencintai satu wanita dalam hatinya, bukan yang lain.


Ketakutan akan nasib rumah tangganya nanti, karena sebuah pondasi penting dalam rumah tangga adalah cinta. Cinta yang akan menciptakan sebuah kepercayaan. Dan kepercayaan adalah kunci dalam sebuah hubungan. Satu hal lagi atas air matanya saat ini, sebuah rahasia yang tak di ketahui oleh Fariz dan keluarga nya tentang keadaan dirinya saat ini.


Sementara itu, di kesendiriannya, dalam air matanya entah ini sebuah penyesalan atau tidak yang pasti hatinya tidak bisa berbohong. Mana ada seseorang yang bahagia menikah dengan wanita yang sama sekali tak di cintainya, bahkan di saat ia berusaha untuk mencintai ghea, Aisyah tiba tiba datang dengan begitu saja. Bagaimana cinta ini tidak bisa hilang?


Sungguh, tidak pernah ia rasakan cinta sebesar ini terhadap seseorang. Dia tidak pernah mengenal cinta sebelumnya, dan tak mau terlibat di dalamnya. Namun saat ini dia bukan hanya terlibat namun juga terjebak. Air matanya atas dirinya yang mencintai Aisyah, namun cinta itu tidak bisa untuk membuat mereka bersatu. Dan mungkin dirinya juga harus menerima akan kenyataan wanita yang di cintai nya akan bersama lelaki lain, bukan dirinya. Ya Allah, apapun takdir Mu hamba yakin itu yang terbaik. Sekalipun tidak, hamba tidak bisa merubahnya. Itu terlalu kuat untuk hamba lawan. Maka, apapun itu hamba terima. Batin Fariz. Bila di bilang siap, dia belum siap. Sama sekali belum siap untuk menikahi Ghea. Namun dia juga tidak mau membuat kecewa mamanya.


"Ya Allah, sudah sering hamba berdoa agar kami bisa bertemu juga bisa bersatu. Namun nyatanya, takdir Mu berkata lain. Bila memang ini yang terbaik, berikanlah keikhlasan agar hamba bisa menerima semuanya." Ujar Aisyah. Air matanya kembali mengalir tanpa henti. "Sesungguhnya Engkau Yang Maha Membolak-balik kan hati. Maka jangan membuat hamba untuk mencintai lelaki yang sudah beristri nantinya. Ya Allah, berilah dia kebahagiaan dalam rumah tangganya, selalu lindungi dia Ya Allah. Berikanlah segala apapun yang terbaik untuknya. Dan semoga Engkau juga memberikan hamba seorang lelaki yang tepat, untuk menjadi imam hamba. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pembuat rencana. Aamiin..."


•••••


Maka, Titik mencintai paling tulus adalah ketika kamu tak lagi memaksakan doa agar di persatukan, melainkan untuk di ikhlaskan. Ikhlas apapun akhir ceritanya dan ikhlas bagaimanapun kelanjutannya. Meski hati enggan untuk menyadar. Namun logikamu sudah memar, bahkan terkapar. Karena kamu lupa bahwa kita sering kali tertampar oleh kenyataan.

__ADS_1


...********...


__ADS_2