
21.30
Malam itu Aisyah terduduk di atas kasur, menunggu Fariz. Berharap dia akan segera datang ke kamar. Namun kenyataannya tidak, bukan fariz melainkan kaila yang datang ke dalam kamarnya.
"Mbak, tidur di kamar kaila aja yuk..." Ajaknya dengan duduk di samping Aisyah.
"Emm nanti dulu ya..."
"Kenapa nanti? Dari pada tidur di kamar tamu kayak gini kan? mendingan tidur di kamar kaila lebih bagus, lebih luas."
Aisyah terdiam. "Ini kamar tamu?"
"Iya. Jadi kamar tamu itu ada yang di lantai bawah, ada yang di lantai atas." Jelas kaila.
Sebenarnya ada sekelebat rasa sesak saat dirinya harus menempati kamar tamu. Namun hatinya terus memberikan aliran positif mengenai semua ini, iya mungkin mereka tidak mempunyai kamar lain. Oleh sebab itu, mau tidak mau dirinya harus menempati kamar ini. Baiklah tidak mengapa, toh lagi pula kamar ini juga lumayan luas.
"Mbak, ayok!!"
"Eh bentar, kak Fariz di mana?"
"Oh bang Fariz....kan bang Fariz tidurnya sama mbak Ghea, bukan sama mbak Aisyah.Ya udah yuk, dari pada mbak sendirian mendingan tidur sama kaila. Yuk..." Ajaknya menggandeng tangan Aisyah lalu menariknya menuju kamar yang berada tepat di samping kamar tamu.
"Tada...nah ini kamar aku mbak." Aisyah terdiam. Benar, kamar ini memang dua kali lebih luas dan bagus dari kamar tamu yang tadi.
"Nah itu kasurnya kan gede, jadi cukup buat berdua. Cuman kebanyakan boneka doang itu, makannya jadi kayak kecil. Nanti bonekanya biar kaila singkirin dulu."
Aisyah mengangguk. "Ya udah kalau gitu. Kamu mau tidur kapan? Udah malam lhoh ini..."
"Iya, ini langsung mau tidur mbak." Jawab kaila. Dengan cepat, dia langsung memindahkan boneka bonekanya ke sofa besar di sebelah jendela kamarnya di bantu oleh Aisyah. Setelah semuanya selesai, kaila langsung menempatkan dirinya untuk tidur.
"Mbak, kalau mau AC nya di nyalain ga papa, soalnya kaila ga terlalu suka AC."
Aisyah mengangguk. "Iya."
"Kalau gitu aku tidur dulu mbak. Selamat malam."
"Selamat malam juga." Balas aisyah.
•••••
2 hari, sudah dua hari lamanya Aisyah tinggal
di sini. Jujur, hatinya sungguh tersiksa atas api kecemburuan. Dua hari, dia tidur dengan di temani kaila, bukan suaminya. Fariz, tentu saja dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ghea. Aisyah bisa mengerti itu, namun tetap saja hatinya cemburu. Dia sudah memiliki status baru saat ini, ISTRI. Namun, bahkan dia tidak bisa merasakan keberadaan seorang suami di sampingnya. Tinggal satu rumah, namun terasa begitu jauh. Fariz tidak pernah menemuinya. Dan bila bertemu dia menanyakan kondisi, tanpa mengajaknya berbincang-bincang walau hanya sebentar. Tanpa memberikan perhatian apapun saat ini. Terlepas, semua perhatiannya sudah di berikan seluruhnya kepada Ghea. Ya, inilah statusnya sekarang. Harus yang menjadi kedua, dari sebuah pernikahan atas semuanya.
Benar kata Okta, ini memang tidak mudah. Akan banyak hatinya yang tergores, namun di sisi lain dia harus ingat ini adalah pilihannya. Mau tidak mau memang harus ia jalani. Bahkan, tidak hanya perhatian Fariz. Namun perhatian mama Fariz, turut hampir seluruhnya di berikan kepada Ghea. Memang bila harus menjadi yang kedua, harus siap untuk di bagi. Dari segi perhatian, kasih sayang dan lainnya. Namun ini, berat sebelah. Namun masih ada rasa syukur dalam dirinya karena memiliki kaila. Gadis remaja yang selalu di sampingnya, memberinya semangat dan menghiburnya. Bagai keluarga kandung yang selalu memberikan dukungan kepadanya.
Dua hari ini, Ghea mengalami kenaikan yang cukup tinggi pada kondisi nya. Entah apa yang terjadi, tapi itulah kenyataannya. Mungkin berkat doa, perhatian dan kasih sayang dari orang orang. Wajahnya pun kini mulai beranjak segar, tak lagi pucat. Dirinya sudah bisa melakukan hal hal kecil tanpa di bantu. Bahkan, kursi roda tak lagi di butuhkan. Dia bisa berjalan sendiri. Rasa sakitnya pun kian berkurang.
Pagi itu, Aisyah berjalan ke taman belakang. Dengan nampan berisi obat, air putih dan bubur untuk Ghea.
"Nanti malam, kamu tidur sama Aisyah aja ya Riz..." Ujar Ghea. Aisyah menahan langkahnya, melihat mereka yang duduk berdampingan di kursi taman.
"Terus Lo gimana?"
"Lo nggak usah khawatir sama keadaan Gue. Aisyah juga istri Lo, dia juga membutuhkan perhatian dari Lo."
Fariz terdiam. Ghea memang benar, dia juga ingin adil. Namun mama Ghea yang memaksa nya untuk terus di samping Ghea, seolah olah menghalangi nya untuk pergi menghampiri Aisyah.
"Gue bahagia, akhirnya kalian bisa bersama. Aisyah lebih pantas menjadi istri Lo dari pada gue."
"Hssst...jangan ngomong gitu." Sela Fariz.
"Riz, Aisyah itu jaauuh di atas gue. Dia jauh lebih sempurna di banding gue."
Fariz memegang tangan Ghea. "Apapun kekurangan Lo, apapun kesalahan Lo, apapun kondisi Lo saat ini, itu nggak akan pernah merubah bahwa Lo itu istri gue. Gue akan selalu menerima Lo apa adanya, dan akan berusaha untuk mencintai Lo dari hati gue."
Aisyah terdiam memaku. Dari caranya memegang, dari cara berbicaranya dan dari caranya menatap, Fariz seperti sudah mulai mencintai ghea secara perlahan. Segala pikiran negatif sempat singgah di pikirannya, namun segera ia tepis. Bukankah bagus bila Fariz berusaha untuk menerima dan mencintai ghea? Itu memang tugas seorang suami. Sederet istighfar Aisyah ucapkan di hatinya berkali-kali. Dia kembali meneruskan langkahnya, menghampiri mereka yang tengah terduduk berdua.
"Mbak, ini Aisyah bawain makanan. Makan dulu ya mbak..." Ujarnya.
Melihat Aisyah yang datang, Fariz langsung berdiri. "Duduk Syah.." Ucapnya mempersilahkan Aisyah untuk duduk di tempat yang ia tempati tadi.
"Makasih" Balas Aisyah lalu mendudukkan dirinya di samping Ghea. Dia mulai menyodorkan semangkuk bubur untuk Ghea. Salah satu kemajuan pada kondisi Ghea, adalah dia sekarang sudah bisa makan sendiri tanpa di suapi. Hal yang sangat jarang terjadi pada seseorang yang sakit keras, yang baru terbangun dari masa kritis dan keluar dari rumah sakit. Apalagi hanya dalam waktu dua hari.
Aisyah menatap Fariz yang berjalan pergi tanpa izin. Tak maukah dia mengajaknya berbicara sebentar. Tidak lama, hanya sebentar saja. Tidak taukah keadaan hatinya yang sedang merana saat ini? Hidup bersama suami, namun tak mendapatkan perhatian. Apakah dia tidak pantas mendapatkan perhatian, apakah Ghea saja yang pantas mendapatkan nya? Setidaknya tanya sedikit, apakah dirinya sudah makan atau belum? Itu akan membuat hatinya sedikit terobati.
"Gimana keadaan mbak?" Tanya Aisyah.
__ADS_1
"Gue udah baik sekarang. Nggak selemes dulu, sakit dari badan gue juga udah berkurang."
"Hari ini, mbak ada jadwal di rumah sakit ya?"
Ghea mengangguk.
"Di anterin kak Fariz?"
"Bukan. Di anterin papa sama Mama."
"Oh gitu."
"Makasih ya Syah, Lo udah mau merawat gue." Ujar Ghea.
"Iya mbak."
Ghea mulai menyendok makanan nya lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya pelan.
"Syah..." Panggilnya.
"Iya mbak?"
"Gue mau cerita."
"Cerita apa mbak?"
"Dulu, waktu gue ke Jerman. Gue melalui masa masa sulit di sana. Membiayai kehidupan dengan keringat sendiri. Karena papa mau gue ngerasain gimana susahnya mencari uang. Itu ga semudah menghabiskan dan menikmati nya. Gue akui, memang awal gue mengira papa udah ga sayang sama gue. Tapi dari situ gue tahu akan kerja keras orang tua untuk kesuksesan anaknya." Cerita Ghea. "Di sana, gue mulai menyusun kehidupan baru yang lebih baik. Bukan sekedar hidup, tapi gue juga pengen buat diri gue jadi orang yang lebih baik lagi. Semua kesalahan gue, itu selalu terngiang-ngiang. Dan saat gue skripsi di sana, gue sakit. Mengalami gejala gejala yang ga pernah gue alami sebelumnya. Gue pikir, itu cuma penyakit biasa. Tapi ternyata nggak."
"Saat udah selesai sidang skripsi, gue periksa ke dokter. Dan itu...dokter bilang gue sakit kanker. Waktu papa mama kesana buat hadirin wisuda gue, gue nggak bisa cerita ke mereka. Nggak mau buat mereka kepikiran. Bertahun tahun, gue menyembunyikan semuanya. Bertahun tahun, gue merasakan sakit itu sendiri." Aisyah menatap Ghea. Air mata Ghea mengalir begitu saja. "Di situ, keinginan gue untuk menjadi orang yang lebih baik semakin besar. Karena gue tahu, penyakit gue saat ini bukan penyakit sepele. Akhirnya gue memutuskan untuk berhijab, berpakaian layaknya seorang muslimah yang baik. Gue ga mau, sisa sisa waktu yang ada terbuang sia sia. Gue bener bener pengen taubat."
Aisyah terdiam, teringat akan kata Sayyidina Umar bin Khattab. Adakala orang yang paling buruk di masa lalu, akan yang paling baik di masa depan.
Dan sekarang Ghea, dia yang mereka kenal sebagai orang yang jahat. Sekarang, berubah dengan sikapnya. Yang dulu kasar, sekarang lembut. Yang dulu buruk, sekarang baik.
"Saat itu, gue pengen banget ketemu sama Lo. Gue pengen minta maaf sama Lo, tapi gue ga tahu keberadaan Lo di mana."
"Syah...ini..."
Aisyah melihat kertas yang di sodorkan Ghea.
"Baca ini kalau gue udah pergi..."
"Apa ini mbak?"
"Lo akan tahu semuanya. Maafin gue ya Syah, mungkin keputusan gue ini udah memberatkan Lo, tapi nggak ada alasan lain selain gue pengen lihat Lo dan Fariz bahagia."
"GHEA..." Panggil papanya. "Lhoh, masih makan? Ayo cepet di habisin. Nanti langsung ke rumah sakit, jangan sampe terlambat."
"Iya pa..."
•••••
Aisyah memandangi mobil putih besar yang mulai keluar dari halaman rumah. Berharap nanti dokter akan mengatakan hal baik tentang kondisi Ghea. Setelah itu, dia langsung berjalan masuk ke dalam. Menaiki satu persatu anak tangga. Tepat saat di depan kamar Fariz, Aisyah bertemu dengan lelaki itu.
"Kak.." Panggilnya.
"Iya?"
"Ada yang pengen Aisyah bicarakan."
"Soal apa?"
Aisyah menghela berat. "Kakak percaya nggak sih sama keajaiban??"
Fariz mengangguk pelan. "Mungkin iya kalau Allah berkehendak. Emang kenapa?"
"Berarti ga ada yang ga mungkin kalau mbak Ghea sembuh."
"Iya. Gue juga sangat berharap kalau Ghea bisa sembuh. Biar dia bisa menjalani kehidupannya dengan baik dan normal."
Aisyah tersenyum. "Iya, Aisyah juga berharapnya gitu." Jawabnya lalu kembali menghela berat. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, namun tak berani.
"Ada apa? Lo lagi ada masalah?" Tanya Fariz.
"Ng-nggak kok!! Kak....." Panggilnya lagi.
"Hm?"
__ADS_1
Aisyah terdiam lama. "Kak kalau mbak Ghea sembuh, Aisyah mundur."
Deg
"Mundur? Mundur apa maksudnya?"
"Mundur dari pernikahan ini."
Fariz terpaku. Apa yang dia bilang? Dia memegang pergelangan tangan Aisyah, lalu membawanya menuju kamar tamu yang di tempati gadis itu. Menutup pintunya rapat. Fariz memegang kedua bahu Aisyah dengan erat. Menatap tajam perempuan yang kini tak berani menatapnya. "Semudah itu Lo bilang akan mundur? Pernikahan itu bukan untuk mainan Syah!! Kapan Lo maju dan kapan Lo mundur seenaknya!"
"Aisyah tahu itu kak!! Niat Aisyah juga bukan untuk mempermainkan pernikahan kita..."
"Terus apa? Apa kalau nggak gitu?" Tanya Fariz dengan nada tinggi. Bukan dia marah, hanya saja dia takut untuk kehilangan.
Aisyah melepaskan tangan Fariz yang memegang bahunya. "Kak, Aisyah menikah dengan kakak itu memang karena Aisyah murni cinta sama kakak. Itu yang menjadi hal utama kenapa Aisyah mau. Kalau mbak Ghea sembuh, dia butuh kebahagiaan. Karena selama ini kebahagiaan yang dia punya sudah di renggut bertahun tahun sama penyakitnya. Dan kebahagiaan itu nggak akan pernah bisa muncul selama Aisyah masih ada di tengah tengah hubungan kalian. Aisyah pengen kalian itu hidup bahagia."
"Masalahnya Ghea sembuh aja susah Syah!!"
"Susah bukan berarti ga bisa kan kak? Tadi kakak bilang kakak percaya sama keajaiban. Lihat kak, kondisi mbak Ghea sekarang. Apa yang terjadi sama dia adalah keajaiban. Mbak Ghea hampir sembuh dalam waktu beberapa hari aja. Aisyah ga tau nanti dokter akan bilang apa sama kondisi mbak Ghea yang tiba tiba membaik. Mungkin, dengan segala kemungkinan dokter pasti akan bilang mbak Ghea akan sembuh."
"Syah udah!!"
"Kak dengerin dulu. Aisyah ga mau mengganggu kehidupan apalagi merenggut kebahagiaan kalian. Aisyah juga yakin, kakak ga perlu waktu lama untuk mencintai mbak Ghea. Keluarga ini, lebih sayang dan lebih menerima mbak Ghea di banding Aisyah."
"Semuanya menerima Lo! Semuanya sayang sama Lo, nggak hanya sayang sama ghea aja!!"
"Tapi meskipun begitu, Aisyah nggak sanggup kak! Aisyah nggak sanggup harus terbagi kayak gini. Ini emang salah Aisyah. Aisyah nggak tau kenapa dulu Aisyah milih buat iya. Menerima semuanya, padahal hati Aisyah sendiri belum siap untuk menerima. Iya, itu sebenarnya bukan pilihan Aisyah. Tapi entah kenapa...." Aisyah meneguk ludahnya. "Aisyah ga tau, aisyah ga bisa jelasin. Tapi mundur, untuk kali ini memang benar benar pilihan Aisyah. Kak, seenggaknya kalau aisyah mundur nggak akan ada lagi yang tersakiti."
"Terus gimana dengan permintaan Ghea? Apa Lo mau mengkhianati itu?"
"Mbak Ghea minta itu semua, biar mbak Ghea bisa pergi dengan tenang. Tapi kalau mbak Ghea sembuh, bukan dia yang harus pergi. Tapi Aisyah...!"
Fariz memegang kepala Aisyah. Memaksa mata gadis itu agar mau menatap matanya. "Tapi gue nggak akan biarin Lo pergi!" Ujar Fariz penuh dengan penekanan. Itu yang dia tekankan, dia tidak akan membiarkan Aisyah pergi. Tidak akan.
"Gue nggak akan pernah biarin itu terjadi! Gue ga mau kehilangan Lo Syah!!"
"Kak...Aisyah..." Suara dering ponsel Aisyah membuat kata katanya terhenti. Aisyah meneguk ludahnya. Dia menghapus air mata yang baru saja keluar dari mata indahnya. Aisyah berjalan, mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur.
"Assalamualaikum..."
"Iya. Ada apa Tante?"
"Tante...Tante kenapa? Apa semuanya baik baik aja?"
"Iya kenapa?"
"Apa???"
Kakinya seketika melemas, matanya berkaca-kaca mendengar penjelasan itu. Hatinya berdegup khawatir, sedih takut entahlah semuanya campur aduk. Bukan hanya kakinya, namun seluruh badannya menjadi lemas. Bahkan ponsel yang di pegangnya hampir saja terjatuh.
Mendapati keadaan dan ekspresi wajah Aisyah, Fariz langsung berjalan mendekat. "Ada apa Syah?"
Aisyah menatap Fariz. Matanya yang berkaca kaca membuat Fariz menjadi khawatir. "Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Mbak Ghea." Balas Aisyah lirih dengan air matanya yang luruh. Mengalir deras tak tertahan.
"Ghea? Kenapa dia?"
Aisyah menundukkan kepalanya. Tiba tiba, dirinya menjadi terisak. Ingin mengatakan pun tak sanggup. "Kenapa Syah?"
Aisyah menggeleng. Dia memberanikan menatap mata Fariz. "Udah ga ada."
Deg
"Innalilahi..." Ucap Fariz dengan lirih. Kepalanya menggeleng bagai tak percaya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia berbicara dengan Ghea, mengapa dia sudah pergi secepat itu?Fariz berjalan mendekat. Tangannya ia ulurkan kebelakang punggung Aisyah. Mendekap gadis itu dengan erat. Hari ini, dalam pelukan dan dekapan yang hangat, air mata mereka berurai satu sama lain. Meneteskan sebuah kesedihan.
•••••
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
(Al Baqarah : 156)
•••••
Hari ini, hari Sabtu, tanggal 23, bulan Oktober. Menjadi salah satu dari ribuan hari yang tak akan pernah aku lupakan. 23 Oktober, tepat pukul 08.41, dia orang yang telah mempersatukan kami atas dasar Cinta dengan keikhlasan dari hati telah di panggil oleh Sang Illahi. Dia pergi untuk selamanya.
__ADS_1
...*******...