
"Aduh..." Ringis Iqbal saat dirinya tak sengaja menabrak bapak bapak yang tengah mengangkat besi panggung.
"Hati hati mas" Ucap bapak tersebut.
"Iya pak maaf, saya buru buru nih..." Kata Iqbal lalu segera berlari. "Minggir minggir minggir!!" Teriak Iqbal pada bapak lainnya. Hari ini pesantren cukup ramai oleh bapak bapak yang akan membuat panggung sholawatan nantinya.
"Gak sopan!" Ketus salah satu bapak yang melihat iqbal mendorongnya secara halus agar ia mendapatkan jalan. "MAAF PAK!! SAYA BURU BURU" Jawab Iqbal dengan terus berlari kencang keluar pesantren.
Dirinya melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Mampus gue. Udah telat banget!" Gumam Iqbal.
Iqbal berhenti tepat di depan gerbang sekolah dengan nafas ngos-ngosan. Sesekali ia mengusap keringat yang mengucur dari wajahnya. "Pak bukain pak!!" Teriak Iqbal. Tak lama pak Afif datang untuk membukakan gerbang.
"Kebiasaan terlambat!" Ketus pak Afif yang tak di gubris oleh Iqbal.
"IQBAALL!!" Teriak Bu Desi dari arah halaman sekolah.
"Haduuh, mampus gue"
"SINI KAMU!" Lanjut Bu desi.
Dengan malas Iqbal melangkah ke arah Bu Desi. "Kamu itu ya terlambat terus!" Kata Bu Desi judes. "Kapan kamu mau berubah ha? Dari kelas satu sampe mau lulus hampir setiap hari terlambat!"
"Bu gini gini saya yang bakal di kengenin sama para guru waktu udah lulus" Jawab Iqbal enteng.
"Ngarep kamu! Lihat, rambut acak acakan. Seragam lucek, muka kusut kayak gitu. Mau sekolah apa mau ngamen di jalan kamu?" Tanya Bu Desi judes. Bu Desi mendekatkan wajahnya pada tubuh iqbal. Lalu membuang nafas kasar. "Belum mandi kamu?"
"Bu, mandi itu hanya untuk orang yang bau. Kalau wangi ya ga usah mandi" Jawab Iqbal santai.
"Bilang aja males!! Orang badan bau kayak gitu!" Ketus Bu Desi.
"Bentar Bu.."
Bu Desi terdiam. "Mau kemana kamu?" Tanya nya saat melihat Iqbal berlari menuju ruang guru.
"BENTAR BU!!" Jawab iqbal dari kejauhan. Selang beberapa menit Iqbal datang dengan membawa pengharum ruangan semprot. Membuat Bu Desi hanya menganga kebingungan. Apalagi yang akan dilakukan bocah satu ini.
"Lihat Bu..." Kata Iqbal. Lalu ia menyemprotkan pengharum tersebut pada seragamnya. Membuat Bu Desi hanya bisa mengelus dada. "Nah Bu, jadi harum kan. Namanya orang kalau sejatinya udah wangi kasih semprot parfum aja udah cukup. Ga usah mandi" Ujar Iqbal.
"Astaghfirullah,, IQBAL!!" Bentak Bu Desi. "Cepet berdiri di depan bendera, bentuk sikap hormat. Jangan pindah atau bergerak sebelum jam ke dua selesai" Ketus Bu Desi.
Iqbal hanya mengangguk paham. Dirinya sudah terbiasa dengan hukuman seperti ini. "Terus ini gimana? Masak saya hormat sambil bawa pengharum ruangan. Ibu aja ya yang bawa. Sekalian di kembaliin" Kata iqbal. Bu Desi hanya mengangguk. Setelah pengharum ruangan itu ada di tangan Bu Desi, Iqbal segera melangkahkan kakinya menuju bendera.
Beberapa detik kemudian. Ini yang ngambil Iqbal, terus yang balikin kenapa harus saya. Pikir Bu Desi. Setelah tersadar akan hal itu, Bu Desi melotot ke arah iqbal yang tengah santai berjalan ke arah bendera. "IQBAALLL"
Iqbal yang mendengar suara teriakan melengking yang khas itu hanya bisa tersenyum puas. Senyumannya pudar saat menyadari juga ada orang, tepatnya seorang gadis yang tengah hormat pada bendera. Ya, sepertinya juga di hukum. Dirinya terus melangkah dan berhenti tepat beberapa meter di samping gadis itu. Dengan segera, dirinya langsung membentuk sikap hormat dengan sedikit mendongakkan kepalanya melihat bendera.
"Gak sopan!" Gumam Lina namun masih di dengar Iqbal. Iqbal melirik Lina sekilas.
"Siapa? Gue?"
"Ya....yang merasa aja." Jawab Lina. "Gak punya adab benget sama guru"
Iqbal tersenyum miring. "Lo kenapa ada disini? Dihukum? Telat?" Tanya Iqbal meremehkan. "Cewek kok telat. Cewek itu harus rajin, jadi kalau rajin pasti ga bakalan telat. Kalau telat namanya pemalas!" Ketus Iqbal.
Lina menatap Iqbal kesal. "Masih mending gue telat cuma sekali dua kali. Lo telat hampir setiap hari. Hheh kayak ga niat sekolah aja!" Balas Lina.
"Lo kenapa sih jadi cewek rese banget!"
"Lo kenapa sih jadi cowok berengsek banget" Timpal Lina.
Iqbal mengubah posisinya. Dari yang menghadap bendera, kini menghadap Lina. "Denger ya, gue udah bosen tau ga ketemu Lo. Kesana ketemu, kesini ketemu. Jin kali ya Lo bisa kemana mana" Ujar iqbal.
Lina juga melakukan hal yang sama. "Lo pikir gue seneng ketemu Lo!" Ketus Lina dengan menunjuk iqbal.
"JANGAN NGOBROL! BALIK KE POSISI SEMULA" Bentak Bu Desi.
Seketika Lina dan Iqbal langsung membentuk sikap hormat dengan menghadap bendera.
"Kan, gara gara Lo sih" Gumam Lina.
"Lo juga!"
"Kan Lo yang mulai"
"Berisik banget sih!" Ketus Iqbal.
"Nyenyenye" Gumam Lina dengan memutar bola matanya. Seketika suasana menjadi hening.
Lina memegangi perutnya. "Kenapa Lo?" Tanya Iqbal datar.
"Laper. Kenapa mau beliin makanan?" Tanya Lina judes.
"ih ogah. Beli aja sendiri"
"Kalau ga mau beliin. Ga usah tanya!!" Ketus Lina.
"Berisik Lo"
"Lo yang berisik,," Ujar Lina nyolot.
"Dasar judes"
"Dasar lebay"
"Dasar galak"
"Dasar mental tempe!"
"JANGAN NGOBROL!!" Bentak Bu Desi lagi.
Lina menghembuskan nafas kasar. Pengen sekali ia meremas remas lelaki di sampingnya.
Beberapa menit berlalu, tidak ada yang membuka suara. Hingga suara bel berbunyi memecah keheningan. Menandakan jam pertama sudah selesai. Lina menghela lega dengan menyeka keringat di keningnya. Hukumannya hari ini sudah selesai.
"Lo masih di hukum?" Tanya Lina dingin.
"Hm"
Lina tersenyum lebar. "Kasian banget...Gue sih udah selesai. Mau ke kelas dulu ya. Pakai AC, pakai kipas. Adem, ga panas. Terus minum air. Ah,, segerrr" Kata Lina dengan senyumannya yang lebar. "Babay singa lebay. Selamat berpanas panasan ya...selamat berduaan dengan matahari pagi. Cie cie,, jomblo yang romantisnya sama matahari. Hahaha" Kata Lina dengan tertawa.
"Bay...siap siap kulit item" Ujar Lina lagi dengan melambaikan tangannya. Lebih tepatnya untuk mengejek. Lalu ia segera berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Iqbal seorang diri yang merasa kesal setengah mati dengan gadis itu.
•••••
16.15
"Enaknya pakai baju yang ini,, atau yang ini?" Tanya Syifa meminta pendapat dengan menyodorkan baju di tangan kanan kirinya.
"Repot banget sih jadi orang. Tinggal pake baju, pake sarung pake kerudung. Yang penting menutup aurat. Gitu aja pake di diribetin" Kata Lina.
"Gue gak bisa pake sarung" Jawab Syifa.
"Ya udah pake baju apapun kek. Yang penting sopan"
Syifa menatap kedua bajunya. "Pake yang warna cream aja deh ya. Kayaknya lebih cocok"
"Semuanya cocok kok fa" Kata Aisyah.
__ADS_1
"Oi ya,, nanti kita nonton dimana?" Tanya Syifa lagi.
"Nonton di mana mana juga bisa...Di sini, di mushola, nonton bareng orang orang, di genteng juga bisa. Gitu aja pake tanya" Jawab Lina judes.
"Kayaknya kalau di genteng enak ya. Semuanya kelihatan, terus bisa sambil ngelihatin bulan bintang. Di genteng pasti seger, anginnya Sepoi Sepoi" Ujar Syifa polos.
"Terserah deh" Gumam Lina.
"Maaf ya, nanti aku ga bisa nonton bareng kalian. Soalnya aku harus bagiin Snack dulu sama tamu tamu" Ujar Dinda.
"Ga papa Din" Jawab Syifa. "Oi ya gue mau mandi dulu ya. Habis itu siap siap deh" Lanjut Syifa yang diberi anggukan oleh Ketiganya. Syifa bergegas keluar kamar.
Namun belum satu menit penuh, Syifa sudah kembali lagi ke kamar. "Udah selesai mandinya?" Tanya Aisyah.
"Cepet banget dah" Timpal Lina.
"Belum,, gue kesini cuma mau kasih tau. Di luar rame banget!!" Jawab Syifa.
"Lah kan emang rame" Ucap Lina.
"Maksutnya mereka itu kayak bergerombol gitu. Kayaknya ada sesuatu deh. Coba deh kalian cek di luar"
Ketiganya terdiam. "Ayok..." Ajak Syifa. Mereka berempat lalu bergegas keluar kamar, dengan menuju segerombol para santriwati yang heboh sendiri.
"Permisi permisi...kasih jalan!!" Ujar Lina dengan berusaha menyelinap di gerombolan santriwati tersebut.
Ke empatnya terdiam saat sudah berada pada barisan paling depan. Terlihat seorang lelaki menggunakan baju Koko putih, peci putih dan sarung hitam. Kulitnya putih bersih. Ia sedang berpelukan hangat dengan Abah kyai. Pantas saja para santriwati heboh, ya karena dirinya yang mempunya wajah tampan.
"Ganteng banget sumpah!" Ujar Syifa tak kalah tertarik dengan lelaki tersebut.
Lina berdecih. "Ternyata gara gara ada laki laki yang ganteng. Kirain karena apa. Haduh haduh,, norak banget sih. Kayak ga pernah lihat cowok ganteng aja."
"Temen temen bentar ya, aku masuk ke dalam rumah dulu" Ujar Dinda.
"Iya Din" Jawab Lina.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ke tiganya. Dinda langsung berjalan cepat memasuki rumah Abah kyai.
"Lo ga mandi?" Tanya Lina.
"Nanti aja deh."
"Sekarang aja,, ga malu apa dilihatin orang gara gara bawa sabun kayak gini" Kata Lina dengan menunjuk sabun, sikat gigi, pasta gigi dan alat mandi lainnya yang dimasukkan dalam satu wadah.
"Iya deh iya. Ya udah gue mandi dulu. Assalamualaikum" Ujar Syifa
"Waalaikum salam" Jawab Lina dan Aisyah.
"Syah, balik ke kamar yok. Kayak ga ada kerjaan aja di sini" Ajak Lina.
Aisyah mengangguk. "Iya"
Keduanya langsung berjalan ke kamar. Mengabaikan segerombol santriwati yang bergosip dengan hebohnya.
17.28
"Assalamualaikum" Ujar Dinda dengan memasuki kamar.
"Waalaikum salam" Jawab ketiganya.
"Gimana Din? Tadi itu siapa?" Tanya Syifa.
"Tadi itu namanya Guz Fahmi" Jawab Dinda.
"Guz Fahmi?" Gumam Lina.
"Jadi Guz Fahmi itu keponakannya Abah?" Tanya Aisyah. Dinda mengangguk.
"Terus ngapain Guz Fahmi ke sini?" Tanya Lina.
"Jadi Guz Fahmi itu menempuh pendidikannya di turki"
"Turki?" Tanya Syifa.
"Iya"
"Woah,, hebat juga ya" Gumam Syifa.
"Dan beberapa Minggu lalu beliau pulang dari turki. Jadi kyai Nawir menyuruh Guz Fahmi untuk datang kesini. Ya,, bersilaturahmi sama Abah." Ujar Dinda. "Sebenarnya, kyai Nawir rencananya juga mau ikut kesini. Apalagi saat mengetahui akan diadakan shalawatan di sini. Tapi kalau beliau pergi, maka pesantrennya ga ada yang ngurus. Selain itu, beliau mempunyai jadwal padat untuk mengisi pengajian di kotanya" Lanjut Dinda.
"Oo, gitu ya" Gumam Lina manggut manggut.
"Terus di sini berapa lama?" Tanya Syifa.
"Satu Minggu"
"Jad..."
Kalimat Syifa terpotong oleh suara adzan yang menggema lantang. Membuat mereka langsung bersiap siap untuk menuju mushola. Menunaikan ibadah sebagai tanda ketaatan pada sang pencipta. Tidak seperti biasanya yang setelah sholat Maghrib langsung dilanjutkan mengaji, kali ini para santri diminta agar langsung kembali menyiapakan semua acaranya, agar nanti berjalan dengan lancar.
Beberapa menit setelah waktu isya' tiba, beberapa orang menaiki panggung dengan membawa alat alat rebana. Dengan di ikuti juga Guz Fahmi. Para orang pun kian banyak berdatangan. Suara lembut Guz Fahmi yang mengalun merdu, membuat orang orang seketika heboh. Di sertai dengan alunan musik rebana pada malam itu.
Malam pun semakin larut. Kini, semua halaman pesantren yang luas telah di isi oleh lautan manusia yang dengan suka cita ingin bershawalat kepada kekasih yang mulia. Juga banyak yang menonton di luar pesantren karena halaman pesantren sudah penuh. Melodi merdu mengalun indah dari setiap insan yang cinta dan rindu pada sang baginda. Suara khas dari habib, Guz Fahmi juga beberapa orang anggota grup rebana yang sangat mendominasi. Dengan ditemani angin sepoi Sepoi pada malam itu, sebagian mereka menadahkan tangannya, memejamkan matanya...merasakan setiap rindu yang menelusup dalam jiwanya. Tak sedikit juga bendera merah putih, NU dan bendera lainnya yang dikibarkan dengan semangatnya oleh orang orang majlis pada malam itu.
Ditemani dengan sorot lampu yang memberikan kesan meriah. Di bawah sinar rembulan juga cahaya taburan bintang, mereka mengadukan akan rindunya pada sang panutan jalan kebenaran.
Berteriak saat Addinulana,
Mengangkat tangan saat Isyfa lana,
Bersemangat saat Yalal Wathan,
Dan, menangis saat Mahalul Qiyam,
Itulah kebersamaan mereka dalam tengah tengah lautan jamaah para pecinta shalawat.
•••••
"Bangun, Bangun, fa...Sholat subuh" Ujar Aisyah membangunkan Syifa.
"Emm,, gue masih ngantuk" Gumam Syifa dengan rasa ngantuk yang hebat dalam dirinya. Tadi malam hampir jam 2 mereka baru bisa tidur. Haah,, ngantuk sekali rasanya.
"Iya,, sholat subuh dulu"
Syifa mengucek matanya. Dengan malas, ia bangun dari tidurnya, lalu mengambil mukena. Ke empatnya langsung berjalan menuju mushola. Setelah mengambil wudhu, mereka langsung mengambil tempat dan menggelar sajadah untuk duduk di atasnya sembari menunggu waktu sholat subuh tiba. Untuk mengusir rasa kantuk, Aisyah dan Dinda memilih membaca Alquran. Sedangkan Syifa tidur di atas sajadahnya. Hingga adzan mulai di kumandangkan, juga Iqamah setelah beberapa saat setelah itu.
"Bangun! Bangun! bangun!" Ujar Bu nyai dengan memukul satu persatu para santriwati yang tertidur menggunakan sajadahnya. Termasuk juga Syifa.
"Aduh duh..." Ringis Syifa sembari memegangi punggungnya yang habis di pukul menggunakan sajadah.
"Yang ketiduran, cepat ambil wudhu!" Kata Bu nyai. "Sebentar lagi sholat di mulai"
Syifa dengan segera menuju tempat wudhu wanita, di sertai para santri lainnya juga Lina. Dia sengaja mengambil wudhu untuk mengusir rasa kantuknya.
Setelah selesai sholat dan mengaji di waktu fajar, Para santri di suruh untuk kembali membantu untuk membersihkan dan membereskan semuanya. Lina dan Syifa membantu bi irah mencuci piring. Sedangkan Aisyah dan Dinda membantu menyapu halaman yang berserakan dengan sampah.
__ADS_1
"Woy,, jangan tidur di sini!!" Ujar Lina dengan mencipratkan air di wajah Syifa.
"Ngantuk gue!!"
"Cuci muka sana biar ga ngantuk"
"Hmmm" Syifa berjalan menuju toilet. "Haduhh, ngantuk banget! Nanti siang gue puas puasin tidur dah" Gumamnya. Tatapannya terhenti pada Guz Fahmi yang berjalan ke arah mushola. Dengan membawa Al Qur'an di tangan kanannya. Membuat Syifa mengurungkan niatnya untuk ke toilet. Ia melangkah menuju mushola. Namun langkahnya terhenti saat melihat Reyhan juga Iqbal yang sibuk membantu membersihkan sampah. Syifa tersenyum. Mendadak rasa kantuk dalam dirinya lenyap seketika. Ya, walaupun Guz Fahmi memang tak kalah tampan dengan Reyhan. Percayalah, rasa yang ada pada diri Syifa tidak akan berpindah ke lain hati.
Syifa melangkah pasti menuju Reyhan. "Assalamualaikum"
Reyhan dan iqbal menoleh. "Waalaikum salam" Jawab keduanya.
"Ada yang bisa Syifa bantu ga kak?"
"Oh,, Lo mau bantuin?" Tanya Iqbal.
Syifa mengangguk.
"Lo ban.."
"Ga usah!" Potong Reyhan.
"Han, mumpung ada yang mau bantuin. Biar ni pekerjaan juga cepet selesai" Ujar Iqbal.
"Ga usah" Ketus Reyhan.
"Beneran nih ga ada yang mau aku bantuin?"
"Sebenarnya gue mau Lo bantuin sih fa,, cuma ya si..." Iqbal melirik tajam Reyhan. "Si Ono noh... yang ga mau"
"Kak Reyhan, aku mau tanya dong!" Ujar Syifa dengan mengikuti Reyhan yang sibuk menyapu dan membuang sampah. "Kak Reyhan ulang tahunnya kapan?" Tanya Syifa.
"Kak..."Panggil Syifa.
"Hm"
"Kak Reyhan ulang tahunnya kapan. Biar aku bisa kasih kado buat kak Reyhan. Jadi kak Reyhan kasih tau aku ya. Kak, kalau aku ga tau ultah nya kak Reyhan, aku pasti ga bisa kasih surprise ke kakak."
"Kak..."
Reyhan menghentikan aktifitasnya. "Lo bisa diem ga"
Syifa menghela pelan. "Kakak udah berapa kali sih bilang gitu. Aku kan udah bilang, aku susah buat diem!" Jawab Syifa.
"Kalau gitu pergi" Usir Reyhan.
"Jangan main usir gitu dong Han!" Bela Iqbal.
Syifa mengerucutkan bibirnya. "Kak Reyhan kenapa sih?!"
•••••
Mereka berempat berjalan memasuki gerbang sekolah. "Hai Riz" Sapa Ghea yang tiba tiba datang dari arah belakang.
"Riz, gue ke kelas dulu ya" Kata Iqbal.
Fariz mengangguk.
"Assalamualaikum" Ucap iqbal.
"Gue sama Reyhan juga mau langsung ke kelas" Kata Ilham.
"Iya"
"Assalamualaikum" Ujar Ilham dan Reyhan.
"Waalaikum salam" Jawab Fariz
Ketiganya langsung pergi ke atas menuju kelas. Meninggalkan Fariz dan Ghea. "Naik apa? Kok jalan kaki?" Tanya Fariz basa basi.
"Mobil. Tapi tadi berhenti di depan" Jawab Ghea yang hanya di respon anggukan kecil oleh Fariz. Fariz kembali melanjutkan langkahnya, dengan di susul Ghea yang berjalan di sampingnya.
"Riz, Lo masih marah sama gue?"
Fariz menggeleng. "Enggak"
Ghea tersenyum lebar. "Syukurlah kalau gitu" Gumamnya. "Riz, gimana kalau Lo pas istirahat makan bareng sama gue. Mau kan?"
"In Syaa Allah"
"Bisa ya Riz. Gue udah lama ga makan bareng sama Lo. Gue kangen"
"Hm"
Ghea tersenyum riang. "Riz, gue denger kemarin malem ada shalawatan ya di ponpes Lo"
"Iya"
"Pasti seru" Ujar Ghea.
Fariz mengangguk.
Ghea menghela pelan. "Jujur Riz, gue gak suka lihat Lo Deket sama Aisyah"
"Ga ada yang maksa buat Lo suka dengan kedekatan gue sama Aisyah" Jawab Fariz.
"Riz, please lah. Lo ngertiin dikit. Gue ini kan temen Lo dari kecil, apa Lo ga bisa buat berusaha nyaman sama gue terus Lo jauhin Aisyah"
"Rasa itu ga bisa di paksa"
"Riz, gue itu suka sama Lo udah dari dulu. Bahkan gue rela sekolah di sini, itu demi Lo. Cuma demi gue setiap hari bisa ketemu lo"
"Gue juga suka sama Lo ya. Tapi suka sebagai sahabat, nggak lebih." Kata Fariz.
"Tapi gue yakin kok Lo it..." Tatapan Ghea terhenti pada Aisyah yang tengah berjalan beberapa meter dari hadapan mereka.
"Aduh...mata gue"
"Kenapa?" Tanya fariz.
"Mata gue kelilipan." Gumam Ghea dengan mengedip-ngedipkan mata kirinya. Dengan sesekali melirik Aisyah yang menghentikan langkahnya karena melihat mereka berdua.
"Jangan di kucek" Ujar Fariz.
"Tapi,,,"
Fariz mendekatkan wajahnya ke arah mata kiri Ghea. Lalu meniupnya secara perlahan. Ghea kembali melirik Aisyah. Dirinya tersenyum saat mendapati wajah Aisyah yang sepertinya cemburu. Dan selang beberapa detik dari itu, Aisyah pergi. "Udah Riz,, udah ga papa. Makasih ya"
"Hm... Kalau gitu gue ke kelas dulu"
"Iya. Oi ya, jangan lupa buat nanti makan di kantin bareng gue ya"
Fariz mengangguk.
"Gue tunggu di kantin mbak Windi" Lanjut Ghea.
"Oke" Jawab Fariz. "Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam"
...*******...