Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Mulainya Konflik


__ADS_3

Pagi itu Lina duduk di atas sofa ruang tamunya dengan memainkan ponsel sembari menunggu seseorang datang.


"Lin..."


Lina mendongakkan kepalanya.


"Mau kemana bal?"


"Gue mau pergi" Jawab Iqbal.


"Kemana?"


"Cari apartemen"


Lina berdiri. "Bal, tadi om Hary telpon papa. Dia nanyain Lo. Kayaknya om Hary khawatir sama Lo, lebih baik Lo pulang ke rumah ya..."


Iqbal terdiam dengan menghela panjang. "Bal..." Panggil Lina pelan.


"Gue ga mau pulang lin"


Lina terdiam dengan meneguk kuat salivanya. Tak lama pintu rumahnya terketuk hingga beberapa kali. Lina berjalan mendekat dan membukakan pintu, melihat siapa yang datang membuat Lina langsung mempersilahkannya untuk duduk.


Baru satu langkah masuk, namun langkah nya terhenti melihat Iqbal yang juga ada di sana. Hingga tatapan mereka saling bertemu. Dengan tatapan tajam yang saling mereka lontarkan, seperti sudah mau menerkam satu sama lain.


"Lo ngapain di sini?" Tanya Iqbal melihat seseorang datang, yang tak lain lagi adalah verel.


"Gue yang suruh verel datang" Balas Lina.


Iqbal menoleh. "Kenapa? Buat apa Lo suruh dia ke sini ha?"


"Bal dengerin gue dulu..." Kalimatnya terpotong saat melihat Iqbal yang langsung pergi dengan langkah cepat.


"Bal..." Lina merentangkan tangannya untuk menahannya agar tidak pergi. "Bal, masalah kalian harus di selesai kan, Lo ga mau kan kalau orang tua Lo bener bener pisah?"


"Tapi ga sama dia juga Lin!!" Tegas Iqbal dengan melirik verel.


"Bal kalau Lo terus bersikap kayak gini, masalah ga bakalan selesai. Itu berarti Lo sama aja kayak orang tua Lo. Egois!!" Jawab Lina penuh penekanan. "Dengerin gue bal, kalau Lo terus berantem, benci sama verel dan ga mau ada hubungan komunikasi, masalah sampai kapan pun ga akan pernah bisa selesai. Tolong untuk kali ini, turunin ego Lo. Untuk kali ini tolong bicara secara kekeluargaan sama verel. Gue bakalan bantu Lo"


Iqbal membuang muka. "Tolong bal...gue tadi malem udah rela relain begadang demi dapet nomornya verel dan bujuk dia buat Dateng ke sini. Menyelesaikan semuanya" Lanjut lina.


"Gue kali ini mau berdamai sama Lo. Tapi cuma demi keluarga gue, dan demi permintaan Lina" Tambah verel yang tadinya hanya terdiam.


Iqbal menatap mereka secara bergantian. Lalu menghela panjang. "Demi keluarga gue..."


Lina tersenyum lega, dia langsung mempersilahkan Iqbal dan verel duduk. "Jadi, kalian harus bersatu untuk memisahkan bokapnya verel sama nyokapnya Iqbal kalau memang kalian masih pengen keluarga kalian aman." Ujar Lina dengan yakin. "Karena gue tahu yang saat ini bisa menyelamatkan keluarga, ya kalian sendiri."


"Terus gimana caranya?" Tanya verel.


Lina tersenyum. "Kalian lebih mengerti masalah yang terjadi sama keluarga kalian masing masing. Dan kalau kalian udah mengerti permasalahan nya, kalian juga pasti lebih ngerti dan mudah buat nemuin jalan keluarnya."


"Jadi,,,, kalian berdua harus berdiskusi untuk menyusun rencana sedemikian rupa. Biar mama dan papa kalian ga jadi cerai. Gue ga bisa bantu banyak, gue cuma bisa jadi penengah antara kalian. Biar kalian bisa baikan dan cari jalan keluar sama sama buat keluarga masing masing. Untuk rencana, kalian harus susun berdua. Cuma berdua, ga ada siapapun yang harus tahu." Lanjut Lina membuat Iqbal dan verel saling menatap.


•••••


"Riz mama berangkat dulu ya..."


Fariz mengangguk. "Iya ma hati hati"


"Jaga rumah sama nenek mu"


Fariz kembali mengangguk dengan menyalami tangan ibunya. Ia berdiri dengan menatap ibunya yang memasuki mobil. Hari ini ayah, adik dan ibunya pergi untuk liburan. Namun seperti yang kemarin ia bilang, dirinya tidak mau ikut. Malas saja rasanya, apalagi pikiran dan hati nya yang terus memikirkan Aisyah.


"Kok kamu ga ikut Riz?" Tanya neneknya yang sedang duduk di kursi kayu ruang tamu.


Fariz menoleh dengan tersenyum. Dirinya langsung duduk di samping nenek nya. "Fariz pengen nya di sini. Temenin nenek"


"Kalau kamu mau ikut juga ndak papa. Lagi pula kamu itu kan tinggal di pesantren, jadi waktu buat keluarga itu cuma sedikit."


"Ga papa nek. Fariz masih lama kok liburannya, masih ada waktu buat bareng sama keluarga"


"Yo sekarepmu le" Gumamnya logat Jawa.


Beberapa menit terdengar suara motor berhenti di depan rumah. "Assalamualaikum" Suara lantang yang terdengar Semangat itu membuat keduanya menoleh ke Arah pintu. Seorang lelaki yang dua tahun lebih muda dari ibunya itu masuk ke dalam rumah. Ia langsung mencium punggung nenek Fariz yang tak lain adalah ibunya.


"Weeeh, Fariz Iki??" Tanya nya dengan duduk dan menatap senang Fariz.


"Iya om"


"Wih wis gede Yo...Tambah gede tambah ganteng ngene e,,, "


(Wih sudah besar ya... tambah besar tambah ganteng begini e,,,)


Fariz terkekeh. "Om bisa aja"


"Lho tenan e,, awakmu Iki lho kok ganteng pol. Wis duwur, kulit putih resik, pinter silat. Cah ganteng Yo wangi terus ngeniki. Sopo e sing Ra gelem. Heh, wes duwe pacar OPO durung??" Ujar paman fariz dengan bahasa jawa.


(Lho beneran e,, dirimu ini lho kok ganteng banget. Sudah tinggi, kulit putih bersih, pinter silat. Orang ganteng ya wangi terus kayak gini. Siapa yang ga mau. Heh, sudah punya pacar apa belum)


"Ga punya pacar om. Kan pacaran itu zina" Jawab Fariz.


Secara refleks pamannya langsung memukul pelan lengan Fariz. "Lihat Bu,, putumu Iki lho. Selain ganteng Yo Sholeh. Bahasane wong jaman Saiki iku OPO Yo?" Lanjutnya dengan sedikit berpikir.


(Lihat Bu,, cucumu ini lho. Selain ganteng juga Sholeh. Bahasanya orang zaman sekarang itu apa ya?)


Paman Fariz terdiam sejenak. "Fariz Iki selain got lokeng juga got A.... A opo Yo? Atid. Got Atid nah..." Ujarnya dengan tersenyum bangga karena telah bisa menyebutkan bahasa anak zaman sekarang.


"Atid Sopo to? Malaikat atid yang kamu maksud?" Sahut nenek Fariz yang sedari tadi mendengarkan.


"Mboten Bu. Atid Iki bedo neh, atid iku perilaku. Bener ngono Ra Riz?"


(Nggak Bu. Atid ini beda lagi, atid itu perilaku. Benar begitu ga Riz?)


Fariz menghela pelan dengan menggelengkan kepalanya. "Yang bener itu good looking bukan got lokeng. Good Attitude bukan got Atid" Jawab Fariz membenarkan.


"Halah,, sama aja. Beda dikit doang kok" Balas paman Fariz.


"Riz, cah seumuran kuwe Iki biasane lagi Ono neng fase, Cinta cintaan. Iyo to?"


(Riz, orang seumuran kamu ini biasanya sedang ada di fase cinta cintaan. Iya kan?)


Fariz hanya bisa tersenyum mendengar ucapan pamannya. "Oi ya ini tak bawain sate ayam. Sekalian tadi habis beli..." Ujarnya dengan menaruh kantong plastik berisi beberapa tusuk sate juga bumbunya di atas meja.


"Om kesini kok bawa motor? Kan Deket. Cuma jalan beberapa langkah sampe. Mager ya?" Ucap Fariz.


"Yo ini tadi om habis beli sate, terus langsung kesini. Ga langsung pulang" Jawabnya membuat Fariz ber-oh kecil.


"Riz!!"


"Iya om?"


"Ibu bapak mu ana neng ndi? Kok omah sepi?"


(Ibu bapakmu ada di mana? Kok rumah sepi?)


"Mama papa lagi liburan om"


"Sama adikmu juga?"


"Iya om"


"Lhah kok Yo kamu ga ikut?"


"Nggak om. Pengen di rumah aja, nemenin nenek" Jawab Fariz.

__ADS_1


Drrt Drrtt Drrtt


"Bentar om" Ujar Fariz. Dengan cepat ia langsung memencet tombol hijau.


"Halo, Assalamualaikum. Ada apa ma?" Tanya Fariz dengan orang di balik telepon.


"Ma,, kenapa? Ada apa?" Tanya nya lagi dengan nada khawatir.


"Oh iya iya. Fariz segera ke sana"


Sambungan terputus.


"Ono opo Riz?" Tanya paman Fariz.


"Tadi om ke sini pake motor kan?"


"Iya"


"Fariz pinjam dulu ya. Nanti di balikin"


"Memang mau kemana?" Kali ini neneknya yang bertanya.


"Ada sesuatu yang terjadi kayaknya. Tolong ya om, pinjam motornya"


"Oh iya ya ini kuncinya..."


Fariz mengambil kunci yang di sodorkan. "Makasih om. Fariz pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Dengan langkah cepat Fariz langsung menaiki motor dan melaju cepat ke arah tempat yang dituju. Setelah sekitar 15 menit, fariz menghentikan motornya saat melihat mamanya yang terduduk dengan menangis di tepi jalan. Perasaan khawatir, bingung, cemas, panik semua bercampur jadi satu.


Fariz turun dari motor dan menghampiri ibunya. "Ma, kenapa ma? Ada apa?" Tanya nya panik.


Isak tangis terdengar nyata di telinga Fariz. Fariz menoleh, mendapati ayahnya yang sedang tersungkur menahan sakit. "Pa, ada apa?" Tanya Fariz lagi kepada ayahnya.


Fariz mengedarkan pandangannya. "Ma, pa. Kaila mana?"


Kaila, adik Fariz.


"Kaila...." Papa Fariz menggantungkan kalimatnya. "Kaila di culik Riz!!"


Seketika Fariz langsung tersentak kaget. Di culik? Bagaimana bisa?


"Kok bisa? Pa, ma. Gimana ceritanya?" Tanya Fariz dengan penuh kekhawatiran. "Terus, ini mobil papa mama kemana?"


"Mobilnya juga dibawa sama penculik nya"


Fariz menghembuskan nafas kasar dengan memijat pelipisnya. Ia langsung mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Halo, Assalamualaikum om"


"Waalaikum salam Riz. Ono opo?" Suara dari balik telpon terdengar begitu santai.


"Om bisa kesini ga bawa mobil?"


"Kesini kemana?"


"Nanti Fariz share lokasi. Tapi om cepet cepet kesini"


"Iya ya"


"Makasih om. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Fariz langsung memutus sambungannya. Mendekatkan tubuhnya pada sang ibu, lalu memeluknya. "Tenang ma. Kaila bakalan baik baik aja..."


"Udah ma... semua bakalan baik baik aja. Mama tenang ya..."


"Riz,, apa ga sebaiknya lapor polisi?" Tanya papanya dengan menahan rasa sakit yang masih tersisa di tubuhnya terutama di bagian perut.


Fariz terdiam. "Nggak dulu pa. Kita tunggu sampai nanti sore"


"Kenapa gitu? Nanti kalau adikmu kenapa napa gimana?"


Fariz menggeleng. "Kaila bakalan baik baik aja pa. Percaya sama Fariz!!" Ujarnya penuh keyakinan. Sebenarnya dirinya juga sangat panik dan khawatir dengan kondisi adiknya, apalagi kaila masih kecil. Takut adiknya di sakiti, takut terjadi apa apa dengannya. Namun ia harus tenang, setenang mungkin. Jangan sampai kekhawatiran yang berlebihan akan membuatnya memilih langkah yang salah.


Beberapa menit menunggu akhirnya paman Fariz datang dengan beserta mobilnya. Mereka langsung naik dan pulang kerumah. Kecuali fariz yang pulang menaiki motor pamannya yang dibawa nya tadi.


Setelah sampai rumah, fariz langsung menyuruh ibunya beristirahat. Dan bertanya kepada sang ayah bagaimana kejadian ini bisa terjadi kepada mereka.


"Waktu kita jalan, tiba tiba ada orang yang minta kita buat turun dari mobil" Ujar papa Fariz memulai ceritanya. "Tapi papa terus jalanin mobil, sampe akhirnya mereka berhenti di depan mobil, mencegat papa. Secara refleks papa langsung menghentikan laju mobilnya."


"Berapa orang pa..." Tanya Fariz.


"4 Orang" Jawabnya. "Akhirnya papa turun, dan minta mamamu buat jaga adikmu. Papa langsung berhadapan sama tiga orang itu, dan ternyata satu yang lainnya masuk mobil dan ambil kaila secara paksa. Sebelum mereka pergi, mereka pukulin papa sampe babak belur kayak gini."


Papa Fariz menghela pelan. "Waktu itu..."


Drrtt Drrt Drrtt


Suara dering ponsel Fariz membuat cerita papanya terhenti. Fariz mengernyitkan keningnya melihat nomor yang tak di kenal meneleponnya. Beberapa detik, ia paham.


"Halo!!"


"Gue minta buat Lo temuin gue di gedung kosong pinggir kota. Bawa uang 500 juta. Jangan datang sama polisi, kalau Lo berani ngelakuin itu, nyawa adik Lo yang jadi tebusan. Gue tunggu!!" Suara kekar yang terdengar itu begitu mengancam.


Fariz menatap layar ponselnya. Seperti dugaannya, penculik itu pasti akan meneleponnya meminta tebusan. Itu sebabnya ia menyuruh untuk menunggu.


"Siapa Riz?" Tanya papanya.


"Penculik yang tadi. Dia minta tebusan 500 juta"


"Wee,,, edan tenan iku penculike" (Wee,,, gila bener itu penculiknya) Sahut pamannya yang terduduk di ruang tamu. Sedari tadi ia hanya mendengarkan saja.


"Jadi gimana Riz? Kita bakal kasih mereka 500 juta?"


Fariz mengangguk pasti. "Iya. Kita pasti bakal kasih. Tapi Fariz yang bakal ngurus semuanya. Papa tunggu sini, Fariz keluar sebentar"


"Mau kemana?"


"Ngurus semuanya" Jawabnya dengan pamit pergi.


Hari semakin sore. Semburat senja semakin lama jelas nyata terlukis di langit hari ini. Sejak tadi Fariz sibuk mengurusi semuanya.


"Riz, kita bawa polisi? Biar sekalian mereka di tangkap" Usul papanya.


"Nggak pa! Mereka larang kita buat bawa polisi"


"Tapi..."


"Pa. Papa tenang aja ya"


Tak selang lama adzan Maghrib mulai terdengar. Dengan cepat mereka menunaikan sholat Maghrib, lalu berdoa. Mereka langsung pergi menaiki mobil paman Fariz, karena mobil mereka juga dibawa oleh penculik. Kini mereka bertiga melaju menuju tempat yang sudah di janjikan.


Tepat di depan gedung tua mobil di hentikan. Gedung ini tempatnya agak terpencil tidak persis di pinggiran jalan kota. Harus masuk kedalam setangah kilometer dulu agar sampai. Gedung dari luar terlihat sangat gelap, menambah kesan dan aura yang berbeda saat mendatanginya.


Fariz dan ayahnya masuk ke dalam sedangkan pamannya menunggu di mobil. Di dalam suasana masih terlihat sepi. Kemana perginya para penculik itu? Dan dimana kaila sekarang?


"WOY KALIAN!! KELUAR KALIAN!! GUE UDAH DATANG BAWA UANG YANG KALIAN MINTA." Teriak Fariz dengan mengedarkan pandangannya ke ruangan gedung yang luas. "WOY!! KELUAR KALIAN!!"


Tak lama setelah Fariz berteriak, ketiga penculik itu muncul di hadapan mereka.

__ADS_1


Penculik yang paling besar badannya dan berdiri tengah, ia tertawa kecil. "Bagus kalau kalian udah datang. Kalian ga bawa polisi kan?"


Fariz menggeleng. "Gue kesini cuma sama bokap gue."


Penculik itu kembali tertawa puas. "Bagus!! Sekarang mana duitnya"


Fariz melangkah mendekat. Ia langsung memberikan koper kecil yang berisi uang tersebut. Seketika si penculik langsung mengecek uangnya. Dia manggut manggut setelah mengetahui uang yang diberikan adalah uang asli. "Ini pas 500 juta?" Tanya nya.


"Iya. Sekarang kembaliin adik gue!!" Ucapnya tenang namun penuh penekanan. Fariz memang sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Dirinya boleh khawatir, boleh panik tapi tidak boleh berlebihan. Pada saat seperti ini pikirannya harus benar benar tenang agar dirinya tidak mengambil jalan yang salah. Sekalinya salah bisa saja berakibat fatal.


Seorang penculik lainnya datang dengan menggendong adiknya yang masih berusia 4 tahun itu. Mata kaila terlihat sembab, mungkin habis menangis karena ketakutan. Dengan santai Fariz mengambil alih kaila. Mengamati penculik itu dengan tatapan tajam.


"Pa, bawa kaila ke mobil. Nanti biar Fariz yang urus mereka" Bisiknya yang diangguki oleh sang ayah.


Ayah Fariz menggendong putri bungsunya tersebut, mengelus lembut punggungnya untuk memberi ketenangan. Sedangkan Fariz masih mengamati mereka, terutama orang yang bertubuh gagah. Sekilas dirinya melihat pistol yang tersembunyi di balik celana orang tersebut.


"Kenapa Lo masih di sini? Pergi!! Urusan kita udah selesai"


Fariz mengangguk kecil mendengar ucapan penculik tersebut. Ia membalikkan badan, lalu melangkah pelan dengan masih melirik ke arah belakang. Tanpa aba aba, Fariz kembali membalikan badan cepat dan langsung berlari seperti kilat menendang perut penculik yang berdiri paling tengah dan tubuhnya yang paling terlihat gagah tersebut. Apalagi? Penculik itu langsung tersungkur jatuh karena kerasnya tendangan. Perutnya sudah sakit tidak karuan namun masih ia tahan. Tendangannya, sungguh begitu kuat.


Seketika ketiga penculik lain yang terkejut langsung mengepung Fariz. Sepertinya mereka juga akan memberikan perlawanan. Secara bersamaan mereka mendaratkan satu persatu jurus mereka untuk membuat lawannya tidak berdaya. Namun nyatanya, Fariz lebih menguasai semua jenis gerakan perlawanan yang mereka berikan. Satu terjatuh, dua terjatuh, tiga juga terjatuh. Ketiganya terjatuh. Namun seperti yang kalian lihat di sinetron atau dunia nyata lainnya, penjahat tidak akan begitu mudah menyerah apalagi membiarkan lawannya menang.


Mereka kembali bangkit dan melawan Fariz. Sempat Fariz mendapat dua sampai tiga kali pukulan, namun itu sudah biasa baginya. Toh, dia sudah pernah mendapat pukulan yang lebih sakit dan keras dari ini. Setelah ketiganya kembali tersungkur jatuh, kini si inti penculik tersebut yang terbangun.


Kepalan tangannya terarah ke wajah Fariz, namun dengan cepat ia menangkisnya. Ya, sepertinya orang ini bos di antara mereka. Karena orang ini juga yang sulit di kalahkan. Setelah memberikan pukulan, dengan gerakannya yang sigap dan gesit Fariz menarik kedua tangan penculik itu ke belakang. Lalu menahannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengambil pistol yang tersembunyi di balik celana orang itu.


Fariz mengarahkan pistol tersebut ke arah kepala si penculik. Ia menatapnya tajam. "Apa Lo pikir, gue bakal diem? Apa Lo pikir, semua urusan kita udah selesai? Berani berani nya Lo culik adik gue!!" Bisiknya.


"Sebelum lo gue jeblosin ke penjara, setidaknya gue harus kasih pelajaran dulu ke orangnya"


"Lo bawa polisi ke sini ha?" Tanya nya.


Fariz tersenyum miring. "Siapa bilang? Gue kalau bilang nggak ya nggak. Tapi kan gue bisa bawa Lo dan semua temen Lo ini ke kantor polisi"


Mendengar ucapan Fariz membuat ketiga penculik lainnya bangkit. "DIEM LO!! JANGAN KEMANA MANA! TETEP DI SITU!!" Bentaknya dengan mengarahkan pistol ke arah ketiga penculik itu satu persatu. Sekarang aksinya sudah seperti penjahat cerdik kelas kakap.


Ketiga penculik itu langsung terdiam melihat pistol yang diarahkan ke mereka. "Diem atau mati!!" Ujarnya penuh ancaman.


Sedangkan penculik yang kini di tangan Fariz sudah berusaha untuk melepaskan tangannya yang masih di cengkeram Erat Fariz ke belakang. Kini badannya sudah sakit dibuatnya. Semudah itu dia membuat sekujur tubuhnya sakit? Ah, belajar ilmu apa dia sampai semudah itu. Padahal tidak banyak yang berhasil mengalahkannya dalam aksi aksi kejahatan sebelumnya.


"Kalau Lo mau penjarain gue, orang yang nyuruh gue juga harus Lo penjarain" Ujarnya.


Fariz terhenyak. Orang yang menyuruh? Itu artinya ini bukan sebuah kebetulan, tapi rencana. "Siapa yang nyuruh kalian??!!"


Lelaki itu terdiam. Salah satu dari ketiga penculik tersebut berjalan pelan. Sepertinya hendak memberi perlawanan secara diam diam, namun sang lelaki yang kini ada di cengkeraman Fariz memberikannya isyarat lewat mata agar tidak melakukan hal itu.


"SIAPA JAWAB!!" Gertak nya dengan masih setia menodongkan pistol ke arah kepala orang tersebut.


Dia masih terdiam. Fariz melihatnya seperti antara ragu memberitahu atau tidak. "SIAPA YANG NYURUH KALIAN!!"


"Aisyah!!" Ujarnya tegas dengan penuh keyakinan.


Mendengar jawaban dari penculik itu, bagai ada petir yang menyambar. Semua kekuatan yang ada pada dirinya, seketika hilang.


"Jangan asal ngomong!! Mana buktinya??"


"Lepasin gue!! Gue bakal kasih bukti ke Lo"


Fariz terdiam. Secara perlahan ia melepaskan cengkeraman tangannya. Beberapa detik, penculik itu membuka ponsel lalu menyodorkannya ke arah Fariz. Fariz menatap penculik itu sekilas, lalu menerima ponselnya.


Aku ada tugas buat kalian.


Kalian harus bantu aku buat culik adiknya kak Fariz dan minta tebusan 500 JT sebagai gantinya.


Kalian tenang aja, setengah dari uang itu bakal aku kasih ke kalian. Yang penting tugas kalian beres.


Aku pengen, secara perlahan melorotin dia. Baik sadar maupun tidak.


Jadi aku butuh bantuan kalian.


Nanti sore kita ketemuan, untuk lokasi aku sharelock. Kita bicarain dan susun rencana tentang ini.


Fariz membaca setiap kata yang terkirim lewat WA itu dengan rasa tak percaya. Pistol yang ada di tangannya, kini jatuh begitu saja. Dia langsung mengecek nomornya, benar. Itu memang nomor Aisyah, dia hafal betul. Dan Poto profilnya, juga sama seperti Aisyah.


Seketika entah kenapa dirinya langsung kehilangan kekuatan. Membaca setiap pesan yang dikirim gadis itu. Gadis yang selama ia percaya. Benarkah dia menghianatinya?


Fariz meneguk kuat salivanya dengan mengeratkan gerahamnya. Apakah selama ini dia salah menaruh kepercayaan? Atau memang Aisyah yang mencoba untuk mempermainkan ini semua?


"Denger, kalau Lo mau jeblosin gue dan temen temen gue ke penjara. Aisyah juga harus ikut!" Ujar penculik itu.


Fariz menoleh. Dirinya masih tidak percaya dengan semuanya. Semua yang ia lihat dan semua yang ia dengar.


"Aisyah suruh gue buat culik adik Lo. Tapi dia bilang jangan sampe adik Lo kenapa napa. Terutama Lo. Dia cuma pengen uang Lo, jadi gue dan semuanya ga bisa sakitin Lo. Karena itu permintaan nya dia" Tambahnya lagi.


Fariz mengepalkan tangannya semakin erat. Perlahan kepalanya menggeleng pelan. Ingin marah, kesal, kecewa tapi kepada siapa ia harus menumpahkannya. Dengan kekecewaan yang mendalam, Fariz berjalan cepat keluar dari gedung kosong tersebut. Kini pikirannya terbelah kemana mana, tidak karuan rasanya. Dia, gadis yang selama ini selalu ia percaya. Dia, gadis yang selama ini ia lindungi. Apakah ini balasan nya? Mendekati dirinya hanya demi uangnya? Ah, benar benar tidak bisa di percaya.


Dan kini semua emosi dan kekesalan terpendam dalam dirinya. Ingin rasanya berteriak, ingin rasanya menghancurkan semuanya. Namun tidak sekarang. Sedalam apapun luka yang kini tercipta karena penghianatannya, ia harus berusaha untuk meredam emosinya. Apapun alasan yang nantinya di berikan gadis itu kepadanya, dirinya sudah terlanjur kecewa.


•••••


Srek srek srek


Suara sapu lidi yang bergesekan langsung dengan tanah itu terdengar nyaring. Dedaunan kering yang berserakan di tanah kini sudah terkumpul menjadi satu. Kini, dirinya Dinda. Sedang berada di taman depan pesantren. Membersihkan halamannya agar terlihat sedap bila di pandang.


Saat Dinda melangkah, ia mendongakkan kepala. Ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Sebuah kertas origami berwarna biru berbentuk burung itu ada di antara ranting dan dedaunan pohon yang tumbuh tak terlalu tinggi.


Ia tersenyum melihat kertas origami berbentuk burung yang telah ia ambil dan kini ada di tangannya. Matanya menyipit, di sayap kanan burung itu tertulis 'Buka Kertasnya'


Dinda terdiam, antara ragu dan tidak. Namun tangannya, perlahan bergerak merombak dan membuka kertas tersebut.


Sampai detik ini,


Dirimu adalah hal istimewa yang kuceritakan kepada Tuhan,


Terima kasih,


Telah menjadi alasanku,


Untuk selalu tersenyum dan bersyukur setiap


hari ini :)


Dinda terpaku dengan melihat tulisan yang ada di dalamnya. Ini surat untuknya? Atau hanya sebuah kebetulan saja?


"Assalamualaikum"


Dinda menoleh. "Waalaikum salam"


Ilham yang datang langsung teralihkan oleh kertas yang dibawa Dinda, ia mengamati nya baik baik. Namun menyadari hal itu, Dinda langsung meremas kertas nya dan menyembunyikan dibalik genggaman tangannya. Untuk liburan kali ini, Ilham memang tidak pulang kerumah seperti teman temannya. Betah saja rasanya tinggal di pesantren.


"Din..." Ilham menatap Dinda yang menundukkan kepalanya. "Lo tahu kan dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan dunia adalah wanita yang Sholehah. Kamu tahu kenapa Rosulullah mengumpamakan wanita Sholehah dengan perhiasan yang paling indah?"


Dinda terdiam mendengarkan. "Karena semakin indah perhiasan, semakin ketat pula penjagaan nya dan tidak boleh ada yang memiliknya kecuali yang pantas dan mengerti cara menjaganya. Sama kayak kamu..." Ujar Ilham.


Dinda tersentak kaget saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Ilham. Dirinya terdiam, bingung harus merespon apa. "Em kak.... mau ngapain ke sini?" Tanya Dinda.


"Hhhss oiya lupa Din. Maaf maaf. Tadi aku kesini cuma mau kasih tahu kalau kamu di panggil Abah, buat segera bertemu dengan beliau"


Dinda mengangguk. "Terima kasih infonya kak. Dinda pergi dulu, Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam" Jawabnya dengan menatap Dinda pergi. Ilham memijat pelipisnya. "Hhss, sampai lupa mau ngomong apa tadi. Ham,, ham..." Gumamnya merutuki dirinya sendiri.


...*********...

__ADS_1


__ADS_2