Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Keluarga Kecil


__ADS_3

"AIISYAAAH!!!" Teriak Lina dengan rasa yang membuncah begitu senang. Rindu, akhirnya setelah lama tidak bertemu bisa juga melihat wajah satu sama lain, ya walaupun lewat ponsel, tapi tidak mengapa. Setidaknya masih bisa melihat wajah seseorang yang begitu di sayangnya kini baik baik saja. Ah andai dia bertemu secara langsung, ingin rasanya memeluk eraaaat sekali.


Refleks Iqbal langsung memukul pelan lengan istrinya. "Jangan teriak teriak."


"Ya maaf, kan lagi seneng. Masa iya seneng di tahan tahan?!" Balas Lina lalu kembali fokus ke arah layar ponsel. Kakinya mulai melangkah keluar kamar menuju ruang tamu.


"Oh jadi ini udah lulus? Alhamdulillah...ikut seneng deh gue. Ikut bangga!" Ucap Lina dengan tersenyum lebar.


"Iya Alhamdulillah."


"Eh Syah, tadi Lo kok panggil kak Fariz pake panggilan mas?" Tanya Lina. Tak lama dia menarik salah satu sudut bibirnya. "Wah, kak Fariz itu suami Lo ya?!"


"Iya..."


"Ya Allah, Aisyaah!! Kok gue ga tahu? Kenapa ga ngundang kita kita ke pernikahan kalian? Gue pasti bakalan ikut seneng deh." Ujar Lina. "Kalau Lo undang kan bisa sekalian kita reunian..."


Hening. Aisyah terdiam dengan menundukkan kepalanya. "Syah, Lo kenapa?" Tanya Lina. "Gue salah ngomong ya? Ada masalah apa? Kok gitu mukanya?"


Aisyah menggeleng. "Nggak kok, ga papa Lin. Ya aku minta maaf ya, nggak ngundang kamu."


"Ya nggak papa, gue juga ga masalah. Gue tahu kok kita kan emang terkendala komunikasi. Udah dong jangan sedih gitu mukanya." Ucap Lina. Hanya saja lina belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Udah berapa bulan nikah? Bulan apa?"


"Oktober Lin.."


"Oh,,, pengantin baru kalau gitu dong. Ya udah selamat ya, semoga langgeng."


"Aamiin...Kalau kamu sendiri gimana Lin? Udah nikah?" Tanyanya.


"Udah, malahan udah punya anak."


"Oh ya??Sekarang udah umur berapa Lin?"


"Bulan lalu empat tahun."


"Wah udah lumayan gede ya kalau gitu. Nikah muda dong kamu..."


Lina tertawa kecil dengan mengedikkan bahunya. "Ya gitu deh..."


Bermenit-menit lamanya mereka teleponan, saking asyiknya bahkan lina sampai lupa niat awalnya untuk membelikan ice cream kedua bocah itu. Mungkin karena lama menunggu, akhirnya aluna dan kevin memutuskan untuk menemui lina. "Bunda!" Panggil aluna.


Lina langsung menoleh. "Mana es klim nya?"


Wajah kaget lina langsung muncul. "Ya Allah, bunda lupa nak...Maaf ya,,,"


"Ih bunda..."


"Iya ya maaf nak...Sebentar ya" Ucap lina. "Aisyah udah dulu ya,, ini gue mau beli ice cream. Ya?"


"Udah, biar mas aja..." Ujar iqbal yang datang. Lina menoleh. "Yakin?"


"Iya. Kamu lanjutin aja ngobrol sama Aisyah..."


Lina langsung tersenyum lebar. "Eeuummm suamiku baik banget siiih."


"Kan dari dulu." Balas iqbal. "Ya udah aluna, ikut ayah yuk..."


"Sama kevin juga ya ayah."


"Iya boleh, ayok..."


Mereka berdua langsung berjalan mendekat ke arah iqbal. Di sisi kanan, tangan iqbal menggandeng putrinya, di sisi kiri dia menggandeng kevin. Mengajak mereka berdua keluar bersama. Sedangkan lina di sana, melanjutkan kembali video call-an dengan Aisyah. Melepas rindu yang sudah lama tertahan.


•••••


20.55


"Bunda..." Panggil aluna.


"Iya sayang?!"


"Bunda, bukankah kita halus mengucap Alhamdulillah?"


Lina mengangguk kecil. "Iya, karena mengucap Alhamdulillah, adalah bentuk rasa syukur terhadap Allah sayang..."


"Lalu mengapa tadi kevin malah mengucapkan Puji Tuhan?" Tanya Aluna mengingat pembicaraan mereka tadi saat masih bermain bersama.


"Aluna makasih ya ice cremanya."


"Sama sama."


"Mama papa kamu baik deh...", Ujar kevin.


"Iya dong...tapi kalau ayah bunda kamu, baik juga tidak?"


"Puji Tuhan, Tuhan kasih aku papa mama yang baik. Nyatanya mereka percaya kalau aku bisa jagain nenek. Mereka sayang sama nenek, sayang juga sama aku."


Aluna terdiam. "Puji Tuhan itu apa?"


"Hei kamu ga tahu? Itu sebagai rasa syukur."


"Tapi kalau kata bunda aku, halus bilang Alhamdulillah sama Allah..."


"Alhamdulillah? Artinya apa?"


Aluna menatap lina. "Bunda, Kevin malah berltanya altinya Alhamdulillah itu apa?!" Lina terdiam mendengar penuturan dari putrinya. Kalau di jelaskan, mungkin aluna juga tidak akan paham. Karena dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu toleransi dalam beragama.

__ADS_1


Lina tersenyum. "Nanti kalau besar kamu juga tahu..."


"Tahu apa bunda?" Aluna malah kembali bertanya dengan wajah polosnya. "Udah lupain aja ya, ini udah malam...mendingan aluna tidur sekarang ya..."


"Iya, tapi bunda halus celita dulu bial aluna tidul..."


"Cerita apa hm?"


"Celita tentang....pada zaman dahulu!!" Ucapnya.


"Iya..." Balas lina menyanggupi. Dia langsung menggendong aluna dan membaringkannya di atas kasur, menarik selimut hingga leher gadis kecil itu. Sementara itu dirinya duduk di tepi ranjang.


Ini mungkin saatnya yang tepat untuk menanamkan cerita cerita islami pada anak anak. "Pada zaman dahulu...di sebuah kota bernama Makkah terjadi sebuah peristiwa besar." Ujar lina mengawali cerita. Tangan kanannya mengelus rambut putrinya. "Pada waktu itu ada sebuah pasukan yang besaaar sekali, di pimpin oleh seorang raja. Namanya adalah raja abrahah. Raja itu punya niat untuk menghancurkan ka'bah yang ada di makkah. Dia dengan pasukannya berjalan ke arah mekkah dengan menunggangi gajah. Pada waktu itu, orang yang menjaga Ka'bah hanya bisa pasrah dengan keadaan. Karena dia tidak mungkin bisa melawan pasukan gajah yang kuat dan banyak sekali. Dan pada akhirnya, penjaga ka'bah itu berdoa agar ka'bah selalu di lindungi dan di jaga Allah..."


"Lalu saat mereka sudah dekat....Aluna tau apa yang terjadi?" Tanya lina membuat putrinya menggeleng. "Tiba tiba ada baaaanyak burung yang datang. Nah burung itu membawa batu yang paaanas sekali dari neraka, lalu burung burung itu melemparkannya ke arah pasukan gajah. Karena batunya panas sekali, membuat mereka yang berkekuatan besar seketika langsung lemah tidak berdaya. Mereka langsung mati berceceran dan ka'bah tetap kokoh dan aman di tempatnya, atas izin Allah..."


Aluna terdiam mencerna. "Bunda, bagaimana bulung itu membawa batu batu panas itu?"


"Mereka membawanya di paruh dan di cengkeram di kaki..."


"Lalu mengapa meleka tidak melasa panas? Kan batunya panas bunda,,, halusnya bulung bulung itu juga kesakitan."


Lina tersenyum. "Karena itu semua, atas izin Allah. Bunda kasih tahu ya,,, apapun itu yang sudah di kehendaki oleh Allah bisa terjadi. Walaupun memang tidak mungkin. Allah adalah pencipta, artinya tidak ada kekuatan manapun yang bisa menandingi-Nya. Aluna paham?" Aluna menggeleng pelan. Wajah polosnya membuat lina tertawa kecil. "Ya udah kalau ga paham,,, kalau gitu aluna tidur ya..."


"Bunda celita lagi, aluna masih belum mengantuk."


"Eeemmm bunda bakal lanjutin ceritanya, tapi nanti kalau udah selesai aluna janji ya langsung tidur."


"Iya bunda..."


"Pinter...Ya udah jadi,,, bertepatan saat itu lahirlah seorang manusia yang sangat sangat mulia,,, ayo tebak siapa??"


"Memangnya siapa bunda?" Tanya aluna.


"Nabi Muhammad,,, Manusia yang begitu amat mulia." Lina tersenyum tulus. "Kelahirannya begitu di sambut oleh para makhluk di bumi maupun di langit. Mereka sungguh bahagia atas kelahiran Rasulullah sayang. Pada saat itu, semua berhala yang ada di dunia tiba tiba jatuh dan hancur. Begitu banyak keajaiban yang terjadi saat Rasulullah lahir. Bagai cahaya yang kembali muncul untuk menerangi alam semesta. Membawa kebenaran di atas kegelapan dan sikap bodoh yang sudah merajalela."


Aluna memasang wajah serius. Sok ingin mikir, padahal dia tidak begitu paham dengan bahasa lina. Namun sungguh, dia begitu sangat menikmati ceritanya. "Makannya, kelahiran Nabi Muhammad di sebut dengan tahun gajah. Karena waktu itu ada pasukan gajah yang ingin menghancurkan ka'bah."


"Nabi Muhammad itu terlahir adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Meluruskan yang salah menjadi benar. Jadi,,, aluna harus mencontoh sikap Nabi Muhammad. Karena, beliau yang memang sepantasnya kita jadikan idola. Ya?!".


Aluna menggeleng. "Aluna tidak paham bunda." Tuturnya. "Tapi iya,,, iya aluna akan sepelti yang bunda bilang."


"Memangnya bunda bilang apa?" Tanya lina.


"Tidak tahu."


Lina menghela panjang. "Ya sudah, yang penting pesan bunda aluna terus jadi anak yang baik ya...jangan jahat sama orang lain. Sekarang tidur, besok bangun pagi. Mau ga bunda ajak aluna sholat subuh?"


Aluna mengangguk.


"Ya sudah besok ya bunda bangunin. Sekarang tidur...." Lina mencium kening putrinya. Tangan kanannya tak henti-hentinya mengelus rambut halus aluna. Mulutnya mulai melantunkan sholawat pelan untuk menemani tidur sang putri. Dengan segenap rasa yang ada, rindu kepada sang Baginda mulai merasuk ke dalam hati.


-Habib Umar bin Hafidz-


•••••


Paginya seorang tukang paket datang. "Pakeeet....paaakeet!!" Ujarnya dengan mengetuk pintu.


Mendengar itu membuat lina langsung membukakan pintu. Seorang pria dengan menggunakan helm dan jaket itu berdiri di hadapannya. "Mbak, ini ada paket. Untuk Mas Iqbal dan sekeluarga..." Ucapnya dengan menyodorkan benda berbentuk kotak yang di lapisi bubble wrap.


Lina langsung menerimanya. "Makasih ya mas.."


Tukang paket itu mengangguk. Tanpa basa basi dia langsung pergi begitu saja menaiki motornya.


Sedangkan lina mengamati paket itu baik baik. "Paket? Dari siapa?? Atau mas iqbal belanja online kali ya??"


Dirinya kembali menutup pintu dan berjalan ke arah kamar. Menaruh paket itu di atas meja yang biasa di gunakan iqbal untuk bekerja saat di rumah.


•••••


19.19


"Assalamualaikum." Salam iqbal dengan memasuki rumah. Matanya melihat ke sekeliling yang sepi. Dia kembali menutup pintu, lalu berjalan ke arah dapur untuk menemui lina. Benar saja, istrinya itu tengah sibuk menyiapkan makan malam di meja makan. "Assalamualaikum." Ujarnya lagi.


Kerja tangan lina terhenti. "Waalaikum salam." Jawabnya bersamaan dengan meletakkan piring yang berisi telur balado di atas meja. Dia berjalan mendekat lalu mencium punggung tangan iqbal. Sementara itu suaminya menarik kepala lina ke depan dan mencium keningnya. "Kok udah pulang mas? Tumben, nggak lembur malam ini?!"


Iqbal menggeleng. "Nggak, Alhamdulillah semua pekerjaannya udah selesai..." Jawabnya. "Udah sholat?"


"Belum."


"Ya udah ,nanti sholat bareng."


Lina mengangguk.


"Mau makan dulu, atau sholat dulu?" Iqbal terdiam mendengar pertanyaan lina. "Eem makan dulu deh, soalnya ini perut udah laper."


"Oh ya udah. Mas ganti baju dulu gih, tak tungguin di sini."


"Okee"


"Oh ya jangan lupa bawa aluna juga. Dia lagi ada di kamar."


Iqbal mengangguk. Sekali lagi dia mencium kening lina baru setelahnya berjalan ke arah kamar untuk mengganti baju.


Kurang lebih sepuluh menit dari itu. Iqbal datang dengan menggendong aluna. Dia menarik salah satu kursi yang ada di meja makan, dan mendudukkan aluna di atasnya. Sementara itu lina datang dengan membawa tiga piring putih polos. Meletakkannya di depan iqbal, aluna dan juga di atas meja depan kursi yang akan ia duduki.


"Aluna mau makan apa nak?" Tanya nya.

__ADS_1


"Ayam goleng." Jawab si gadis kecil itu.


"Siap putri..." Balas lina membuat aluna tertawa geli. Dengan cepat ia langsung mengambilkan nasi dan ayam goreng. Tidak lupa untuk menambahkan sayuran sebagai pelengkap agar lebih sehat.


"Mas, mau di ambilin juga?"


Iqbal menggeleng.


"Ga usah, ini bisa sendiri..."


"Oh ya udah kalau gitu."


"Aluna sekarang sebelum makan kita harus berdoa dulu...ayo coba aluna baca. Tangannya di angkat nak."


Aluna langsung melaksanakan instruksi dari ayahnya. "Bismillahillahmanillahim...Allahumma balik lana fima lozaqtana waqina 'adzaabannal...aamiin..."


"Amiin...Ya udah selamat makan semuanya." Ujar iqbal dengan tersenyum melihat kedua perempuan yang kini di milikinya.


الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar."


Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka."


•••••


Setelah makan malam selesai, mereka langsung melanjutkan dengan sholat isya' berjamaah. Jangan lupa juga aluna yang juga ikut serta. Ya, walaupun memang dia masih sering menolah-noleh saat sholat. Namun, memang harus di beri kewajaran karena masih kecil. Mungkin lina juga pasti akan menjelaskan tentang bagaimana adab dan sholat yang baik bagi putrinya nanti.


Setelah salam selesai, aluna langsung melepas mukenanya dan nyelonong pergi begitu saja keluar dari kamar. Sementara itu lina dan iqbal melanjutkannya dengan berdzikir, bersholawat, dan berdoa.


"Mas..." Panggil lina.


Iqbal membalikkan tubuhnya ke arah belakang. Dia mengangkat kedua alisnya, menanyakan apa?


"Tadi ada paket. Mas belanja online?"


Iqbal menggeleng.


"Nggak tuh, dari siapa emang?"


"Mana aku tahu...Itu coba di buka. Aku taruh di atas meja kerja kamu."


Iqbal mengangguk dengan berdiri. Kakinya melangkah ke arah meja dan mengambil bingkisan kotak itu. Membukanya dengan susah payah karena packing yang begitu erat dan susah di buka.


Lina hanya memantau dari atas sajadahnya. Melihat suaminya yang tengah membuka kardus cokelat. "Apa mas isinya?" Ia bertanya kepo.


"Kain."


Lina mengerutkan keningnya. "Kain?? Buat apa?" Karena rasa yang begitu penasaran membuat dirinya langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri iqbal.


"Tuh, kain kan..." Ucap iqbal menyodorkan kardusnya.


"Coba deh cek dari siapa ini..." Kata lina antusias. Dia mengambil kain yang di bungkus plastik bening. Ada dua bingkisan kain ternyata. Dalam satu bungkusan plastik itu ada dua kain, yaitu kain batik dan kain polos yang berwarna dusty pink.


Lina mengeluarkan semua isi yang ada di dalam kardus. Hingga bagian yang paling bawah, terdapat sebuah undangan. Ia langsung membukanya. Membaca secara detail. Matanya membulat sekaligus berbinar, mulutnya menganga hingga membentuk huruf O.


"MAS!!"


Iqbal yang tadinya ingin menelepon orang yang mengirimkan paket tersebut, menjadi mengurungkan niatnya. "Ada apa?"


"Lihat ini lihaat!!" Ujar lina heboh dan senang.


"Apa?" Tanya iqbal dengan raut wajah bingung. Tangannya mengambil undangan itu dari lina. Lalu membacanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Seraya menengadahkan jemari bermunajat dalam hamparan kasih Illahi yang terbentang teriring asma Allah. Maha suci Allah yang menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Menyatukan langkah mendorong putra putri kami:


...Dinda Pangestuti...


...Putri Bapak K.H mansur & Ibu H. Khadijah...


......&......


...Muhammad Ilham Maulana...


...Putra Bapak Sofyan & Ibu Siti Rukayyah...


AKAD NIKAH:


Sabtu, 3 Maret 2018, pukul 09.00-selesai


di Masjid Al Hidayah,


Jl. Jatisari, Semarang


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Seulas senyum terpancar dari wajah iqbal. Dia langsung menelepon seseorang dan meletakkan undangan itu di atas meja,,, sedangkan lina...matanya berkaca-kaca saking bahagianya. Bagaimana tidak? Dinda itu sahabatnya yang paling tua dia antara mereka berempat, sedangkan syifa, aisyah dan dirinya sudah menikah. Akhirnya, dinda pun akan segera menyusul.


"Ya Allah dinda, Masyaa Allah Tabarakallah...Aaa seneng bangeet!!" Ucap lina dengan mengambil undangan tersebut dan memeluknya. Satu lagi, kalau dia di undang pasti Syifa dan aisyah juga akan menerima undangan yang sama. Dan maka sekaligus dengan doa semoga, mereka bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama.


•••••


وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ


Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.

__ADS_1


(Q.S An-Nur : 32)


...********...


__ADS_2