Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Arti Persahabatan


__ADS_3

Lina berlari menyusuri koridor rumah sakit.


"Tapi bagaimana mungkin ga ada luka dok? Coba periksa lagi..."


Lina menahan langkahnya saat melihat kedua orang tua Iqbal yang sedang berbincang dengan seorang dokter laki laki. "Benar Bu, saya sudah chek kondisinya. Kondisi putra ibu baik baik saja, bahkan saya tidak menemukan lecet sama sekali di tubuhnya..."


Mira menggeleng pelan. "Tapi dok, darahnya saja sampai keluar banyak seperti itu..."


Dokter itu menghela berat. Ingin memberitahu yang sebenarnya, tapi....


"Saya juga tidak tahu bu,, tapi dari hasil pemeriksaan memang seperti itu. Saya permisi dulu ya pak, buk..." Ujarnya dengan berlalu pergi.


Gimana bisa ga ada yang lecet sama sekali? Batin Lina. Ia menatap tangannya yang masih merah karena darah namun sudah kering.


Lina berjalan cepat dan menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan ruang rawat iqbal. Dari balik pintu, ia melihat Iqbal yang masih menutup matanya.


Tok tok tok...


Keduanya menoleh. "Masuk Lin..." Ujar Hary.


"Iya om..." Lina berjalan memasuki ruang rawat. Ia menatap kedua orang tua Iqbal secara bergantian. "Om, tante maaf sebelumnya kalau saya kurang sopan. Tapi, boleh ga saya minta izin buat sendiri di sini sama Iqbal..."


Mereka terdiam sejenak. "Oh iya, silahkan saja lin... Ayo kita keluar" Ajak hary pada istrinya.


Tak selang lama, di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua. Lina melihat iqbal dari atas sampai bawah. Dia memang terlihat baik baik saja, bahkan terlihat segar seperti biasa. "Lin..."


Lina terhenyak. Menatap Iqbal yang juga menatapnya. "Bal,, Lo kapan sadarnya?"


"Dari awal juga gue sadar..." Jawab Iqbal dengan duduk.


"Maksutnya??"


Iqbal tersenyum. "Sesuai yang Lo bilang waktu itu, bahwa kita harus merencanakan sesuatu buat papa sama Mama gue. Ya udah ini bagian dari rencana gue"


Lina masih terdiam termangu. "Jadi gue tadi cuma pura pura kecelakaan. Cairan yang Lo kira darah, sebenarnya itu pewarna makanan warna merah. Ya,, terus gue cuma taruh pewarna makanan di baju sama kening gue, terus sama di aspal jalanan juga. Lo tahu? Gue sampai habisin tiga botol!!"


Lina melotot kesal. "Iqbal,, otak Lo pinter dikit kek. Diantara ribuan cara, kenapa harus pake cara yang kayak gini sih??!! Lo tahu ga, Lo itu udah nyusahin satu jalanan. Gara gara Lo, jalanan jadi macet!!"


Iqbal malah tertawa renyah mendengar Omelan Lina. "Bilang aja Lo khawatir sama keadaan gue, sampe nangis tadi. Iya kan?"


Lina menghembuskan nafas kasar. "Nggak lucu tau ga!!"


"Eh eh eh mau kemana?" Tanya Iqbal yang melihat Lina membalikkan badan dan hendak melangkah.


"Keluar!!" Jawabnya judes.


Lina langsung berjalan keluar untuk mencari wastafel rumah sakit. Dengan hatinya yang masih kesal ia mencuci tangannya hingga bersih. "Ih,, nyebelin banget sih singa lebay. Pantesan tadi verel santai gitu!! Dan bodohnya gue juga ikut ikutan ketipu! Dasar...."


Setelah selesai mencuci tangan Lina kembali berjalan ke tempat semula. Ingin pamit kepada kedua orang tua iqbal untuk pulang. Di depan pintu, Lina kembali memilih untuk menahan langkahnya.


"Mama berani janji?" Tanya Iqbal.


Mira menatap Iqbal. "Mama belum bisa janji bal.."


Iqbal mengeratkan gerahamnya. "Oke, kalau gitu iqbal bakalan pergi dari kalian berdua,,,, percuma kan kalau Iqbal masih ada di sini, tapi ga bisa dapat kebahagiaan."


"Bal.... dengerin mama!!"


"Ma!! Iqbal hidup itu bukan untuk lihat kalian berantem, bukan buat lihat keluarga yang hancur di depan mata. Iqbal juga berhak bahagia ma!! Lihat,, buka mata mama!! Di luar sana, udah ribuan keringat, ribuan cara pengorbanan seorang ibu membahagiakan anaknya, sedangkan mama? Apa yang mama udah berikan sama Iqbal? Pengorbanan? Kebahagian? Ga pernah kan?!!" Ujar Iqbal. "Sekarang Iqbal mau tanya sama mama? Pernah Iqbal minta sesuatu sama mama selama ini hm? Pernah Iqbal minta dibeliin mainan kayak anak anak lainnya? Pernah Iqbal minta buat di ajak ajak jalan jalan kayak anak anak lain? Ga pernah!! Karena Iqbal tau, kalaupun Iqbal minta itu dari kalian, kalian ga akan pernah bisa kasih itu semua. Karena kalian cuma mentingin diri kalian sendiri!! Sekarang Iqbal cuma minta satu,, jangan cerai!! Sesulit itu buat memenuhi permintaan? Cuma nurunin ego dikit buat anak aja ga mau??!!"


"Iqbal udah lama menantikan kasih sayang kalian?? Tapi ga pernah datang! Kenapa?? Selama ini,, mama tahu hal hal sulit apa yang Iqbal lalui? Ga tahu kan? Iqbal tanya sama mama,,, mama sayang sama Iqbal??"


"Iya..." Jawab Mira.


"Jangan bohong!! Mama sayang sama Iqbal?"


"Iya sayang..."


"Sekali lagi iqbal ulangi, mama sayang sama Iqbal?"


Air mata Mira mengalir. "Kenapa kamu tanya itu nak? Mama sayang sama kamu"


"JANGAN BOHONG!! APA BUKTINYA??"


Dengan sigap Mira memeluk Iqbal erat, membuat lelaki itu terdiam membisu. Kenapa baru sekarang ma? Kenapa baru meluk sekarang?!! Kenapa ga dari dulu? Batinnya.


"Iya bal,, maafin mama. Mama salah...." Ujarnya terisak dan melepaskan pelukannya.


Mira menatap suaminya, lalu menggandengnya. Kanan kirinya memegang tangan Iqbal, di satukannya ketiga tangan darinya, suami dan Iqbal di tengah tengah mereka. Sebagai tanda akan persatuan mereka.


19.05


"Cinta itu rumit bal, tak seindah yang kita bayangkan, tak sebahagia yang kita inginkan. Adakalanya kita harus benar benar memendam cinta itu demi sebuah hubungan." Mira menghela pelan dengan mengelus tangan Iqbal. "Sayang,, di dunia ini ga ada seorang ibu yang ga sayang sama anaknya. Apalagi kalau dia darah dagingnya. Mama sayang sama kamu, melebihi diri mama sendiri nak... Kamu tahu?! Sakit memang kalau di ragukan, apalagi kamu...."


Iqbal menatap mamanya, ia tahu betul apa maksudnya. Meragukan,, itulah yang dilakukan ayahnya kepadanya. "Papa meragukan Iqbal juga karena mama kan?" Balas Iqbal.


Mira menggeleng. "Mama menikah sama papamu itu memang tanpa cinta bal. Tapi mama tau batasan mana yang benar dan mana yang salah. Waktu itu, mama tanpa sengaja ketemu sama om Roni (Papa verel) dan waktu pulang papa nuduh mama selingkuh, padahal waktu itu mama ga ngapa ngapain. Kamu tahu nak? Mama di hadapan papa mu selalu salah semenjak mama ketemu om Roni. Hal yang bikin papa sama Mama itu jadi berantem terus."


"Asal kamu tahu, setiap pulang mama selalu datang ke kamar kamu. Tapi kamu selalu udah tidur bal,, mama cium kamu, mama peluk kamu... rasanya mama pengen menghabiskan waktu buat kamu. Tapi keadaan yang membuat mama ngelakuin itu nak...keadaan yang membuat mama terlihat seakan akan ga sayang kamu. Setiap malam mama tidur di kamar temenin kamu, tapi sebelum kamu bangun mama selalu berangkat kerja. Mama udah siapin susu dan bekal buat kamu sekolah kan? Tapi kamu ga pernah mau buat minum susu buatan mama, kamu juga ga pernah bawa bekal yang mama udah siapin!!" Jelas Mira lemas.


Iqbal terdiam. Ya karena aku udah terlanjur kecewa sama mama...

__ADS_1


"Setiap mama lihat kamu main sendirian, mama juga pengen nyamperin kamu. Pengen main bareng sama kamu, pengen bercanda bareng sama kamu. Tapi mama selalu ga punya waktu. Ada alasan lain yang harus mama perjelas, mama punya tanggung jawab besar dalam keluarga ini, punya beban yang harus mama pinggul sendiri, punya kesedihan yang mama jalani sendiri. Mama sering menghabiskan waktu sendiri buat nenangin diri mama. Karena mama ga mau, kamu lihat mama dalam keadaan sedih bal. Mama ga bisa harus di tuntut buat melakukan apa yang mama bisa, setiap hari mama harus ngurusin kakek kamu yang sakit, harus ngurusin kantor, ngurusin kamu dan ngurusin diri mama sendiri. Tugas sebagai anak, istri, ibu dan pemimpin sebuah perusahaan itu bukan hal yang mudah buat mama. Kasih sayang mama itu ga pernah luntur buat kamu nak!! Kamu baru bisa merasakan ini semua saat kamu udah dewasa, dan mengenal bagaimana dunia ini memperlakukanmu!!"


"Kalau mama emang sayang sama Iqbal, setidaknya mama ambil cuti satu hari aja ma buat main sama Iqbal. Tapi mama ga pernah ngelakuin itu"


Tok tok tok...


Mereka berdua menoleh ke arah pintu, Lina sedang berdiri dengan tersenyum di sana. Lina melangkah masuk kedalam. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab keduanya.


"Eh Lin, sini duduk" Ujar Mira dengan berdiri dari kursi dan mempersilahkan Lina.


Lina menggeleng. "Ga usah Tante..."


"Ga papa. Tante keluar dulu, kamu ngobrol berdua dulu sama Iqbal ya..." Jawabnya dengan tersenyum dan berlalu pergi.


Lina terdiam sejenak lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang. "Ngapain Lo ke sini?" Tanya Iqbal.


"Oh ini,, bawain makanan buat Lo. Dari mama." Balasnya. "Gue taruh di sini..." Lina menaruh makanan di atas meja samping ranjang.


"Gimana keadaan Lo?" Tanya Lina. "Oi ya, Lo kan gapapa ya. Kan ini semua cuma akal akalan Lo. Bal, tadi ngomongin apa sama nyokap Lo? Lo udah baikan sama Tante Mira?"


"Emmm, tadi mama cuma cerita dikit doang"


"Terus?"


"Ya terus gimana lagi. Ya udah"


"Bal, gue rasa Lo boleh kecewa. Tapi, jangan sampe bentak bentak mama Lo kayak gitu. Gimana pun Tante Mira itu tetep ibu kandung Lo bal"


"Kapan gue bentak mama?" Tanya iqbal.


"Tadi siang. Ga inget??"


"Tau ah" Balas Iqbal acuh.


Lina berdecih. "Dasar singa lebay. Pikun!!"


"Lo hobinya nguping mulu. Heran..."


"Bukan nguping, tapi ga sengaja denger" Jawab Lina.


"Alesan Lo .."


Lina terdiam dengan menghela panjang. "Emang sih, pikiran seorang ibu dan anak itu biasanya ga sepadan. Kadang anak merasa bahwa mereka ga di pedulikan, tapi beda lagi sama pikiran si ibu. Heemh,, tapi hati mereka tetap sama. Sama sama saling menyayangi,..."


Iqbal menatap Lina. Tumben sekali dia berbicara seperti itu. "Gue pulang dulu ya...."


"Nggak buru buru. Terus ngapain gue kesini, Lo juga sehat sehat aja kan?! Palingan juga bentar lagi di pulangin dari rumah sakit."


"Gue pamit dulu. Salam buat om Hary sama Tante Mira. Assalamualaikum" Ujar Lina dengan berdiri.


"Waalaikum salam" Iqbal menatap lama Lina. "Lin...."


"Hm?"


"Makasih ya..."


"Buat?"


"Semuanya. Semuanya yang udah Lo lakuin buat gue." Jawab Iqbal.


••••••


5 hari kemudian...


Setelah dua Minggu lamanya liburan akhir semester, maka semua para santri kembali ke pondok. Memulai hari hari mereka lagi dengan belajar, belajar dan belajar menuntut ilmu baik di pondok itu sendiri maupun di sekolah.


"Assalamualaikum..."


Syifa dan Dinda menoleh ke arah pintu, menatap Aisyah yang berdiri dan tersenyum kepada mereka. "Waalaikum salam" Jawab keduanya.


"Aaaaa AISYAH!!!" Pekik Syifa dengan langsung berdiri dan berlari memeluk gadis itu. Aisyah Langsung memeluk balik Syifa.


"Gue kangen tauuuu...." Syifa melepaskan pelukannya.


"Sama, aku juga kangen kok sama kamu"


"Aisyah..." Sapa Dinda lembut.


"Din..."


Mereka berpelukan sejenak, melepas rindu yang selama dua Minggu ini tertahankan. "Gimana kabarnya?" Tanya Dinda.


"Alhamdulillah baik..." Jawab Aisyah. "Syifa kapan datang?"


"Oh, jam tujuh pagi tadi"


"Lina?"


"Lina belum datang. Palingan juga nanti sore sampe di sini..." Sahut Syifa. Aisyah manggut manggut. Ia langsung berjalan dan duduk di atas kasurnya, membuka tas nya dan menata bajunya di lemari.

__ADS_1


"Aisyah Aisyah,, di sana ngapain aja? Cerita deh sama gue..." Pinta Syifa dengan duduk mepet di samping Aisyah.


"Di sana ga ngapa-ngapain. Tapi waktu itu ketemu..."


"Ketemu siapa?"


Aisyah terdiam. "Kak Fariz..."


"Hah beneran? Sama dong. Tapi gue ketemu kak reyhan. Kok bisa saling ketemu gitu ya Syah?"


Aisyah menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dirinya pun tidak tahu akan hal itu.


18.57


Tepat setelah iqamah selesai, para santri merapatkan barisan untuk melaksanakan sholat isya. Dengan begitu khusyu' mereka melaksanakan setiap gerakan dalam sholat. Setelah dilakukannya salam kedua, maka dzikir terucapkan pada setiap insan. Beberapa menit, semua menengadahkan tangan dengan doa yang di pimpin Abah di sertai kata 'Aamiin' yang terucap oleh para santri.


Dengan berbondong-bondong mereka keluar Mushola, tak terkecuali dengan Dinda, Syifa dan Aisyah. Mereka bertiga berjalan ke arah kamar dan membuka pintu.


"Lina?" Syifa terdiam. "LINA IIHHH!!" Ia berlari menghambur memeluk Lina yang terlihat duduk letih di atas kasur.


"Lepas!! Lepas ih fa..." Pinta Lina dengan melepas paksa pelukan Syifa.


"Kenapa sih?"


"Kalau mau meluk ya silahkan. Tapi jangan buat gue kayak orang kecekik!!"


"Kangen tau..."


"Kapan datang Lin?" Tanya Aisyah.


"Gak lama tadi Syah"


"Kok gue ga lihat?" Tanya Syifa.


"Iyalah ga lihat. Orang Lo sholat"


"Udah makan Lin?" Tanya Dinda.


"Udah tadi di jalan"


"Naik bus ke sininya?" Sahut Syifa.


"Di anter papa" Balas Lina. "Oi ya, gue punya sesuatu buat kalian"


Lina membuka tas nya, mengeluarkan 4 baju gamis yang masih di bungkus plastik. "Sebelum gue ke sini, gue sempet di ajak papa buat belanja. Nah sekalian deh gue beliin kalian ini... Terserah kalian mau pilih warna apa." Jelas Lina.


Syifa langsung mengambil gamis yang berwarna pink dan membukanya. "Ini sama kerudungnya juga?"


"Iya. Itu satu set sama kerudung"


Syifa kembali mengambil yang warna tosca, lalu menyodorkan pada Dinda. "Din, cocok buat lo ini kayaknya..."


Aisyah mengambil gamis biru muda.


"Jangan Syah!!" Sergah Syifa yang merenggut kembali gamis di tangan Aisyah. "Lo cocoknya pake yang ungu nih. Biar hampir samaan ungu sama pink. Nanti biar Dinda hampir sama kayak Lina tosca sama biru muda. Yang warna biru inj buat Lo aja ya Lin..." Lina mengangguk.


"Eh Lin..."


"Hm?"


"Kok ga sekalian sih beli yang warnanya sama?" Tanya Syifa.


"Maunya sih gitu. Tapi ga ada yang warna yang sama. Jadi gue beli yang modelnya sama"


Syifa manggut-manggut. "Oi ya, gue juga beli gelang buat kalian. Couple an..." Ujar Syifa semangat dengan mengambil tas nya. Mengeluarkan dua bungkus gelang warna pink dan hitam.


Syifa menyodorkan gelang berwarna hitam pada Lina. "Itu buat Lo sama Dinda. Yang ini buat gue sama Aisyah."


Lina mengamati detail gelang itu dengan baik. Ada tambahan pelangi yang dibawahnya ada tulisan friends sedangkan gelang satunya lagi terdapat tulisan best. Lina memberikan gelang dengan tulisan best itu pada Dinda.


"Lin, tadi kan Lo baru datang. Berarti handphone nya masih di Lo kan?" Tanya Syifa.


"Iya. Emang kenapa?"


"Poto yuk, sebelum ponselnya di kumpulin"


Lina mengangguk.


Ia merogoh saku rok nya dan memberikan ponselnya kepada Syifa. Syifa meraih tangan Lina, meletakkan sejajar dengan tangannya kirinya. Tangan kanannya mulai terangkat, menjepret kedua tangan mereka.



Persahabatan adalah bagai air yang menyejukkan. Ia selalu kau cari saat rasa haus melandamu, ia selalu kau cari sebagai pelepas dahagamu, ia selalu kau cari sebagai pelepas lelahmu dan ia selalu kau cari sebagai penyejukmu. Sama seperti sahabat. Ia selalu kau cara saat rasa putus asa melandamu, ia selalu kau cari sebagai pelepas segala masalahmu, ia selalu kau cari sebagai pelepas lelahmu, dan ia selalu kau cari sebagai penyejuk hatimu.


- Syifa A -


•••••


اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ


Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2