
"Assalamualaikum Ayah! Bunda!"
"Waalaikum salam, sayang!!"
Aluna langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kok baru pulang?" Tanya Iqbal.
"Ketiduran di mushola rumah sakit yah, hehe..."
"Weee pulang juga kak!" Sahut seseorang dari arah belakang membuat Aluna menoleh.
Di lihatnya seorang laki laki membawa sepiring nasi goreng dan ikut duduk di sofa.
Kenalin, namanya Raka. Adik Aluna. Laki laki yang anti dengan namanya game, dan lebih menyukai hobinya yaitu memasak. Jujur, Aluna juga kadang merasa beruntung. Karena hampir setiap hari, ada saja makanan yang di buat sang adik sebagai cemilan.
Ia berjalan mendekat dan mengambil alih sendok yang ada di tangan Raka. Memakan sesuap nasi goreng yang di buat adiknya. Hmm,, bahkan masakannya pun kalah dengan masakan Raka.
"Masih ada ga?"
"Masih ada tuh di dapur kalau mau makan."
Aluna mengangguk.
Dia langsung berjalan menuju dapur. Mengambil nasi goreng yang masih ada di wajan, dan meletakkannya di piring. Jangan lupa untuk menambahkan timun juga irisan kol sebagai pelengkap. Setelah selesai, Aluna kembali melangkah.
"Bunda, Ayah...ke kamar dulu ya."
Pamitnya yang hanya mendapat anggukan. Kakinya terayun menaiki tangga satu persatu, setelah itu ia membuka pintu dan masuk ke kamar. Meletakkan nasi goreng di atas meja belajar sekaligus meja kerjanya.
Gadis itu melangkah ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. Setelah selesai, ia kembali duduk dan menyantap nasi goreng buatan Raka.
Matanya tiba tiba teralihkan oleh sebuah kertas yang bergambar bangunan puskesmas. Kedua bibirnya tersungging membentuk senyuman, tangannya meraih kertas tersebut.
Tok tok tok!
Aluna menoleh.
Tak lama seorang laki laki paruh baya masuk dengan senyum manisnya. Iqbal berjalan mendekat. "Kok belum tidur?"
"Iya yah, bentar lagi. Ini mau habisin nasi gorengnya dulu."
Iqbal manggut-manggut. Matanya juga teralihkan oleh kertas di tangan sang putri.
"Itu, kamu pengen bangun puskesmas?"
"Iya yah, menurut ayah gimana?"
"Ya, bagus. Memangnya kamu punya uang berapa?"
"Di ATM sekitar hampir empat puluh delapan juta yah. Masih kurang banyak, tapi doain aja ya yah semoga cepet cepet terkumpul."
Iqbal mengelus puncak kepala putrinya. "Kenapa kamu pengen bangun puskesmas? Padahal rumah sakit sekarang kan banyak."
"Bukannya ayah dulu pernah bilang, kalau bunda pengen Aluna jadi orang yang bisa berguna dan bermanfaat bagi banyak orang. Dan sekarang, Aluna pengen bangun puskesmas ini, gratis untuk semua orang." Kalimatnya terjeda sesaat. "Memang benar, sekarang udah banyak rumah sakit yang berdiri. Tapi sayangnya, banyak juga dari mereka yang kesulitan dalam mencari biaya pengobatan. Jadi meskipun puskesmasnya ya...kecil, tapi seenggaknya itu bisa bantu mereka yang membutuhkan."
Senyum Iqbal semakin mengembang bangga. "Kenapa ga di segerakan aja? Lebih cepat lebih baik."
"Biayanya masih kurang banyak yah..."
"Ga perlu mikirin biaya sayang, berapapun kekurangan biayanya kamu bilang sama ayah. Ayah bakal bantu." Balas Iqbal.
"Ayah ga keberatan?"
"Untuk kebaikan, ga akan pernah keberatan. Niat kamu itu membantu, jadi kenapa ayah harus keberatan?"
Aluna tersenyum dengan menatap wajah Iqbal. "Ayah baik! Baaiiik banget!!"
Tak lama, tubuh mungil itu menghambur ke dalam pelukan sang ayah.
Iqbal mengelus lembut punggung Aluna. "Udah ya, itu nasi gorengnya di habisin." Pelukan mereka terurai. "Terus tidur, besok harus kerja lagi. Harus semangat!"
"Iya. Besok kan ayah juga harus kerja di kantor! Jadi juga harus semangat!!"
Keduanya terkekeh.
"Ayah ke kamar ya..."
__ADS_1
Setelah mendapat anggukan, Iqbal kembali berjalan keluar. Meninggalkan Aluna yang kini perasaannya bahagia bukan main.
"Ya Allah, mudahkan dan lancarkan lah niat baik ini." Gumamnya dengan menatap langit langit kamar.
•••••
Paginya gadis yang sudah lengkap dengan kemeja cream dengan rok dan hijab senada berjalan cepat menuruni anak tangga.
"Selamat pagi ayah bunda!" Sapanya yang langsung mengambil satu lembar roti dan memakannya.
Raka berdecak. Kebiasaan memang kakaknya, menyapa ayah bunda tapi tidak pernah menyapa dirinya. Karena memang sudah mengetahui kebiasaan putrinya, akhirnya perempuan empat puluh lima tahun itu selalu menyiapkan bekal. "Ini di bawa bekalnya."
Aluna hanya mengangguk dengan menerima dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah satu lembar roti habis di makan, ia meminum seteguk air. Lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya. "Pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, hati hati." Balas Iqbal yang di lanjut menyeruput kopi hangat.
"Semoga hari ini pasiennya membludak ya kak! Biar kerepotan dan kecapean!" Timpal Raka berteriak menggema seisi rumah.
"Kok gitu doanya?" Tanya Bunda.
"Biarin bun, kak Aluna emang kebiasaan apa apa aku ga di anggap."
Mendengar penuturan itu membuat tangan Iqbal langsung terangkat mengusap puncak kepala sang putra.
"Bener doa kamu, kalau lebih banyak pasien yang di tangani sama kakak kamu, pahala kakak kamu juga makin banyak. Dan lelahnya jadi Lillah karena bantu orang. Hm?" Ujar Iqbal.
"Ya udah Lin, Raka...Ayah pergi dulu mau ke kantor." Iqbal berdiri dan memakai jas yang ia sampirkan di bahu kursi.
•••••
Siang, setelah jadwal memeriksa pasien selesai. Aluna bergegas menuju mushola untuk sholat dzuhur.
15 menit dari itu, ia kembali keluar setelah selesai melaksanakan kewajibannya. Tanpa sadar, ternyata sedari tadi ada seorang laki laki yang menunggunya di luar. "Tunggu." Langkah gadis itu terhenti. Kepalanya mendongak melihat siapa yang ada di hadapannya. Tak lama seulum senyum terpatri di wajahnya.
"Eh masnya yang semalam kan? Gimana keadaannya?"
"Baik, kemarin lo yang ngobatin gue?"
Aluna mengangguk sebagai jawaban.
"Iya saya sendiri. Ada apa? Apa ada keluhan?"
Laki laki itu terdiam. Aluna yang risih di tatap lekat seperti itu, langsung tertunduk. Namun lelaki itu malah semakin memperdalam penglihatannya, melihat setiap inci wajah Aluna.
"Ehm ehm...kenapa natap saya kayak gitu?" Kini Aluna memalingkan wajah ke arah lain.
Tak ada tanggapan, laki laki itu berjalan sedikit, tangannya siap terangkat. Rindunya seperti sudah tak tertahan, namun sebelum pelukan itu jatuh kepada Aluna, netranya lebih dulu melihat mukena yang masih di pegang perempuan di hadapannya. Mengingat lagi ibadah sholat yang baru saja ia lihat, seperti ada yang nyelekit di hatinya. Dia tahu betul, di dalam agama yang
di anut Aluna, tidak di perbolehkan menyentuh lawan jenis kecuali yang mahram dan sudah halal.
"Lo ga kenal sama gue?" Akhirnya hanya pertanyaan itu yang dapat ia lontarkan.
"Tidak! Maaf, saya pergi dulu."
Aluna melirik lelaki itu yang terkekeh kecil. "Bener bener ya lo lun, sama sahabat sendiri ga inget. Sahabat macam apa lo?"
Kepala Aluna kembali terangkat. "Emang kita pernah sahabatan?"
"Terus sahabat lo yang dari kecil selalu sama lo, selalu jagain dan main sama lo siapa?"
"Banyak. Tapi kalau laki laki, ya cuma Kevin. Setelahnya ga ada laki laki yang deket sama saya."
"Nah itu inget!!"
Aluna kembali terdiam, mencerna kata per-kata dari seorang laki laki yang hampir tak di kenalnya. Sekilas, mata gadis itu menangkap wajah tegas lelaki di hadapannya.
"Wah, kamu Kevin?"
"Hm..."
Bola mata Aluna membola. "Kevin! Apa kabar? Ya Allah..pantes mukanya emang mirip Kevin. Tapi bisa bisanya aku ga kenal."
Laki laki itu hanya tersenyum. Meski tangan dan hatinya sudah ingin sekali merengkuh dan mendekap Aluna.
"Oh iya, kita ngobrol dulu." Aluna menatap jam tangannya. "Masih ada waktu sepuluh menit sebelum aku sibuk lagi, yuk ke kantin."
Keduanya berjalan, Aluna sedikit menjaga jarak. Bukan apa, takut kalau timbul dugaan yang tidak-tidak tentang mereka. Di kantin rupanya masih ramai, banyak para suster dan perawat masih menikmati jam siang kali ini.
__ADS_1
"Jadi,,, gimana keadaan kamu sekarang? Lukanya gimana?"
Sudut bibir kiri Kevin tertarik. "Tadi masih sakit, waktu ketemu lo udah ilang sakitnya."
"Panggil aku-kamu aja ya, lebih enak di dengar."
"Hm..." Gumamnya yang di lanjut dengan berkata. "Kamu pindah rumah? Aku cari ke alamat lama, ga ada."
"Iya, udah lama. Sekitar empat tahun."
"Oh, pantes. Btw, selamat Luun!! Udah jadi dokter aja nih temen gue." Ujar Kevin yang turut bangga membuat Aluna terkekeh.
"Kamu kok di Surabaya? Kuliah? Kerja...atau,,"
"Bukan, Gue...maksutnya aku di Surabaya ya cuma demi penuhin janji buat ketemu sama kamu. Udah lima hari di sini, baru ketemu sekarang. Emang pindah kemana sih?!"
"Nanti aku kasih tahu alamatnya, biar kamu juga bisa main ke sana."
"Ehm,,, dokter Aluna. Boleh minta nomor teleponnya?"
"Ya Allah vin, panggil aja Aluna ih! Ga usah pake dokter."
"Lhah kan emang kenyataan, dokter Aluna.."
Aluna mendesis dengan bibir sedikit maju, namun tak ada dua detik dia tersenyum lebar. Tangannya terulur mengeluarkan memajukan ponsel. "Nih nomornya..."
Cepat cepat cowok itu mengambil dan menyimpan nomor yang sudah di berikan.
"Ngomong ngomong, itu kenapa kamu bisa luka gitu vin?"
"Oh, jatuh malem itu. Karena ga fokus ke jalanan, ya...gini deh." Jawabnya dengan mengedikkan bahu.
"Sekarang masih kuliah atau udah kerja?"
"Gue..."
"Permisi."
Perhatian keduanya teralihkan. Seorang suster memberikan senyum kepada keduanya.
"Maaf dok, mengingatkan ada jadwal memeriksa pasien jam ini."
Refleks Aluna melihat kembali jam tangannya. "Oh iya, Vin maaf ya tapi kayaknya aku harus pergi. Ga papa kan?"
Kevin mengangguk tenang. "Iya, semangat kerjanya dokter Aluna."
"Sama sama atas semangatnya bapak Kevin."
Kevin mendesis. "Gue belum tua."
"Ya udah ya udah, pergi dulu ya... Assalamualaikum."
Mendengar salam yang di ucapkan, laki laki itu terdiam lama hingga Aluna sudah berjalan menjauh. Mulutnya seakan kelu saat ingin menjawab salamnya.
•••••
"Jadi bagaimana dok? Putri saya bisa pulang kapan?"
"Alhamdulillah kondisinya jauh lebih baik saat ini, dan nanti sore bisa langsung pulang." Jawab Aluna yang mengundang senyuman lega dari si ibu dan pasien.
"Mohon ibu lebih perhatikan makanan dan minuman yang di konsumsi putrinya bu, untuk saat ini jangan dulu di izinkan untuk makan dan minum kemasan. Apalagi seperti marimas, dan minuman botolan yang dijual. Pasalnya, jika kondisi diabetes di sepelekan dan di biarkan maka besar resiko terjadi komplikasi penyakit seperti gagal ginjal, gangguan saraf, TBC dan penyakit lainnya. Jadi mohon mulai sekarang, untuk lebih memperhatikan kesehatan ya?"
Ibu itu mengangguk patuh.
"Ya sudah saya izin pamit dulu." Setelah mengucapkan itu, Aluna dan suster tadi kembali keluar ruangan. Mereka melangkah untuk memeriksa pasien selanjutnya.
Sampai di mana mereka melewati lorong ruang operasi, di sana banyak orang yang berkerumun. Kedua wanita itu menghentikan langkahnya. "Ada apa ya?" Gumam Aluna.
...🌹🌹🌹...
*بسم الله الرحمن الرحيم*
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكْ
“Maha Suci Engkau Ya Allah & segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat pada-Mu.”
...******...
__ADS_1