Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Sebuah Ikatan


__ADS_3

"Ngapain sih han, ngobrak ngabrik meja kayak gitu. Lagi cari apa?" Tanya iqbal namun reyhan terus menggeledah kolong mejanya. Mengeluarkan cokelat, bunga dan surat tak penting lainnya yang sudah mengantri banyak di mejanya.


Reyhan menghembuskan nafas kasar. Kenapa ga ada brownis dari syifa. Apa dia emang Bener Bener marah sama gue? Batinnya.


"Heh, ditanyain diem aja. sariawan lo" Lanjut iqbal.


"Cari brownis dari syifa kali" Timpal fariz. Tepat.


Iqbal menurunkan bibirnya dengan sedikit memonyongkannya. "Halah, syifa kalau kasih brownis aja ga lo makan, Terus kenapa cari cari. Lagian ya, hari ini syifa ga bakalan kasih apa apa ke lo" Ketus Iqbal.


"Hey" Sapa gilang yang baru saja datang dengan merangkul pundak Iqbal. "Lagi ngomongin apa?"


"Kepoan amat lo jadi orang" Ujar Iqbal. "Tumben sendirian, ojit mana?"


"Biasalah, ngurusin ayamnya dulu" Gilang menatap reyhan. "Eh han, itu si syifa gue deketin boleh ya. Kan lo ga suka sama dia"


"Eee enggak enggak. Ga redo gue" Ujar Iqbal nyolot.


"Gue ngomong ke reyhan bukan ke lo paiman..."


"Nama bagus bagus gini di ganti paiman" Gumam Iqbal.


"Gimana han. Kalau lo ga mau sama syifa, buat gue aja" Kata Gilang.


Reyhan menatap tajam Gilang. "Terserah lo" Ketusnya lalu beranjak pergi.


"Hmm kebisaan kalau di ajak ngobrol langsung pergi. Gue heran, syifa kenapa betah ya sama laki modelan beginian" Gumam Iqbal.


Reyhan terus berjalan menyusuri lorong. "Reyhan" Panggil naira.


Reyhan menghentikan langkahnya. Terlihat gadis dengan rambut lurus sepunggung tersebut tengah tersenyum padanya. "Hai" Sapanya.


"Hai, ada apa?" Tanya reyhan dengan wajah datarnya.


"Ini gue bawain roti isi special buat lo." Katanya dengan menyodorkan kotak bekal.


"Thanks"


"Sama sama"


"Oh ya han, istirahat nanti sama gue ya"


Reyhan terdiam sejenak. "Gue ga bisa"


"Kenapa?"


"Ada urusan penting. Kapan kapan aja ya" Jawab reyhan.


•••••


"Fa,,, istirahat yuk" Ajak Aisyah.


Syifa menggeleng.


"Kenapa?"


"Gue lagi pengen sendirian Syah"


Aisyah terdiam dengan menatap sahabatnya. "Ya udah, aku istirahat dulu ya kalau gitu"


"Iya"


"Kamu ga titip makan atau minum?"


Syifa kembali menggeleng.


"Ya udah kalau gitu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Syifa.


Aisyah berdiri lalu berjalan keluar kelas. "Aisyah"


"Astaghfirullah" Aisyah langsung menoleh ke samping dengan rasa terkejutnya. "Kakak ngapain di sini?" Tanya Aisyah.


"Syifa nya ada?" Tanya Reyhan.


"Ada. Itu lagi ada di dalam"


"Gue mau ngomong sama dia"


"Iya kak. Masuk aja, aku mau istirahat dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.


Tanpa basa basi Reyhan langsung memasuki kelas, lalu duduk di depan Syifa. Gadis itu belum menyadari akan kehadirannya, karena wajahnya ia benamkan di atas meja. "Syifa..." Panggil Reyhan.


Syifa mengangkat wajahnya. Diam membisu menatap Reyhan. "Assalamualaikum" Ujar Reyhan.


"Waalaikum salam." Jawab Syifa. "Kenapa kakak kesini?" Tanya Syifa.


"Gue minta maaf sama Lo"


"Kesini cuma mau minta maaf?" Tanya Syifa.


"Iya"


Syifa terdiam lalu mengangguk pelan. "Iya, Syifa udah maafin kakak kok. Jadi, silahkan kakak pergi" Kata Syifa dengan nada mengusir.


Reyhan menghela pelan. "Lo masih marah sama gue?"


"Kak, aku lagi pengen sendiri"


tok tok tok


Suara dari arah pintu membuat keduanya langsung menoleh ke arah pintu. "Boleh masuk?"


Syifa tersenyum. "Masuk aja dit"


Adit langsung memasuki kelas. "Maaf ganggu ya"


"Nggak kok. Ada apa?"


"Gue mau ngajakin Lo makan di kantin sama gue. Mau kan?" Tanya Adit.


Syifa terdiam sejenak, lalu melirik ke arah Reyhan. "Iya"


"Kak, aku ke kantin dulu ya"


Reyhan terdiam dengan menatap keduanya. Entahlah, rasa tidak suka melihat keduanya mulai menelusup dalam diri Reyhan. "Hm" Jawab singkat Reyhan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.


Syifa langsung berdiri, lalu berjalan keluar kelas. "Tadi ngobrol apa sama dia" Tanya Adit.


"Bukan apa apa"


Lihat deh, kemarin Reyhan yang digoda. Eh, sekarang udah ada cowok lain aja.


Iya, genit banget tu orang.


Cewek murahan!!


Syifa yang mendengarnya hanya berusaha untuk tidak memasukkan kata kata mereka dalam hatinya. "Wah wah fa,,, udah punya laki lain aja Lo" Ujar Rara lantang yang datang dari arah samping bersama Carin.


Adit dan Syifa menghentikan langkahnya. "Namanya juga genit. Ga cukup cowok satu doang yang digodain" Timpal Carin.


"Kalian itu apa apaan sih" Ujar Syifa.


"Lo itu yang apa apaan. Lo ga inget kata kata kak Reyhan, kalau Lo itu cewek murahan!" Tegas Rara. "Cantik sih cantik tapi ga gini juga kali"


"Heh fa, hari ini yang Lo godain si Adit. Besok besok siapa lagi? Kak Fariz? Kak Iqbal? Berapa cowok lagi yang mau Lo goda? ha?" Timpal Carin.


"Ih,, kalian bener bener ya" Adit menahan Syifa yang sudah ingin seperti menerkam musuh di hadapannya.


"Carin Rara!! Kalian mendingan pergi dari sini!" Usir Adit.


"Wih,, udah dibelain aja kayak gini. Mantep banget pelet Lo fa..." Kata Rara pedas.


"Rara!!" Syifa mengepalkan tangannya erat erat. "Rara Carin, Lo berdua pergi atau gue yang harus pake cara kasar buat kalian bisa pergi dari sini!" Bentak Adit.


"Oke kita pergi. Selamat menikmati waktu sama cewek murahan ini. Oke? Bye.." Ujar Rara lalu pergi dengan di ikuti Carin.


"Lo ga papa kan?" Tanya Adit.


"Gue mau balik aja dit" Gumam Syifa.


"Ga jadi ke kantin?"


Syifa menggeleng.


"Lo ga usah khawatir, kalau ada apa apa nanti gue bakal belain Lo" Ucap Adit.


"Nggak, gue balik ke kelas aja dit"

__ADS_1


"Tapi..."


"Gue ga mau orang orang berpikiran yang negatif sama gue"


"Fa, gue bakal..."


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Adit. Syifa melangkah lemah menuju kelasnya, hal yang membuat Adit langsung tidak tega pada Syifa. Adit langsung berjalan cepat untuk mencari seseorang.


"Bang!!" Panggilnya lalu berlari ke arah Reyhan.


Reyhan terdiam dengan menatap Adit. "Lo,,, ada apa?" Tanya Reyhan.


"Bang, gue cuma mau bilang. Kalau lo emang ga suka sama Syifa, jangan pernah jelek jelekin dia apalagi di depan orang orang. Lo tahu, gara gara omongan Lo kemarin ke Syifa, orang orang pada berpikir negatif sama dia. Dan Lo pasti tau, itu semua akan memberikan dampak buruk sama Syifa" Ujar Adit. "Gue paling ga suka ya bang, kalau lihat cowok itu nyakitin cewek. Kalau Lo ga suka sama Syifa, bilang baik baik. Ga harus bentak bentak kayak kemarin"


•••••


"Ngapain Lo disini!" Ujar Ghea marah dengan menarik paksa lengan Aisyah. "Berdiri Lo!"


"Aduh,, aduh mbak" Ringis Aisyah.


"Gue kan udah bilang jauhin Fariz!"


"Ghea Lo apa apaan sih!" Bentak Fariz.


"Lo yang apa apaan Riz. Udah berapa kali sih gue bilang, jauhin Aisyah. Gue gak suka Lo Deket Deket sama dia"


"Dan gue udah bilang ke Lo. Lo itu ga punya hak buat ngatur hidup gue" Fariz melangkah ke arah Ghea. "Lepasin tangannya,," Ujar Fariz dengan berusaha melepaskan cengkraman Ghea.


"Lo mendingan pergi Syah" Perintah Fariz.


Aisyah mengangguk.


"Assalamualaikum" Ujar Aisyah.


"Waalaikum salam" Jawab Fariz.


Aisyah langsung berlari menuju kelasnya. "Riz, Lo kenapa sih belain Aisyah terus. Aisyah, Aisyah, Aisyah yang selalu dipikiran Lo." Ujar Ghea. "Lo itu mikirin perasaan gue ga sih"


"Kalau mau ngomong, ditaman belakang aja. Di sini banyak yang lihat" Kata Fariz baik baik, lalu segera meninggalkan kantin dengan di susul Ghea yang berjalan di belakangnya.


"Ghea, gue tadi yang minta Aisyah makan sama gue. Jadi kalau marah, sama gue jangan sama Aisyah"


"Ya ya ya,, Dimata Lo Aisyah itu ga pernah salah, dia selalu Lo belain. Lo yang minta makan bareng kan sama aisyah? Bahkan Lo,, ga pernah minta gue buat makan sama Lo atau sekedar minta nemenin aja ga pernah"


"Riz,, Lo udah janji kan sama bokap Lo sendiri. Lo bakal jagain gue, ngelindungin gue di sini. Mastiin gue ga papa. Masih inget kan sama janji Lo?"


"Iya gue inget, gue udah penuhin kan janji gue? Nyatanya sampe sekarang Lo baik baik aja. Iya kan?"


"Gue gak baik baik aja, dengan Lo bersikap kayak gini terus Lo sama aja bikin gue sakit hati"


"Ya terus mau Lo apa Ghea?"


"Jauhin Aisyah. Cukup itu mau gue"


"Gue ga bisa. Udah berapa kali gue bilang, gue ga bisa"


"Gue bisa jadi Aisyah"


Fariz tersenyum miring. "Lo itu Ghea. Dan Ghea akan selamanya menjadi ghea. Sikap, penampilan, bahkan wajah sekalipun Lo ubah persis kayak Aisyah Lo ga akan pernah bisa jadi Aisyah" Jawab Fariz.


"Gue emang ga bisa seratus persen jadi dia. Tapi gue bakal berusaha. Oke, Aisyah kan cewek yang Lo suka. Aisyah kan, cewek kriteria Lo. Gue bakal berusaha buat jadi dia. Demi Lo"


Fariz menggeleng kan kepalanya. "Ga ya,, sekeras apapun Lo berusaha, Lo ga akan pernah bisa lakuin itu"


"Dari pada Lo sibuk untuk meminta di cintai, lebih baik sibuk memperbaiki dari hingga pantas di miliki. Assalamualaikum" Ujar Fariz lalu pergi begitu saja.


"Fariz,, Fariz mau kemana?" Teriak Ghea "Fariz gue belum selesai ngomong!!"


•••••


Reyhan menatap layar ponselnya. Pagi pagi begini, biasanya gadis itu sudah mengiriminya banyak pesan. Dan mengomel ngomel tidak jelas agar Reyhan membalas pesannya. Namun saat ini, tidak ada pesan itu lagi. Tidak ada yang menanyai nya hal hal yang tidak penting seperti itu lagi. Ah, entah kenapa justru Reyhan malah merindukannya.


"Ini nih, yang gue ga demen. Orang udah dibaikin, disayangin, diperhatiin, tapi masih aja ga di peduliin. Ini nih..." Gumam Iqbal dengan geleng geleng kepala.


Alunan musik khas dari ponsel Fariz menandakan bahwa ada seseorang yang menelponnya.


"Assalamualaikum, Halo pa" Ujar Fariz.


"Waalaikum salam. Riz, papa mau tanya, kamu apain Ghea" Suara berat dari seberang sana terdengar jelas di telinga Fariz.


"Fariz ga ngapa ngapain Ghea. Emang kenapa?"


Fariz menghembuskan nafas kasar. Apa apaan sih Ghea. Pake ngadu nangis ke mama lagi. Batinnya.


"Riz, kamu kan udah janji ke papa buat jagain Ghea. Pokoknya papa ga mau denger Ghea nangis lagi kayak gitu karena ulah kamu. Inget, keluarga Ghea itu udah baik sama kita. Jadi kita juga harus baik sama mereka, termasuk sama Ghea. Jaga dia baik baik, jangan sampe dia nangis. Apapun alasannya papa ga mau tahu. Papa sama Mama, itu sudah menganggap Ghea sebagai putri kami sendiri"


"Iya iya pa,,, iya..."


"Ya sudah, pokoknya apapun yang Ghea mau kamu turutin. Papa sibuk, nanti di sambung lagi. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Fariz membanting ponselnya di kasur begitu saja. "Siapa? Kok habis Nerima telpon wajah Lo kesel gitu" Ujar Iqbal.


"Papa. Maksut Ghea apa coba ngomong yang nggak nggak sama mama gue" Kata Fariz kesal.


"Halah, cewek gituan masih Lo urusin. Tendang aja" Ucap Iqbal ngawur.


Sedangkan Reyhan tidak peduli dengan permasalahan mereka. Dengan ragu Reyhan mulai mengetikkan jari jarinya di layar ponselnya. Lalu ia memencet tombol kirim. "Han, Lo udah minta maaf sama Syifa?" Tanya Ilham.


"Hm"


"Udah dimaafin?"


"Udah"


"Ya udah bagus kalau gitu. Gue keluar dulu ya, tadi Abah manggil gue"


"Disuruh ngapain?" Tanya Fariz.


"Ga tau. Duluan ya, Assalamualaikum" Ujar Ilham.


"Waalaikum salam" Jawab ketiganya.


Reyhan menghembuskan nafas kasar. Apa yang saat ini terjadi pada dirinya. Bukankah seharusnya saat ini ia harus senang karena tidak ada pengganggu? Lalu kenapa malah yang dirasakannya berbanding terbalik dengan semua itu. Haaahh,, kalau gadis tersebut ada selalu saja mengganggunya, namun giliran menjauh justru malah membuat Reyhan menjadi gelisah.


"Muka kusut amaat!!" Ujar Lina.


Syifa yang mendengarnya hanya memonyongkan bibirnya ke depan. "Nih ya dari pada Lo bete kayak gitu, mendingan hafalin ini ni. Kita kan lagi dihukum" Lanjut Lina lagi.


"Itu bisa nanti Lin..." Syifa memainkan ponsel di tangannya. "Syifa..." Panggil Dinda.


"Kenapa kamu?" Tanya Dinda.


Syifa menggeleng.


"Nggak kenapa Napa" Jawabnya.


"Kecewa?" Tanya Dinda. Syifa terdiam tak lama mengangguk kecil. "Kenapa kecewa? Karena kita itu berharap kepada yang sering mengecewakan" Lanjut Dinda.


Syifa mengerutkan keningnya. "Maksutnya?"


Dinda tersenyum menatap Syifa. "Menaruh harapan pada manusia adalah seni paling sederhana dalam menderita" Jawab Dinda. "Coba kita berharapnya sama Allah, pasti Allah ga bakal ngecewain kita"


"Assalamualaikum" Ucap Aisyah dengan memasuki kamar.


"Waalaikum salam" Jawab ketiganya.


"Din, Guz Fahmi mau pulang ya. Soalnya di luar rame benget" Kata Aisyah.


"Oi ya Astaghfirullah, iya hari ini Guz Fahmi mau pulang. Temen temen aku ke rumah Abah dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Dinda langsung bergegas keluar kamar dan berlari menuju rumah Abah. "Udah selesai jemur bajunya Syah?" Tanya Lina.


"Udah, habis ini mau langsung mandi"


Drrt drtt drrt


Syifa membuka layar ponselnya. Sebuah pesan masuk.


Kak Reyhan: Masih marah?"


Mulut Syifa terbuka setengah, tak percaya bahwa yang mengiriminya pesan adalah Reyhan. Ya karena selama ini sudah banyak pesan yang Syifa kirimkan, namun Reyhan sama sekali tidak membalasnya. Hanya dibaca, dan Syifa pun tak tahu pesannya memang benar benar dibaca atau hanya di lihat lalu di biarkan begitu saja.


"Lina Lina Lina.... Aisyah...lihat deh ini, Kak Reyhan ngirimin gue pesan..." Kata Syifa heboh sendiri dengan rasa senangnya.


Lina mengerutkan keningnya. Baru saja satu detik lalu gadis itu masih murung, sekarang sudah tersenyum bahagia hanya karena sebuah pesan. "Udah ga sedih lagi?" Tanya Lina.


Mendengar pertanyaan sahabatnya secara perlahan senyuman Syifa pun pudar, kata kata Reyhan kembali terlintas dalam pikirannya.


"Lin..." Panggil Syifa pelan.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Menurut Lo, gue harus gimana?"


"Ya udah, jauhin aja kak Reyhan"


"Ga semudah itu" Kata Syifa.


"Coba aja dulu. Lagian Lo itu percuma deketin kak Reyhan. Kak Reyhan ga bakalan suka sama Lo. Jelas jelas kemarin kak Reyhan bilang kalau Lo itu bukan tipe cewek dia" Jawab Lina.


"Terus,,, apa gue harus nyerah?" Tanya Syifa lagi.


"Ya nyerah aja. Nih ya kalau namanya cinta itu ga bisa di paksa. Kayak Aisyah, Aisyah ga ngapa ngapain aja kak Fariz suka"


"Loh kok jadi bawa bawa aku?" Ujar Aisyah sedikit tak terima.


"Udahlah Syah, santai aja"


"Jadi, mulai sekarang kalau Lo disapa, ditanya, diajak ngobrol sama kak reyhan jangan pernah mau. Sok cuek aja. Dulu kan Lo yang di cuekin kak Reyhan, sekarang balas dendam. Lo yang cuekin kak Reyhan" Jelas Lina pasti.


Syifa terdiam. "Gitu ya Lin"


"Iya"


"Nanti kalau kak Reyhannya Bodo amat sama gue gimana?"


"Ya itu sih DL"


"DL?" Tanya Syifa.


"Derita Lo..." Ujar Lina tanpa dosa.


•••••


"Dinda,, kamu tolong bantuin ustadzah untuk nyusun buku ya" Perintah Abah.


"Iya bi, sekarang ustadzah ada dimana?"


"Ada di ruangan dekat ruang ustadz/ustadzah"


"Ya udah bi kalau gitu Dinda langsung kesana ya"


"Iya"


"Assalamualaikum" Ujar Dinda dengan menyalami tangan Abah kyai yang tak lain adalah ayahnya.


"Waalaikum salam" Jawab Abah.


Dengan segera Dinda langsung keluar rumah dan menuju ruangan tersebut. "Assalamualaikum ustadzah"


"Waalaikum salam Dinda. Ada apa?" Tanya ustadzah Rina.


"Tadi di suruh Abi buat bantuin ustadzah di sini"


"Oh ya ya. Kamu bisa bantuin ustadzah buat ngangkat kardus?"


"Iya bisa ustadzah. Dimana kardusnya?"


"Di depan itu ada mobil, tadi ustadzah udah ngangkat beberapa kardusnya. Tinggal satu disana, kamu angkat ya. Ustadzah beres beres di sini."


"Iya ustadzah"


"Tapi, kardusnya agak berat" Ujar ustadzah.


"Iya ga papa. Kalau gitu Dinda langsung aja ke depan ya"


Ustadzah Rina mengangguk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Dinda langsung bergegas menuju depan, mendekati sebuah mobil putih yang terparkir di sana. Dinda mengarahkan pandangan nya ke arah bawah, terdapat kardus sekitar satu meter dari mobil. "Mungkin ini ya kardusnya" Gumam Dinda.


Tanpa pikir panjang Dinda langsung mengangkat kardus tersebut. "Berat banget ya..." Gumamnya dengan menahan beban di tangannya.


Dinda langsung melangkah pelan, baru beberapa langkah tapi kardus yang ada di tangannya hampir terjatuh. Namun segera di tahan oleh Ilham yang kebetulan lewat. "Biar gue aja yang bawa" Ujar Ilham.


Dinda menggeleng "Nggak kak, Dinda aja yang bawa"


"Kardus ini itu berat"


Dinda terdiam, nampak menimang nimang tawaran Ilham. "Ya udah kalau gitu"


Ilham segera mengambil kardus tersebut dari tangan Dinda yang sepertinya memang keberatan untuk mengangkatnya. "Taruh dimana?"


"Ikut aja kak"


Ilham mengangguk.


Ia langsung mengikuti kemana Dinda pergi. "Taruh di sini aja kak. Makasih ya"


"Iya." Ilham mengedarkan pandangannya keruangan yang kosong tersebut. Hanya saja ada rak buku besar di dalamnya. "Ini ruangan apa?" Tanya Ilham.


Dinda menggeleng. "Dinda juga ga tau"


"Dinda,, cepet banget kamu ngangkatnya" Ujar ustadzah yang tiba tiba datang.


"Iya ustadzah, soalnya dibantuin sama kak Ilham"


Ustadzah Rina mengangguk. "Iya, makasih ya ham"


"Iya ustadzah"


Ustadzah Rina langsung berjongkok lalu membuka kardus tersebut yang ternyata berisi buku buku. "Nah, ruangan ini mau dijadikan perpustakaan. Biar santri di sini, juga bisa membaca buku waktu ada di pesantren" Jelas ustadzah.


"Dinda, bantuin ustadzah ya buat nyusun bukunya di rak"


"Iya ustadzah"


"Ee kamu ilham, kalau mau bantuin juga ga papa. Nanti ustadz rizwan bakalan datang kesini"


"Baik ustadzah" Jawab Ilham.


Mereka bertiga langsung menyusun buku di rak yang sudah di sediakan. Tanpa ada pembicaraan di antara mereka. Dinda berjinjit untuk menyusun buku di rak atas.


"Gak sampe?" Tanya Ilham.


Dinda yang mulanya mendongakkan kepalanya ke atas, menjadi menoleh. Dinda menggeleng.


"Sini, biar gue yang taruh bukunya di atas"


"Iya kak" Jawab Dinda yang langsung memberikan bukunya pada Ilham. "Ini yang dikardus, biar gue yang nyusun" Ujar Ilham.


Tak lama dari itu ustadz rizwan datang dengan membawakan beberapa gorengan dan air mineral. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ujarnya dengan memasuki perpustakaan pesantren tersebut.


"Waalaikum salam" Jawab semuanya yang ada di dalam.


"Eh, ada Ilham sama Dinda"


"Assalamualaikum ustadz" Kata Ilham dengan menyalami lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya itu.


"Waalaikum salam. Eh ini, kebetulan ustadz bawakan gorengan sama minum." Katanya dengan mengeluarkan beberapa botol air minum dari plastik hitam yang dibawanya.


Ilham melihat Dinda sekilas yang nampak masih sibuk menyusun buku buku tersebut. Ia lalu mengambil sebotol air dan berjalan menghampiri Dinda. "Ini,, minum dulu" Ujarnya dengan menyodorkan airnya.


Dinda menghentikan aktivitasnya. "Makasih ya kak" Ujarnya.


Ilham mengangguk.


"Kalau capek istirahat dulu"


Dinda mengangguk.


"Gue mau balik ke kamar. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Dinda.


Ilham langsung berjalan ke arah ustadz rizwan. "Ustadz, saya mau balik ke kamar dulu. Ada hal yang perlu saya kerjakan"


"Oh iya, silahkan"


"Maaf ya, saya tidak bisa membantu sampai selesai"


"Oh ga papa, nanti biar ustadz aja yang nerusin ini. Makasih ya udah dibantuin" Jawab ustadz rizwan dengan menepuk pelan bahu Ilham. Ilham mengangguk.


"Ustadzah saya pulang dulu ya"


"Oh iya ham, terima kasih sudah dibantuin" Ujar ustadzah Rina.


"Iya sama sama. Assalamualaikum" Ilham menyalami tangan ustadz rizwan, menangkupkan tangan pada ustadzah Rina. Lalu menatap sekilas Dinda. Setelah itu pergi keluar perpustakaan pesantren.


"Waalaikum salam" Jawab ustadz dan ustadzah.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2