
Ghea berjalan menuju kantin. Niatnya sih pengen beli minum, namun saat melihat Fariz yang terduduk sendirian. Dia tersenyum, lalu berjalan duduk di depan lelaki itu. "Hai Riz" Sapanya. Entah kenapa rasa emosinya mendadak hilang.
Fariz melihat Ghea. "Salam dulu"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Fariz lalu kembali terdiam. Saat ini, dirinya sedang malas saja mengangkat bicara.
"Riz, Lo kenapa? Lagi mikir apa?" Tanya Ghea.
Fariz menghela panjang. "Gue kayaknya emang harus cari tahu siapa orang sebenarnya yang menculik kaila"
"Hah? Buat apa Lo kayak gitu?!"
"Buat apa? Ya buat cari kebenaran lah"
"Lo belum yakin kalau Aisyah yang ngelakuin itu? Belum cukup bukti dan pengakuan orang suruhan itu?" Tanya Ghea. "Riz, seberapa lama pun Lo ga bakalan ketemu siapa pelaku sebenarnya. Ya karena emang Lo udah tahu. Aisyah itu, dia cuma pura pura. Lo jangan mudah kemakan sama omongannya dia. Jangan terkecoh sama kepolosan sama kelembutan Aisyah"
"Aisyah itu sampai kapan pun ga bakalan ngaku. Dia bakalan terus meyakinkan Lo dengan semua kebaikan palsunya. Dia itu sok lemah lembut"
"HEH!!"
Keduanya menoleh ke arah Iqbal yang baru saja datang. "Lo kalau ngomong hati hati ya. Riz, keputusan Lo itu udah bener. Lo emang harus selidiki ini dari awal!!" Ujar Iqbal.
"Nggak Riz. Itu semua percuma, hasilnya bakalan tetap sama kok. Aisyah yang ngelakuin itu" Sahut Ghea.
"Jangan dengerin omongannya Ghea. Pokoknya iya. Lo harus selidikin itu"
"Percuma Riz. Mendingan ga usah"
"Iya!!" Ucap Iqbal.
"Nggak!!"
"Iya. Pokoknya iya"
"Nggak. Dengerin gue Riz."
"Lo diem Ghea. Pokoknya iya Riz"
"Nggak. Lo jangan dengerin temen Lo ini. Pikirannya udah di racunin sama Aisyah. Makannya dia belain terus cewek itu"
"Eh diem ya Lo!!"
"Lo yang diem. Pokoknya ga usah!"
"Iya!"
"Nggak!!"
BRAAAK!!
Fariz menatap tajam mereka. "Gue yang punya masalah kenapa Lo berdua sih yang ribut??" Tanya Fariz kesal lalu beranjak pergi.
"Tuh kan, gara gara Lo sih bal Fariz jadi pergi"
"Gue?? Lo kali. Heh denger ya Ghea, awas aja kalau sampai Lo pelakunya. Gue pastiin Lo ga baik baik aja. Assalamualaikum" Ujar Iqbal menatap tak suka Ghea lalu berjalan pergi.
Ghea mengepalkan tangannya. "AAHH,, Kenapa pada nuduh gue sih sekarang??"
"Ini ga bisa di biarin." Dirinya terdiam berpikir. Mengingat akan sesuatu yang masih dirinya simpan saat ini. "Oh,, iya gue tahu. Gue tahu caranya."
Ghea tersenyum. "Terserah Fariz mau selidiki ini semua, tapi gue yang bakal buat Aisyah menjauh dari Fariz."
•••••
Keesokan harinya...
Ghea kembali menemui Fariz. Dia memang sengaja tadi untuk menyuruh Fariz istirahat dengannya. Dengan alasan ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Jadi ada apa?" Tanya Fariz.
"Riz, tadi malam mama Lo telepon gue katanya kaila lagi sakit"
"Sakit? Sakit apa?"
"Demam kayaknya. Makannya gue nyuruh Lo datang ke sini, soalnya mama Lo minta biar bisa menghubungi Lo lewat telepon gue. Karena kan mama Lo tahu, Lo pegang hape cuma waktu hari Minggu aja" Ujar Ghea dengan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi kontak mama Fariz.
"Ini..." Ghea menyodorkan ponsel miliknya.
Fariz mengangguk.
Dia mengambilnya lalu menunggu teleponnya terangkat.
"Halo"
Suara dari balik telepon mulai terdengar.
"Halo Assalamualaikum. Ma, ini Fariz"
"Iya, Waalaikum salam. Gimana kabarmu Riz?"
"Alhamdulillah di sini baik ma. Ma, kaila dimana? Katanya dia lagi sakit?"
"Iya, ini dia lagi tidur. Tadi malam itu lho nangis terus, mama sampe kewalahan tenangin kaila. Demamnya tadi malam itu tinggi, tapi Alhamdulillah ini udah turun habis minum obat"
"Kok kaila bisa sakit lagi ma?"
Terdengar suara balik telepon itu sedang menghela panjang.
"Jadi gini Lho ceritanya, kemarin waktu kaila pulang sekolah dia nungguin mama buat di jemput. Pas waktu mama Dateng, dia kok kelihatan takut sambil lihatin depan. Lihatin tiga orang yang pakaian nya kayak preman gitu lho Riz. Tapi emang orang itu biasa ada di jalan sana, tapi mereka orang baik baik. Cuma penampilannya aja yang sangar" Jelasnya. "Nah karena itu kaila jadi keinget kejadian waktu di rumah nenekmu itu. Mungkin penculiknya pakaiannya juga kayak gitu. Pas di lihatnya preman itu malah makin Deket, kaila malah nangis ketakutan. Malemnya demam. Tidurnya juga ga nyenyak. Kayaknya dia masih trauma. Kasihan lho Riz"
Fariz terdiam. "Riz, ini kasian lho adikmu. Kecil kecil udah ngalamin kejadian kayak gitu. Mama takut kalau traumanya dia berkelanjutan, dia bakal jadi bocah pendiem. Susah bergaul sama orang baru, jadi orang yang penakut. Terus gimana to Riz?"
Beberapa detik hening.
"Halo Riz, ini papa"
"Pa. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Ada yang mau papa omongin sama kamu"
"Apa pa?"
"Bilang sama papa, kenapa kamu ga penjarain pelakunya Riz??" Tanya papa Fariz dengan nada sedikit marah dan kecewa.
"Pa,, Fariz..." Fariz meneguk ludahnya.
"Kenapa? Fariz, kenapa bisa kamu biarin orang itu bebas ha? Dia bisa aja cari korban lain. Apa kamu ga pernah mikir itu. Kamu yang waktu itu mengatasi para penculiknya, dan kamu pasti tahu siapa pelakunya. Sekarang bilang ke papa siapa dia? Biar papa yang jeblosin mereka ke penjara"
"Pa, Fariz ga bisa jeblosin pelakunya ke penjara" Ujar Fariz dengan berat hati.
"FARIZ!! Papa ga pernah ya ngajarin kamu buat menyembunyikan sebuah kesalahan dan melindungi sebuah kejahatan. Keadilan harus tetap di tegakkan, siapa pelakunya itu harus di hukum."
Semuanya menjadi terdiam. Tidak ada yang membuka suara antara Fariz dan papanya.
"Riz, kamu masih ada di sana??" Tanya papanya.
"Iya pa"
"Kalau kamu ga bisa kasih tahu papa, papa sendiri yang bakal cari tahu. Papa kecewa sama kamu, ga ada alasan buat ga menegakkan keadilan. Kalau kamu melindungi kejahatan, kamu juga sama jahatnya sama mereka. Dan papa mama ga pernah ngajarin kamu buat melakukan hal itu. Lihat adik kamu!! Dia yang jadi korbannya. Harusnya kamu bisa mikir Riz!!"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Sambungan terputus.
Fariz menghela berat. "Riz, kenapa?" Tanya Ghea.
Fariz menggeleng. "Ga papa"
"Riz, Lo udah denger kan tadi. Papa Lo sampe kecewa sama Lo." Ujar Ghea. "Haduh Riz, bisa bisanya Lo masih suka sama orang yang udah sakitin adik Lo cuma demi uang. Cewe matre kayak Aisyah, masih ya Lo baikin. Bener kata papa Lo, kalau gitu caranya lo sama aja menyembunyikan kejahatan"
"Riz, kenapa diem aja? Lo harusnya jadi laki laki bisa tegas. Yang salah, harus Lo hukum. Kasus kriminal kayak gitu, ga bisa Lo anggap sepele cuma gara gara Lo cinta sama pelakunya. Bodoh Lo Riz. Katanya sayang sama keluarga. Mana? Mana buktinya? Adik Lo aja jadi korban, Lo ga bisa berbuat adil" Lanjut Ghea tegas.
"Buang semua rasa suka Lo Riz, kasih keadilan buat adik Lo! Lo ga mau kan adik Lo jadi pendiam, penakut karena trauma. Aisyah itu ga pantas buat Lo! Sama sekali ga pantas. Lihat dia sekarang keenakan di bela semua orang, sedangkan Lo? Ada temen Lo yang saat ini belain Lo? Semua berpihak sama Aisyah. Aisyah itu udah ngeracunin pikiran mereka. Buat mereka berpihak sama dia, dan anggap Lo yang salah."
Fariz mengepalkan kedua tangannya.
"Aisyah itu dia munafik! Dia cuma pura pura baik, pura pura lembut. Kata katanya memang selalu meyakinkan, tatapannya emang bisa di percaya. Tapi bukti yang ada itu ga bisa merubah semuanya Riz. Lo harus kasih keadilan buat adik Lo! Apa Lo mau kaila berpikir bahwa kakaknya ga sayang sama dia. Aisyah itu ga bisa di percaya. Bahkan Lo pernah lihat sendiri kan dia jalan sama cowok lain. Jauh dari sikap dia di hadapan semuanya. Riz, Lo itu,,,"
"UDAH CUKUP GHEA!" Gertak Fariz. "Lo jangan ngomong lagi. Diem!" Fariz berdiri lalu berjalan cepat. Entah kenapa omongan Ghea barusan, membuat emosinya menyala.
Ghea terdiam menatap Fariz yang berjalan pergi. Suara notifikasi bahwa sebuah pesan baru masuk itu terdengar. Ghea membuka lalu membacanya.
Ghea, om udah anggap kamu sebagai anak sendiri. Jadi tolong kasih tahu om, siapa pelakunya. Kalau bisa sekalian sama fotonya, biar om bisa proses lebih lanjut.
Pesan itu di kirim oleh papa Fariz. "Emm,,, kasih tahu ga ya enaknya??" Tanya Ghea pada dirinya sendiri.
•••••
Fariz berjalan cepat dan tak sengaja melihat Aisyah yang bersama Devan. Mereka berdua tengah bersenda gurau. Dirinya semakin tidak mood dengan hal ini. Bisa bisanya dia masih sibuk tertawa lepas seperti itu, bahkan tanpa ada beban rasa bersalah di wajahnya.
__ADS_1
Pandangan mereka bertemu. Seketika Aisyah langsung menghentikan tawanya, senyumannya perlahan pudar dari wajahnya. Perubahan mimik wajah pada gadis di hadapannya itu membuat Devan juga menoleh ke arah Fariz.
Fariz membuang muka, lalu berjalan pergi tanpa mempedulikan mereka. "Kak, Aisyah pergi dulu. Tadi mau kasih makanan ke kak Fariz, tapi malah kelantur ngobrol sama kakak" Ujar aisyah.
"Lo masih kasih makanan ke Fariz?"
"Iya"
"Bahkan di saat perut Lo lagi sakit?!"
Aisyah terdiam. "Kak, Aisyah pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab devan.
Aisyah langsung berlari menyusul Fariz. Sedang Fariz, kakinya terus melangkah ke arah Taman belakang. Padahal tadinya ia ingin masuk ke kelas. Tapi pikiran dan hatinya yang membuatnya ingin ke sana. Sampai di taman belakang Fariz langsung berhenti dan menghadap ke sebuah pohon besar yang tumbuh di sana. Ukiran huruf F dan A itu masih terlihat nyata di matanya. Ya, dulu dia yang membuat ini semua bersama gadis itu.
Fariz langsung mengambil batu yang ada di sana. Dengan emosinya dia langsung mencoret coret ukiran itu hingga tak terbentuk. Melampiaskan semua amarahnya di sana. Setelah di rasanya cukup, dia membuang kasar batu tersebut. Lalu membalikkan badan. Sedikit terkejut karena ada Aisyah di belakangnya. Gadis itu menatap pohon besar itu.
"LO??!!"
Aisyah langsung beralih menatap Fariz. "Kak, kakak kenapa?" Tanya Aisyah, namun yang di dapatkan nya hanyalah tatapan tak mengenakkan dari Fariz. "Em, lupain aja. Ini, tadi Aisyah mau kasih ini. Tapi lupa..." Fariz menatap sebungkus nasi seperti biasanya yang di berikan Aisyah kepadanya.
Papa kecewa sama kamu Riz,,
Lo harusnya jadi laki laki yang tegas Riz.
Buang semua rasa suka Lo Riz! Kasih keadilan buat adik Lo,
Cepat kasih tau papa siapa pelakunya!!
Kasus kriminal kayak gitu, ga bisa Lo anggap sepele cuma gara gara Lo cinta sama pelakunya. Bodoh Lo Riz
Sepertinya kaila masih trauma Riz. Mama takut kalau dia tumbuh jadi gadis yang pendiem, penakut, ga mau bergaul sama orang baru.
Aisyah itu munafik!! Dia cuma pura pura baik sama Lo
Papa mama ga pernah ngajarin kamu buat menyembunyikan kejahatan
Lo mau kalau kaila punya pikiran bahwa kakaknya ga sayang sama dia?
Keadilan harus tetap di tegakkan, siapapun pelakunya harus di hukum.
Lihat dia sekarang keenakan di bela semua orang, sedangkan Lo? Ada temen Lo yang saat ini belain Lo?
Semua kata kata yang dia terima kembali terulang di pikirannya, di tambah lagi dengan kejadian waktu itu yang masih terekam jelas di ingatannya. Fariz mengepalkan tangannya.
"Kak..." Panggil Aisyah. "Kakak ga Ken..."
Fariz mengambil makanan yang di sodorkan Aisyah lalu membuangnya ke tanah. Tentu saja membuat gadis itu terkejut bukan main. "Kak... kenapa di buang makanannya?" Tanya Aisyah.
"GUE GA BUTUH MAKANAN LO!!" Bentak Fariz. "Udah berapa kali gue bilang, makanan Lo ga bisa menebus kesalahan yang udah Lo lakuin ke keluarga terutama adik gue ngerti!!"
"KALAUPUN BUKAN LO PELAKUNYA, UDAH GUE JEBLOSIN LO KE PENJARA SYAH! DARI DULU..."
"Kak ai..."
"Hentikan ya sandiwara Lo!! Jangan sok baik di hadapan gue? Sekarang Lo bilang, gue salah apa sama Lo! Kenapa Lo hancurin kepercayaan gue! Gue selalu percaya sama Lo, gue selalu belain Lo waktu Lo di hina, gue selalu bantuin Lo! Tapi Lo?? Bener bener ga tau balas Budi!"
Mata Aisyah langsung memerah. "Kak, Aisyah ga pernah ngelakuin itu. Kakak udah pernah bilang sama Aisyah, kalau kakak akan selalu percaya sama Aisyah. Terus kenapa untuk kali ini ga bisa?"
"Karena Lo ga punya bukti!! Apa Lo bisa buktiin kalau Lo ga bersalah? Nggak kan. Karena Lo emang pelakunya" Balas Fariz dengan nada tinggi. "BODOH GUE SYAH! BODOH KARENA UDAH PERCAYA SAMA LO. BODOH KARENA UDAH KETIPU SAMA WAJAH POLOS LO. BODOH KARENA LULUH ATAS KEBAIKAN LO!"
"Lo dimana mana selalu tersenyum, selalu ketawa. Ketawa seolah olah Lo ga pernah menanggung beban apapun atas apa yang udah Lo lakuin. Sedangkan di sana masih ada anak kecil yang karena Lo dia jadi korban!"
"Lo minta tebusan uang lima Ratus juta kan? Kalau niat awal Lo Deket sama gue cuma gara gara uang, itu bilang!! Biar gue juga bisa tahu siapa jati Lo sebenarnya. Bukan munafik kayak gini!"
"Terus sekarang mau kakak apa?" Kini Aisyah yang buka suara.
"Jangan ngeracunin pikiran temen gue untuk selalu berpihak dan belain Lo!" Ujar Fariz dengan penuh penekanan. "GUE BENCI SAMA LO!" Lanjutnya lalu berjalan pergi begitu saja.
Tetesan air mata yang sudah Aisyah tahan pun langsung mengalir saat Fariz sudah pergi. Sampai kapan ia harus dalam keadaan seperti ini? Aisyah menghapus air matanya, lalu melihat ke arah makanan yang kini tergeletak di atas tanah.
•••••
"FARIZ!!" Panggil Devan.
Fariz menghentikan langkahnya.
Bugh...
Satu pukulan melayang di wajahnya. "Berani ya Lo bentak cewek!" Ujar Devan tak terima.
"Lo ga usah ikut campur urusan gue"
"Kalau Lo berurusan sama Aisyah, Lo juga berurusan sama gue!"
Devan kembali memukul wajah Fariz. "Jaga omongan Lo!"
"Gue ngomong sesuai fakta yang ada!"
"Fakta apa? Apa yang Lo tuduhin sama Aisyah itu ga bener" Elak Devan.
"Belain aja terus cewek itu? Kenapa? Lo suka sama dia?"
"IYA! Gue suka sama Aisyah!" Jawab Devan langsung. "Gue bakal jauhin Aisyah dari Lo, cewek sebaik Aisyah ga pantes mencintai cowok modelan kayak Lo!"
BUGH....
Kini Fariz yang memukul Devan.
•••••
Aisyah yang masih berdiri memaku itu langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara perkelahian. Dia langsung berlari, mendapati Devan dan Fariz yang sedang melayangkan pukulan satu sama lain.
"Ya Allah kak, berhenti..." Ucapnya refleks dengan berusaha memisahkan. Tak lama dari itu, Syifa juga datang. Entah kenapa gadis itu juga bisa ada di sana.
"Eh Kak berhenti!! Dosa tau. Mukanya pada bonyok semua nanti..." Ujar Syifa membantu Aisyah melerai keduanya. "Ya Allah, Kayak ayam jago lagi berantem. Ga ada habisnya...Berhenti dong kak..."
"Kak kak,,, jangan berantem"
Bugh...
Tepat setelah Aisyah mengucapkan itu, mereka langsung berhenti. Karena pukulan yang akan di layangkan Fariz, malah mengenai kening Aisyah. Syifa langsung menganga terkejut dan menghampiri Aisyah yang meringis kesakitan.
"Aisyah,,, Lo ga papa?" Tanya nya. Syifa menatap mereka berdua. "UDAH SYIFA BILANGIN JANGAN BERANTEM!! PUAS KALIAN KALAU GINI CERITANYA? KALAU KALIAN BERANTEM, SEKALIAN DI LAPANGAN BIAR DI LIHATIN SEMUANYA. UDAH SEKARANG SEMUANYA PERGI!!" Bentak Syifa. Kali ini dirinya benar benar marah.
Fariz menatap Devan lalu berjalan pergi. Sedangkan Devan melihat khawatir ke arah Aisyah. "Syah Lo ga papa?" Tanya nya dengan mendekat.
"UDAH KAKAK JUGA PERGI!" Usir Syifa.
Devan menghela berat lalu beranjak pergi.
"Syah, lo ga papa?" Tanya Syifa memastikan.
"Assalamualaikum"
Mereka berdua menoleh. Dinda dan Lina datang. "Waalaikum salam"
"Lhoh Aisyah kenapa?" Tanya Dinda.
"Kena pukul sama kak Fariz tadi" Jawab Syifa.
"Hah? Kena pukul. Kak Fariz mukul Aisyah?" Tanya Lina kaget.
"Kak Fariz ga sengaja. Tadi itu karena kak Devan sama kak Fariz berantem, kan malah Aisyah yang kena pukul" Jelas Syifa.
"Oh ya udah, duduk dulu Syah..." Ujar Dinda.
Aisyah mengangguk, dengan di bantu Syifa Aisyah duduk di kursi taman. "Eemm itu perlu di obatin ga lukanya?" Tanya Dinda.
Aisyah menggeleng. "Ga usah Din"
"Kok ga usah. Ya harus dong. Jangan sepelein luka kayak gini" Sahut Syifa.
"Ya udah, kalau gitu aku ambilin dulu kotak obatnya di UKS" Ujar Dinda.
"Iya iya, cepet Din" Sahut Syifa.
Lina menatap Aisyah yang memegang keningnya dengan sedikit kesakitan. Perhatiannya teralihkan oleh sebungkus nasi yang terbuang di atas tanah. Lina berjalan lalu mengambilnya. Dia melihat baik baik makanan tersebut, lalu beralih melihat Aisyah.
"Syah, ini punya siapa? Kok bisa jatuh?" Tanya Lina.
"Itu punya aku Lin"
"Terus kok bisa jatuh?"
"Tadi mau aku kasih ke kak Fariz, tapi kak Fariz ga mau dan marah. Jadi makanannya di..." Aisyah terdiam.
"Di apa?" Tanya Lina lagi.
Aisyah menggeleng.
"Nggak, ga papa Lin. Sini makanannya..."
__ADS_1
Lina terdiam lama. Setelah paham melalui apa yang di katakan Aisyah, ia langsung berjalan pergi.
"Lin..." Panggil syifa. "Lina mau kemana ya Syah?"
"Ga tau fa"
"Mata lo kenapa? Kok merah"
Aisyah memegang matanya. "Oh, kelilipan"
"Lo kalau di tanya jawabannya selalu sama. Kelilipan" Ujar syifa. "Apa Lo emang bener bener ada masalah ya sama kak Fariz? Tadi kok gue lihat kak Fariz ga peduli sama Lo, padahal Lo udah di pukul. Ya walaupun ga sengaja, tapi kan tetep harus minta maaf" Lanjutnya.
•••••
"Riz, muka Lo kenapa?" Tanya Iqbal. "Wah habis berantem ya? Sama siapa woy??"
Fariz memilih untuk diam. Mengatur nafasnya dan emosinya agar segera meredam. "KAK FARIZ!!"
Lina datang menghampiri Fariz. "Kakak bener bener ya. Aisyah udah rela relain ga jajan, ga makan bahkan sampai mag tapi kakak ga pernah menghargai perjuangannya dia. Aisyah itu cuma pengen hubungan kakak sama dia membaik, ga ada permusuhan ga ada kebencian. Tapi malah apa? Kakak ngebuang makanannya aisyah!" Ujar Lina yang terlanjur kesal.
"Lin, Lo apa apaan sih. Datang datang langsung marah" Sahut Iqbal.
"Biar! Emang kenapa? Gue ga kayak gini, kalau emang semuanya baik baik aja. Gue tahu bal gimana rasanya perjuangan tapi ga pernah di hargai. Aisyah selama ini udah sabar ya menghadapi sikap kakak yang terus nuduh dia" Ujar Lina. "Gue pasti hormati kok orang yang lebih tua dari gue. Tapi kalau udah kelewatan, apalagi ada sangkut pautnya sama Aisyah, Dinda, atau Syifa gue ga bakal segan segan ngelakuin apa yang gue mau. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
•••••
Mulai istirahat kedua, tiba tiba saja awan mendung datang. Udara juga berubah menjadi dingin. Beberapa orang yang masih kelaparan memilih untuk ke kantin, ada juga yang ke mushola sekolah untuk melaksanakan sholat Dzuhur, ada juga yang memilih untuk tidur di kelas. Pasalnya, saat mendung dan hujan adalah salah satu situasi yang nyaman untuk tidur beristirahat.
Awan mendung itu tetap bertahan hingga jam pulang sekolah tiba. Tetesan air mulai turun hingga menciptakan gerimis hujan. Ke empat perempuan bersahabat itu, mereka dengan langkah cepat berjalan bersama untuk menuju pesantren sebelum hujan benar benar turun.
"Ayo cepet cepet, sebelum hujan turun" Ujar Syifa. "Tapi turun sekarang juga ga papa. Sekalian biar gue bisa hujan hujan"
"Nanti sakit lagi kita yang susah" Timpal Lina.
"Aisyah...." Suara panggilan itu membuat mereka berempat menghentikan langkahnya. Ghea dengan tersenyum lebar datang membuat Lina langsung membuang muka.
"Kalian pulang aja, ada yang harus gue bicarain sama Aisyah" Ucap Ghea.
"Nggak, kita ga bakalan pulang tanpa Aisyah" Balas Lina.
"Udah Lin, kalian pulang duluan aja ga papa" Ujar Aisyah.
"Tapi kalau dia macem macem gimana?"
"Gue ga bakalan macem macem sama Aisyah" Jawab Ghea. "Sekarang kalian pulang aja. Gue cuma pengen bicara empat mata sama dia."
"Beneran ya. Kalau nggak, nanti gue jadiin Lo pecel lele" Sahut Syifa.
"Ya udah kalau gitu. Syah, kita duluan" Ujar Dinda
"Iya. Hati hati"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Gue mau bicara sama lo, tapi bukan di sini. Kita cari tempat yang sepi" Ujar ghea.
Aisyah mengangguk. "Iya mbak" Dirinya langsung berjalan mengikuti ghea. Ia ikut berhenti saat ghea juga menghentikan langkahnya di depan salah satu kelas yang sudah kosong.
"Ada apa mbak? " Tanya aisyah.
"Gue mau tunjukin sesuatu sama lo" Jawab ghea dengan mengeluarkan ponselnya. "Dengerin ini baik baik"
Aisyah terdiam menunggu. Entah apa yang akan di tunjukkan gadis itu kepadanya. Ghea mulai menunjukkan sebuah rekaman pada aisyah.
"Fariz, gue mau tanya sama lo. Boleh?" Ghea bertanya di balik rekaman itu.
"Hm"
"Sebenarnya lo beneran suka sama aisyah atau ga sih?"
"Gue ga cinta sama aisyah"
Deg
Aisyah terdiam membisu. Suara itu, memang benar suara fariz. Entah benar atau tidak, aisyah berusaha terdiam mendengarkan hingga akhir.
"Oh nggak suka?" Tanya Ghea. "Terus lo kenapa bisa deket sama aisyah? Kenapa lo selalu baik sama dia?"
"Karena gue mau bales budi sama Aisyah." Jawab Fariz
"Bales budi? bales budi apa??"Tanya Ghea antara bingung dan penasaran. Terdengar dari perekam suara tersebut mereka saling terdiam satu sama lain.
"Riz, balas budi apa yang Lo maksut? tolong jawab, jangan diam aja!!"
"Balas budi karena Aisyah udah nyelamatin Kaila dari mobil waktu di pasar itu."
"Hah? Nyelamatin? Jadi, sebenernya Lo nggak suka sama Aisyah?"
Terdengar suara Fariz bergumam lesu.
"Dan selama ini, Lo baik sama Aisyah bukan karena Lo suka atau pun cinta, tapi karena Lo mau bales budi sama Aisyah karena dia udah nyelamatin Kaila. Gitu maksut Lo?"
"Iya"
Ghea mematikan perekam suaranya. "Masih ga percaya kalau itu Fariz sendiri yang ngomong?" Tanya Ghea. Aisyah hanya terdiam memberikan tatapan yang sulit di pahami. "Gue tunjukin videonya"
Ghea langsung menunjukkan video dimana Fariz tengah terduduk di atas sofa. Laki laki itu entah dalam keadaan sadar atau tidak. Entahlah.
Fariz apa bener Lo itu cuma mau balas Budi sama Aisyah?
Iya...
Hanya beberapa detik itu saja, namun sudah menunjukkan bukti nyata bahwa apa yang terdengar di perekam suara adalah pengakuan jujur dari Fariz.
"Syah,,, gue kan udah bilang jauhin Fariz. Jangan Deket Deket sama dia, sakit kan kalau udah tau kenyataan nya kalau Fariz itu ga suka sama Lo. Baiknya aja itu bukan dari hatinya dia, tapi cuma karena balas Budi" Ujar Ghea. "Jadi, bohong kalau Fariz bilang dia suka sama Lo"
Aisyah tercekat. "Mbak, tapi aku ga pernah nyelamatin adiknya kak Fariz"
"Pernah. Lo nya aja yang lupa" Jawab Ghea. "Coba deh Lo inget inget, Lo pernah nyelamatin anak kecil perempuan usianya sekitar empat-lima tahun dari mobil yang hampir nabrak dia. Dan itu terjadi di pasar Deket tempat tinggal Lo."
Aisyah terdiam berpikir. Di pasar? Tapi kapan?
Iya, dirinya ingat. Saat ia pulang ke rumah karena keadaan ibu nya yang membuat nya khawatir. Dan pada saat itu Aisyah sedang pergi ke pasar, setelah berbelanja tak sengaja melihat seorang gadis kecil menyeberang jalan sendirian. Maka kejadian itupun terjadi, yang membuat lututnya memar karena sempat terkena bagian dari mobil.
"Ingat kan?" Tanya Ghea.
Aisyah menunduk. Ya Allah, pantas semenjak kejadian itu kak Fariz deketin aku terus. Ternyata karena...
"Makannya, harusnya Lo sadar diri dari awal kalau Fariz itu ga mungkin suka sama cewek kayak Lo. Di luar sana itu ada yang jaaaauuuh lebih baik dari Lo. Semua omongan dan kebaikan Fariz itu cuma kebohongan. Karena dia ga bener bener tulus ngelakuin itu." Ghea tersenyum menatap Aisyah yang masih tidak percaya. "Udah ya Syah, gue juga mau pulang" Ujar Ghea lalu berjalan pergi.
Aisyah menyandarkan tubuhnya di dinding, matanya terpejam erat. Ya Allah, kebohongan apalagi ini? Batinnya bertanya pilu.
Sungguh, hari ini adalah hari yang sangat berat baginya. Bahkan,dirinya sudah mulai lelah menghadapi semua ini. Kapan semua masalah ini akan berakhir? Sampai kapan dirinya harus bertahan? Sampai kapan dirinya berusaha untuk tetap tegar? Sampai kapan dia harus memberikan senyum kepalsuan kepada orang orang.
Dengan langkah lemas Aisyah berjalan. Hujan sudah turun deras mengguyur bumi, menyapa bunga yang tengah bermekaran indah.
"Aisyah...!!"
Aisyah menoleh ke arah sumber suara. Fariz sedang berjalan semakin dekat kepadanya. "Syah, gue minta maaf. Gue ga sengaja mukul Lo" Ujarnya dengan menatap Aisyah, lalu beralih ke bekas lebam yang masih tersisa di kening gadis itu. "Udah di obatin"
"Assalamualaikum" Ujar Aisyah yang memilih untuk pergi. Tak mau berlama lama dengan Fariz. Dirinya berjalan menerobos hujan begitu saja. Menumpahkan segala air matanya di sana. Mungkin hujan, bisa menyembunyikan segala kesedihannya. Saat dirinya berjalan bersama rintikan hujan, di situlah tidak ada yang mengetahui akan air matanya.
Saat dirinya sudah berjalan jauh dari sekolah, tetesan air hujan tak lagi dirasa mengenai tubuhnya. Aisyah mendongakkan kepalanya ke atas. Sebuah payung telah melindungi tubuhnya dari guyuran hujan.
"Bawa payungnya, nanti Lo sakit" Aisyah membalikkan badan. Fariz ada di belakangnya.
"Sekarang, kakak ga perlu baik lagi sama Aisyah." Balas Aisyah lalu mundur beberapa langkah keluar dari payung hingga tubuhnya kembali basah oleh tetesan demi tetesan air.
Fariz berjalan mendekat namun Aisyah kembali berjalan mundur untuk menjauh. "LO GA USAH KERAS KEPALA! KALAU LO SAKIT, TEMEN LO YANG BAKAL KESUSAHAN!" Ujar Fariz.
"KENAPA SIH KAK? KENAPA HARUS BOHONG??" Tanya Aisyah sedikit berteriak di tengah derasnya hujan.
"BOHONG APA??"
"KALAU KAKAK EMANG MERASA HUTANG BUDI SAMA AISYAH, CUKUP BILANG TERIMA KASIH. GA USAH BERSIKAP BAIK, BERSIKAP MANIS KAYAK GITU! APALAGI BOHONG KALAU KAKAK SUKA SAMA AISYAH! GA USAH KASIH HARAPAN APA APA!!"
Fariz terdiam. "LO NGOMONG APAAN SIH? INI BUKAN WAKTU YANG TEPAT BUAT DRAMA KAYAK GITU! PAKAI PAYUNG GUE ATAU LO BAKALAN SAKIT!"
"EMANG KENAPA? KENAPA KALAU AISYAH SAKIT? HUJAN GA AKAN PERNAH BISA NYAKITIN AISYAH KAK! JUSTRU ORANG YANG TAKUT AISYAH SAKIT, ITU ORANG YANG UDAH NYAKITIN AISYAH!!" Balas aisyah lalu berjalan pergi.
"JANGAN EGOIS JADI ORANG!!"
Teriakan Fariz terdengar menusuk telinganya. Namun Aisyah memilih untuk terus berjalan. Menyisir derasnya hujan. Membiarkan air matanya hanyut bersama dengan guyuran air hujan.
Lalu, kau bicara tentang rintik hujan,
Di musim kemarau kataku,
Itu tangsiku yang di terjemahkan oleh langit,
__ADS_1
Dan tidak terbaca oleh matamu
...*******...