Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Tentang Rasa


__ADS_3

"Assalamualaikum"


"Eh, hai fa"


"Dijawab dulu dong salamnya" Kata Syifa.


"Iya, waalaikum salam. Duduk fa" Ujar Adit.


Syifa mengangguk, lalu segera duduk didepan Adit. "Udah lama nungguin"


"Lumayan"


"Maaf ya dit. Tadi gue lupa"


"Iya ga papa, Lo mau pesen apa?"


"Emm,, es teh aja deh"


"Bentar ya. Bi Yuni" kata Adit setengah berteriak, dengan mengangkat tangannya ke udara.


"Iya mau pesan apa" Kata Bu Yuni yang sudah ada disamping mereka.


"Es teh satu"


Bi Yuni mengangguk, lalu kembali ke dagangannya.


"Fa" Panggil Adit.


"Iya"


"Gue,,, gue.."


"Kenapa?" Tanya Syifa dengan menaikkan satu alisnya.


"Boleh minta nomer wa?" Tanya Adit.


Syifa mengangguk. Membuat Adit ber-yes pelan. "Nomernya berapa?"


"Emm,, 08.."


"Ini es teh nya" Ujar Bi Yuni dengan menaruh es teh di atas meja.


"Makasih ya bi" Kata Syifa dengan tersenyum.


"Iya, sama sama" Jawab Bu Yuni, lalu segera pergi.


"Fa, tadi nomornya 08 berapa?" Tanya Adit.


"08..." Syifa mengarahkan bola matanya kearah atas berusaha untuk mengingat nomor wa nya. "Haduuh,, gue lupa dit" Lanjutnya.


"Coba di inget inget" Ucap Adit.


Syifa mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. "Aduuhh,, gue beneran lupa" Katanya lagi, membuat sorot kecewa terpancar dalam wajah Adit.


Syifa menghela pelan. "Besok aja ya dit, nanti malam nomor wa nya gue hafalin dulu" Ujar Syifa sembari menyeruput es teh nya.


"Iya deh" Jawab Adit pasrah.


"Oke,, maaf ya dit"


•••••


Malam ini mereka bertiga sibuk mendengarkan Syifa yang sedang latihan untuk bercerita tentang cita citanya dengan menggunakan bahasa Inggris.


"The reason I want to be a flight attendant is because I want to get on a plane nguenguenguenge around the world" Ujar Syifa dengan semangat membuat ketiga sahabatnya menganga tidak mengerti.


"Tunggu tunggu,,, kok ada nguengueng segala" Protes Lina.


Syifa menghela pelan. "Ya iya lah nguengueng namanya juga pesawat terbang. Kalau Tuuut tuut Tuuut itu kereta api, kalau kring kring kring itu sepeda, kalau tolelot tolelot itu bis" Jelasnya.


"Bukannya telolet ya" Ucap Aisyah membenarkan.


"Sama aja lah Syah"


"Bis kok bunyinya telolet? Emang ada" Tanya Dinda.


"Ya ada lah Dinda,,," Ujar Lina. "Tapi gini ya, Lo kan kayak cerita gitu,, kalau Lo kasih bunyi nguenguengngueng itu tu kesannya kayak aneh gimana gitu lho fa" Lanjut Lina.


"Bukan aneh, tapi kreatip" Ucap Syifa.


"Tau ah, terserah Lo" Ujar Lina malas.


"Oke gue lanjut ya"


"I want to go to Jakarta, Palembang, Bali, Sulawesi, Riau, Aceh, Medan, Gorontalo, Papua, Maluku, Banjarmasin, Banten, Surabaya, Lombok, Pontianak, mainly Prom Sabang to Merauke." Lanjut Syifa.


"From fa, bukan prom" Koreksi Aisyah.


"Oi ya maap maap, maklum mulut orang Jawa" Jawab Syifa dengan tertawa kecil.


"Not only that, I also want to go abroad, there are Malaysia, Singapura, Arab, Jepang, Kazakhstan, Yaman, Europe, Mesir, China if possible to Korea. Meet the handsome Oppa Oppa"


"Penyebutan negaranya ada yang salah tu" Ucap Lina.


"Yang mana?"


"Singapura itu Singapore, Jepang itu Japan, Terus Mesir itu Egypt, masih ada beberapa yang salah fa. Coba deh koreksi lagi" Ujar Aisyah.


"Ya udah nanti gue koreksi lagi"


"Eh fa, tadi ada oppa oppa itu apa?" Tanya Lina.


"Oppa oppa Korea. Kalau bisa gue pengen terbang cuuusss ke Korea" Jawab Syifa gembira.


"Itu pun kalau Lo bisa jadi pramugari. Kalau ga?" Kata Lina.


"Ya makannya dong Lin, doain gue biar bisa jadi pramugari"


"Aamiin" Jawab Aisyah dan Dinda.


"Aamiin dong Lin, Aisyah sama Dinda aja bilang aamiin" Keluh Syifa.


"Iya, aamiin. Gue doain" Jawab Lina.


"Udahan dulu ya, capek gue" Kata Syifa. "That is all and thank you" Tambahnya lagi.


"Bagus gak?" Tanya nya lagi.


"Bagus kok" Jawab aisyah.


"Kok ga tepuk tangan" Ucap Syifa membuat mereka bertepuk tangan kecuali Lina.


"Lin,,, kok Lo ga tepuk tangan sih" Ujar Syifa. Cemberut.


"Emang harus?" Tanya Lina.


"Kan bagus"


"Bagi Aisyah bagus, bagi gue gak"


"iiihhh,,, setidaknya Lo buat gue seneng dikit kek. Gini amat jadi sahabat" Kata Syifa. "Ayo dong tepuk tangan.." Rengeknya lagi.


Dengan malas Lina bertepuk tangan pelan untuk Syifa. Membuat Syifa tersenyum gembira, dengan membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih beberapa kali dalam bahasa Inggris.


•••••


"Eh Lin, Dinda mana?" Tanya Syifa saat mereka bertemu. Hendak ke kantin bersama.


"Gak tau," Jawab Lina dengan mengedikkan bahunya. "Paling juga dikelas"


"Kok ga ke kantin" Tanya nya lagi.


"Mana gue ketehek" Jawab Lina. "Terus Aisyah mana? Ga ke kantin?" Tanya Lina.


"Gak, Aisyah lagi puasa"


"Puasa apa?"


"Puasa sunah. Senin Kamis" Jawab Syifa membuat Lina ber-oh pelan.


"Eh eh" Kata Syifa dengan beberapa kali memukul pelan lengan Lina membuat Lina menaikkan kedua alisnya. Menanyakan kenapa?


"Itu tu,,, ada kak Reyhan" Jawab Syifa dengan menunjuk lelaki yang berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.


"Terus kenapa?" Tanya Lina.


"Samperin" Jawab Syifa dengan menarik tangan Lina. Namun dengan cepat Lina menahannya.


"Kalau Lo mau nyamperin ya samperin aja, ga usah ngajak ngajak gue"


"Emang kenapa?"

__ADS_1


"Gue laper, mendingan ke kantin dari pada nyamperin kak Reyhan."


"Pliss lah Lin, temenin gue bentaaar aja. Ya,, pliiisss. Gue mohon. Gue janji bakal bentar, terus abis itu ke kantin" Bujuk syifa dengan wajah puppy eyes nya.


Lina menghela pelan. "Iya,, tapi janji bakal sebentar ya" Kata Lina dengan menunjuk Syifa.


"Iya janjii.. Ya udah yuk!" Ajak Syifa.


Mereka pun segera berjalan menghampiri Reyhan, dengan Syifa yang terus menarik tangan Lina dan mengomelinya agar berjalan lebih cepat, membuat Lina beberapa kali menghela pelan menahan kejengkelan terhadap sahabatnya yang satu ini.


"Kak reyhaann" Sapa Syifa membuat langkah Reyhan terhenti.


"Assalamualaikum" Ujar mereka berdua.


"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.


"Mau kemana kak?"


"Perpus"


"Boleh ikut?" Tanya Syifa membuat Lina melotot.


"Gimana sih, kok malah mau ikut ke perpus" Bisik Lina.


"Oh ga jadi deh kak, ga jadi ikut" Kata Syifa meralat perkataannya.


"Oh ya,,, kakak udah makan?"


"Udah" Jawab Reyhan singkat.


Syifa mengangguk. Lalu ia terdiam sejenak. "Oi ya kak, aku lupa. Aku mau tanya sama kakak boleh?"


"Hm"


"Kakak cita cita nya apa?" Tanya Syifa. Reyhan menatap datar Syifa.


"Bukan urusan Lo" Ketus Reyhan. Lalu ia segera berlalu pergi, membuat Syifa dengan cepat menghadangnya.


"Jawab dulu dong kak"


"Gue masih ada urusan yang lebih penting dari jawab pertanyaan Lo"


"Fa, udah... kak Reyhan sibuk" Bisik Lina.


"Bentar Lin" Jawabnya pelan lalu kembali menatap kak Reyhan. "Kak Reyhan plis jawab dong kak, cuma jawab doang. Kakak ga akan rugi. Aku cuma tanya, tanya kak!! Masak kalau kakak di tanya guru,, kakak juga bakal jawab. Gue masih ada urusan yang lebih penting dari jawab pertanyaan Lo" Ujar Syifa dengan suara yang berat. Menirukan suara khas dari seorang laki laki.


"Masa gitu kan gak mungkin. Kalau mama sama papa kakak tanya gitu, apa kakak juga jawabnya gitu? kan gak mungkin. Makannya jawab apa susahnya sih kak, lagi pula aku tanya soal sesuatu yang gak privasi kan? Kalau orang orang yang tanya kakak jawab, tapi kalau aku kenapa ga? Aku kan cum..."


"Bisa diem gak!!" Tegas Reyhan dengan memberikan tatapan tajamnya. Hal yang membuat Syifa malah tersenyum ditatap seperti.


Ini bocah maksa banget sih. Batin Lina dengan memijat pelipisnya.


"Minggir,, gue mau lewat!" Ketus Reyhan.


"Oh ya silahkan" Ujar Syifa lembut dengan mundur satu langkah. Namun belum lagi Reyhan maju satu langkah penuh. Syifa sudah menghentikan dengan menahan tangannya.


"Tunggu kak" Ujarnya. Lina melotot lebar, secara refleks ia memukul keras tangan Syifa.


"Aawww" Ringis Syifa. "Apa sih Lin?" Tanya syifa berkacak pinggang.


"Bukan mahram begoo" Bisik Lina penuh penekanan.


Syifa melirik tangannya yang tak sengaja memegang tangan Reyhan membuat Syifa juga melotot.


"O-ow" Ujarnya pelan. Lalu dengan cepat Syifa melepaskan tangannya, dan mengangkat kedua tangannya ke udara seperti seseorang yang menyerahkan diri pada polisi saat sudah terdesak.


"Maaf, Ga sengaja" Ujarnya dengan menatap Reyhan dan Lina secara bergantian.


Tidak mau membuang waktu, akhirnya Reyhan memutuskan untuk pergi. Lina dan Syifa menatap kepergian Reyhan.


"Malu maluin banget sih jadi orang" Ketus Lina dengan mendorong pelan bahu kiri Syifa. Membuat Syifa mengerucutkan bibirnya.


"Ayo ke kantin. Gue laper" Ujarnya lalu segera pergi.


"Linaa tungguin ngapa sih" Teriak Syifa dengan berlari menyusul Lina.


"Mbak soto ayam satu" Ucap Lina kepada mbak Windi.


"Iya, tunggu sebentar mbak" Jawab mbak Windi, lalu segera membuatkan pesanan. Lina mengedarkan pandangannya. "Mbak nanti anter ke situ ya mbak" Ujar Lina dengan menunjuk meja yang masih kosong.


Mbak Windi mengangguk. Dengan segera Lina berjalan dan duduk di meja yang masih kosong.


"ih Lin kok Lo ninggalin gue" Omel Syifa dengan menarik kursi lalu mendudukinya.


"Kenapa? Masa iya gue orang nya nyebelin" Kata Syifa.


"Banget"


"Cantik cantik gini dibilang nyebelin, ngangenin kali Lin.." Ujar Syifa membuat Lina memutar bola matanya. Malas.


"Gimana bahasa Inggris Lo? Lancar?" Tanya Lina.


"Belum Lin, nanti kalau jam ke empat sama kelima"


"Berarti habis istirahat"


"Iya"


"Lo jadi kasih nguenguengngueng ke cerita Lo"


"Iya lah biar kreatip" Jawab Syifa semangat.


"Ga tau lagi deh gue sama Lo fa" Gumamnya pelan.


"Ini sotonya" Kata Mbak Windi, menghentikan pembicaraan mereka.


"Makasih ya mbak" Ujar Lina yang hanya diberi anggukan oleh mbak Windi.


"Eh Lin, Lo gak ada niatan gitu buat traktir gue" Tanya Syifa.


"Lo kan bisa beli sendiri"


"Kali kali lah Lo yang beliin"


"Gak mau"


"Tapi.."


"Gue bilang gak mau ya gak mau Syifa ku sayang" Geram Lina. "Udah ah, jangan ngajak gue ngobrol terus. Laper gue mau makan"


Baru saja Lina ingin melahap sotonya, namun bel sekolah berdering nyaring.


Braak


Lina menggebrak meja saking kesalnya, tidak terlalu keras. Namun cukup membuat Syifa terkejut.


"Tuh kan, udah keburu masuk lagi. Gue belum makan..Ah syifaaa" Geram Lina.


"Ya udah, kalau laper ya makan aja. Ga usah pake acara ngomelin gue. Nanti malah tambah lama. Cepetan makan" Ketus Syifa.


Dengan terburu buru Lina melahap soto nya, masa Bodo dengan sotonya yang masih panas, sehingga membuat mulutnya serasa terbakar. Yang terpenting adalah perutnya terisi oleh makanan, walaupun hanya sedikit.


•••••


"Bagus Syifa, tapi kalau bisa jangan dikasih nguenguengueng ya. Biar lebih bagus" Kata pak andip. Guru bahasa Inggris.


"Eh pak, itu kreatif namanya. Kan saya pengennya tampil beda dari yang lain" Jawab Syifa.


"Iya, ya sudah silahkan kamu duduk"


"Terima kasih pak"


"Baik selanjutnya umpil" Kata pak andip, membuat umpil langsung berjalan dan berdiri di depan kelas.


"Halo halo halooo,, come back me umpiiiill" Ujarnya semangat.


"Lhah lhah, kok malah mau kayak bikin konten YouTube. Pake helo helo segala lagi" Gumam Syifa.


"Oke kali ini iam want cerita tentang my future goals"


"Tunggu tunggu kenapa dicampur sama bahasa Indonesia?" Tanya pak andip.


"Kan saya orang Indonesia pak"


"Iya tahu, tapi ini pelajaran bahasa Inggris"


"Tapi pak, kalau saya pakai bahasa Inggris terus, saya gak akan paham. Nanti malah kemana mana bahasanya. Jadi ga papa ya pak campur bahasa Indonesia. Pliss"


"Tidak bisa!!"


"Elah pak, pliss deh. Kali ini aja"

__ADS_1


Pak Andin terdiam sejenak."Ya udah, tapi nilai kamu saya kurangi"


"Sip deh pak, makasih" Ujar umpil tersenyum bahagia.


"Iam want to be a reporter? Do you know reporter?"


"Yes,, benar sekali" Ucap umpil semangat, membuat semua orang mengerutkan keningnya.


"Lhah, perasaan belum dijawab deh" Gumam Syifa.


"Reporter, its peliput emm berita. Do you know berita? News news?" Kata umpil membuat pak andip memijat pelipisnya.


"Berita atau news adalah emm, yang yusulle ada di television"


"Usually" Koreksi pak andip.


"Aaa,, yes yes yes itu yang my maksud" Ucap umpil membuat pak andip menghembuskan nafas kasar.


"Emm,, i want to be reporter, because iam want mengetahui em news news atau can ditranslate berita berita yang beredar atau viral. Supaya what? Supaya iam no ketinggalan news news. Kalau iam ketinggalan news news, iam akan goblok. Do you know goblok?" Ucapnya lagi membuat pak andip geleng geleng. Tak menyangka akan mengajar murid aneh seperti umpil. Hufft...


"Goblok its bodoh. Do you know bodoh? Emm, no tahu what what" Ujarnya. "Understand" Ucapnya setengah berteriak.


"NO" Jawab satu kelas bersamaan. Kompak.


Membuat umpil menepuk jidat keras, dengan geleng-geleng.


"Haduuh,, umpil ngomong apa sih" Ujar Syifa dengan memijat pelipisnya.


"Udah dulu yes. Sekian, thank you" Ujar umpil. Lalu ia berjalan santai menuju mejanya tanpa rasa malu.


•••••


16.48


Sore ini Aisyah memang sengaja datang kesekolahan, karena di suruh Fariz. Entahlah, untuk apa Fariz menyuruhnya untuk datang ke sekolahan. Dan bertepatan dengan itu, semua anak yang sedang ekskul pencak silat telah bubar. Mungkin sudah selesai.


Fariz berjalan pelan menuju Ghea. Yang dengan setia menunggunya sedari tadi. Bukan hari ini saja, namun setiap Fariz mengajar ekskul, Ghea selalu menunggunya.


"Hai" Sapa Ghea yang hanya dibalas seulas senyum oleh Fariz. "Ini" Tambahnya lagi dengan menyodorkan sebotol air mineral.


Fariz mengedarkan pandangan ke seluruh arah, tatapannya berhenti pada seorang gadis yang tengah berdiri, juga dengan membawa sebotol air mineral. Fariz tersenyum, lalu berjalan cepat menuju Aisyah.


"Assalamualaikum" Ujar Fariz dengan tersenyum.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.


"Kiraiin Lo ga mau datang" Kata Fariz. "Ikut gue" Lanjutnya lagi, lalu membalikkan badan dan berjalan santai dengan Aisyah yang mengekorinya dari belakang. Hingga sampailah mereka di depan Ghea.


"Syah, Lo udah bawain minuman kan buat gue?" Tanya Fariz. Aisyah mengangguk pelan.


"Mana?" Ucap Fariz membuat Aisyah menyodorkan minumannya ke fariz. Dan Fariz pun segera meneguknya hingga tersisa setengah. Ghea yang melihat itu hanya bisa menahan emosi yang menyulut dalam dirinya, dengan mengepalkan tangan erat erat dan menatap benci ke arah aisyah yang sedari tadi menundukkan kepalanya.


"Ghea, mulai sekarang kalau gue ngelatih silat, Lo ga usah nungguin gue sampai selesai dan repot repot bawain minuman apalagi makanan" Ujar Fariz membuat Ghea sedikit tak terima.


"Tapi kenapa Riz? Gue ada salah sama Lo?" Tanya Ghea.


"Nggak, selama ini Lo baik sama gue. Tapi, mulai sekarang yang akan ngelakuin hal itu, adalah Aisyah" Jawab Fariz membuat Aisyah melotot kaget. Sedangkan Ghea mengeratkan gigi gerahamnya, tak terima dengan apa yang dikatakan Fariz. Tidak, tidak ada yang boleh menggantikan posisi nya selama ini.


"Tapi Riz.."


"Ghea, gue cuma ga mau Lo kecapean. Nungguin gue sampai selesai ngajar silat itu lama"


"Tapi gue malah seneng ngelakuin ini" Jawab Ghea.


Ghea terdiam. "Oke kalau gitu, mulai sekarang gue gak bakalan nungguin Lo lagi" Ucapnya lalu tersenyum. "Gue pergi dulu ya. Bye" Katanya lagi lalu berlalu pergi.


"Kak Fariz" Panggil Aisyah.


"Iya"


"Kak Fariz kok ngomongnya gitu"


"Gitu gimana?"


"Ih kok Fariz ga peka sih orangnya. Mbak Ghea itu kecewa sama kata kata kak Fariz barusan. Kalau mbak Ghea pengennya gitu, kenapa ga kak Fariz izinin aja. Kan juga niat mbak Ghea baik" Ujar Aisyah.


"Iya gue tahu, tapi semakin Ghea kasih perhatiannya ke gue. Gue malah ngerasa semakin ga nyaman sama dia" Jawab Fariz jujur. Aisyah terdiam. Lalu Fariz membalikkan badan dan melangkah pergi.


"Kak Fariz" Panggil Aisyah sontak membuat Fariz kembali membalikkan badannya.


"Aku harus gimana?" Tanya Aisyah.


"Gimana apa nya?" Tanya fariz.


"Aku ikut kak Fariz aja"


"Gue mau ganti baju, Lo mau ikut?"


"Bukan itu maksutnya, aku ikut apa yang kakak perintah aja"


"Perintah?"


"Iya, kak Fariz kasih perintah buat aku. Biar aku pulang atau tetep disini tungguin kak Fariz"


"Lo maunya gimana?"


"Aku maunya pulang aja"


"Ya udah Lo tetep di sini. Pulang sama gue"


"Kan aku maunya pulang"


"Itu kan mau Lo, perintah gue Lo tetep di sini" Jawab Fariz.


"Oh ya satu lagi, besok Lo ke sekolah sama gue" Lanjut Fariz membuat Aisyah melotot sekaligus mengerucutkan bibirnya. Fariz tertawa kecil. Tak mau membuang waktu, Fariz pun segera pergi untuk mengganti bajunya.


•••••


Pagi ini sekolah di buat heboh akan kehadiran Fariz dan Aisyah, dimana mereka berangkat sekolah berdua. Tentu memicu rasa iri pada perempuan perempuan yang ngefans pada Fariz. Dengan santainya Fariz memasuki gerbang sekolah sembari menyisir rambutnya ke arah samping dengan jari jemarinya. Tak peduli dengan omongan juga bisikan orang orang khususnya perempuan. Beda lagi dengan Aisyah yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Mendengarnya saja sudah membuatnya enggan untuk menatap depan, Aisyah tidak pantaslah, Aisyah moduslah, Aisyah inilah, Aisyah itulah. Semuanya hanya berbicara negatif tentangnya.


"Gue anter ke kelas Lo" Ujar Fariz.


"Gak usah gak usah kak!" Jawab Aisyah.


"Kenapa?"


"Plis kak jangan" Ujar Aisyah memohon.


"Fariz!!" Panggil Ghea.


"Riz" Ghea menatap Fariz lalu menatap Aisyah.


"Kak, aku ke kelas dulu ya."


"Gue an.."


"Gak usah kak" Potong Aisyah.


Fariz menghela pelan. "Ya udah kalau gitu"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz.


"Riz" Panggil Ghea dengan memegang lembut jemari Fariz.


"Ghea mulai sekarang gue mohon sama Lo jangan pegang pegang gue" jawab Fariz dengan melepaskan tangan Ghea.


"Tapi kenapa Riz, dulu juga ga papa kok"


"Bukan mahram. Kayaknya Lo perlu belajar banyak agama" Jawab Fariz.


Ghea terdiam. Lalu tersenyum, walaupun saat ini dirinya sedang marah, namun tidak dihadapan Fariz. "Oke, gue usahain. Ya udah yuk kita ke kelas" Ujar Ghea yang diberi anggukan oleh Fariz. Mereka pun berjalan beriringan menuju kelas.


•••••


Plaak


Sebuah tamparan keras tepat mendarat di pipi kanan Aisyah, membuat gadis itu meneguk ludahnya dengan memegangi pipinya yang terasa sakit. Saat ini mereka berada di toilet. Hanya mereka berdua.


"DASAR LO CEWEK GA TAU DIRI" Tegas Ghea dengan sorotan marah yang terlihat jelas di matanya.


"Gue udah bilangin berkali kali sama Lo. Jauhin Fariz, jangan Deket Deket sama dia. Tuli Lo? Kurang jelas gue ngomong apa ha?" Bentaknya dengan mendorong Aisyah hingga membentur dinding. Namun Aisyah, saat ini memilih untuk diam.


"Lo harusnya sadar diri!! Sadar diri Lo ga pantes Deket Deket sama Fariz" Bentaknya lagi dengan berteriak tepat didepan wajah Aisyah. Membuat Aisyah memejamkan matanya erat.


Ghea mengepalkan tangannya erat erat. "Denger ya gue gak rela kalau ada yang Deket sama fariz, apalagi tadi pagi,, Lo berani berangkat berdua sama dia" Ketusnya lagi.


"Mbak,, mbak ak..." Ujar Aisyah namun kalimatnya terpotong saat mendengar suara yang khas bagi mereka.


"Kalian ngapain disini?"

__ADS_1


...******...


__ADS_2