Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Pergi


__ADS_3

Bruuukk...


Ghea terjatuh di sofa dengan kasar. Matanya memerah menatap ayahnya yang kali ini memperlakukannya dengan kasar. Baru kali ini, sebelumnya tidak pernah. Wajah ayahnya memerah menahan amarah.


"PUAS KAMU!!"


Bentakan ayahnya membuat Ghea tersentak kaget.


"PUAS UDAH BIKIN PAPA MALU DI DEPAN SEMUANYA??"


"Atas dasar apa? Atas dasar apa kamu melakukan itu Ghea? Kamu bukan hanya membuat malu papa, tapi juga merusak hubungan baik antara keluarga kita sama keluarganya Fariz, merusak hubungan kerja sama perusahan papa dan perusahaan keluarga Fariz!!" Lanjutnya. "Kamu menculik kaila, terus minta tebusan ke mereka lima ratus juta? Kamu anggap papa ini apa? Apa kamu pikir papa ga bisa kasih uang lima ratus juta buat kamu? Apa kamu pikir papa ga mampu sampai harus melakukan tindakan kriminal kayak gitu ha?"


"Sebelum bertindak harusnya kamu bisa mikir resiko apa yang bakal kamu terima nantinya. Tapi kamu asal ngelakuin aja. Nggak mikir akan perasaan papa dan mama. Nggak mikir bahwa repotasi keluarga kita juga bisa hancur karena kamu! Apa nanti yang bakal di omongin orang orang ha?! Anak perusahaan kaya, melakukan penculikan kayak gitu!! Di kira papa nggak mampu buat mencukupi kebutuhan kamu ghea! Mikir dong kamu mikir...!!"


Ghea berdiri. "Pa...Ghea itu cuma pengen melakukan apa yang Ghea mau. Ghea cuma pengen yang terbaik buat diri Ghea sendiri"


Plaaak...


Saat tamparan itu mengenai pipinya, air mata Ghea langsung luruh tak tertahankan.


"TERBAIK KAMU BILANG? MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL ITU TERBAIK BUAT KAMU? MIKIR DARI MANA KAMU HA? SEJAK KAPAN KAMU BODOH KAYAK GINI?? TAPI LIHAT SEKARANG, KAMU MALAH DI KELUARIN DARI SEKOLAH! INI YANG KAMU SEBUT TERBAIK??" Tanya papa Ghea dengan nada tinggi. Amarahnya meledak begitu saja. "MAU SEKOLAH DI MANA LAGI KAMU SEKARANG? BEBERAPA BULAN LAGI KAMU MAU LULUS, TAPI MALAH DI KELUARIN DARI SEKOLAH!"


Papa Ghea hanya bisa menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran sang anak. Dia menghela panjang menahan emosi. Sembari berpikir akan di bawa ke arah mana pendidikan anaknya nanti. Dengan masih terisak, Ghea melirik papanya yang tengah memijat kening. Pusing.


"Dengar..." Dia menunjuk Ghea dengan jari telunjuknya. "Kamu akan sekolah di luar negeri."


Tentu saja mendengar itu Ghea langsung menggeleng kuat. "Ghea ga mau"


"PAPA GA SUKA DI BANTAH!!" Gertak ayahnya. "Papa paling ga suka kalau di bantah." Ujarnya mempertegas apa yang di ucapkan.


"Itu sudah keputusan papa. Lalu kamu mau sekolah di mana hm? Di Jakarta? Mereka akan dengan mudah mengetahui apa yang sudah kamu lakukan Ghea. Mampu kamu bertahan di sana? Menerima hinaan atas perbuatan kamu, tahan? Keputusan papa sudah bulat. Itu sudah yang terbaik buat kamu. Papa ga perlu minta pendapat mama atau siapapun itu mengenai ini."


Papa Ghea langsung memegang dan menarik tangan putrinya, membawa dan memasukkannya ke dalam kamar. "Sekarang diam di kamar! Renungi semua kesalahan kamu. Besok kita pulang ke Jakarta. Beresi semua barang barang kamu!" Ujarnya lalu menutup pintu dan menguncinya dari luar.


Ghea melihat pintu kamarnya antara kesal dan sedih. "AAAAHHHH!!" Dia melempar tas gendongnya secara kasar di lantai begitu saja.


•••••


"Assalamualaikum"


Fariz menoleh. Melihat papanya yang berjalan mendekat dia langsung mengulurkan tangan lalu menyalami dan mencium punggung tangan papanya. "Waalaikum salam"


"Gimana kondisimu Riz?"


"Alhamdulillah. Baik pa."


"Riz..."


Fariz bergumam.


"Ghea di keluarkan dari sekolah."


Fariz terdiam menatap papanya. "Beneran pa?"


"Iya. Kemarin papa sudah bicara semuanya kepada kepala sekolahmu, dan hari ini mereka membuat keputusan untuk mengeluarkan Ghea."


"Terus hubungan papa sama om Dani(Papa Ghea) gimana?"


"Kalau untuk hubungan kekeluargaan, pastinya kita sudah dekat dan harus terus di jaga. Karena papa juga tahu, om Dani tidak terlalu tahu menahu dengan apa yang di lakukan anaknya selama ini. Kalau untuk hubungan kerja sama perusahaan, sepertinya papa harus berfikir terlebih dahulu. Apakah akan tetap berjalan, atau putus."


Fariz manggut-manggut paham. "Riz, sebenarnya ada hubungan apa sih Ghea sama perempuan yang namanya Aisyah? Maksutnya, kenapa Ghea sampai fitnah perempuan itu? Karena ga ada asap kalau ga ada api. Ghea ga mungkin jebak dan fitnah orang kalau dia ga ada masalah sama orang itu."


"Mungkin karena Ghea cemburu pa. Fariz juga ga terlalu tahu."


"Cemburu karena apa?"


Fariz menatap ayahnya. "Papa emang pengen tahu?"


"Ya iya dong. Harus!"


"Sebenarnya Fariz itu..."


Papa Fariz terdiam dengan mengangkat kedua alisnya.


"Fariz suka sama perempuan yang namanya Aisyah" Ujar Fariz jujur. "Mungkin karena itu Ghea cemburu."

__ADS_1


Papa Fariz Langsung tersenyum lebar. "Ternyata ya udah main cinta cintaan. Papa restuin."


Fariz melotot. "Restu apa sih pa?"


"Heleh pakai pura pura ga tahu, ya restu..." Papa Fariz memberikan isyarat lewat kedua jari telunjuknya yang saling di satukan.


"Pacaran?" Tanya Fariz.


"Bukan. Masa papa dukung kamu maksiat. Maksutnya restuin kamu buat ngejar Aisyah. Kalau suka sama perempuan, itu harus di perjuangin. Kayak papa waktu memperjuangkan mamamu. Sampai babak belur pun papa dulu ga pernah nyerah. Nyatanya, sekarang mama jadi istri papa."


"Tapi Aisyah nya suka juga ga sama kamu?"


"Kalau sekarang nggak tahu. Mungkin dia benci karena Fariz udah semena mena sama dia."


"Semena mena? Kamu apain dia?"


"Ya karena salah paham,,, Fariz jadi selalu ngelantur kalau ngomong sama dia. Sekarang aja Aisyah ngambek ga mau ngomong sama Fariz."


"Perempuan itu..."


"Permisi..."


Seorang dokter berjalan mendekati mereka dengan melempar senyum sopan. "Maaf, boleh saya periksa pasien?"


"Iya dok, silahkan" Balas papa Fariz.


Dokter itu langsung mengecek luka di bagian perut Fariz. Setelah itu mengecek mata Fariz dengan medical pen light. "Apa akhir akhir ini masih ada keluhan? Mungkin masih sakit di bagian perut atau bagian lainnya?"


Fariz menggeleng. "Nggak ada dok"


Dokter itu mengangguk dengan menatap wajah Fariz. "Baik kalau begitu. Keadaan anda memang sudah saya pastikan mulai membaik saat ini. Maka dari itu, besok anda boleh pulang dari rumah sakit."


Fariz tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. "Yakin dok?"


"Iya. Jadi nanti saat pulang, tetap perbanyak istirahat. Jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu, karena pergerakan anda akan memengaruhi terhadap luka tusukan itu. Selain itu perbanyak makan serat dan vitamin, karena itu juga akan sangat membantu dalam proses penyembuhan."


"Iya baik dok"


"Kalau begitu saya permisi ya..."


"Iya"


"Langsung pa?"


"Iya. Di sini tadi papa cuma mau lihat kondisi kamu sama mau pamitan. Ya sudah papa pergi dulu ya..."


"Iya pa. Hati hati di jalan."


"Hm. Cepat sembuh ya... Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam."


•••••


07.38


"Pa..." Panggil Ghea. "Nanti kita ke rumah sakit dulu ya."


"Buat apa?"


"Ghea mau jenguk Fariz sebentar."


"Masih punya muka kamu buat ketemu sama Fariz? Nggak malu?"


"Pa, Ghea cuma mau pamitan. Emang salah?"


Papa Ghea terdiam. "Ya udah. Masuk mobil."


Ghea mengangguk lalu berjalan membuka pintu mobil dan memasukinya. Hal yang sama pun di lakukan oleh ayahnya dengan duduk di kursi kemudi. Perlahan, mobil mulai berjalan pergi meninggalkan halaman parkir apartement.


"Papa sudah putuskan, nanti kamu akan sekolah ke Jerman"


Ghea menoleh. Menatap ayahnya. Berharap agar ia mengubah keputusannya. "Di sana, ada teman papa. Kalau kamu ada kesulitan bisa minta bantuan sama dia." Lanjutnya.


"Biaya sekolah kamu, biar papa yang tanggung. Tapi biaya hidup kamu di sana, papa ga bisa kasih kamu uang. Kamu harus mandiri. Cari uang sendiri di sana, papa ga mau tahu kamu mau kerja apa nanti. Jangan pernah kamu telepon papa buat ngeluhin semua kesulitan kamu di sana. Justru, papa pengen kamu ngerasain gimana susahnya cari uang." Ujar papa Ghea dengan tetap fokus mengemudi. "Udah susah susah cari uang buat pendidikan kamu, udah susah susah banting tulang demi kamu sukses tapi kamu malah menghancurkan semua harapan papa. Harusnya kamu bersyukur, sekolah dengan nyaman. Lihat di luar sana, yang pengan sekolah tapi ga bisa. Pokoknya nanti waktu kamu di Jerman, papa ga mau dengar siapapun mengeluhkan kamu. Entah itu tentang nilai kamu, sikap kamu di sana dan lainnya. Jangan pernah telepon papa untuk menyampaikan hal hal yang bikin papa kecewa. Ngerti?!!"

__ADS_1


Ghea mengangguk. "Iya pa..."


Mobil mereka terus berjalan hingga tak terasa sudah sampai di rumah sakit. "Udah sampe."


Ghea mengangguk. "Makasih pa" Ujarnya lalu membuka pintu mobil dan turun.


Ghea menutup pintu mobil dan mulai berjalan menuju kamar Fariz. Namun belum sampai di sana, dirinya berpapasan dengan Fariz, Reyhan dan Ilham. Langkah Ghea terhenti. "Riz..."


Fariz langsung membuang muka ke arah lain. "Lo mau kemana?" Tanya Ghea.


"Fariz mau pulang." Jawab Ilham.


"Oh, udah di bolehin? Syukurlah kalau gitu."


"Lo mau apa lagi ke sini?" Tanya Fariz.


"Euummm..." Ghea menghela pelan. "Gue cuma mau pamitan sama Lo. Gue mau pulang ke Jakarta hari ini."


"Riz, gue minta maaf ya. Apa yang gue lakuin, ga ada niat apa apa buat nyakitin kaila. Gue tahu Lo pasti kecewa dan marah banget sama gue." Lanjutnya. "Gue mau sekolah di luar negeri."


Mendengar itu Fariz langsung menatap Ghea. "Atas perintah papa. Mungkin, kita bakal jarang banget buat bertemu. Jadi gue pamit mau pergi sama Lo. Sebelum gue bener bener pergi jauh ke Jerman, gue mau minta maaf sama lo."


Fariz melangkah pelan mendekati ghea.


Plaak


Mata Ghea langsung memerah. Air matanya langsung terkumpul menjadi satu. Namun ia tahan agar tidak luruh begitu saja. "Itu atas semua yang udah Lo lakuin sama gue." Ujar Fariz.


Plaaak


Lagi, Fariz menampar Ghea.


"Dan itu, untuk semua kebohongan dan fitnah lo." Ujar Fariz lagi. "Semoga di sana Lo bisa lebih baik Ghea. Gimanapun, Lo masih sahabat gue. Sahabat masa kecil gue, semua kebersamaan Lo atas gue ga bisa hilang gitu aja."


Ghea menatap Fariz. Ingin marah juga tidak bisa. "Gue pamit." Ujarnya dengan cepat cepat pergi dari hadapan Fariz juga kedua temannya.


•••••


Sesampainya di pesantren, mereka langsung membawa Fariz ke kamar. Menyuruhnya untuk istirahat. "Besok gue sekolah." Ujar Fariz.


"Eh eh eh,, Ya jangan lah!!" Jawab Iqbal tidak mengizinkan.


"Cuma pengen ketemu Aisyah." Balas Fariz.


"Ya tetep aja jangan. Besok istirahat dulu, kan ada waktunya buat Lo sekolah kalau udah sembuh."


"Cuma sehari doang, habis itu gue janji bakal istirahat. Gue belum tenang kalau belum ngomong sama Aisyah."


"Gimana ham, Han?" Tanya Iqbal.


"Ya udah kalau Fariz mau sekolah. Tetep aja Lo tahan tahan, kalau hatinya belum tenang ya bakal maksa terus dianya." Jawab Ilham.


"Menurut Lo Han?" Tanya Iqbal.


"Terserah." Jawab Reyhan datar.


Iqbal berdecak kesal. "Sumpah, ga asik banget punya temen kayak Lo." Ucap Iqbal dengan sejujur-jujurnya. Iqbal kembali menatap Fariz. "Lo yakin besok sekolah?"


"Iya. Cuma sehari doang juga. Yang penting gue ketemu Aisyah."


•••••


وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ


Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”


(Q.S Luqman : 12)


•••••


نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


Artinya:


“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya, yaitu: kesehatan dan waktu luang.”

__ADS_1


(HR. Bukhari)


...********...


__ADS_2