Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Melepas Rindu


__ADS_3

2 hari berlalu, baju yang di penjahit pun sudah jadi dan telah di ambil. Dan besok hari Rabu pagi, mereka akan berangkat. Dan malam ini, lina begitu sibuk menyiapkan baju untuk di pakai besok, karena rencananya mereka bertiga akan menginap di sana selama satu minggu. Semoga saja tidak merepotkan Dinda.


Dan malam, kini mulai berganti menjadi fajar. Matahari perlahan menampakkan sinar cerahnya, melukiskan warna kuning ke orange-an di langit bagian timur.


Sekitar pukul 05.20 mereka bertiga langsung pergi dari rumah. Rencananya sih pengen pergi selasa siang, namun karena Iqbal yang masih banyak pekerjaan maka di tunda menjadi hari Rabu pagi.


Sekitar kurang lebih hampir sepuluh jam perjalanan, mereka akhirnya sampai sekitar pukul 14.48. Lina membuka kaca jendela mobilnya. Dirinya terdiam menatap lekat pesantren yang kini masih berdiri kokoh. Dan tidak lupa juga gerbang pesantren yang begitu berarti. Bagaimana tidak? Dulu mereka berempat sering tidak sabaran menungggu gerbang pesantren untuk di buka oleh pak satpam agar mereka dapat cepat cepat melepas lelah saat sekolah. Lina juga pernah punya kenangan di mana dia berdiri mohon mohon bersama Syifa kepada pak satpam agar di bukakan gerbangnya. Waktu itu mereka pulang hampir maghrib, dan itu semua karena tingkah konyol Syifa yang ingin membuatkan brownies untuk Reyhan.


Masih ingatkah kalian? Kalau lina mana mungkin melupakan hal itu. Mobil mulai berjalan masuk saat gerbang sudah di buka lebar. Iqbal melempar senyum lebarnya kepada pak satpam, dan jangan lupa juga untuk berterima kasih. Sedangkan lina, hatinya begitu membuncah senang. Ingin rasanya dia melompat lompat sekarang, ah rindu sekali.


"Udah turun..." Ujar iqbal membuat lina menutup kembali kaca jendela mobilnya. Dia menggendong aluna yang tertidur di pangkuannya dan membuka pintu mobil lalu keluar.


"Waaah Ya Allah...Akhirnya bisa ke sini lagi..." Lirih lina senang.


"Banyak yang berubah Lin..." Sahut iqbal membuat istrinya itu mengangguk. "Iya, tapi ga papa...kenangannya masih selalu ada walaupun udah banyak yang berubah."


"Hm...Ya udah yuk masuk." Ajak iqbal. Mereka berdua berjalan menyusuri halaman pesantren yang luas. Dari dulu memang tidak pernah berubah, halaman pesantren selalu di tumbuhi pohon hijau yang membuat mata sejuk memandang. Dan, mereka pun langsung di suguhkan oleh tenda tenda yang sudah mulai di bangun. Rasa senang lina kembali menumpuk melihat itu.


Mereka berdua kembali melangkah ke dalam rumah Abah. Dan, rumah Abah sama sekali tidak berubah. Mulai dari cat temboknya, bentuknya...semua tetap sama.


"Assalamualaikum..." Salam Iqbal dengan berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Assalamualaikum..." Kini gantian lina yang mengucapkan salam.


"Waalaikum salam..." Seorang perempuan dengan tunik hijau dan rok plisket senada di padukan dengan hijab hitam lebar berjalan keluar dari kamar untuk menemui tamu yang datang. Dinda memelankan langkahnya,


"Linaa..?!"


"Dindaaaaa...." Panggil lina lirih karena takut mengganggu putrinya yang masih tertidur dalam gendongannya. Lagi pula, jika dia berteriak juga tidak sopan. Banyak orang di sini. Dinda langsung menempelkan pipinya ke kedua pipi lina secara bergantian. "Apa kabar Masya Allah..." Tanya dinda.


"Alhamdulillah baik."


"Eh ini siapa?"


"Anak."


"Hah? Uda punya anak toh?"


Lina mengangguk. "Iya Alhamdulillah..."


"Din,,," Panggil Iqbal.


Dinda menoleh dan tersenyum dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Ini suami gue din, namanya Iqbal. Masih inget kan?" Sahut lina.


Dinda terdiam.


"Temennya calon suami kamu..."


"Oh,,, iya kak iqbal."


"Jadi Abah ada?" Tanya iqbal.


"Ada kok di dalam kamar, mau saya panggilkan?"


"Njih,,,"


"Kalau gitu silahkan duduk...eh lin, itu anaknya di tidurin dulu ya kasian."


"Di mana?" Tanya lina.


"Sebentar ya, aku panggil Abi dulu. Nanti terus aku anterin."


Lina mengangguk.


"Ayo kak iqbal duduk dulu..." Dinda mempersilahkan dan segera memberitahu Abah kalau ada tamu yang datang. Setelah selesai, dia kembali keluar dan mengantar lina ke sebuah rumah yang berjarak hanya tiga meter dari rumah Abah. Rumah itu, biasa di gunakan oleh para tamu yang datang untuk menginap.


"Ini rumah di bangun kapan din?" Tanya lina. "Oh ini sekitar empat tahun lalu kali ya kalau ga salah." Jawab dinda. "Oh ya lin, kamu sekarang ngomongnya pake kamu ya..."


.


Lina tersenyum. "Ih iya deh, aku jadi terbiasa. Soalnya semenjak nikah sama mas iqbal itu, berusaha buat sopan. Masa suami istri manggilnya kayak temen, gue-lo. Jadi ga enak juga kan. Eh, malah jadi kebiasaan."


Dinda manggut-manggut. "Eh tadi Syifa udah dateng lhoh."


"Oh ya?"


Dinda mengangguk dengan membuka pintu. "Assalamualaikum..." Salamnya dengan memasuki rumah.


Pertama ada ruang tamu kecil di depan. Dinda berjalan lebih ke belakang. "Ini lin, kamu mau ke kamar mana aja...masih ada empat kamar kosong soalnya. Dan semuanya udah bersih, jadi tinggal tidur aja ya..."


"Ya Allah din, ngerepotin ya..."


"Nggak kok. Nanti kalau ga di bersihin, kalian capek dateng jauh jauh kan ga enak." Ujar dinda dengan membukakan pintu kamar. "Ini lumayan luas lin,,, di sini mau?"


"Di mana aja mau, yang penting bisa di tidurin" Jawab lina dengan masuk dan menidurkan aluna di atas kasur.


Dinda tersenyum. "Uluh uluh,, cantiknya... siapa namanya lin?"


"Aluna."


"Oh aluna...cantik."


"Ya udah din, gue mau ke rumah Abah ya. Mau sowan..."


"Iya iya silahkan, aku anter..."


•••••


Waktu Ashar telah tiba, adzan mulai menggema terdengar. Abah dan semuanya menghentikan pembicaraan, menyahuti setiap kalimat yang terdengar merdu. Tadinya abah ingin mengajak Iqbal untuk sholat Ashar berjamaah, namun dia sudah sholat jamak saat di masjid dalam perjalanan tadi siang bersama lina.


Akhirnya mereka berdua kembali ke dalam rumah yang di bangun khusus para tamu itu. Dan saat memasuki ruang tamu, suara aluna terdengar menangis. Lantas, mereka berdua langsung berjalan cepat ke arah kamar.


"Syifa..." Panggil lina saat melihat syifa di sana. Dia sedang berusaha untuk menenangkan aluna.


"Lin,, ini..."


Lina langsung berjalan dan menggendong aluna. Berusaha untuk menenangkan putrinya. "Sini lin biar aku aja yang gendong." Ucap iqbal membuat lina langsung menyerahkan aluna dalam gendongan suaminya.


"Hssst sayang,,, kita jalan jalan yuk sama ayah. Keluar ya mau??" Tanya Iqbal dengan mengelus pelan punggung aluna.


Aluna hanya mengangguk dengan masih merengek. Iqbal berjalan keluar membuat Syifa menarik tangan lina lalu memeluknya.


"Aaaa lin....gue kangeen!!" Ucapnya dengan memeluk sahabatnya itu erat.


"Samaaaa..." Balas lina.


Mereka saling melepaskan pelukan. "Sendirian fa?"

__ADS_1


"Iya."


Senyum lina langsung pudar. "Kok sendirian? Kamu,,, maksutnya lo lagi hamil kan?"


Syifa mengangguk.


"Iya. Emang kenapa kalau gue hamil?"


"Haduh fa, kan ga baik. Apalagi Jakarta Semarang, pergi sendirian. Hamil lagi, kalau ada kenapa-napa gimana?"


"Udah lin, ga usah khawatir. Lagi pula gue sampe sini juga selamat kan. Baik baik aja kan? Walaupun gue sendirian tapi gue bisa kok jaga diri..."


"Tapi tetep aja ga baik." Potong lina. "Lagi pula suami lo mana sih? Kok ga di temenin?"


Syifa menghela pelan dengan duduk di kasur. "Mas Reyhan kan lagi kerja."


"Ga bisa luangin waktu buat nemenin istrinya gitu?"


"Lin, mas Reyhan kan kerjanya pilot. Jadi ga bisa dia seenaknya pulang buat ke rumah. Dia kan punya jadwal sendiri. Lo tahu kan gimana sibuknya mas Reyhan. Pulang aja jarang."


Lina terdiam. "Iya juga...lo tadi naik apa? Dan sampe di sini jam berapa?"


"Di anterin pak Sarif, beliau sopir pribadi keluarga gue. Jadi kalau ada apa apa ya pastinya pak Sarif yang bakal bantuin gue di sini. Sampe di sini tadi kurang lebih jam sebelasan." Jelas Syifa.


"Oh gitu...terus kak Reyhan rencananya mau nyusul ke sini juga ga?"


Syifa mengedikkan bahunya. "Nggak tahu...tapi kalau ga bisa ya ga papa sih. Ga bisa di paksa juga."


"Tapi kak reyhan tahu kan kalau lo ke sini..."


"Iya tau lah lin, kan gue kalau ke mana mana juga harus izin. Dia juga udah kasih amanah ke pak Sarif biar bisa jagain gue."


"Lo juga tenang deh fa,,, gue pasti jagain lo." Ujar lina. "Eh ngomong-ngomong ini usianya berapa? Udah gede aja. Padahal baru kemarin deh kayaknya lo bilang kalau hamil..."


"Iya kan kembar jadi ya lebih gede. Ini baru berapa bulan ya...empat deh kayaknya..."


"Oh ya, lo udah ngadain syukuran dong."


"Iya udah, pas mas Reyhan kebetulan ada di rumah waktu itu."


"Eemm,,, selamat ya sekali lagi. Ga sabar deh nanti lihat anak lo kembar. Ih pasti lucu lucu deh."


"Iya dan semoga aja lo juga cepet hami lagi. Biar...aluna ya tadi, punya adik lagi." Balas Syifa.


"Aminin deh." Jawab lina dengan menyengir lebar.


"Eh lin, kira kira Aisyah ke sini kapan ya? Gue paling ga sabar ketemu dia. Udah lama banget ga lihat, mana ga punya nomornya lagi. Kan gue sebel jadinya, gue itu kayak penasaran. Apa aisyah berubah apa nggak? Lagi pula, masa udah empat tahunan ga pernah ketemu sama sekali sih. Kan namanya menyiksa itu, rindu aku tuh...Dan lo sama dinda juga masa ga punya nomornya dia. Gue itu jadi lebih bingung dan..."


"Hssst!!" Lina mendekatkan jari telunjuk ke arah bibir syifa. "Udah mulai nih, udah mulai keluar lagi jiwa cerewet lo."


"Ya gimana lagi lin, lo kan udah tahu gue. Kalau cerewet itu udah menempel di jiwa gue pasti bakal susah lhah di ilangin. Kan gue juga orangnya ga bisa diem diem bae, gue ga bisa kalem dan..."


"Iya iya...udah. Nanti mulut kamu capek. Lagi pula nanti Aisyah juga pasti bakal ke sini kok. Ya kali Dinda ngundang kita tapi ga ngundang Aisyah." Potong lina lagi.


"Lin, bisa ga sih jangan potong omongan gue."


"Ya lo sih, nyerocos mulu."


Syifa memanyunkan bibirnya. "Eh lin ada yang mau gue ceritain..."


•••••


Semarang, Jawa Tengah


Hari pernikahan itu semakin dekat, hanya tinggal besok. Dan Syifa, Lina dan Iqbal pun sudah turut membantu persiapannya sejak kemarin. Menyebalkannya, Syifa malah sendirian di sini tanpa Reyhan. Dan Aisyah bersama suaminya juga tak kunjung sampai.


Di dapur, Lina dan Syifa tengah membantu para ibu ibu untuk menyiapkan kue yang akan di di berikan besok untuk para tamu. Ada kue lapis, putri ayu, dan kue apem bakar. Bagi Syifa ini begitu penting agar dia bisa lebih handal dalam Memasak. Apalagi dia baru belajar memasak saat akan menjadi istri.


Saat mereka berdua yang sedang asyik-asyiknya, tiba tiba dinda datang dan memberitahu. "Aisyah dateng!!"


Membuat lina dan syifa langsung berdiri kompak.


"Oh ya?"


"Iya."


"Ya udah gue mau ketemu, di mana dia?" Tanya Syifa tak sabaran. Dinda mengangguk dengan berjalan keluar dari arah dapur. Mereka bertiga dengan langkah cepat menuju ke arah rumah tamu.


"AISYAAAHH!!" Teriak Syifa kesenangan dengan langsung menghambur ke arah perempuan yang baru saja datang itu. Aisyah membalasnya juga dengan pelukan yang tak kalah erat.


"Issh fa gantian...ah" Pinta lina. Lantas Syifa langsung melepas pelukannya. Kini lina yang gantian memeluk. "Gimana syah kabarnya?"


"Alhamdulillah baik..."


"Ih Aisyah Glow Up deh..." Celetuk syifa membuat Aisyah tertawa kecil dan melepaskan pelukannya dari lina. "Suami lo mana syah?"


"Di luar, soalnya ketemu sama kak Iqbal."


"Ooh gitu...Ya udah lo bantuin kita yuk buat kue." Lina langsung menepuk punggung syifa.


"Aisyah baru datang. Udah syah, istirahat aja pasti lo capek."


"Nggak kok ga papa, ga perlu. Soalnya aku tadi dari Demak."


"Oh bukan dari Jakarta?" Tanya lina.


"Bukan."


"Ya udah, aku taruh tasnya dulu ke kamar ya. Nanti aku ikut kalian untuk buat kue."


"Oke." Balas syifa dengan mengacungkan jempolnya.


•••••


20.55


"Sayaaang....." Panggil fariz membuat Aisyah menoleh. Suaminya itu dengan segera menutup pintu dan menghampirinya yang tengah menaruh baju di lemari kecil yang ada di kamar tersebut. Mereka bertiga tadi sudah berbincang-bincang, dan sepakat untuk akan satu minggu di sini. Walaupun sebenarnya masih sangat kurang, tapi mereka juga pastinya harus memikirkan kesibukan para suaminya itu.


Fariz langsung berhenti tepat di belakang Aisyah lalu memeluknya. "Mas, nanti kalau di lihat orang lho..." Ujar Aisyah.


"Kan pintunya di tutup." Jawab fariz santai.


"Nanti kalau tiba tiba ada yang buka? Gimana?"


Fariz menaruh dagunya di bahu sang istri. "Kamu dari dulu malu terus kalau di ajak


so sweet...nggak di rumah sendiri, di rumah mertua, di rumah orang..." Balas Fariz cemberut. Aisyah hanya membalas dengan tersenyum. Dia lalu menyiapkan bajunya sekaligus baju fariz yang akan di gunakan besok untuk pernikahan Sahabatnya itu.


tok tok tok...

__ADS_1


"Aisyah...!!"


Aisyah langsung melepaskan pelukan suaminya. "Mas sebentar ya, mau buka pintu dulu." Izinnya membuat fariz menghela kesal.


Kenapa ya kalau mau romantis romantisan ada aja gangguan nya. Baru aja di peluk sebentar, udah ada yang ganggu. Udah dari nikah dulu emang selalu gitu. Kenapa sih!?!! Batin fariz kesal sendiri.


"Eh syah, ini selimutnya." Ujar lina saat pintu telah di buka. Dengan tersenyum Aisyah menerima selimut yang di sodorkan Lina.


"Soalnya ga ada selimut kan di situ?" Tanya lina.


"Iya ga ada lin, makasih ya..."


Lina mengangguk. "Sama sama." Jawabnya dengan tak sengaja melihat fariz. "Ehm, tadi ganggu ya??"


"Enggak kok, orang ga ngapa-ngapain."


"Oh ya udah kalau gitu, selamat istirahat ya.."


"Iya. Sekali lagi makasih ya lin."


"He'em."


Lina langsung beranjak pergi dan Aisyah kembali menutup pintunya. "Mas, kalau mau tidur sekarang silahkan. Ini selimutnya..."


"Kamu tidur kapan?"


"Nanti dulu, mau beresin baju sebentar..."


"Ya udah, kalau gitu gue tidurnya juga nanti aja." Balas Fariz enteng.


Aisyah hanya mengangguk dengan menaruh selimut di atas kasur dan melanjutkan pekerjaannya. "Kenapa ya perempuan itu ada aja yang di bikin sibuk?? Terus kalau aku di sini ngapain syah??"


"Ya udah mas tidur...biar besok ga capek."


Mendengar itu fariz menarik tangan istrinya dan membawanya ke kasur. "Ya udah kalau gitu...mari kita tidur."


"Aisyah tidurnya nanti, itu belum selesai mas..."


"Kan bisa di lanjut besok. Udah ah sayang jangan banyak kerja, sekarang tidur."


"Tapi..."


"Istri Sholehah yaitu istri yang mendengarkan apa kata suami. Bener kan?"


Aisyah langsung terdiam.


"Ya udah kalau gitu, ambil wudhu dulu, baca surah Al Mulk baru tidur." Balas Aisyah membuat fariz mengangguk menyetujui.


Telah menceritakan kepada kami Syubah, dari Qatadah, dari Abbas Al-Jusyami, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw, yang telah bersabda:“Inna suurotan fil quraani tsalatsiina aayatan syafa’at lishohibiha hatta ghufirolahu. Tabaarokalladzii biyadihil mulku”


Artinya: Sesungguhnya di dalam Al-Quran terdapat suatu surat berisikan tiga puluh ayat dapat memberi syafaat bagi pembacanya hingga ia mendapat ampunan, yaitu Tabarakal Lazi Biyadihil Mulku (surat Al-Mulk).


•••••


Dalam keheningan malam Syifa terbangun. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menguceknya. Sinar lampu kamar yang terang membuat dirinya sedikit silau. Dia terdiam heran, bukankah tadi sebelum tidur Syifa sudah mematikan lampu? Lalu siapa yang menyalakannya?


Syifa mengubah posisinya yang berbaring menjadi duduk. Dia mengucek matanya saat melihat Reyhan yang ada di sana. Terduduk di atas sajadah dengan mengangkat tangan tengah berdoa. "Mas Reyhan? Kapan dia dateng ke sini?" Gumam Syifa. Sebenarnya dia ingin bertanya, namun tidak sopan rasanya bertanya dengan orang yang sedang berdoa.


Dengan pelan syifa beranjak dari kasur dan melangkah keluar untuk mengambil wudhu. Setelah selesai dan kembali ke kamar, dirinya langsung mengenakan mukena, menggelar sajadah di belakang Reyhan dan mulai melaksanakan sholat Tahajud. Sementara itu Reyhan dengan masih di sertai rasa lelah yang ada dia menyempatkan untuk membaca Al Qur'an sebentar.


Selesai membaca, Reyhan berdiri untuk melipat sajadah. Dia melepas peci dan menaruhnya di atas kasur, pandangannya terpaku pada syifa yang tengah tahiyat akhir.


"Assalamualaikum warahmatullah..."


"Assalamualaikum warahmatullah..." Saat salam kedua selesai, Syifa berdoa sebentar dan menghampiri reyhan. "Kapan sampe mas?"


"Jam satu..."


Syifa mengangkat kedua alisnya. "Terus ga tidur?"


"Udah, sebentar..."


"Oh, ya udah kamu tidur lagi. Jangan sampe kecapekan."


Reyhan mengangguk dengan bergumam.


"Terus, berangkat dari Jakarta jam berapa?"


"Habis maghrib."


"Ooh...ya udah mas langsung istirahat aja. Atau mau syifa bikinin minuman apa gitu yang anget."


"Ga usah. Justru lo yang jangan sampe kecapekan." Balas Reyhan. "Kandungannya harus di jaga."


"Iya..." Syifa berdecih. "Ih mas, latihan gih buat panggil aku-kamu. Tuh temen temen aku, suaminya pada manggil mereka aku-kamu. Masa mas panggilnya gue-lo, kayak ngomong sama temen aja! Kalau perlu latihan panggil sayang, atau ayang, atau beby, atau ayang beb...gitu kek kan lebih romantis. Nyenengin Syifa juga sama aja nyenengin anak kita..." Cerocosnya.


"Iya fa,,,"


"Jangan cuma iya iya mulu ih, sesering mungkin di peragakan gitu lhoh!" Syifa semakin memanyunkan bibirnya.


"Lo ngambek?"


"Tuh kan!! Baru aja di kasih tahu.."


"Iya maaf.....Sayang,,," Ujar Reyhan. "Masih ngambek?"


"Nggak!"


"Tapi kok cemberut?"


Syifa semakin di buat jengkel. "Mas dari dulu emang ya,,, ga pernah peka. Coba deh mas berusaha buat ngertiin cewek. Dikiiiit aja..!"


"Caranya?"


Syifa terduduk di ikuti oleh reyhan. "Caranya gampang. Mau tahu?"


"Ya."


"Kalau perempuan bilang iya artinya tidak, dan kalau perempuan bilang tidak artinya iya. Itu kamus penting yang harus di pahami suami." Jawab syifa. "Dan kalau perempuan jawab iya bukan berarti tidak, artinya mungkin aja iya. Kalau jawab tidak, bukan berarti iya, yang artinya mungkin aja tidak. Iya kadang kadang juga bisa iya bisa tidak, kalau tidak ya sama. Bisa tidak bisa iya, tapi cuma kadang kadang. Dan satu lagi ini penting banget, kalau perempuan di tanya jawabnya ga papa. Artinya dia sedang ada apa apa."


Reyhan hanya terdiam, pikirannya langsung mengelak. "Serumit itu?"


"Ih, gampang tau. Itu bukan rumit. Itu aja baru sebagian kamus perempuan." Jawab Syifa. "Intinya itu, perempuan itu maunya di kasih perhatian lebih. Makannya mas itu kalau di tanya sama Syifa, jawabnya jangan hem hem doang, berkesan nyuekin tau ga?!"


"Dan pasti di dalam kamus perempuan ada kalimat,,,, wanita selalu benar?!" Balas reyhan.


"Nah iya bener. Ya, walaupun ga semuanya yang di lakuin perempuan bener, tapi laki laki itu harus ngalah. Jadi semua yang di katakan perempuan, iyain aja. Paham kan?"


Reyhan langsung menggaruk keningnya. Bingung. Semua yang di katakan syifa, sama sekali tidak ia mengerti. Bahkan sepertinya kamus wanita lebih sulit dari kamus yang berisi rumus rumus matematika.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2