Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
S Itu Siapa?


__ADS_3

21.25


"Hhsstt,, Lin..." Panggil Syifa dengan menyenggol lengan Lina. "Lina..."


Lina menoleh. "Apa?"


"Lo kenapa diem aja?"


Lina menggeleng. "Ga kenapa napa"


"Udah selesai tugasnya?"


"Sedikit lagi. Kenapa? Mau bantu ngerjain?"


"Nggak ah" Jawab Syifa. "Lin, besok gue sekolah ya"


"Udah sehat?"


"Udah kok. Ya? lagian gue ngapain di sini. Cuma tidur tidur doang. Sampe punggung gue pegel tau"


"Ya udah"


"Beneran boleh?"


"Iyaa..."


"Uuuuu yes!! makasih Lin," Ucap syifa dengan memeluk Lina.


"Ih Lo kenapa sih dikit dikit meluk?" Tanya Lina heran.


"Emang kenapa? Yang penting halal kan??" Balas Syifa enteng. Syifa melepaskan pelukannya. "Lin, Lo kan udah janji mau kasih tau gue. Kenapa tadi pagi Lo nyuruh gue buat dandanin Aisyah?!"


Lina melotot. "Hssstt,,, jangan keras keras ngomongnya" Ujar Lina dengan melihat ke arah aisyah yang sedang fokus belajar di atas kasurnya.


"Iya. Tapi kasih tau gue kenapa?" Tanya Syifa berbisik.


Lina menghela panjang. "Sebenarnya hubungan Aisyah sama kak Fariz lagi ga baik"


Syifa terdiam. "Lagi ga baik? Kenapa?"


"Gue juga ga tau kenapa." Jawab Lina.


Pokoknya besok gue harus ketemu sama Iqbal. Batinnya.


•••••


Aisyah memegang perutnya. Dia duduk di atas kasur dengan membuka resleting tasnya. Mengeluarkan botol minum dan obat mag yang di belinya kemarin. Sejak kemarin sepertinya rasa mag nya mulai kambuh. Aisyah menelan obatnya lalu meneguk air di botol minumannya.


"Ya Allah,,, semoga ga makin parah" Gumamnya dengan menutup botol.


"AISYAH,,, UDAH BELUM?" Teriak Lina dari luar kamar yang sedari tadi menunggunya untuk ke sekolah.


"IYA LIN, BENTAR..."


Cepat cepat Aisyah memasukkan obat dan botol minum kembali ke tasnya. Dia berjalan cepat lalu menutup pintu kamar.


"Maaf kalau lama" Ujarnya tak enak.


"Iya ga papa. Langsung berangkat aja kalau gitu yuk" Sahut Syifa.


Mereka mulai berjalan. Aisyah memegang perutnya, berharap rasa sakitnya segera mereda.


•••••


Sedari tadi dirinya berlari kesana kemari mencari iqbal. Namun entah kemana lelaki itu pergi. Lina berjalan menuju gudang. Walaupun minim kemungkinannya Iqbal ada di sana. Kalau memang tidak ada di sana, dia akan pergi ke rooftop. Hari ini juga dia harus memaksa Iqbal untuk menceritakan semuanya.


Lina menghentikan langkahnya. Dia melihat Ghea yang berdiri di tengah lorong jalan menuju gudang. "Ghea??"


Lina bersembunyi di balik dinding. Entahlah, dia ingin mengetahui apa yang tengah gadis itu lakukan.


"Nggak!! gue bilang nggak ya nggak! Belum puas apa kalian gue kasih uang segitu ha?" Ujar Ghea berbicara dengan orang di balik telepon.


"Masih kurang kalian bilang? Uang lima ratus juta yang gue kasih masih kurang?? Heh duit segitu itu bukan nominal kecil ngerti!!" Lanjutnya lagi dengan menutup kesal teleponnya. "Berengsek mereka..."


"Uang lima ratus juta?" Gumam Lina bertanya tanya. "Ah udahlah ngapain juga mikirin urusannya dia"


Lina kembali melihat ke arah Ghea. Gadis itu membalikkan badan dan berjalan keluar menyusuri lorong. Lina melangkah menuju gudang. "Sepi. Kayaknya Iqbal emang ga ada di sini"


Lina kembali berlari ke arah rooftop. Ini tempat terakhir, semoga orang yang di carinya ada di sana. Lina melangkah di tangga terakhir paling atas. Benar saja, iqbal ada di sana bersama teman yang tidak di kenal olehnya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bersama dengan menoleh menatap Lina.


"Wih wih,,, ada yang Dateng" Ujar Ojit.


"Udah, lo mendingan pergi aja" Suruh iqbal.


"Oke. Sip dah,, makasih banyak ya bal. Lo emang baik dah"


"Hm"


Ojit Tersenyum. "Ya udah kalau gitu, gue pergi dulu ya" Dirinya berdiri. "Assalamualaikum" Ujarnya


"Waalaikum salam"


Lina melihat sekilas Ojit. Lalu dia melangkah hingga posisinya tepat di depan Iqbal. "Gue cariin kemana mana ternyata di sini,"


"Ada apa?" Tanya Iqbal.


"Tolong Lo kasih tau gue tentang masalah nya Aisyah sama kak Fariz bal. Gue yakin, Lo tahu semuanya" Ujar Lina tanpa berbasa basi. Dia tidak mau membuang waktu.


Iqbal terdiam lama. "Bal, jangan diem aja dong. Ayo cerita" Ujar Lina.


"Lin, kayaknya gue ga bisa"


Lina berdecih. "Kenapa? Kenapa ga bisa ha? Bal, kalau Lo ga mau cerita sama gue kapan masalahnya cepet selesai. Gue ga mau ya lihat aisyah yang terus terusan ga di hargai sama kak Fariz!"


"Gue udah janji sama Fariz, kalau gue ga bakal cerita sama siapa siapa"


"Kalau Lo ga mau cerita, itu artinya sama aja Lo membiarkan masalah ini berlarut-larut."


"Bukan gitu"


"Terus apa?? Lo sama aja memperpanjang masalah kalau kayak gini bal. Terus kenapa kalau lo ingkar janji demi kebaikan? Membuat hubungan kedua saudara itu baik kan?"


"Emang Aisyah sama Fariz saudara?"


Lina berdecih. "Gitu aja ga paham Lo. Sesama muslim itu bersaudara."


"Oh"


"Ya udah cepet cerita"


Iqbal terdiam. "Bal..." Panggil Lina.


"Iya iya, oke. Gue cerita"


"Dari tadi kek" Gumam Lina.


Iqbal menghela pelan. "Jadi, Fariz ngira kalau Aisyah yang udah culik adiknya"


"Ha? Apa? Ulangi sekali lagi"


"Iya, jadi waktu liburan semester kemarin Fariz ke rumah neneknya. Dan di situ, adiknya di culik sama orang demi uang. Dan Fariz bilang orang itu suruhannya aisyah"


Lina menggeleng kuat. "Nggak, gue ga percaya kalau Aisyah yang ngelakuin itu. Pasti ada dalang lain di balik ini."


Iqbal terdiam. "Apa mungkin ghea yang ngelakuin itu?"


Lina menoleh. "Ghea??"


Iqbal mengangguk. "Itu prediksi dari reyhan"


"Tapi kok kak Reyhan tahu? Lo udah cerita sama dia"

__ADS_1


"Nggak. Gue ga cerita tentang masalah ini sama siapapun kecuali Lo karena maksa."


"Terus? Kok kak reyhan bisa tahu?" Tanya Lina.


"Gue ga tahu gimana reyhan bisa prediksi ini semua. Tapi dia bilang kemungkinan besar Ghea yang ngelakuin itu. Lo tahu kan Reyhan itu otaknya kayak gimana? Dia bisa tahu walaupun ga di beritahu"


Lina terdiam lama. "Bal, kak Fariz ga ada niatan gitu buat tanya penjelasan dulu sama Aisyah? Atau kayak cari tahu. Kenapa dia langsung percaya gitu aja?"


"Dia percaya karena ada bukti. Orang suruhan itu kasih bukti ke Fariz berupa chat. Dan itu emang dari nomor aisyah" Jawab Iqbal.


"Ya tapi ga langsung percaya gitu juga kali bal..."


Iqbal mengedikkan bahunya. "Ya mana gue tahu"


•••••


"Assalamualaikum"


Syifa mendongakkan kepalanya. "Waalaikum salam"


Adit duduk di samping Syifa. "Fa, udah sembuh?"


Syifa mengangguk. "Iya Alhamdulillah"


"Maaf ya, gue ga sempet jenguk Lo waktu itu"


"Iya ga papa. Kan lo lagi camping"


"Lo di sini lagi nungguin siapa?" Tanya Adit.


"Kak Reyhan. Dari tadi ga nongol nongol"


"Emmm,," Adit menatap syifa. "Fa, Lo kenapa suka sama kak Reyhan?"


Syifa terdiam. "Kok Lo tanya gitu? Gue suka ya karena suka"


"Karena ganteng?" Tanya Adit.


"Bukan, karena suka"


"Karena pinter?"


"Karena suka"


"Karena kaya?"


"Ih,, kan udah di bilangin karena suka" Balas Syifa.


"Iya, sukanya karena apa?"


"Sukanya ya,,, karena gue suka sama kak Reyhan. Ah, ga tau. Tiba tiba aja suka" Jawab Syifa.


Adit menghela pelan. "Dit, Kenapa?? Lo juga suka ya sama kak reyhan?" Tanya Syifa.


"Bukan. Gue sukanya sama lo"


Syifa manggut manggut. "Oh, ya bagus kalau gitu"


Adit mengerutkan keningnya. Jawaban syifa, jauh berbeda dari jawaban wanita lain saat ada yang mengungkap kan perasaan kepadanya. "Bagus?"


"Iya bagus. Dari pada Lo benci sama gue, lebih baik Lo suka sama gue. Iya kan?"


Adit hanya tersenyum kikuk lalu mengangguk.


"Ehem Fa..."


Syifa menoleh lalu tersenyum lebar. "Kak Rey...!"


Reyhan menatap mereka datar.


"Em fa, kalau gitu gue pergi dulu. Assalamualaikum" Ujar adit.


"Waalaikum salam. Hati hati dit"


"Iya"


Reyhan duduk. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Kak, Syifa tungguin dari tadi tau..."


"Siapa tadi?" Tanya reyhan.


"Adit. Kenapa?"


"Ngapain?"


"Siapa? adit?"


"Hm"


"Oh, ga ngapa-ngapain kok. Cuma minta maaf karena ga sempet jengukin syifa." Jawab Syifa. "Kakak juga ga minta maaf karena ga jenguk syifa? Adit aja minta maaf lhoh"


Reyhan hanya terdiam menatap depan. "Kak, kakak kenapa ga jengukin Syifa?"


"Sibuk"


"Sibuk ngapain?"


Reyhan menghela pelan. Dia menoleh ke arah Syifa. "Sibuk buat ujian kelulusan" Jawab reyhan.


Syifa terdiam. "Oh iya, kakak sebentar lagi lulus ya? Kalau lulus ga bisa ketemu lagi dong,," Ujarnya sedih.


"Ga usah sedih,, kalau takdir pasti bakal ketemu lagi"


"Kalau ga takdir?" Tanya Syifa.


"Pikir sendiri" Jawab Reyhan jutek. Syifa mengerucutkan bibirnya. "Hemh,,," Desisnya.


"Kak Reyhan udah kayak dulu lagi. Cuek, jutek, dingin. Terus Syifa harus apa kalau kak Reyhan kayak dulu lagi? Harus ngejar ngejar? Syifa kan udah tau sekarang, kodrat wanita itu di kejar bukan mengejar" Ujar Syifa.


"Terus lo maunya apa?" Tanya reyhan.


"Ya, jangan terlalu cuek gitu. Asik dikit gitu lhoh kak jadi orang. Perhatian kalau bisa. Tapi syifa ga yakin kalau kakak bisa perhatian sama cewek"


Reyhan berdiri. "Kalau mau perhatian dari gue nanti aja"


Syifa mengerutkan kening. "Nantinya kapan?"


"Kalau udah halal." Jawab Reyhan. "Kalau jadinya sama Lo. Kalau sama Perempuan lain, perhatian gue ya buat perempuan itu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Syifa termangu. "Ya Allah,,, kalau gitu semoga kak Reyhan jodoh hamba. Amiin..."


"Kalau gini ceritanya, gue harus minta saran sama Dinda"


•••••


Iqbal menatap Lina yang masih terdiam. "Lo mau menyelidiki kasus ini?" Tanyanya.


"Hm? Pengen sih. Tapi sulit kayaknya deh. Soalnya kan di pesantren ga sebebas di rumah" Jawab Lina.


"Terus Lo mau apa?"


Lina menggaruk keningnya. "Eh, kayaknya kita butuh bantuan otaknya kak reyhan."


"Ya terserah Lo deh."


"Ya udah bal, kayaknya sebentar lagi bel masuk. Jadi gue ke kelas dulu ya"


"Iya"


Lina berdiri. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Lin, kalau butuh bantuan bilang ke gue aja"


Lina mengangguk. "Oke." Jawabnya lalu berjalan pergi menuju kelas.

__ADS_1


Lina berjalan ke arah mejanya. Dia terduduk dengan kedua tangan yang menopang dagunya. Terdiam lama untuk berpikir.


"Apa iya Ghea pelakunya?" Gumamnya bertanya tanya. " Terlintas di pikirannya saat mendengar Ghea yang berbicara lewat telepon. "Lima ratus juta? Duit segitu buat apa?"


Lina kembali terdiam mengingat-ingat apa yang tadi dia dengar. Mulutnya menganga lebar. "Jangan jangan.....!!"


"Wah gue harus bicara sama Iqbal lagi" Lina berdiri lalu berlari keluar kelas. Tepat di depan pintu, ia menahan langkahnya.


"Mau kemana?" Tanya Bu Lia.


Lina tersenyum. "Aaa emmm,,, Bu Lia.."


"Ini sudah bel masuk, jadi silahkan kembali ke meja. Pelajaran ibu akan di mulai sebentar lagi"


"I-iya Bu..."


•••••


Hari Ahad, setelah sholat subuh langsung di lanjut dengan mengaji. Setelah mengaji, para santri langsung melaksanakan kegiatan liburannya seperti biasa. Kecuali Aisyah yang mendapat tugas untuk kembali memurojaah hafalan lima juz awal di simak oleh Dinda. Di mushola, dirinya terus melantunkan ayat per ayat dengan microfon yang ada di tangannya. Sedang di tangan Dinda ada Al Qur'an kecil beserta terjemahannya. Dirinya fokus sibuk mengoreksi hafalan aisyah.


08.15


"مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا"


Surah An nisa ayat 147, adalah ayat terakhir dalam juz lima. Aisyah mengakhiri nya dengan membaca bacaan tashdiq.


"Sudah selesai?" Tanya seorang mbak mbak yang mungkin akan meneruskan dari juz enam hingga juz sepuluh.


Aisyah mengangguk. "Sudah mbak" Jawabnya dengan berdiri bersamaan dengan Dinda.


"Mbak, kalau gitu kita permisi ya" Ujar Dinda.


"Na'am. Tafadholy"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawabnya.


Aisyah dan Dinda berjalan beriringan keluar masjid. Suara basmalah mulai kembali terdengar. Mbak itu mulai membaca dari ayat pertama juz 6 di balik microfon di tangannya. Hm, kalau pagi pagi udah dengerin murottal Al Qur'an tambah semangat ya pasti kerjanya.


"Assalamualaikum" Salam mereka saat memasuki kamar.


"Waalaikum salam" Jawab Lina.


Aisyah berjalan lalu duduk di atas kasur. Sedangkan Dinda Langsung berjalan ke kamar mandi untuk mencuci bajunya. Lina menatap Aisyah yang terdiam menatap layar ponselnya. Ia terdiam.


Dia percaya karena ada bukti. Orang suruhan itu kasih bukti ke Fariz berupa chat. Dan itu emang dari nomor aisyah


Dia kembali menatap Aisyah saat kata kata Iqbal terlintas di pikirannya. "Bukti chat?"


"Aisyah..." Panggilnya. "Gue boleh pinjem hp Lo bentar?"


"Oh iya boleh. Ini,,," Aisyah menyodorkan ponselnya tanpa ragu.


Lina tersenyum. "Makasih"


"Iya"


Lina langsung membuka aplikasi wa. Mencari dan memeriksa satu persatu kontak yang ada di kontak aisyah. Aisyah terus melihat Lina. Entah apa yang gadis itu cari di ponselnya?


Beberapa detik, Lina terdiam saat menemukan kontak berinisial 'S'. "Aisyah ini kontaknya siapa?"


Aisyah memajukan kepalanya. Melihat apa yang di maksud Lina. Dirinya menggeleng bingung. "Ga tau Lin"


"Yakin ga tau?"


"Iya. Soalnya aku ga pernah nyimpen kontak yang cuma aku kasih nama S gitu doang."


"Ini coba lihat nomornya, yakin ga kenal?" Tanya Lina sekali lagi.


Aisyah kembali menggeleng. "Nggak"


"Terus ini kontaknya siapa? Mana Lo di blok lagi" Lina terdiam.


Apa jangan jangan ini itu nomor penculiknya? Tapi kok bisa sih pake ponselnya Aisyah? Lina menggaruk tengkuknya.


"Syah, apa ponsel Lo pernah di pinjem sama temen atau orang lain gitu?" Tanya Lina.


"Pernah"


"Siapa?"


"Itu kamu pinjem ponsel aku"


"Bukan, maksutnya selain gue, Syifa sama Dinda. Temen Lo yang lain"


"Ga deh kayaknya"


"Haa apa ponsel Lo pernah jatuh? Atau hilang?"


"Nggak Lin. Emang ada apa ya?"


Lina menggeleng. "Nggak, ga ada apa apa" Jawabnya dengan kembali mengembalikan ponsel Aisyah. "Makasih ya udah di pinjemin"


"Iya sama sama"


Lina menghela pelan. "Terus kenapa bisa itu kontak kesimpen di ponselnya Aisyah? Duh, ini masalah bener bener bikin gue pusing. Ruwet banget!"


"S...S itu siapa?"


•••••


Syifa mengangkat ember berisi pakaian yang sudah di cucinya dengan sedikit keberatan. Saat dia ingin berjalan ke rooftop pesantren, tak sengaja berpapasan dengan Dinda.


"Dinda Dinda" Panggilnya lincah.


Dinda Tersenyum. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Kebetulan ketemu. Gue mau tanya" Ujar Syifa dengan menurunkan ember di tangannya.


"Apa?"


"Din, gimana ya caranya biar kita tahu jodoh kita siapa?" Tanya Syifa.


Dinda terdiam. Lalu menggeleng. "Nggak tahu aku fa."


"Yah,, terus caranya biar bisa jodoh walaupun ga jodoh gimana?"


"Kalau soal itu udah ada Allah yang ngatur. Tapi kalau kamu lagi suka sama seseorang, lebih baik di doain aja. Sebut namanya, minta Allah agar jaga dia. Siapa tahu kan di kabulin?!"


"Oh gitu,,"


"Iya." Dinda terdiam. "Kak Reyhan ya pasti??" Tebak Dinda.


Syifa menyengir lebar. "Hehe,, tau aja Lo"


"Oh ya udah Din, aku mau jemur baju dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Eh Din, gue doain semoga ada orang yang suka sama Lo dan nama Lo di perjuangin dalam doa" Bisik Syifa.


"Eh Syifa..." Ujar Dinda refleks.


"Di Aminin kek. Kan indah itu kalau beneran."


"Ya Allah, kejauhan itu mikirnya. Yang penting itu pendidikan dulu harus di selesain"


"Iya ya, terserah kamu deh Din" Balas Syifa dengan mengangkat ember nya lalu kembali berjalan pergi. Dinda menatap Syifa dengan hanya geleng geleng kepala.


•••••


فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ


Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

__ADS_1


(At Taghabun : 16)


...******...


__ADS_2