Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Pelaku


__ADS_3

06.35


"Aisyah ayo cepet!!" Teriak Syifa dari luar kamar.


"Iya fa, tunggu bentar" Jawab Aisyah. Aisyah membuka lemari bajunya, mengeluarkan jaket yang diberikan Fariz kemarin. Pake ga ya? Batinnya dengan menatap bingung jaket di tangannya.


"Aisyah ayo cepet,,, sebelum hujannya makin deres" Teriak Syifa lagi.


"Iya iya bentar"


Pake, ga, Pake ga, emmm....Pake aja lah. Batin Aisyah. Lalu ia berlari menuju keluar kamar.


"Bentar fa, aku pake jaket dulu" Ujar Aisyah dengan memakai jaketnya.


Syifa mengerutkan keningnya. "Jaket siapa Syah, kok gue baru lihat?!"


"Jaketku, baru dibeliin kemarin"


"Dibeliin siapa?!"


Aisyah terdiam. "Em,, bukan siapa. Kita berangkat yok"


Syifa mengangguk.


Lantas ia membuka payung dan mereka mulai berjalan menembus derasnya hujan. Payung itu besar, jadi cukup untuk mereka berdua yang memiliki tubuh kecil dan mungil.


"Syah gue duluan ya" Ucap Syifa saat mereka sudah sampai di sekolah.


"Mau kemana" Tanya Aisyah.


"Ke kelas kak reyhan cuma sebentar kok. Duluan ya"


"Iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Syifa pun langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Sedangkan Aisyah berjalan menuju kelas, namun saat ia berjalan dikoridor sekolah, tak sengaja bertemu Dinda yang berdiri. Entah sedang melamun apa.


"Assalamualaikum Din,"


Dinda menoleh, lalu Tersenyum. "Waalaikum salam"


"Kok disini?" Tanya Aisyah.


Dinda menatap halaman sekolah yang sedang diguyur oleh lebatnya hujan, membuat Aisyah juga melakukan hal yang sama. "Ada apa Din?!" Tanya Aisyah.


"Aisyah kamu tahu kalau nabi Muhammad selalu menangis saat hujan turun" Ujar Dinda yang tak mengalihkan pandangannya.


Aisyah mengerutkan keningnya. "Nangis? Kenapa?"


Dinda menghela pelan. "Karena seperti hujanlah, manusia akan jatuh ke dalam api neraka" Jawab Dinda. Aisyah kembali menatap hujan. Membayangkan setetes airnya adalah manusia yang terjatuh ke dalam neraka.


"Dan kamu tahu..." Gumam Dinda.


"Tahu apa?!"


"Kamu tahu malaikat yang tidak pernah tersenyum atau bahkan tertawa"


Aisyah menggeleng.


"Emang malaikat apa?"


"Malaikat mikail"


Aisyah terdiam, menunggu Dinda untuk kembali berbicara. "Malaikat Mikail tidak pernah tersenyum atau tertawa semenjak neraka diciptakan" Ujar Dinda.


•••••


Lina berjalan ke arah mbak Windi. "Mbak tehnya udah jadi?"


"Udah...Ini" Jawab mbak Windi dengan menyodorkan segelas teh hangat. Ah, hujan hujan seperti ini makan nasi goreng ditemani teh hangat. Masyaa Allah nikmatnya. Lina kembali berjalan ke arah meja makan.


Melihat hal itu, Sasa yang kebetulan juga ada dikantin mbak Windi mengambil kesempatan untuk membalas Lina. Ya, gadis yang menurutnya sok jagoan itu. Sasa mengeluarkan kakinya dari dalam meja makan, lalu meluruskan kakinya dan tak lama pun Lina terjatuh. Tersandung oleh kaki Sasa. Apalagi sekarang, pastinya Sasa tertawa puas. Karena Lina terjatuh, gelas yang dibawanya pun ikut terjatuh hingga pecah. Tangannya juga terkena teh yang masih panas.


Lina menatap Sasa juga kedua temannya yang tertawa puas. Emosinya kini memuncak, Lina berdiri lalu menggebrak meja Sasa. Kini mereka pun menjadi pusat perhatian seisi kantin.


"MAU LO APA HA?!" Teriak Lina.


Aisyah, Dinda dan Syifa yang melihat kejadian itu menghampiri Lina.


"Lin sabar lin, Lo dilihatin banyak orang" Ujar Syifa berusaha menenangkan.


"Nggak bisa sabar gue kalau ngadepin dia" Ucap Lina dengan menunjuk Sasa.


"Bilang,,,, Lo mau apa ha?" Ujar Lina.


Sasa berdiri santai. "Makannya jadi orang jangan sok jagoan. Ngerti" Jawab Sasa.


"Wah bener bener ngajak gue perang nih bocah. Mau gue jadiin bubuk rengginang Lo" Kata Lina dengan melipat lengan seragamnya. Belum juga Sasa membuka suara, Lina sudah dulu menjambak rambutnya. Membuat Sasa meringis dengan berusaha melepaskan tangan Lina dari rambutnya.


"Kalian berdua jangan diem aja dong! Tolongin gue" Ujar Sasa kepada Rara dan Carin. Mereka pun segera membantu Sasa.


"Dasar lo" Bentak Sasa dengan mendorong Lina hingga hampir terjatuh. Namun dengan cepat Syifa memegang tubuh Lina, menahannya agar tidak terjatuh.


"Lo nyantai dong kalau jadi orang. Ga usah dorong dorong" Ucap Syifa yang juga mulai tersulut emosi.


"Diem Lo jangan ikut campur ya" Kali ini Rara yang angkat bicara.


"Kenapa ha?!"


"Heh Mak Lampir, Kalau berani ayo sini. Main fisik jangan main licik" Ucap Lina.


"Maksut Lo gue licik" Kata Sasa


"Iya kenapa? Gak terima gue bilang licik"


"Bener bener berengsek Lo." Ujar Sasa lalu menarik hijab Lina. Melihat hal itu Aisyah dan Dinda langsung berusaha memisahkan mereka.


"Enak aja Lo bilang gue genit" Ujar Syifa yang masih berdebat dengan Rara.


"Ya iyalah Lo genit. Kak Reyhan selalu lo godain. Apalagi kalau bukan genit" Timpal Carin.


"Heh Lo sadar diri kak Reyhan itu gak suka Lo kejar kejar kayak gitu. Kak Reyhan juga ga pantes sama Lo"


"Kalau kalian emang iri bilang aja" Ucap Syifa.


"Murahan banget sih Lo" Ucap Rara pedas.


"Mulut Lo jaga ya. Gue bukan perempuan murahan!!!" Bentak Syifa dengan mendorong keras Rara.


"Lo ngapain dorong gue"


"Makannya mulut itu dijaga" Tegas Syifa.


"Emang bener kok Lo itu murahan. Suka genitin kak Reyhan" Ucap Carin dengan mendorong bahu Syifa.


"Lo gak usah ikut campur!!" Syifa mendorong Carin. Dan pada akhirnya mereka saling dorong mendorong, menciptakan sebuah pertikaian.


"Din kamu pisahin Syifa aja" Ujar aisyah yang masih berusaha memisah Lina dan Sasa yang masih sibuk Jambak menjambak. Dinda mengangguk dan segera memisah Syifa dengan Rara dan Carin.


"Din bantuin gue ngadepin duo gendeng ini Din" Ujar Syifa.


"Eh eh, gue gak gila ya. Lo kali yang gila" Ucap Rara berkacak pinggang.


"Kalian aku mohon jangan disini kalau bertengkar. Dilihatin banyak orang" Teriak Dinda yang tak dihiraukan ketiganya.


"Lina Sasa, aku mohon jangan bertengkar. Udah plis..." Ujar Aisyah yang mulai kewalahan memisahkan mereka.


"Lin sa, udaahh..." Teriak Aisyah.


"Urusan gue belum kelar Syah. Dia harus diberi pelajaran" Kata Lina yang tak mau mengalah.


"Lo yang harus gue beri pelajaran. Ni rasain" Ucap Sasa dengan memperkeras tarikannya pada hijab Lina.


"Linaa...sasaaa... Stop!!" Teriak Aisyah lagi menengahi pertengkaran mereka. Namun tanpa sengaja Sasa mendorong keras Aisyah, ya niatnya ingin mendorong Lina tetapi yang ia dorong malah Aisyah. Hingga membuat Aisyah terjatuh dan tangannya terkena pecahan gelas kaca. Hal itu pun mengagetkan lina.


"Ya Allah..." Ringis Aisyah dengan memegangi telapak tangannya yang berdarah.


"Aisyah..." Panggil Lina lalu ia berlari menuju Aisyah. "Syah Lo ga papa"


"Aisyah... " Syifa dan Dinda juga berlari menuju Aisyah.


Mereka mulai panik saat darah yang keluar dari tangan Aisyah masih mengucur deras, hingga darah itu juga menetes di rok Aisyah, menembus lantai. Luka itu tergores beberapa centi ditelapak tangan Aisyah. Perih.


Lina menatap tajam sasa yang masih berdiri.


"Ini semua gara gara Lo" Bentak lina.


"Kok Lo nyalahin gue. Ini juga salah Lo" Ujar Sasa tak mau kalah.


"Lo yang salah tapi gak mau ngaku. Jelas jelas Lo yang dorong Aisyah"


"Gue gak sengaja. Puas Lo!!"


"Tanggung jawab Lo"


"Ogah lah"


Mendengar jawaban Sasa, Lina pun tak tanggung tanggung juga mendorong Sasa. Hingga cek cok kembali terjadi.


"Aisyah..." Fariz tiba tiba datang. "Lo ga papa?" Tanya fariz. Melihat Aisyah yang merasa kesakitan, Fariz pun menjadi tak tega.

__ADS_1


"KALIAN STOP!!" Bentaknya pada Lina dan Sasa. "Kalian ga lihat Aisyah yang jadi korban. Kalau mau bertengkar jangan disini." Tegas Fariz lagi membuat semuanya terdiam.


"Ayok gue anter ke UKS" Ujar Fariz lembut. Syifa dan Dinda membantu Aisyah berdiri.


"Kalian disini aja, beresin pecahan gelasnya. Biar orang lain juga ga kena, gue yang bakal urus Aisyah" Ujar Fariz. Mereka berdua langsung berjalan menuju UKS, tak peduli bahwa saat ini mereka menjadi pusat perhatian.


•••••


"Assalamualaikum" Ucap Dinda membuat Fariz dan Aisyah menoleh ke arah pintu UKS.


"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.


Dinda berjalan mendekati Aisyah. "Syah, gimana tangan kamu?"


"Alhamdulillah, udah lebih baik. Tadi udah diobatin kok" Jawab Aisyah.


"Alhamdulillah kalau gitu" Kata Dinda. "Ya udah Syah aku pergi dulu ya"


Aisyah memegang pergelangan tangan Dinda. "Mau kemana?"


"Mau bersihin toilet"


Aisyah mengerutkan keningnya. "Ngapain bersihin toilet"


"Dihukum sama Bu Desi, gara gara tadi" Jawab Dinda jujur.


"Tapi kan kamu ga salah"


Dinda terdiam. "Ya udah lah ga papa" Ucapnya dengan tersenyum.


Aisyah menatap Dinda. "Kalau kamu dihukum aku juga harus dihukum" Katanya.


"Jangan Syah, tangan kamu masih sakit kan"


"Ga papa. Lagi pula ini udah di obatin."


"Aisyah kalau tangan Lo masih sakit jangan dipaksain" Ujar Fariz.


"Ga papa kok kak. Tangan aku udah mendingan"


"Syah mendingan ga usah deh" Ujar Dinda.


"Din, ini namanya ga adil kalau kamu dihukum tapi akunya ga. Kita harus sama sama menjalani hukuman ini. Walaupun sebenarnya kita ga salah" Ucap Aisyah meyakinkan.


"Aisyah tapi tangan kamu."


"Din..." Aisyah mengangguk, menandakan bahwa dirinya baik baik saja. "Boleh ya" Ucap Aisyah dengan memandangi mereka berdua secara bergantian.


Mereka berdua terdiam. "Lo yakin, tangan Lo ga papa kalau Lo bersihin toilet"


Aisyah mengangguk mantap. "Ga papa"


Fariz kembali terdiam. Kenapa juga Aisyah harus ikut ikutan dihukum. Dia hanya menjadi korban. Ah, teman temannya memang hanya bisa merepotkan.


Fariz menghela pelan. "Kalau Lo yakin, ya udah ga papa. Tapi hati hati ya"


Aisyah tersenyum. "Iya. Makasih ya kak. Ya udah kalau gitu kita pergi dulu."


Fariz mengangguk.


"Assalamualaikum" Ujar Dinda dan aisyah.


"Waalaikum salam" Jawab Fariz. Mereka pun segera pergi dari ruang UKS dan berjalan menuju toilet.


"Din, kok kita lewat sini?" Tanya Aisyah saat mereka sudah setengah perjalanan.


"Iya. Kita disuruh bersihin toilet laki laki"


Aisyah terdiam. Kenapa harus toilet laki laki? Dari jarak jauh pun mereka sudah melihat Bu desi yang sedang mengomel.


"Ayo cepet bersihin" Perintah Bu Desi.


"Bu ini bau banget sumpah" Ujar Lina dengan menutup hidungnya.


"Iya Bu,, ini juga. iuh jorok banget Bu" Ucap Rara. Lebay.


"Kalian belum apa apa udah ngomel" Kata Bu Desi.


"Tapi Bu, ini itu bau banget. Saya ga bisa bersihin ini" Timpal Sasa.


"Ya makannya itu kalian ibu suruh bersihin toilet. Biar toiletnya bisa wangi lagi" Jawab Bu Desi.


"Yah ibu,,, saya ga sanggup Bu kalau harus bersihin ni toilet. Udah jorok bau lagi" Keluh carin.


"Mau ibu tambahin hukuman kalian?!" Gertak Bu Desi. "Kalau kalian ga mau bersihin, setidaknya jangan buat masalah. Ngerti kalian"


Seketika semuanya langsung terdiam mendengar perkataan Bu Desi. "Assalamualaikum" Ujar Aisyah dan Dinda.


"Waalaikum salam. Aisyah gimana tangan kamu, ibu denger tangan kamu berdarah" Ucap Bu Desi.


"Terus ngapain kamu ke sini. Di UKS aja gih"


Aisyah menggeleng. "Saya mau ikut bersihin toilet Bu" Jawab Aisyah.


"Lho Syah, nggak usah. Tangan Lo masih sakit itu" Timpal Lina.


"Udah ga papa kok. Boleh kan Bu?" Tanya Aisyah dengan menatap Bu Desi.


"Ya udah ga papa" Jawab Bu Desi. "Ayo kalian cepat bersihkan toilet sesuai yang ibu tentuin. Aisyah kamu bersihkan toilet bareng Dinda ya" Ujar Bu Desi. Aisyah mengangguk


"Yang bersih, nanti ibu akan balik lagi kesini" Tegas Bu Desi, lalu melangkah pergi. Menyisakan mereka yang berdiri lemas.


"Hueek,,, bau banget sumpah" Gumam Sasa dengan menatap jijik toiletnya.


Mereka pun segera membersihkan toiletnya. "Sumpah laki laki jorok banget sih" Ucap Syifa saat mereka membersihkan toilet.


"Iya,, sampe bau gini" Timpal Lina dengan mengibas-ngibaskan tangannya didepan hidungnya.


"Eh Lin,,, ini itu kayak bau jengkol ga sih" Kata Syifa. Lina terdiam. Jengkol? Apa semua ini karena Iqbal? Lina berdecak sebal. Ah, Lina kan sengaja memberinya jengkol agar Iqbal dihukum untuk membersihkan toilet laki laki, lalu kenapa malah dirinya yang melakukan hal itu. Nasib oh nasib.


•••••


"IQBALL" Teriak Lina dengan berlari ke arah Iqbal.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Ada apa?!" Tanya Iqbal


"Lo gimana sih, kencing Lo itu bau. Kenapa masih buang air kecil di toilet" Ketus Lina.


Iqbal mengerutkan keningnya. "Ga jelas banget sih Lo jadi orang. Dateng Dateng langsung marah"


"Ya gimana gue gak marah, Lo yang ulah gue yang disuruh bersihin. Bau tau ga"


"Kok Lo nyalahin gue. Heh toilet bau itu bukan ulah gue. Sembarangan aja Lo"


"Itu tu karena Lo, Lo yang makan jeng..."


"Jeng apa?!" Tanya Iqbal.


Tuh kan, hampir aja gue keceplosan...


"Ah udah lupain aja. Pokonya gara gara Lo makan itu toiletnya jadi bau"


"Jeng apa?!" Tanya Iqbal yang masih penasaran.


"Jeng...."


Iqbal menaikkan kedua alisnya


"Emm,,, jeng..." Gumam Lina. "Jeng jeng jeng"


Iqbal menyentil dahi Lina. "Awww...Apaan sih Lo"


"Jeng jeng jeng, Upin Ipin jeng jeng jeng. Mana ada makanan namanya jeng jeng jeng. Ngawur Lo" Ucap iqbal kesal, lalu ia melangkah pergi dari hadapan Lina.


•••••


Setelah sholat isya' selesai dilaksanakan, para santriwan dan santriwati dipersilahkan untuk makan malam.


"Baik sebelum kita makan alangkah baiknya kita membaca doa terlebih dahulu" Ucap ustadzah Rina. Seketika semua santriwati membaca doa sebelum makan. Setelah itu mulai melahap makanannya dengan nikmat. Ya, walaupun sangat sederhana, namun kebersamaan itulah yang menambah cita rasa tersendiri saat makan bersama di pesantren.


"Pelan pelan kenapa sih fa. Nanti bisa kesedak" Kata Lina.


"Gwe lwapwer" Jawab Syifa dengan nasi yang masih di dalam mulut.


Lina memukul bahu Syifa, membuat Syifa menjadi tersedak. Dengan cepat cepat Syifa mengambil minumannya lalu meneguknya hingga habis.


"Tuh kan, gue bilang juga apa. Kesedek kan"


"Gue kesedak gara gara Lo" Ucap Syifa berkacak pinggang.


"Gue mukul lo cuma mau ngingetin, kalau makan jangan sambil bicara"


"Lah ini,,, Lo bicara" Kata Syifa.


Lina berdecih. "Ya Lo nasi masih penuh dimulut malah ngomong" Ujar Lina.


Aisyah menatap bi irah yang sembari tadi berdiri menatap santriwati dengan senyuman.


"Mau kemana Syah?" Tanya Dinda yang melihat Aisyah hendak berdiri.


"Mau ngomong sebentar sama Bi irah" Jawabnya lalu berdiri dan berjalan menuju Bi irah.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Eh neng Aisyah." Jawab bi irah.


"Bi irah ga papa kan?!"


"Ga papa"


"Tapi kok bi irah kelihatan pucet gitu. Kecepean ya?!"


Bi irah menggeleng pelan. "Udah biasa"


"Bi irah istirahat aja ya, nanti kalau bi irah sakit gimana?!" Ucap Aisyah. "Aisyah anterin ke kamar ya"


"Ga usah neng. Bi irah ga papa" Jawabnya.


"Ga boleh gitu bi. Pasti bi irah kecapean banget, setiap hari masak buat santri disini. Maafin Aisyah ya, ga bisa bantuin Bi irah masak setiap hari."


"Eh neng ga usah minta maaf. Neng Aisyah ga salah"


"Ya udah bi, ke kamar ya. Istirahat" Ucap Aisyah. Bi irah terdiam dengan menatap gadis remaja di hadapannya.


Bi irah mengangguk. "Iya" Aisyah tersenyum lalu mengantarkan bi irah menuju kamarnya.


"Istirahat ya bi. Jangan sampe sakit" Ucap Aisyah saat mereka sudah sampai di kamar.


Bi irah tersenyum. "Makasih ya neng, udah perhatian sama bibi. Bi irah malah jadi keinget sama anak bibi di desa"


"Iya bi. Aisyah pamit dulu ya bi. Oh ya, bi irah Udah makan?"


"Udah"


"Syukurlah kalau gitu. Aisyah duluan bi. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


•••••


"Assalamualaikum" Ujar Syifa dengan memasuki kelas 12 MIPA 2.


"Kok sepi. Pada kemana" Gumamnya. Seperti biasa, ia kan membawakan makanan kepada Reyhan.


Syifa melangkah pelan menuju meja Reyhan. "Kak Reyhan, yuhuuu. Kak Reyhan dimana!!" Teriaknya dengan mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Syifa berdecak sebal. Padahal dia sangat ingin bertemu Reyhan. Ah, laki laki itu mampu membuatnya rindu walau hanya sekejap.


Tatapannya berhenti pada sebuah foto berbentuk persegi yang ada dilantai. Tepat dibawah meja Reyhan. Syifa mengambilnya, nampak sebuah perempuan berhijab dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dia mengenakan baju pramugari. Kulitnya putih bersih, sangat cantik dengan senyumannya yang begitu merekah. Dan sepertinya itu adalah foto lama.


"Siapa ya? Cantik banget" Ujar Syifa dengan mengamati wajah perempuan tersebut. "Kayaknya dia pramugari deh. Semoga aja gue bisa kayak wanita ini"


"Ehem,,, ehem"


Syifa menoleh.


Nampak Reyhan berdiri di hadapannya, dengan gaya khas dari laki laki tersebut. "Ngapain?" Tanya nya dengan muka dingin.


"In-ini.."


Reyhan menatap foto yang ada ditangan Syifa, lalu mengambilnya.


"Jangan lancang kalau jadi orang"


"Ee,, bu-bukan maksut aku bu-buat lancang. Itu...itu tadi aku ga sengaja Nemu. Fotonya jatuh dibawah" Jelas Syifa. "Tadi aku kesini mau nganterin ini buat kak Reyhan"


Syifa meletakkan bekalnya di meja Reyhan. "Jangan lupa dimakan ya kak. Aku pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Syifa melangkah pergi dari kelas reyhan. Walau, Sebenarnya, ia ingin sekali menanyakan siapa wanita dalam foto tersebut.


•••••


"Du ddu du Du ddu aye aye..."


Iqbal menutupi kedua telinganya. "Sumpah Lo Lang bisa diem ga? Suara Lo udah kayak kadal kejepit" Ujar Iqbal.


"Biarin" Jawab Gilang acuh tak acuh.


"Oh Paijo oh Paijo, kau ganteng sekali. Berkokok lantang dan indah, sepanjang pagi. Aku ingin menemani sepanjang waktu, Bersamamu lagi menari nari" Nyanyi Ojit.


"Lo juga jit bisa diem ga? Yang diurusin Paijo Mulu heran gue" Kata Iqbal kesal.


"Lo juga mau gue nyanyiin?!" Tanya Ojit.


"Gak,, gak. Gak usah"


"Woho Iqbaal,, woho Iqbaal,, kau jelek sekali" Ujar Ojit. Iqbal melotot tak terima. "Ngomel terus tiada henti,,, sepanjang hari. Aku ingin memukulmu,,, Awww,,"


"Yang ado Lo yang gue pukul" Ketus Iqbal.


Ojit mengelus kepalanya. "Sakit woy"


"Woy Lang, bisa matiin musiknya ga. Berisik banget sumpah" Teriak Iqbal.


"Nanti bal, ini bagus banget musiknya"


Iqbal yang sudah tak tahan lagi langsung merampas ponsel milik Gilang. Lalu mematikan musiknya.


Gilang berdecak sebal. "Kalau Lo kecanduan lagu blackpink baru tau rasa Lo. Lagunya enak enak tau"


"Ya thoiba ya thoiba...." Gumam iqbal.


"Apalagi kalau Lo udah tahu siapa anggotanya haduuh. Heh Lisa itu, mantep banget. Udah cantik huh body nya"


"Heh, inget akhirat. Jangan yang dilihat yang buka aurat terus. Dosa. Tau dosa ga sih Lo" Timpal Ojit.


"Noh si Ojit aja tau. Selera yang tinggi dikit kek. Yang ukhty ukhty, pake cadar yang nutupin aurat, yang bisa jaga harga diri. Itu namanya wanita level tinggi. Selera Lo yang buka aurat, yang sukanya goyang ga jelas. Apaan"


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.


Lina berjalan menuju Iqbal. "Nih" Ujarnya dengan menaruh kotak bekal di meja Iqbal. "Lengkap sama kerupuknya"


"Oke. Thanks" Ucap iqbal.


"Oo yang Lo maksut ukhty ukhty itu kayak dia.." Ucap Iqbal dengan menunjuk Lina.


"Apaan dah Lo..."


"Eh lo..."


"Gue?!" Tanya Lina dengan menunjuk dirinya.


"Iya Lo, Lo itu seleranya Iqbal" Jawab Gilang.


"Eh eh, sembarangan aja Lo. Gue bilangnya ukhty ukhty, yang kalem. Lha ini aja judesnya minta ampun, kayak macan betina" Kata Iqbal.


"Enak aja Lo kalo ngomong" Ketus lina.


"Ya emang bener. Udah Lo mendingan pergi" Usir Iqbal.


"Iya,,, lagi pula mana betah gue disini. Banyak virus" Ujar Lina dengan memutar bola matanya.


"Ya udah sana"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Lina berjalan keluar kelas. "Tuh kan, nyebelin banget tu bocah" Gumam Iqbal.


Iqbal membuka kotak bekalnya. Membuat Gilang dan Ojit terdiam. Iqbal melahap makanannya tak lupa juga dengan kerupuknya.


Gilang menggebrak meja, Iqbal yang terkejut pun menjadi tersedak. Secara refleks ia memukul Gilang. Dengan cepat Iqbal menelan makanannya. "Lo bisa ga sih jangan bikin gue kaget" Ujarnya.


"Selama ini Lo makan jengkol?" Tanya Gilang nyolot.


"Nggak"


"Lah ini apa?!"


"Ini nasi" Jawab iqbal.


"Iya yang Lo makan ini nasi yang ini namanya jengkol" Jelas Gilang.


"OOO,, jadi ini namanya jengkol"


"Iya. Jadi Lo selama ini suka makan jengkol?!"


"Iya"


"Gue tanya sekali lagi. Lo sering makan jengkol"


"Iya"


Gilang kembali menggebrak meja. "Eh buset, kasian mejanya ga salah apa apa" Timpal Ojit.


"Iya,, maaf ya meja" Gumam Gilang dengan mengelus lembut meja. Lalu ia kembali menatap Iqbal.


"Berarti selama ini toilet bau itu gara gara Lo?"


"Apaan dah, kok Lo malah nuduh gue"

__ADS_1


"Ya soalnya toilet itu bau jengkol. Dan Lo,,, Lo yang sering makan jengkol. Berarti Lo pelakunya!!" Teriak Gilang.


...********...


__ADS_2