Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Aku Emang Jahat


__ADS_3

Malam benar benar tiba. Sebagian murid ada yang menghabiskan waktunya di dalam tenda, entah sedang apa. Dan sebagian yang lain, sedang asik membakar jagung. Tadi, Bu Mira datang dengan membawakan jagung mentah untuk di bakar. Pasti kalau malam malam begini, dengan udara yang dingin lebih enak bila di nikmati.


Di dalam tenda, Umpil sedang mengoleskan masker putih yang ia bawa dari rumah. "Mau maskeran juga Syah?" Tawarnya namun Aisyah menolak. Dia sangat anti dengan hal hal yang berkaitan dengan kecantikan. Mungkin ia hanya menggunakan cuci muka untuk membersihkan wajahnya. Selain itu, dia tidak memakai apapun. Sekalipun itu bedak.


Aisyah keluar dari tenda dengan sepatu Fariz yang ada di tangannya. Ia mengedarkan pandangannya. Melihat Fariz yang sedang duduk membakar jagung bersama teman temannya. Tentu saja di sampingnya duduk seorang Ghea. Aisyah melangkah ke arah mereka.


"Assalamualaikum"


Mereka menoleh. "Waalaikum salam" Jawab mereka kompak. Aisyah mengulum senyum, sedang Ghea memutar bola matanya malas.


"Kak,, ini sepatu nya" Aisyah menyodorkan sepatu dengan kedua tangannya. "Makasih ya"


Fariz mengambilnya dengan sikapnya yang masih dingin kepada Aisyah. "Eh dek, mau gabung sama kita? Yuk...!" Ajak Kak Ayu.


Aisyah melirik Fariz, lalu beralih ke Ghea yang menatap Aisyah tidak suka. Aisyah kembali melihat ke arah kak ayu. "Terima kasih kak sebelumnya. Tapi maaf Aisyah ga bisa. Aisyah mau balik ke tenda aja. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab semuanya.


Aisyah membalikkan badan, berjalan menjauh dari mereka. "Riz,, kenapa sepatu Lo ada di dia?" Tanya Ghea tidak suka.


"Tadi sandal Aisyah jebol. Makannya gue pinjemin Sepatu." Jawab Fariz


"Biarin aja kenapa sih. Peduli banget Lo. Emang Aisyah peduli apa sama Lo?? Jangan lupa sama apa yang Aisyah lakuin sama Lo Riz"


Fariz menghela pelan. "Gue di sini buat jagain adik kelas. Bukan buat bahas masalah pribadi" Balas Fariz membuat Ghea menghembuskan nafas kasar. Tak suka bila Fariz masih menaruh perhatian pada gadis itu.


Aisyah terus melangkah. "Syah..." Sontak ia langsung menghentikan langkahnya saat Devan secara mendadak ada di hadapannya.


"Mau bakar bakar sama gue?" Tanya Devan.


Aisyah menggeleng.


"Yakin? Enak lho ini jagungnya. Coba bilang sama gue, udah berapa lama Lo ga makan jagung bakar?"


Aisyah terdiam. Terakhir,, dia memakan jagung bakar kapan ya? Sudah lama, sebelum dia masuk ke pesantren mungkin.


Aisyah menggeleng tidak tahu. "Udah lama kan?" Tanya Devan.


"Iya kak"


"Iya makannya ayok. Kalau ada kesempatan itu jangan di sia-sia in. Sebelum jagungnya habis lhoh di makan sama temen temen Lo"


"Syah..."


Aisyah menoleh. Ia melotot kaget begitupun dengan Devan. Umpil datang dengan wajahnya yang memakai masker putih. Belum lagi dia juga menggunakan selimut putih sebagai penutup kepalanya. "Ya Allah umpiil..." Ucap Aisyah kaget.


"Syah, Lo funya air??" Tanya Umpil yang enggan membuka lebar mulutnya karena takut maskernya retak.


"Di dalam tenda itu ada air. Tapi air mineral"


"Oh. Oke..." Umpil memutar badannya 90 derajat. Hendak kembali ke tenda. Namun suara pekikan orang ketakutan membuat perhatian mereka teralihkan. Tiga gadis dari kelas lain itu berlari takut. Membuat beberapa pasang mata menatapnya bingung. "Waah,, ada afa ini?" Gumam Umpil bertanya tanya. Tanpa berpikir panjang, Umpil langsung berlari mendekati mereka. Begitupun dengan Aisyah dan Devan yang ikut berlari penasaran. Beberapa orang yang melihat Umpil langsung menunjukkan ekspresi antara kaget dan takut.


"Weh Weh,, ada afa?" Tanya Umpil pada seorang gadis yang berlari. Namun bukannya menjawab, dia malah tambah berteriak ketakutan melihat wajah Umpil. Dengan berteriak menyebut nama setan, dan langsung mendorong keras Umpil hingga terjatuh.


"HADOOOHH..." Pekik Umpil kesakitan.


Aisyah menghela pelan. "Haduh Umpil, mereka lagi takut malah kamu datang. Tambah takut kan" Gumamnya.


Umpil meraba wajahnya. "Haduuuh,, masker gue retak..." Rengeknya sedih.


Aisyah mengulurkan tangan. "Sini aku bantu berdiri"


Umpil meraih tangan Aisyah. Dia berdiri dengan memegangi pinggangnya. "Haduhh,,, bokong gue Syah. Sakiiit!!"


"Umpil,,, basuh dulu gih masker kamu. Nakut nakutin orang" Balas Aisyah.


"Lhah ini juga mau gue basuh"


"Yaelaaah,, camping aja masih sempet maskeran" Ujar salah seorang laki laki.


"Ape Lo??" Tanya Umpil nyolot.


"Udah Umpil,, aku ambilin air dulu" Ucap Aisyah dengan berjalan ke tendanya. Sedangkan Devan berjalan mendekati ketiga adik kelasnya yang tadinya ketakutan.


"Ada apa?" Tanya nya.


"Haduh kak,, itu di tenda kita tadi ada ular." Jawab salah satunya.


"Ular??"


"Iya..."


"Ada apa Van?" Tanya kak Reza yang datang.


"Itu ada ular di tanda mereka. Tolong Lo cek. Pastikan semua baik baik aja..."


"Tenda kalian yang mana?" Tanya kak Reza pada ketiga gadis itu.


"Itu kak,, yang sebelah situ"


Reza melihat ke arah tenda yang di tunjuk perempuan tersebut. Dia mengangguk lalu berjalan ke arah tenda itu.


"Dinda mana? Kok ga ikut lari?" Tanya seorang perempuan pada temannya.


"Lhah iya, berani banget dia ga pergi. Ih, gue aja ngeri banget liat ularnya."


Devan menatap mereka berdua, lalu beralih ke salah seorang gadis yang tengah menutupi wajahnya. "Udah Lo ga usah khawatir. Yang penting Lo ga papa kan?!" Ujar Devan.


"Ada hantu kak,,, takuut..." Ucapnya gemetaran.


"Ga ada yang namanya hantu. Lihat aja sendiri"


Gadis itu menyingkirkan tangan yang sedari tadi menutup wajah nya. Devan melirik ke arah Umpil yang sedang membasuh wajahnya di bantu dengan Aisyah. "Tuh kan. Manusia itu..." Ucapnya lagi.


"Tapi kak,, yang tadi itu putih banget mukanya. Mana mukanya kayak retak retak gitu. Dia juga melotot. Pokoknya serem" Mendengar jawaban itu Devan hanya bisa geleng geleng kepala.


"Udah jangan takut. Gue pergi dulu ya"


"Iya kak"


Devan melangkah pergi. Dia menghentikan langkah saat sampai di depan Umpil. "Lain kali ga usah maskeran lagi. Kasian temen Lo ketakutan"


"Yah kak,, itu wajib tau. Saya harus tetep maskeran. Biar wajah kinclong" Jawab Umpil santai.


"Kak,, tadi kenapa mereka ketakutan gitu?" Tanya Aisyah yang berdiri di samping Umpil.


"Ada ular di tendanya" Jawab Devan lalu berjalan pergi menyusul Reza. Aisyah menyipitkan matanya saat melihat Devan berhenti di depan salah satu tenda. "Itu kan tendanya Dinda kalau ga salah ya." Gumamnya.


Aisyah mengedarkan pandangannya. Dia langsung berlari ke arah tenda saat gadis yang di carinya tidak ada di luar. Bertepatan saat dia sampai, Dinda keluar dari tenda dengan masih memakai mukenanya.


"Din...." Panggil Aisyah.


"Aisyah?"


"Kamu ga papa?"


"Nggak kok"


"Alhamdulillah kalau gitu. Di tenda kamu tadi ada ular ya?"


Dinda mengangguk. "Tadi lewat di sajadah aku pas lagi sholat"


Aisyah menganga. "Oi ya? Terus gimana?"


"Gimana apanya. Ya udah aku lanjutin sholat, yang ularnya lanjutin jalan"


"Ga takut ya Din?"


"Kalau di bilang takut sih ada. Kaget juga tadi. Tapi ya gimana, ga mungkin juga kan aku harus batalin sholat terus ikutan lari"


Aisyah terdiam. Dia melihat beberapa laki laki yang mulai datang dan ikutan untuk menangkap ular. "Kok bisa ya ada ular. Padahal ini hutannya di rawat kan"


Dinda tersenyum. "Ya bisa lah. Di rumah aja yang selalu di huni, di bersihin, di rawat kadang ada ular. Apalagi di hutan kayak gini."


"Dindaaaa...." Sasa berhenti di depan mereka dengan nafas sedikit ngos-ngosan. "Lo ga papa?"


"Alhamdulillah, nggak papa"


Sasa terdiam menatap Dinda. "Habis sholat ya?"


Dinda mengangguk.


"Emang ga takut ya? Kalau gue jadi Lo udah lari duluan. Kalau di gigit gimana?" Lanjut Sasa.


Dinda tersenyum menghela pelan. "Dulu,, orang kalau sholat itu khusyu'nya Masya Allah. Mereka bisa bener bener merasakan gimana nikmatnya sholat itu, gimana Deket sama Tuhannya. Bahkan ada yang walaupun dalam keadaan genting, dia tetep ngelanjutin sholatnya. Ga peduli mau mati, atau mau terluka. Bahkan ada yang kena pedang, tapi tetep mereka melanjutkan sholatnya. Menahan rasa sakitnya. Beda banget sama orang sekarang"


"Sholat hanya di jadikan sebagai syarat. Kalau udah sholat ya udah, ga peduli sholatnya bener apa nggak, ga peduli sholatnya bakal di terima apa nggak. Ya udah yang penting udah ibadah gitu. Mikirnya gini, ya udah lah sholat dari pada nggak. Orang zaman sekarang belum memahami apa arti sholat sebenarnya. Orang sekarang itu, tubuhnya sholat untuk Allah, tapi ga dengan hati dan pikirannya. Aku tahu betul orang sekarang kalau sholat susah buat mengerahkan semua isi hati dan pikirannya untuk Allah. Kadang mereka masih memikirkan dunia, padahal dia lagi menunaikan ibadah untuk akhirat nya. Mereka belum bisa bener bener merasakan gimana nikmatnya sholat itu" Lanjut Dinda.

__ADS_1


"Jadi,,, aku berusaha buat niru sholatnya orang dulu. Sholat yang bener bener semuanya untuk Allah, bukan hanya di jadikan syarat. Tadi aja cuma ular lhoh yang lewat, apa iya aku juga harus lari. Padahal yang memberi keselamatan itu yang sedang aku sembah saat ini. Jadi,, apapun keadaannya harus berusaha buat tetap khusyu dan tenang. Itu belum sebanding sama keadaan orang zaman dulu ataupun keadaan orang Palestina saat ini. Beruntung kita ibadah itu tenang, bisa milih di mana aja. Di masjid, di mushola atau di rumah. Jadi, harus di manfaatin sebaik baiknya. Karena itu suatu hal yang harus benar benar kita harus syukuri."


Aisyah dan Sasa hanya terdiam mendengarkan. Dinda merapikan kerudung Sasa. "Sa,,, kalau pakai kerudung itu harus nutupin dada." Ucap Dinda lembut.


Sasa termangu. "Harus ya?"


Dinda mengangguk.


"Aurat" Jawabnya. "Jangan jadikan hijab itu sebagai sebuah gaya. Kalau mau berhijab, di lurusin dulu niatnya. Untuk nutupin aurat." Dinda menghela panjang. "Karena banyak saat ini aku lihat orang pake hijab tapi di lilitin di leher. Auratnya kelihatan. Adalagi yang Astaghfirullah,,,, dia pake celana yang ketat, pake kalung, dan joget joget di media sosial. Padahal orang yang berpakaian tipis dan ketat sama saja dengan berpakaian tapi telanjang. Dan orang seperti itu tidak bisa mencium bau syurga. Tapi sayangnya orang sekarang itu, lebih mementingkan terlihat cantik di mata manusia dari pada terlihat cantik di mata Allah. Nauzubillah..."


"Tapi gua ga tahu kalau ternyata dada itu aurat Din. Gimana? Dosa ya?" Tanya Sasa.


"Kalau ga tahu In Syaa Allah ga papa"


"WEH WEH....GUE DAPET ULARNYA CUY!! HUHUUU.." Pekik seorang laki laki.


Aisyah menoleh dengan melotot kaget. Dia langsung berlari pergi menjauh karena ketakutan.


"Sini sini,, coba gue yang pegang" Ucap salah satunya.


"Ah, nanti gantian gue....cocok ini kalau di ajak Poto" Sahut yang lainnya.


Aisyah hanya bisa melihat antara ngeri dan heran. Ngeri karena melihat ular dengan ukuran yang cukup besar. "Mereka kok malah senengen ya pegang ular" Gumam Aisyah heran.


"Syah,, udah ketemu ya ularnya?" Tanya Umpil yang tiba tiba datang.


"Iya"


"Wuih...gede juga," Ucapnya kagum. "Ikutan megang ah..."


Aisyah langsung memegang pergelangan tangan Umpil. "Jangan Umpil"


"Lhah kenapa?"


"Bahaya..."


"Eh eh eh,,, kalian. jangan di buat mainan kayak gitu. Cepet masukin ke sini!!" Perintah kak Reza dengan menyodorkan karung.


"Bentar eh kak,, mau tak ajak selfie dulu ini ularnya"


"Itu bahaya!! cepet masukin!!"


Lelaki itu menghela pelan. Mau tak mau dia harus memasukkan ularnya di karung yang di pegang oleh kak Reza. "Kak kak,, gini gini gue jomblo. Kalau ga ular yang gue ajak selfie siapa? Cewek juga ga punya" Ujarnya pelan.


Kak Reza geleng geleng kepala. "Ngenes banget ya Lo. Sabar sabar. Gue saranin sebelum ngarep dapat cewek, rawat dulu tu muka."


•••••


Aisyah membuka matanya. Dia menatap ke arah atas. Sedari tadi matanya sulit untuk terpejam. "Aduuuhh,, kok ga bisa tidur ya..."


Aisyah mendudukkan dirinya. Dia melihat Kania, Umpil dan Sasa yang sudah tertidur lelap.


Tak lama, dirinya terkejut saat sebuah batu kecil terlempar dari arah luar hingga mengenai tendanya. Dan itu terdengar hingga tiga kali. Siapa malam malam begini yang melempar batu ke tendanya?


Aisyah membuka tenda. Ia mencondongkan kepalanya ke arah luar. "Aisyah..." Panggil Ghea dengan berjalan mendekat ke arahnya. "Untung Lo bangun"


Aisyah mengerutkan keningnya bingung. "Mbak Ghea. Ada apa?"


"Syah tolong anterin gue ke toilet ya. Plisss, kebelet banget ini"


Aisyah terdiam. "Pliss Syah ya. Semuanya udah pada tidur" Lanjut Ghea.


Sebenarnya beberapa pertanyaan muncul di benak pikiran aisyah? Mengapa harus dirinya hingga Ghea bersusah payah membangunkan dengan melempari batu ke arah tendanya? Kenapa tidak kak ayu yang satu tenda? Namun apapun itu, Aisyah berusaha untuk berpikiran yang positif terhadap Ghea.


Aisyah tersenyum. "Iya mbak" Dia dengan cepat memakai sepatu lalu berdiri.


"Makasih ya Syah"


Aisyah mengangguk. "Iya mbak, sama sama"


"Ya udah, kita jalannya cepet ya. Gue udah kebelet banget"


Ghea langsung berjalan cepat di ikuti dengan Aisyah. Perlahan, mereka mulai menjauh dari tempat camping. Aisyah menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah sedikit bingung.


"Mbak..."


Ghea menoleh. "iya?"


"Mbak ini bener ya jalannya. Kayaknya bukan deh"


Beberapa menit setelah berjalan. Pikiran Aisyah kembali di buat bingung. Katanya lebih dekat, namun ia rasa sedari tadi dirinya hanya di ajak berputar putar oleh Ghea.


"Syah,, kalung gue jatuh" Ujar Ghea.


"Di mana mbak?"


"Coba cari di sana, gue cari di sini"


Aisyah mengangguk. Dia berjalan beberapa langkah ke depan dengan badan yang agak di bungkukkan. "Kalung mbak kayak gimana ya?"


"Bandulnya bentuk bebek" Jawab Ghea.


Mereka kembali mencari. "Duuh,,, gimana ini. terus cari di sana Syah" Ucap Ghea.


Aisyah kembali melangkah maju. Matanya fokus melihat bawah. Beberapa saat dia berjongkok. Tangannya mengambil benda warna emas dengan bandul bebek. Aisyah tersenyum, dia berdiri. "Mbak, kalungnya ketemu...." Ujarnya dengan membalikkan badan.


Senyumnya menghilang saat Ghea tidak ada di pendangan kedua matanya. "MBAK!! MBAK GHEA KALUNGNYA UDAH KETEMU" Teriaknya. "MBAK DI MANA?"


Aisyah kembali membalikkan badan. Dia berjalan beberapa langkah ke kanan. Mencari akan keberadaan ghea. Tiba tiba, ada seseorang yang menepuk pundak Aisyah. "Mbak ghe..."


Aisyah terdiam. Mengetahui bukan orang yang diharapkan yang datang. "Sasa?"


"Sasa kok kamu bisa ada di sini?" Tanya Aisyah.


"Iya. Gue tadi ngikutin Lo. Habisnya,,, tengah malam gini pergi bikin khawatir aja" Jawab Sasa. "Gue tadi mau bangun waktu denger sesuatu. Tapi Lo udah bangun duluan buat ngecek. Dan Lo malah pergi sama kak Ghea. Ya udah gue ikutin aja"


"Oh gitu. Tapi kamu lihat mbak Ghea ga?"


"Kak Ghea udah pergi waktu kamu sibuk tadi. Lagi nyari apa sih?"


"Kalung." Jawab Aisyah. "Mbak Ghea pergi ke mana?"


"Gue ga tahu. Tapi kayaknya balik lagi ke tempat camping deh"


Aisyah menghela panjang. "Oh kalau gitu, mendingan kita balik aja ya"


Sasa mengangguk. "Gue tadi lihat kak Ghea pergi lewat sana. Jadi mungkin arah ke camping di sebelah sana"


"Iya"


Sasa dan Aisyah langsung berjalan pergi. Dengan di bantu bekal penerangan oleh senter ponsel milik Sasa. Beberapa menit berjalan, Aisyah menghentikan langkahnya. "Bener ya sa arah pulang ke sini?"


Sasa menggaruk tengkuknya bingung. "Gue juga ga tahu Syah. Gue ga tahu wilayah hutan ini..."


"Ya Allah, aku juga ga tahu. Gimana ini sa?"


"Coba kita jalan lagi. Emm,, ini belok kanan aja" Ucapnya saat mereka di bingungkan oleh belokan antara kanan dan kiri.


Sudah beberapa lama mereka berjalan, namun tetap saja. Mereka tidak kunjung sampai. Jalan yang mereka lewati sudah di pastikan salah. "Salah jalan kayaknya kita Syah" Ucap Sasa yang mulai panik.


"Kita berhenti dulu ya. Aku udah capek muter muter"


Sasa mengangguk. Dia dan Aisyah duduk di bawah salah satu pohon yang ada di sana. "Syah..."Panggil Sasa.


"Iya?"


"Kayaknya kak Ghea sengaja deh bikin Lo tersesat di hutan ini"


"Hssst,,, ga boleh suudzon sa"


"Ya tapi Syah, kalau emang kak Ghea ga sengaja. Dia ga bakal ninggalin Lo kayak gini..."


Aisyah terdiam. Benar juga apa yang di katakan Sasa. Sasa melihat ke arah layar ponselnya. "Udah mau jam satu" Gumamnya. "Ah, gimana kalau gue telpon seseorang aja ya?"


"Iya sa."


"Tapi telpon siapa? Dinda?"


Aisyah menggeleng. "Dinda ke camping ga bawa ponsel"


"Terus siapa? Kak Fariz?"


"Itu terserah kamu"


"Ya udah, kamu hafal ga nomor ponselnya kak Fariz?" Tanya Sasa. Aisyah mengangguk. "Cepet Syah telpon" Sasa menyodorkan ponsel miliknya.


Aisyah mengambil dan mulai mengetikkan nomornya. "Sa, ini nomornya. Tapi kamu aja yang telpon. Aku ga berani"

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Sasa namun Aisyah hanya terdiam membisu. "Ah ya udah, sini..." Sasa kembali mengambil ponselnya dan menelepon Fariz.


Ia langsung menaruh ponsel di samping telinganya. Dia berdecih. "Sinyalnya jelek!!" Gumamnya. Dia kembali mencoba untuk menghubungi Fariz.


Aisyah terus menatap Sasa. Berharap agar Fariz mengangkat teleponnya. "Nyambung Syah", Ujar Sasa membuat Aisyah tersenyum lega.


Sasa kembali menelepon saat Fariz tidak mengangkat teleponnya. Mungkin cowok itu sedang tertidur. Untuk yang ketiga kalinya, telepon juga tidak kunjung di angkat. Sasa kembali menelepon. Hingga suara di balik Sana terdengar.


"Halo..."


Sasa tersenyum lega. "Halo kak halo,,, kak in..."


"Halo kak,, kakak bisa denger kan?" Tanya Sasa.


"Iya.."


"Kak,, ini Sasa. Kak,, tolong ini Sasa lagi kesasar di hutan. Sama Aisyah"


"Sa--ama ai--isya-ah?" Suaranya terdengar terputus putus.


"Iya kak. Jadi tolong ka..."


Tut Tut Tut...


Sambungan terputus. Sasa berdecak kesal. Tak lama ponsel Sasa kembali berdering. Dia mengangkatnya. "Halo.."


"Lo te--etep-p di--isa-ana ya. Ja--angan-n -kem--mana-a ma-anaa. G-uue ke--ess-ana see--kar-ang"


Sasa mencoba menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara Fariz yang terputus putus. "Iya kak,,, cepet ke sini"


Tut...Tut...Tut....


Sambungan kembali terputus.


"Gimana sa tadi?" Tanya Aisyah.


"Nanti kak Fariz mau ke sini"


Sudah hampir lima belas menit lamanya mereka menunggu. Namun Fariz belum juga sampai. Mungkin dia masih kebingungan mencari mereka. Sasa menyandarkan kepalanya di bahu Aisyah. Dia sudah tidak tahan lagi menahan kantuknya. Sedangkan Aisyah sibuk melakukan gerakan tangan untuk menghangatkan badannya yang kedinginan. Berbeda dengan Sasa yang menggunakan jaket tebal, Aisyah hanya menggunakan gamis panjang dan hijab. Dia membenamkan kepalanya. Memejamkan mata. Merasai udara dingin yang mulai meresap hingga menembus pori pori kulitnya.


"Aisyah..."


Panggilan itu membuat Aisyah mengangkat kepalanya. Dia menatap Fariz yang juga menatapnya. Cowok itu terlihat lelah dengan nafas yang ngos-ngosan. Aisyah mengulum senyum. "Kak Fariz..."


Sasa membuka matanya. Dia langsung berdiri dengan wajah lega saat melihat Fariz yang sudah ada di depannya. Tak lama, devan juga menyusul tiba di sana. Aisyah berdiri.


"Kalian kenapa bisa ada di sini?" Tanya Devan.


"Itu kak, tadi Sasa ngikutin Aisyah. Soalnya tadi dia pergi, takut kenapa napa terus Sasa ikutin" Jawab Sasa.


"AISYAH LO APA APAAN HA? KALAU PERGI ITU IZIN DULU NGERTI!!" Bentak Fariz. "LO GA TAU GUE KHAWATIR SAMA LO" Lanjutnya.


Fariz membuang muka. Tetap saja, walaupun ada banyak rasa kecewa di dirinya terhadap Aisyah, itu semua tidak akan mengalahkan rasa cinta yang sudah ada di hatinya.


"Kalau Bu Desi dan Bu Mira tau gimana ha? Mau bikin khawatir mereka? Kalau emang ga bisa izin, suruh temen Lo buat nemenin. Ga bisa cuma gitu doang?? Nyusahin aja Lo bisanya!!" Ujar Fariz dengan nada tinggi.


Aisyah tertunduk. "Iya kak, maaf. Aisyah salah"


"Maaf maaf...cuma itu kan yang Lo bisa?!!" Cetus Fariz.


"Udahlah Riz, ga usah nyalahin Aisyah kayak gitu. Kita itu sebagai kakak di sini, harusnya nenangin mereka. Bukan malah di marahin kayak gitu. Dan kesalahan kita juga,, kenapa hal kayak gini bisa terjadi"


"Iya kak. Ini sebenarnya bukan salah Aisyah. Tapi kak Ghea" Sahut Sasa.


"Ghea?" Tanya Fariz.


Sasa mengangguk.


"Iya. Jadi tadi itu kak Ghea minta Aisyah Buat nemenin dia ke toilet. Sampai di tengah jalan malah di tinggalin" Jelas Sasa


"Aisyah bener kata temen Lo?" Tanya Devan


Aisyah terdiam. Lalu mengangguk kecil.


•••••


Mereka berempat sampai di tempat camping. Suasana masih sepi. Sepertinya memang Fariz hanya memberi tahu Devan untuk membantunya mencari Aisyah dan Sasa.


"Syah, dingin ya?" Tanya Devan


"Iya kak"


Devan tersenyum dengan melepas jaketnya. "Pake jaket gue aja. Besok bisa Lo balikin ke gue"


"Kak Devan gapapa kedinginan kayak gitu?" Tanya Aisyah yang melihat Devan menggunakan kaos lengan pendek.


Devan menggeleng. "Udah, Lo ga usah pikirin gue. Di pake ya jaketnya..."


Di sisi lain, fariz datang ke tenda. Melihat Ghea yang terbaring tidur.


"Ghea bangun Ghea..." Ujar Fariz. "Ghea bangun!!"


"Ghea bangun sekarang...!!"


Ghea membuka matanya. "Fariz" Panggilnya.


"Gue mau ngomong sama Lo. Ke belakang tenda sekarang!!" Ucap Fariz dengan berjalan pergi ke belakang tenda. Ghea berdiri. Dia langsung keluar dari tenda. Matanya membulat melihat Aisyah yang sudah ada di tempat camping. Namun ia memilih untuk melanjutkan langkahnya.


"Ada apa Riz?" Tanya Ghea.


"Sekarang Lo jujur sama gue. Lo sengaja buat Aisyah tersesat di tengah hutan?"


Ghea terdiam. "Kenapa diem aja. Jawab!!" Ucap Fariz.


Fariz terdiam menunggu jawaban Ghea. Namun yang di lakukan gadis itu hanya menutup mulutnya. "Jawab Ghea. Iya tau ga?!"


"Kalau iya kenapa hm? Lo mau marahin gue? Lo mau belain cewek itu lagi iya?"


"Atas dasar apa Lo ngelakuin itu sama Aisyah. Di sini Lo sebagai kakak Ghea, harusnya jagain adik adik Lo. Bukan malah bikin celaka. Kalau terjadi apa apa sama Aisyah gimana?"


"Riz, ini ga seberapa sama apa yang udah Aisyah lakuin buat Lo!!"


"Lo ga berhak ngelakuin itu karena Aisyah ga pernah buat salah sama Lo" Balas Fariz.


Ghea berdecih. "Kenapa sih? Lo selalu belain Aisyah. Bahkan di saat Lo udah tau siapa Aisyah yang sebenarnya. Lo itu sebenarnya kenapa sih Riz,,, ha??"


Ghea melihat Fariz sekilas, lalu beranjak pergi dengan mengumpat kekesalannya. Tidak mau berdebat di waktu yang kurang tepat seperti ini. "Mbak Ghea..." Panggil Aisyah.


Ghea berhenti. Melihat Aisyah yang berjalan cepat ke arahnya. "Ini kalungnya udah ketemu..." Ujar Aisyah dengan memberikan kalung ke arah Ghea.


Ghea menatap Aisyah yang tersenyum. Dia mengepalkan tangannya. Dirinya mengambil kalung yang ada di tangan Aisyah. Tanpa berpikir panjang,, Ghea langsung melempar kalung ke arah wajah gadis di hadapannya.


"Ga usah sok baik sama gue!! Asal Lo tahu,, GUE ITU BENCI SAMA LO AISYAH!!" Ucap Ghea marah. Dia lalu berjalan pergi ke tendanya.


Aisyah terdiam. Sasa yang melihatnya langsung berlari menghampiri Aisyah. "Syah Lo ga papa?" Tanya Sasa memastikan.


Aisyah meneguk ludahnya. Dia melangkah dan duduk di batang kayu besar yang ada di sana. Sasa pun langsung menyusul. Dia duduk di samping Aisyah. Menatap lama gadis itu yang tengah terdiam menunduk.


"Syah..."Panggilnya pelan.


"Sa,, apa aku seburuk itu ya sampai orang orang pada benci sama aku??" Tanya Aisyah dengan nadanya yang lemah.


Sasa terdiam lalu menggeleng. "Nggak, Lo jangan ngomong gitu"


"Aku jahat ya??" Tanya Aisyah lagi.


"Nggak, Lo baik kok Syah" Balas Sasa.


Aisyah semakin tertunduk. "Kalau baik kenapa banyak yang benci sama aku?? Mereka ga bakalan benci kalau aku ga pernah buat salah sama mereka. Iya kan?" Aisyah menatap Sasa. Dia menghela berat. "Aku emang jahat. Iya kan?"


•••••


Orang yang menyukaimu, kamu bersalah pun mereka akan coba memikirkan hal baik tentangmu.


Orang yang membencimu, kamu baik pun mereka akan tetap memikirkan hal buruk tentangmu.


Namun demikian, tetaplah berbuat baik. Karena ini bukan tentang kedudukan kita di mata manusia. Melainkan di hadapan Allah.


•••••


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا


Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.


(Q.S Al Isra' :36)


...******...

__ADS_1


__ADS_2