
Aisyah terdiam memaku. Dia menatap lama makam yang ada di hadapannya. Ya Allah mbak...baik baik ya di sana. Batinnya berbicara pilu. Saat bunga sudah selesai ia tabur, Aisyah berdiri.
Perlahan, Fariz mulai menyelipkan tangannya di jemari Aisyah, membuat gadis itu menoleh. "Kita pulang?"
Aisyah menghapus air matanya lalu mengangguk. "Iya."
•••••
Sesampainya di rumah, Aisyah langsung berjalan mendahului Fariz. Gadis itu terlihat memasuki kamarnya. Fariz berjalan menyusul, dia membuka pintu menatap Aisyah yang terduduk menunduk. Melangkahkan kakinya untuk mendekati Aisyah. Berdiri di depan Gadis itu.
"Syah..." Panggilnya.
Aisyah mendongakkan kepala menatapnya. Entah tatapan apa yang di lontarkan gadis itu, namun dia langsung berdiri dan beranjak pergi dari hadapannya. Apalagi? tanpa pikir panjang Fariz pun langsung mengejarnya. Mengikuti kemana arah Aisyah pergi. Roftoop, ternyata itulah tempat tujuannya.
Di pintu roftoop, langkah Fariz terhenti. Dia menatap Aisyah yang berdiri membelakanginya. Memang apa yang sedang di pikirkan oleh perempuan itu? Dengan rasa yang tak bisa ia jelaskan, Fariz berjalan mendekat. "Aisyah..." Panggilnya lagi.
Aisyah menoleh. "Ada apa?"
"Lo..." Tangannya hendak menyentuh bahu Aisyah, memastikan apakah dia baik baik saja. Namun belum benar benar tangannya menyentuh bahu, gadis itu mundur dua langkah dari tempatnya berdiri. Membuat Fariz menatapnya bingung. "Lo kenapa?" Tanya Fariz dengan melangkah maju. Namun lagi lagi Aisyah melangkah mundur.
"Syah...Ada apa?"
"Aisyah pengen sendiri kak."
"Lo pengen sendiri karena ada masalah kan? Apa yang lagi Lo pikirin saat ini? Ghea?"
"Bukan."
"Terus karena apa?"
"Kakak."
"Gue?" Tanya Fariz menunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
"Emang kenapa gue?"
"Kakak cinta sama Aisyah?"
"Iya. Lo kenapa tanya kayak gitu."
Aisyah terdiam, matanya tak bisa ia alihkan selain menatap wajah Fariz. "Kalau kakak cinta, harusnya kakak nungguin Aisyah kan, bukan nikah sama perempuan lain."
"Syah dengerin gue..."
"Kak...orang yang cinta dengan tulus, dia akan menunggu dan memperjuangkan cintanya. Dengan apapun. Sesulit apapun."
"Syah..." Panggil Fariz namun Aisyah berjalan pergi.
"TERUS GUE HARUS GIMANA?" Aisyah menghentikan langkahnya. "ASAL LO TAHU, GUE UDAH NUNGGU LO BERTAHUN TAHUN LAMANYA. BERHARAP LO DATANG NYAMPERIN GUE, DUDUK DI SAMPING GUE, DAN GENGGAM TANGAN GUE. GUE SANGAT SANGAT BERHARAP LO DATANG DAN KITA BISA HIDUP SAMA-SAMA. TAPI NYATANYA, LO GA PERNAH DATANG! APA YANG GUE HARAPKAN, NGGAK KUNJUNG TERWUJUD. ASAL LO TAHU SEBERAPA BANYAKNYA DOA GUE AGAR ALLAH BISA MEMPERTEMUKAN KITA."
Aisyah membalikkan badan. Menatap Fariz dengan mata yang berkaca-kaca. "Gue selalu berharap Lo datang ke gue dan cerita semuanya tentang kehidupan Lo. Cerita hal hal yang udah Lo lalui tanpa gue, itu yang selalu gue bayangin. Tapi kenapa saat gue udah mau menikah sama orang lain, lo baru datang??"
"Kenapa nggak terus menunggu?" Tanya Aisyah.
"Mama. Dia yang selalu memaksa gue buat menikah sama gue. Gue udah bilang, kalau gue udah punya pilihan dan mama juga udah kasih gue waktu untuk menunggu. Tapi nyatanya Lo emang ga pernah datang. Hingga mau ga mau, gue harus ngelakuin apa yang mama minta. Lo tahu, betapa nyeselnya gue waktu Lo datang tiba tiba. Bahkan waktu itu gue pernah berpikir untuk membatalkan pernikahan gue sama Ghea. Tapi ga bisa, undangan udah di sebar! Gue ga bisa buat keluarga gue malu."
Fariz berjalan mendekat. Matanya melihat tepat di manik mata Aisyah. "Lo lihat mata gue! Lo tatap mata gue! Apa gue bohong?? Gue cinta sama Lo Syah..."
"Gue Fariz,,, cinta sama Lo. Aisyah!!" Lanjutnya memberikan tatapan keyakinan. Dia menghapus air mata gadis di hadapannya. Aisyah menangis karena memang masih merasa sakit atas sikap Fariz yang tidak memberinya perhatian. Seolah olah dia tidak berarti bagi laki laki itu. Sudah sering Fariz bilang dia cinta dirinya, namun tidak dengan tindakan nya.
Fariz memeluk Aisyah. "Maafin gue,,, maaf. Gue emang salah." Jawabnya lirih lalu mencium puncak kepala Aisyah. Dalam dekapan, Fariz semakin mengeratkan pelukannya. "Tolong jangan pergi Syah. Gue peduli sama Lo, tapi keadaan yang memaksa gue buat kayak gini."
Dalam pelukan itu, mereka saling menenangkan hati. Fariz melepaskan pelukannya. Dia kembali menghapus air mata Aisyah dengan kedua tangannya. "Udah, jangan nangis lagi. Ini bukan saatnya buat kamu nangis, ini saatnya untuk kita membuka lembaran baru. Kita mulai semuanya dari awal. Ya??" Ujar Fariz. Dia ingin memulainya lagi, dengan masa depan yang lebih kedepannya. Bersama seorang wanita yang dia cintai.
"Ya kita akan memulai dari awal. Aku dan kamu Syah..." Lanjutnya lagi. Bahkan baru kali ini Fariz berbicara Aku-Kamu dalam bahasanya. Aisyah mengangguk pelan. Fariz menggandeng tangan Aisyah, membawanya pergi dari roftoop.
"Uwowu...dah gandengan tangan aja." Sahut kaila saat melihat mereka. Namun keduanya tetap berjalan tanpa menggubrisnya. "Yah, kenapa dah. Gitu amat mukanya."
Fariz membuka pintu kamar, bersamaan dengan melepaskan gandengan tangannya. Dia masuk ke dalam, mengambil koper Aisyah. Di lanjut dengan membuka lemari dan memindahkan semua baju Aisyah di dalam koper tersebut. Aisyah hanya bisa berdiri melihat apa yang di lakukan suaminya. Mau di bawa kemana baju bajunya itu?
Setelah semua baju masuk ke dalam koper, Fariz langsung membawanya dengan tangan kiri. Dia kembali berjalan keluar, menutup pintu. Tangan kanannya kembali menggandeng tangan Aisyah, membawanya untuk menuju. kamar yang dulu di tempati dirinya dan Ghea. "Mulai nanti malam dan seterusnya, kamar ini akan jadi kamar kita."
Aisyah terdiam. Benar saja kamar ini jauh lebih bagus di atas kamar tamu yang dia tempati. Sofa besar, televisi, toilet, koleksi koleksi kerajinan yang tertata rapi dan jendela kaca besar yang langsung mengarahkan pada keadaan kota dari lantai dua. Aisyah kembali mengarahkan matanya. Seperti ingin menemukan sesuatu di dalam kamar Fariz. "Kak, di mana foto pernikahan kakak sama mbak Ghea?"
Fariz menggeleng. "Gue nggak punya."
"Ga punya??"
"Lo tahu kan waktu pernikahan gue. Tepat setelah akad, Ghea pingsan. Dan kita ga bisa melanjutkan acara resepsi pernikahan nya. Bahkan, foto aja ga sempet." Jawab Fariz membuat Aisyah mengangguk paham.
__ADS_1
•••••
16.45
Aisyah menyingkap gorden besar yang menutupi jendela kaca. Dia memundurkan langkahnya lalu mendudukkan dirinya di atas kasur. Dari tempatnya duduk, bisa di lihat jelas bagaimana ramainya jalanan kota sore ini. Dia termenung.
"Syah.."
Aisyah tersentak. Kepalanya menoleh, melihat Fariz yang tiba tiba saja sudah duduk di dekatnya. "Nggak makan? Dari tadi siang Lo belum makan."
Aisyah menggeleng. "Aisyah nggak laper kak." Jawabnya lesu.
Fariz berdiri dan kembali berjalan keluar. Tak lama dia kembali dengan membawakan makanan sekaligus segelas air putih untuk Aisyah. "Ini, makan ya. Jangan sampe sakit."
Aisyah mengangguk. Dia mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk di atasnya. "Kak, Aisyah makannya ga sebanyak ini. Ini kebanyakan."
"Udah makan aja. Biar gendut." Jawab Fariz enteng.
"Eh...??!"
Fariz tertawa kecil. "Ya udah di habisin. Gue keluar dulu." Ujarnya dengan berdiri dan kembali berjalan keluar kamar.
Aisyah menatap Fariz, memastikan agar lelaki itu benar benar keluar. Ia langsung menaruh piringnya di atas meja. Merogoh saku bajunya dan mengeluarkan secarik kertas yang di berikan Ghea untuknya. Aisyah mulai membuka lipatan kertas itu, lalu membacanya.
Aisyah, gue harap saat Lo baca surat ini Lo dalam keadaan baik baik aja. Sebelumnya gue mau minta maaf lagi atas semuanya, termasuk keputusan buat minta Lo nikah sama Fariz lagi. Jujur, ga ada yang menginginkan pernikahan kita selain orang tua kita sendiri sendiri. Satu hal yang harus Lo tahu, bahwa sebelum pernikahan mama gue mengajukan sebuah perjanjian yang ga boleh di langgar oleh keduanya. Yaitu, Fariz ga boleh menikah dengan wanita lain, baik saat gue masih ada maupun gue udah pergi. Memang di sini mama gue egois, tapi dia cuma mau gue jadi istri satu satunya. Mama gue juga takut kalau nanti semuanya tahu kalau gue punya penyakit keras, terus Fariz bakal ninggalin gue. Mama, adalah orang yang tegas. Kalau sampe perjanjian itu di langgar, mungkin mama akan buat hal hal yang macem macem. Apalagi kalau menyangkut tentang gue. Dengan ini kalian akan sulit akan bersatu kalau gue udah ga ada. Mama pasti akan menghalalkan segala cara untuk membuat kalian ga bersatu. Kalau gue buat surat wasiat, maka belum tentu wasiat dari gue di laksanakan sama mama. Untungnya, gue bisa bujuk mama. Gue hanya ingin kalian bahagia, itu aja.
Aisyah, gue akan selalu doain yang terbaik untuk kalian. Lo juga jangan lupa ya buat doain gue, biar bisa bahagia dan tenang
di sana. Pesan gue, apapun yang terjadi dalam hubungan pernikahan kalian, Lo harus tetap tegar dan kuat jalani semuanya. Terus tersenyum dan bahagia Syah, terima kasih atas semua kebaikan Lo. Assalamualaikum...
•••••
20.51
Aisyah berjalan keluar kamar. Dari lantai atas, dirinya melihat kedua mertuanya dan kaila yang sedang duduk bersama di ruang keluarga. Tertawa bersama saat ada adegan lucu di sinteron yang di lihatnya. Aisyah menghentikan langkahnya sejenak, matanya terus menatap bawah. Harmonis sekali mereka. Perlahan, bibirnya terangkat membentuk senyuman. Sudah lama juga ya dirinya tidak berkumpul bersama sama dengan keluarganya seperti ini. Nonton tv bareng, ketawa bareng. Ah, jadi kangen sama umi, Abi dan Okta.
"MBAK AISYAH....!!" Panggil kaila dari bawah. "MBAK JANGAN DIEM DI SANA, SINI KUMPUL BARENG. FILMNYA SERU TAU..."
"JARANG JARANG LHOH ADA TOM AND JERRY MALEM MALEM." Lanjutnya lagi.
Aisyah tersenyum, dia mulai melangkah turun dari lantai atas. Berjalan mendekat ke arah mereka. Matanya melihat ke arah televisi di depannya. Benar saja memang Tom and Jerry yang mereka lihat, di mana sedang ada adegan kejar kejaran antara kucing dan tikusnya. Mereka memang tidak pernah akur.
"Sini mbak duduk." Ujar kaila menepuk nepuk sofa di sampingnya.
"Di kamar pa.." Jawab Aisyah dengan duduk.
"Ngapain?"
"Lagi mandi."
"Malem malem kok mandi. Kebiasaan anak itu."
"Emangnya kenapa pa? Kan seger mandi malem malem." Sahut kaila.
"Ga baik buat kesehatan. Kalau mau yang seger mandi sebelum atau pas subuh." Jawab papanya membuat kaila ber-oh kecil.
"Mbak mau ga?" Tanya kaila menyodorkan sebungkus keripik kentang yang di makannya.
Aisyah menggeleng. "Makan aja."
"Beneran ga mau??"
"Iya. Kamu aja yang makan."
"Kamu baru kenal sama Aisyah kok kelihatan Deket banget?" Tanya papanya.
"Ya iya dong pa. Kan sayang."
"Kenapa sayang?"
"Ya karena sekarang mbak Aisyah udah jadi kakak ipar kaila. Iya kan mbak?"
"Tapi Ghea juga kakak ipar kamu, ga ada tuh papa lihat kamu Deket sama dia."
"Ya karena kaila ga suka sama mbak Ghea. Mereka berdua beda, mbak Aisyah kan baik mbak Ghea jahat."
"Kaila hssst..." Balas aisyah. "Ga boleh ngomong gitu."
"Kaila, jaga omongan kamu!! Ghea pernah jahat apa sama kamu hm?? Jangan mengada-ada, mama ga suka kamu ngomong gitu!" Tanya mamanya.
"Mengada-ada apa sih ma? Ya waktu itu mbak Ghea yang culik kaila kan?? Perbuatan menculik itu baik apa jahat ma?? Jahat kan!! Beda sama mbak Aisyah, mbak Aisyah justru yang nyelametin kaila waktu itu. Kalau mbak Aisyah ga ada, mungkin kaila udah ketabrak, berdarah, jatuh pingsan dan ga tau lagi deh apa yang bakal terjadi. Mama jangan bilang lupa ya sama kejadian itu!" Ucap kaila. "Lagian heran deh, orang yang udah jahat sama kaila masih aja di sayang sayang."
__ADS_1
"Yang culik kamu waktu itu, Ghea??" Tanya mama Fariz.
"Iya. Masa mama ga tau sih?? Papa sama bang Fariz ga cerita apa apa emangnya?"
Mama Fariz menatap suaminya. "Pa, bener? Kok papa ga cerita apapun sama mama kalau Ghea pelakunya. Kenapa kamu diem aja?" Tanyanya mempertanyakan.
"Yaa,, papa memang sengaja ga kasih tahu kamu. Lagian kalau papa kasih tahu, kamu bakal percaya? Kamu kan sayang banget sama Ghea."
"Ya tetep dong pa. Ga bisa di sembunyiin kayak gitu!"
"Hssst...udah udah ma, pa. Ga usah di bahas lagi, udah lama juga kan. Kaila ga mau ngungkit-ngungkit kejadian itu lagi. Nyebelin!" Timpal kaila menengahi.
"Mbak, pergi yuk. Kaila lagi ga mood." Ajaknya. Kaila berdiri, dia berjalan ke arah dapur. Tak lama dirinya kembali dengan membawa tiga bungkus jajanan berbeda yang ada di tangannya. "Ayo mbak Aisyah..."
Aisyah berdiri. "Ma, pa. Aisyah ke atas dulu ya.." Pamitnya.
"Iya. Istirahat Syah." Balas papanya yang di balas seukir senyuman oleh Aisyah.
Mereka berdua langsung berjalan menaiki tangga. "Dek..." Panggilnya.
"Panggil kaila aja mbak, ga usah pake dek."
"Emangnya kenapa?"
"Kaila ga terbiasa sama panggilan dek. Bang Fariz aja ga pernah panggil kaila adek."
"Oh gitu...ya udah. Kaila, kamu tahu ga,,,, kamu itu mengingatkan mbak Aisyah sama salah satu sahabat mbak."
"Siapa mbak?"
"Namanya Syifa."
"Emang mbak Syifa mirip ya sama kaila?"
"Ada kemiripan. Sikapnya, dari caranya berbicara, terus dia juga gemoy kayak gitu."
Kaila menyengir lebar mendengar itu. "Ah masa sih mbak. Baru kali ini lho ada yang bilang kaila gemoy....aduuuhh. Berbunga bunga hatiku mbak. Emang ya cuma mbak Aisyah yang bisa naikin mood nya kaila."
"Tapi emang bener kok. Pipinya tembem lucu kayak kamu. Usianya juga kayak kamu waktu itu."
"Terus sekarang keadannya mbak Syifa gimana?"
Aisyah menggeleng. "Mbak ga tahu. Kita udah ga pernah saling komunikasi semenjak tiga tahun lalu."
"Lhah kenapa emang?"
"Dia ganti nomor. Tapi mbak ga tau nomornya berapa, jadi ga bisa saling menghubungi."
"Oh gitu...ya semoga aja kalian bisa cepet cepet ketemu ya...."
"Aamiin."
•••••
Pagi itu, Aisyah di ajak mama mertuanya untuk datang ke rumah Ghea. Untuk menjenguk keadaan mereka saat ini.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam."
"Gimana kamu sekarang?" Tanya mama Fariz.
Mama Ghea menghela lesu. Kesedihan itu masih sangat membekas di diri dan hatinya. "Kamu ga usah banyak pikiran ya...In Syaa Allah Ghea akan baik baik aja di sana." Ujar mama Fariz memberikan secercah semangat.
"Iya." Jawabnya dengan mengangguk. Ia menoleh ke arah Aisyah. "Syah..." Panggil nya.
"Iya Tante."
"Kamu sekarang seneng kan Ghea udah ga ada??"
Aisyah terdiam mendengar kalimat itu di ucapkan oleh mama Ghea.
"Kamu bisa puas puas sama Fariz tanpa ada pengganggu. Tapi kamu jangan lupa, kamu berada di titik ini karena Ghea." Ucap mama Ghea. "Kalaupun itu bukan karena anak saya, saya ga akan pernah biarin kalian bersatu."
"Udah udah, kamu ga usah mikirin hubungan anakku sama Aisyah. Lagi pula semuanya udah terjadi. Mendingan kamu istirahat, tenangin pikiran kamu." Sahut mama Fariz.
"Tapi aku masih belum terima sama pernikahan mereka. Kamu masih inget kan perjanjian itu, harusnya Fariz nggak menikah sama perempuan lain." Balas mama Ghea tak mau diam.
"Terus apa yang bakal kamu lakuin? Pisahin mereka. Nggak bisa. Kalau memang kamu sayang sama ghea, harusnya kamu bisa menerima apapun yang jadi keputusan antara Aisyah, Fariz dan Ghea. Lagi pula, bukannya kamu yang mohon mohon juga untuk Aisyah menerima permintaan Ghea." Mama Fariz menghela pelan. "Udah, nggak usah
di pikirin. Aku nggak mau kita jadi berdebat. Yang harus kamu lakuin saat ini, mendoakan anakmu biar dapat tempat terbaik di sisi Nya. Dan untuk Fariz sama Aisyah, biarin mereka jalani kehidupannya masing masing. Biarin mereka menjalani kehidupan barunya saat ini."
__ADS_1
...*******...