Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
9) Hanya Air Mata


__ADS_3

Waktu silih berganti, tak terasa hampir satu bulan mereka belajar di sekolah tercinta. Teman teman Aisyah pun sudah mengetahui bahwa Aisyah cadel, sehingga ejekan, hinaan, cemoohan dilontarkan kepada Aisyah. Tidak hanya teman satu kelasnya saja, teman luar kelas pun ikut ikutan mengejek Aisyah. Namun Aisyah tidak ambil pusing hal tersebut, pikirannya saat ini hanya dipenuhi Fariz Fariz dan Fariz.


Bel istirahat pun berbunyi, para siswa-siswi berlarian menuju kantin. Aisyah dan Lina pergi ke kantin mbak Windi sedangkan Dinda dan Lina pergi ke kantin Bi Yuni.


"Apa aku emang bener bener suka ya sama dia" Ucap Aisyah melamun sambil mengaduk ngaduk jus jambu yang sudah dipesannya.


"Dia siapa yang Lo maksud" tanya Lina


"Nggak kok, bukan siapa siapa"


"Syah Lo kenapa sih, ngelamun terus mikirin apa sih Lo, beban hidup?"


'kring kring kring'


Bunyi bel kembali berbunyi, menandakan waktu istirahat sudah berakhir.


"Masuk kelas aja yuk, bel udah bunyi" ujar Aisyah.


Merekapun berdiri dan segera membayar makanan yang sudah mereka pesan, lalu beranjak pergi.


•••••


"Dinda" panggil Aisyah pelan saat mereka sudah berada di pesantren.


"Iya"


"Aku boleh nanya sesuatu"


"Nanya apa?"


"Kalau kamu lagi suka sama seseorang, kamu pilih ngungkapin perasaan kamu atau diem aja"


"Ngungkapin perasaan sama orang yang aku suka, ya setidaknya dia tau lah tentang perasaan aku yang sebenarnya"


"Gitu ya l"


"Iya, emang kenapa Syah, ada apa?"


"Nggak apa apa kok"


Seketika terjadi perang di diri Aisyah, antara harus memendam perasaan nya atau mengungkapkan pada Fariz. Hatinya berkata bahwa aisyah harus mengungkapkan semua yang ia rasakan selama ini pada Fariz, sementara otaknya selalu melawan bahwa percuma Aisyah mengungkapkan perasaannya kepada Fariz itu akan sia sia saja, selain itu Aisyah juga tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya tersebut. Ia benar-benar dalam dilema, hingga akhirnya aisyah memutuskan untuk menyatakan semua perasaannya pada Fariz.


•••••


"Syah Lo mau kemana" Tanya Syifa saat melihat Aisyah terburu buru keluar dari kelas saat bel berbunyi.


"Maaf fa, aku ada urusan kamu kalau mau ke kantin sama Dinda dan Lina aja ya, Assalamualaikum"


"Tapi,,, "


Belum juga Syifa menyelesaikan ucapannya Aisyah sudah pergi keluar kelas.


"Waalaikum salam" Lirih Syifa saat Aisyah sudah pergi menjauh dari kelas.


Sementara itu Aisyah sedang sibuk mencari Fariz, ingin cepat cepat rasanya ia mengungkapkan perasaanya pada Fariz walau sebenarnya Aisyah tidak memiliki keberanian untuk itu. Hingga akhirnya Aisyah menemukan Fariz duduk di taman belakang, ia sedang begitu asik membaca buku. Aisyah pun melangkah pelan mendekati Fariz, perasaannya tidak karuan rasanya, keringat dingin mulai mengguyur badannya.


"Assalamualaikum kak" ucap Aisyah tertunduk.


"Waalaikum salam" jawab fariz tidak memperdulikan siapa yang datang. Ia masih saja asik membaca buku tersebut.


"Emm, sa.., saya bbboleh duduk?"


Fariz mengangguk, pandangannya masih tertuju pada novel yang sedang ia baca.


"Kak, anu ssaya disini mmm mau ngomong ssesuatu" Ujar Aisyah terbata bata.


"apa?"


"Sebenarnya saya,,,, anu saya"


Aisyah semakin gugup tangannya menjadi gemetar, seakan akan dia sedang dihakimi oleh para guru karena membuat suatu kesalahan.


"Saya suka sama kakak" Ujar Aisyah.


Dengan cepat Aisyah mengucapakan kata kata tersebut sambil memejamkan mata. Mendengar ucapan aisyah, Fariz yang dari tadi matanya tertuju pada buku, sekarang pandangannya menuju ke depan. Lalu ia menutup bukunya dan menoleh ke Aisyah, tak lama Fariz pun mengalihkan pandangannya ke arah depan lagi.


"Gue adalah laki laki yang paling nggak suka liat cewek sok sok cari perhatian ke gue, percuma Lo ngomong suka cinta sayang ke gue, banyak cewek diluar sana juga ngelakuin hal yang sama tapi jujur gue malah gak nyaman sama mereka,,, apalagi Lo yang cad,, "


"Cadel" Ujar Aisyah.

__ADS_1


Lalu Aisyah berdiri dari tempat duduk nya.


"Saya cadel, kampungan, dekil, dan nggak cantik, itu kan alasannya. Kak saya selama ini kagum sama kakak, saya pikir kakak itu laki laki baik nggak kayak laki laki kebanyakan diluar sana, tapi sama aja ternyata kakak emang hanya memandang fisik seseorang. Dan ini emang salah saya, kenapa saya bisa bilang semua tentang perasaan saya sama kakak, padahal saya tau antara kakak dan saya itu mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Iya memang saya terlalu bodoh untuk mengerti semua ini" Ujar Aisyah. Sudah sejak tadi ia menahan air mata yang dari tadi memaksa untuk keluar.


"Mendingan Lo ngejauh dari gue aja, ngehindar dari gue, jangan Deket Deket gue lagi,, itu akan lebih baik"


Tanpa pamit Fariz langsung beranjak pergi dari tempat duduknya.


"Baik, baik kalau itu yang kakak minta. Saya bakal ngejauh dan ngehindar dari kakak,,, saya ga bakalan deketin kakak lagi,,, dan ini adalah janji saya terhadap kakak" ujar Aisyah dengan suara yang dikeraskan. Air matanya terus mengalir.


Hal itu membuat langkah kaki Fariz terhenti. Hingga akhirnya rasa bersalah pun timbul dalam dirinya.


"Assalamualaikum" lirih aisyah.


Walaupun salam Aisyah ia ucapkan dengan pelan, tapi Fariz masih mendengarnya. Setelah itu Aisyah langsung berjalan cepat meninggalkan taman belakang sekolah. Fariz pun hanya bisa memandangi badan mungil Aisyah yang secara perlahan lahan hilang dari pandangannya.


"Waalaikum salam" jawab Fariz pelan.


Fariz pun langsung berjalan menuju kelasnya, menundukkan kepalanya, seketika rasa bersalah muncul dalam dirinya.


Sedangkan Aisyah, ia tidak langsung menuju kelasnya namun ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar saat Aisyah datang ke kelas teman temannya tidak menyadari bahwa ia habis menangis. Setelah membasuh wajahnya beberapa kali, Aisyah menenangkan diri, berusaha melupakan semua kejadian tersebut. Setelah Aisyah merasa lebih tenang ia langsung pergi menuju kelasnya. Bel pun berbunyi tak lama setelah Aisyah masuk kelas.


"Dari mana aja Lo" tanya Syifa saat melihat Aisyah datang.


"Dari taman belakang, terus tadi ke kamar mandi sebentar"


"Terus kenapa mata Lo merah kayak gitu"


"Tadi kena debu"


"Tapi Lo beneran ga papa kan syah?"


"Nggak kok, kamu ga usah khawatir"


•••••


~ Di kelas 12 MIPA 2 ~


"Baik anak anak, pada jam ini adalah pelajaran matematika dari Bu Isma" Ujar pak Joko.


"Iya pak"


"Wah jam kosong dong pak" Ujar salah satu murid dengan senyum yang mengembang.


"Bu Isma berpesan bahwa kalian harus mengerjakan tugas matematika halaman 18 sampai halaman 20, besok tugas diserahkan langsung kepada beliau"


"Iya pak Joko"


"Baik kalau begitu bapak pamit dulu ya anak anak, kerjakan dengan sungguh sungguh ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Pak Joko pun segera beranjak keluar kelas, sedangkan sebagian dari mereka mengeluarkan buku matematika lalu mengerjakannya, sebagian juga ada yang masih asik mengobrol dan bercerita dengan temannya.


"Riz Lo kenapa? lagi punya masalah? kok dari tadi ngelamun aja" Tanya Ilham teman satu meja Fariz sekaligus teman satu kamar di pesantren.


"Nggak kok, cuman gue kayak ngerasa bersalah aja sama Aisyah"


"Aisyah? Siapa dia"


"Dia kayaknya kelas 10, dan dia cadel"


"Emang Lo apain Aisyah sampai Lo ngerasa bersalah sama dia"


"Tadi dia bilang kegue, kalau dia suka sama gue"


"Terus?!"


"Terus ya gue bilang kalau banyak cewek yang udah nembak gue, tapi semuanya gue tolak. Padahal mereka itu cantik lah apalagi dia yang cadel, tapi maksud gue ngomong gitu bukan mau ngehina dia"


"Terus dia bilang apa"


"Kalau seinget gue dia bilang emm,,, apa ya" ujar Fariz sambil mengingat-ingat perkataan Aisyah.


"Dia bilang kalau dia pikir gue nggak kayak laki laki lain, tapi gue sama aja ternyata sama sama memandang fisik" sambungnya.


"Dia pasti lagi sedih banget nih Riz, Lo sih pakai bilang begituan"


"Lah abisnya mana gue tau, kalau cewek cewek pada nembak gue,,, gue juga bilang kayak gitu biar mereka nggak ngedeketin gue lagi. Eh taunya bukannya mereka ngejauh malah tambah nempel sama gue, mana gue dipaksa lagi buat jadi pacarnya. Gue pikir si Aisyah juga bakalan kayak gitu, makannya gue ngomong gitu ke dia"

__ADS_1


"Riz, hati wanita itu sensitif. Walaupun Lo anggep omongan Lo itu sepele, tapi itu bisa membuat hati wanita sakit. Dan wanita itu hatinya mudah rapuh, kalau ibarat kaca itu mudah pecah. Gue punya temen di SD yang cadel, dia dihina, di ejek sampai dia takut buat sekolah, itu aja seorang laki laki, apalagi kalau perempuan. Dan gue yakin banget pasti Aisyah juga ngalamin hal yang sama, dan Lo malah nambahin luka yang ada di hati Aisyah"


"Tapi beneran gue gak punya maksud sama sekali buat ngehina Aisyah, gue hanya gak pengen dideketin sama perempuan, dikeroyok, dicaperin gue capek. Makannya gue ngomong gitu sama Aisyah, soalnya gue pikir Aisyah kayak cewek lainnya yang walaupun digituin sekalipun akan tetep berusaha bua nempel"


"Gue kan Deket banget nih sama Lo, dan gue juga udah tau siapa aja yang sering caperin Lo. Dan gue yakin kalau Aisyah gak pernah caperin Lo kayak cewek lain. Berarti dia selama ini memendam semua perasaan dia ke Lo, dia cuma mau Lo tau tentang perasaan dia cuman itu aja nggak lebih"


"Mendingan nanti Lo kalau pulang sekolah langsung temui dia, lebih cepat lebih baik. Sebelum dia bener bener kecewa"


"Iya nanti gue minta maaf sama dia. Eh tapi kok Lo bisa tau gitu tentang cewek, pakai ngejelasin gimana hatinya cewek pula. Dapat ilmu dari siapa?" tanya Fariz dengan nada menggoda.


"Yaelah Lo kan tau semua kakak gue itu perempuan, yang laki laki cuman gue aja, jadi gue ya tau lah. Soalnya kakak gue sering curhat kegue tentang masalahnya, dia juga sering nasehatin gue biar gak nyakitin hati wanita"


"Gitu ya, gue jamin pasti cewek yang bakal jadi istri Lo bakal beruntung punya suami pengertian kayak Lo" ujar Fariz sambil tertawa dan menepuk bahu Ilham.


Mendengar ucapan temannya Ilham pun ikut tertawa.


••••••


'kring kring kring'


Bel berbunyi menandakan pembelajaran hari ini telah berakhir, siswa siswi dipersilahkan untuk bersiap pulang.


"Fa,,, kamu kalau mau pulang duluan juga ga papa kok, aku mau ke taman belakang"


"Mau ngapain"


"Emmm,, kayaknya tadi barangku ada yang jatuh deh di taman belakang, makannya aku mau ngambil"


"Tapi Lo ga papa pulang sendiri?"


" Iya ga papa kok, lagi pula jarak sekolah pesantren Deket kok "


"Tapi gue gak enak lah biarin Lo pulang sendirian"


" Udah kamu ga papa kamu pulang duluan aja"


" Tapi,,, "


"Nggak papa" Jawab Aisyah sambil mengangguk pelan dan tersenyum.


"Oh ya udah kalau gitu, gue duluan ya Syah"


"Iya"


Lantas Syifa pun segera menuju pintu gerbang untuk menunggu ke dua temannya. Tak lama kemudian dinda dan Lina pun datang menghampiri Syifa.


"Hey, Aisyah mana?" Tanya Dinda


"Tadi katanya sih mau ke taman belakang, mau ambil barangnya dia yang jatuh. Kita disuruh pulang duluan"


"Oh ya udah kalau gitu"


Mereka pun langsung berjalan pulang menuju pesantren. Sedangkan Aisyah berjalan pelan menuju taman belakang, sebenarnya Aisyah pergi ke taman belakang tidak untuk mengambil barangnya yang terjatuh, namun ia inginkan n meluapkan kesedihannya disana. Karena taman belakang sekolah selalu sepi, sedangkan disisi lainnya Fariz sedang sibuk mencari keberadaan Aisyah untuk meminta maaf kepadanya. Dan tanpa sengaja Fariz melihat Aisyah berjalan menuju taman belakang, tanpa berpikir panjang Fariz langsung mengikuti nya.


Hingga sampailah Aisyah ditaman belakang, lalu ia duduk dikursi taman yang berwarna putih, menyandarkan badannya dikursi tersebut, pandangannya kosong mengahadap kedepan, hingga satu tetes air mata keluar dari matanya. Sedangkan Fariz mengamati Aisyah dari balik pohon mangga yang besar. Aisyah masih termenung dalam diam, air matanya semakin lama tidak bisa ia tahan.


" Ya Allah,,, " Ucap Aisyah pelan dengan suara yang serak.


"Ya Allah kapan semuanya akan berakhir, harus berapa lama lagi hamba dihina, harus berapa banyak orang yang menghina hamba, harus beribu air mata lagi yang harus hamba keluarkan, harus berapa banyak kesedihan yang harus hamba terima, harus sampai kapan hamba diam membisu mendengar caci maki mereka."


Ucapan Aisyah pun terdengar oleh Fariz, walaupun Aisyah mengucapkannya dengan pelan tapi Fariz masih mendengarnya karena jarak pohon mangga dan kursi yang diduduki aisyah begitu dekat.


"Ya Allah, sungguh hamba tidak memilih untuk dilahirkan cadel, hamba tidak memilih untuk memiliki nasib seperti ini, hamba,,, "


"Hamba juga pengen berbicara fasih seperti teman teman hamba"


"Kalau memang ini takdir hamba, tolong buat diam mulut mereka agar mereka tidak saling menghina atau buatlah mereka merasakan apa yang hamba rasakan. Hamba hanyalah manusia yang lemah, wanita yang rapuh dan sering terjatuh, Ya Allah sampai kapan,,,, sampai kapan hamba harus seperti ini, berapa lama lagi Ya Allah"


Mendengar ucapan Aisyah, hati Fariz pun seperti luluh. Beberapa tetes air mata keluar dari matanya, rasa bersalahnya semakin menggelora.


"Hamba hanya berharap semoga Engkau menyiapkan takdir terindah untuk hamba kelak, dan semoga kekuatan dan kesabaran selalu Engkau curahkan pada diri hamba. Sungguh selama ini hamba tidak pernah bercerita tentang kesedihan hamba kepada siapapun bahkan kepada abi, umi dan keluarga hamba sekalipun. Selama ini hamba hanya bercerita tentang semua kesedihan hamba kepada Engkau, karena hamba tau Engkau adalah sebaik baik pendengar, yang mana bisa memberi solusi disetiap masalah hamba. Setiap bangun tidur hamba mengharap keajaiban datang begitu saja kepada hamba,,, dan untuk keajaiban yang datang hamba hanya berharap kepada Mu"


"Ya Allah selama ini setiap kebaikan hamba selalu dianggap remeh oleh mereka, setiap ketulusan di balas dengan penghinaan, setiap pengorbanan di balas dengan caci maki. Seakan akan semua keberanian, kepercayaan diri hamba semuanya sudah hilang"


Aisyah pun diam membisu pandangannya kosong menghadap ke depan, matanya perih karena sudah banyak air mata yang ia keluarkan. Langit pun tiba tiba menjadi mendung, udara sejuk mengalir pelan dari arah timur kebarat membuat hati Aisyah menjadi lebih tenang. Aisyah pun mengelap air matanya lalu memejamkannya ingin menemukan suasana nyaman dan tenang untuk hatinya. Sedangkan Fariz masih memandangi Aisyah dari balik pohon mangga, ingin rasanya ia meminta maaf pada Aisyah, tapi Fariz tidak mempunyai keberanian untuk itu. Dan setelah beberapa menit Aisyah sudah merasa tenang, Allah telah menenangkan hatinya melalui perantara alam. Menyadari langit mendung Aisyah pun segera bergegas pulang ke pesantren, Fariz membiarkan Aisyah berjalan menjauh dari taman belakang agar Aisyah tidak mengetahui keberadaannya. Setelah Aisyah keluar dari sekolah Fariz pun mulai meninggalkan taman belakang. Sepanjang perjalanan dihatinya hanya dipenuhi rasa bersalah.


Sedangkan untuk Aisyah, Hari ini hanya air mata lah yang menemani setiap waktunya, yang melambangkan arti kesedihan, kerapuhan dan kekecewaan.


Hanya Air Mata untuk Hari ini.

__ADS_1


...********...


__ADS_2