
"Syah.." Panggil Vita. "Umi sama Abi mau ke rumah sakit dulu ya"
"Jenguk Bu Dhe lagi umi?" Tanya Aisyah yang di angguki oleh ibunya.
"Umi...Ayo!" Panggil Agus yang sudah menaiki motor bersama Okta di depan rumah,menunggu istrinya untuk segera keluar dari rumah untuk pergi.
"Umi berangkat dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dengan mencium punggung tangan perempuan di hadapannya. Dengan langkah cepat Vita keluar, tak lama motor yang di naiki ketiganya langsung pergi melaju hingga hilang dari pandangan Aisyah.
Aisyah membalikkan badannya, hendak pergi ke kamar. Namun suara lengkingan yang berteriak memanggilnya itu membuatnya kembali menoleh ke belakang. Terlihat seorang gadis dengan senyuman mengembang tengah melambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arah Aisyah. "AISYAH...!!"
Dengan cepat gadis itu berjalan mendekati Aisyah, membuat Aisyah juga mengulum senyum kepadanya. "Rahma?"
"Ah Aisyah, aku kangen sama kamu" Ujar Rahma dengan memeluk sahabatnya sewaktu masih sekolah dasar juga saat masih Mts.
Rahma melepaskan pelukannya. "Kamu tahu ga, pas aku denger kamu pulang aku langsung cepet cepet kesini. Kangen banget!!"
"Iya aku juga kangen sama kamu"
"Kapan pulang?" Tanya Rahma.
"Hari Selasa kemarin"
"Ih, kenapa ga kasih tahu aku??" Balas Rahma dengan memukul pelan lengan Aisyah.
"Iya maaf"
"Syah, aku mau ngajak kamu"
"Kemana?" Tanya Aisyah.
"Jadi di sini itu ada cafe, baru beberapa bulan buka sih, tapi udah rame banget!! Kita kesana yuk,,! Sebelumnya aku juga udah pernah kesana, dan emang sih makanan di sana enak enak dan yang lebih penting harganya lumayan murah" Jawab Rahma. "Gimana mau ga?"
"Mau ya? Mau ya? Kan kita udah ga pernah ngobrol bareng berdua..." Bujuk Rahma.
Aisyah terdiam. Lagi pula, saat ini dirinya sedang ada di rumah sendirian, karena semuanya pergi ke rumah sakit. Apa dirinya penuhi saja permintaan Rahma?
Aisyah mengangguk. "Ya udah aku siap siap ya"
"Beneran kamu mau?"
"Iya"
"Yeyyy!! Ya udah sana siap siap, cepetan!!"
"Iya tunggu sebentar" Ujar Aisyah dengan berjalan menuju kamarnya. Setelah beberapa menit bersiap siap, Aisyah keluar kamar dan melangkah mendekati Rahma.
"Udah?!" Tanya Rahma.
"Udah"
"Ya udah ayok"
"Eh bentar, aku kunci dulu pintunya" Aisyah menutup lalu mengunci pintu rumahnya. Keduanya langsung menaiki motor milik Rahma hingga motor itu melaju ke arah tempat tujuan.
"Rahma, pelan pelan aja naik motornya!" Ucap aisyah setengah berteriak.
"Udah tenang Syah, aku udah biasa naik motor kecepatan kayak gini. Biar cepet sampe" Jawab Rahma. Namun, bukannya mengurangi kecepatan Rahma malah menambah kecepatannya, membuat Aisyah seketika langsung memegang erat baju Rahma. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang terletak di pinggir jalan membuat Aisyah langsung menghela lega dengan mengucap hamdalah.
"Kenapa kamu?" Tanya Rahma.
Aisyah menggeleng.
"Takut, kalau jatuh tadi gimana? Kamu sih, dibilangin jangan ngebut malah tambah kecepatan"
Rahma menyengir tanpa dosa. "Hehehe,, santai aja kali Syah"
"Eh Syah, aku cari toilet dulu ya. Kebelet nih, kamu cari tempat duduk dulu. Nanti aku nyusul" Lanjut Rahma yang diangguki oleh Aisyah.
"Nanti aku nyusul ya..."
"Iya!!"
Dengan cepat Rahma langsung pergi untuk mencari toilet, sedangkan Aisyah berjalan masuk mencari tempat duduk.
Bruuk
Dengan refleks lelaki yang tak sengaja menabrak Aisyah langsung memegang tangan Aisyah, agar gadis itu tidak terjatuh. "Maaf mbak saya ga sengaja" Ujarnya meminta maaf.
Aisyah mengangguk dengan berusaha melepaskan tangannya yang di masih di pegang oleh laki laki tersebut. Aisyah berdecih kecil saat lelaki itu seperti sengaja untuk menahan tangannya. "Mas, tolong lepasin tangan saya!"
"Oh iya mbak, maaf" Ucapnya meminta maaf. "Sekali lagi saya minta maaf ya mbak"
"Iya ga papa. Lain kali jangan pegang pegang, bukan mahram"
"Iya mbak, maaf. Saya pergi dulu, permisi..."
Lelaki itu berjalan keluar, sedangkan Aisyah kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari tempat duduk. Dirinya berjalan ke arah tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela. Dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangannya, Aisyah termenung. Mengapa dirinya merasa ada yang ganjal dengan lelaki tersebut.
Beberapa menit...
"Aisyah..."
Aisyah menoleh dengan tersenyum saat melihat Rahma yang berdiri lalu duduk di hadapannya. "Bengong aja, Lagi ngelamunin apa?"
Aisyah menggeleng. "Bukan apa apa"
Rahma tersenyum. "Lagi mikirin cowok ya...?"
"Nggak."
"Ya siapa tahu kan kamu lagi mikirin cowok. Eh Syah, sekarang kamu lagi suka ga sama seseorang?" Tanya Rahma.
"Kenapa emang?"
"Cuma tanya doang"
"Itu rahasia" Jawab Aisyah.
"Heh Syah, di sekolah kamu yang baru laki nya pada ganteng ga?"
Aisyah mengangguk. "Kan namanya laki laki emang ganteng, kalau perempuan baru cantik"
"Berarti aku cantik?" Tanya rahma dengan menunjuk dirinya sendiri. Aisyah mengangguk.
"Gitu kok ada yang bilang kalau muka aku sepet buat dilihat" Ujar rahma kesal dengan memanyunkan bibirnya.
"Kamu cantik kok. Jangan dengerin kata orang, kamu cantik dengan cara kamu sendiri" Balas Aisyah membuat Rahma tersenyum.
"Eh, kamu udah pesen makanan Syah?"
Aisyah menggeleng.
"Permisi..."
Keduanya langsung menoleh. Aisyah mengerutkan keningnya saat lelaki yang tadi tak sengaja bertabrakan dengannya berdiri di tak jauh darinya. "Mbak, maaf ini ponselnya jatuh" Ucapnya dengan menyodorkan ponsel Aisyah.
Aisyah mengerutkan alisnya bingung. Jatuh? Tapi kapan? Apa saat dirinya tidak sengaja menabrak lelaki itu? Namun, mengapa dirinya sama sekali tidak sadar bahwa ada barangnya yang terjatuh?
__ADS_1
Aisyah tersenyum tipis dengan menerima ponselnya. "Terima kasih ya mas..."
Lelaki itu mengangguk lalu berlalu pergi. Aisyah mengambil tas yang masih menggantung di bahunya. Dirinya semakin di buat bingung saat melihat tas selempangnya yang terbuka, bukannya tadi sudah ia tutup rapat? Dan kalau sudah ia tutup rapat, kemungkinan besar ponselnya tidak akan terjatuh saat tertabrak tadi.
"Syah!!" Panggil Rahma.
"Iya?"
"Kenapa? Ada masalah? Kok diem aja?!"
Aisyah menggeleng.
"Nggak, ga ada apa apa" Jawab Aisyah.
•••••
20.15
Tok tok tok
"Lin..."
Lina menoleh lalu menggeletakkan ponselnya di kasur. "Iya ma..." Sahut Lina dengan berjalan dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa ma?"
"Lin, tolong beliin mama nasi goreng ya. Mama lagi pengen nih"
Lina mengangguk. "Iya"
"Ini uangnya.." Lina mengambil uang yang di sodorkan oleh mamanya.
"Beli dua bungkus. Kalau kamu mau beli aja"
"Iya ma"
"Ya udah, mama kebawah dulu..."
Lina mengangguk.
Dengan tanpa membawa apapun, Lina juga langsung turun ke bawah. "Ma, Lina pergi dulu ya. Assalamualaikum" Ujar Lina dengan mencium punggung tangan ibunya.
"Waalaikum salam"
Dengan berjalan cepat, Lina langsung keluar rumah dan pergi mencari tukang penjual nasi goreng. Untuk kali ini ia lebih memilih untuk berjalan kaki. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Lina menemukan penjual nasi goreng yang berjualan seorang diri di pinggir jalan. Langsung saja dirinya membeli tiga bungkus nasi goreng, untuk dirinya sendiri dan juga kedua orangtuanya.
Setelah sekitar dua puluh menit lebih menunggu...
"Ini neng.."
"Oh iya pak, ini uangnya ya. Kembaliannya ambil aja" Ujar Lina dengan mengambil nasi goreng yang sudah dibungkus sekaligus menyerahkan uangnya.
Bapak tersebut mengangguk dengan tersenyum senang. "Terima kasih neng."
"Iya pak. Saya permisi dulu, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Lina berjalan pergi untuk pulang. Kali ini dirinya memilih berjalan di jalan pintas yang sepi. Eiits,, namun tidak ada copet ataupun kejahatan yang lainnya seperti apa yang kalian bayangkan lhoh ya. Jalan ini akan mempersingkat waktunya. Memang tidak banyak yang berani melewati jalan ini karena jalannya yang gelap dan sepi, Namun karena Lina sudah sering melewati nya jadi dirinya juga sudah terbiasa melewati jalan itu.
Lina memicingkan matanya dengan pandangan yang mengarah pada sosok lelaki yang sedang menonjok-nonjok pohon. "Siapa itu? Malam malam kayak gini nonjok nonjok pohon ga jelas kayak gitu.." Gumam Lina heran. Pandangannya teralihkan oleh mobil yang terparkir tak jauh dari orang tersebut. "Kayak kenal mobilnya..."
Beberapa detik mulutnya terbuka kaget. "Apa jangan jangan si Iqbal lagi? Tapi ngapain dia malam malam ada di sini? Di jalan sepi kayak gini!"
Lina berjalan cepat mendekati Iqbal, melihatnya dengan tatapan ngilu. Gila ya ni orang malem malem nonjok pohon. Kayak ga ada pekerjaan lain aja. Batin Lina.
"Iqbal!!" Panggil Lina.
"Assalamualaikum Iqbal" Namun tetap saja, Iqbal tidak menggubris akan keberadaan Lina.
"IQBAL!!" Teriak Lina. Merasa gemas, Lina langsung menarik paksa lengan jaket Iqbal hingga membuat cowok itu berubah posisi menjadi menghadap ke arahnya. "Lo ngapain sih bal?" Tanya Lina.
Iqbal hanya menunduk dengan keringat yang mengucur nyata dari kening hingga lehernya, dengan nafasnya yang memburu sangat jelas terlihat dan terdengar oleh lina. "Bal, jangan diem aja! Lo ngapain di sini?" Tanya Lina lagi.
Iqbal terdiam, tak lama ia memegangi kedua matanya dengan tangan kanannya. "AAARRRGGGHHH...." Teriaknya dengan menendang pohon dengan penuh emosi, sedangkan Lina melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Bal..." Panggil Lina pelan.
Lina menatap Iqbal. "Bal Lo kenapa?" Lina mengedarkan pandangannya, menyapu sekeliling yang sepi. "Bal, mendingan Lo kerumah gue. Ga enak kalau ada yang lihat kita berdua di sini, bisa nimbulin fitnah"
"Bal,, ayo!!" Ajak Lina paksa.
Dengan sedikit lemas, Iqbal berjalan ke arah mobilnya. Setelah ada di dalam, ia melihat ke arah Lina yang berdiri di luar mobil. Iqbal menyeka air matanya yang hampir tumpah.
"Naik!!" Perintahnya dengan membuka jendela mobil.
"Gue jalan aja"
"Naik!!"
Lina terdiam. "Ayo naik!!" Paksa Iqbal.
Lina mengangguk ragu, dengan cepat dirinya langsung naik ke dalam mobil. Tanpa butuh waktu lama, iqbal langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Lina. Sedangkan Lina diam seribu bahasa dengan melirik lelaki di sampingnya yang fokus pada jalan sepi yang mereka lewati. Sekilas, dirinya juga melihat Iqbal yang sesekali menghapus air matanya. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu? Perhatiannya teralihkan oleh tangan Iqbal yang terluka.
"Bal, tangan Lo kenapa?" Tanya Lina.
Karena mereka lewat jalan pintas, jadi hanya membutuhkan waktu yang pastinya tiga kali lebih singkat bila naik mobil. "Udah sampe!!" Balas iqbal.
"Tangan Lo kenapa?" Tanya Lina lagi.
"Ga papa"
"Turun!! Gue obati tangan Lo" Ujar Lina.
"Ga usah!"
"Turun bal!!" Iqbal terdiam. "Bal, turun!" Paksa Lina.
Tanpa mengangguk atau memberikan jawaban, Iqbal langsung membuka pintu dan turun dari mobil nya, hal yang sama pun di lakukan oleh Lina.
Keduanya langsung berjalan masuk kedalam. "Assalamualaikum" Lina membuka pintu rumahnya.
"Duduk. Gue mau ke dalam dulu" Ucap Lina yang langsung berjalan ke arah papa mama nya yang berkumpul di ruang keluarga.
Beberapa menit, Lina sudah datang dengan membawakan kotak obat di tangannya. Dengan nyeri ia mengobati pelan luka di tangan Iqbal, padahal yang luka Iqbal tetapi yang merasa nyeri dirinya. Lihatlah sekarang, Iqbal saja tidak bereaksi sakit sama sekali. Ia hanya sibuk termenung dengan menundukkan wajahnya..
"Lo tadi ngapain sih nonjok nonjok pohon kayak gitu!! Jadi luka kan tangan Lo!" Omel Lina. "Kurang kerjaan banget! Kalau yang lihat orang lain udah di kira gila Lo" Lanjutnya lagi.
Lina kembali melirik Iqbal, biasanya dia akan langsung nyolot tak terima bila dirinya ngomong seperti itu. Namun sekarang, sekarang apa yang ada di pikirannya saat ini?
Setelah selesai, Lina membereskan dan memasukkan semuanya menjadi satu di dalam kotak obat. "Bal Lo kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Lina yang sedari tadi satu dari pertanyaan nya belum di jawab oleh Iqbal.
Iqbal mengangkat wajahnya, dengan matanya yang terlihat merah juga tatapannya yang terlihat sedih ia menatap Lina. "Malam ini gue boleh tidur di rumah Lo?" Tanya nya pelan.
Lina mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Kalau ga boleh, ga papa. Gue ga maksa"
Lina menggeleng. "Bukan itu maksud gue. Kenapa Lo tiba tiba pengen tidur di sini? Lo lagi ada masalah? Masalah apa?" Tanya Lina.
__ADS_1
Iqbal kembali menundukkan kepalanya. Dirinya terdiam cukup lama. "Papa mama gue mau cerai" Ujarnya dengan suara parau. Air matanya pun luruh tak tertahankan, namun dengan cepat Ia menghapusnya.
Lina menghela pelan dengan menatap Iqbal. Dia juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh lelaki yang kini duduk di sampingnya. "Gue ga mau pulang kerumah untuk sementara. Itu cuma buat gue semakin terluka" Lanjutnya lagi.
"PAPA!! PA..." Panggil lina.
Gunawan yang sibuk pada laptop di hadapannya langsung menoleh dan berjalan ke ruang tamu. "Ada apa Lin?"
"Iqbal mau tidur di sini. Boleh kan?" Tanya Lina dengan tersenyum.
Gunawan menatap iqbal. "Tumben bal mau nginep di sini?"
Iqbal tersenyum. "Iya om. Lagi pengen."
Gunawan mengangguk. "Ya kalau mau nginep ga papa. Kamu kan temennya Lina. Nanti kamu biar di anter Lina buat tidur di kamar tamu ya.."
Iqbal menggeleng. "Saya tidur di sini aja om"
"Lhoh kenapa? Jangan! masa tamu tidur di sini"
"Ga papa om, saya tidur di sini aja"
Gunawan terdiam lalu mengangguk. "Ya sudah kalau begitu, om Balik ke dalam ya. Kalian lanjutin ngobrolnya"
"Iya pa.." Jawab Lina.
"Bal..."Panggil Lina. "Lo yakin mau tidur di sini aja?"
Iqbal mengangguk. "Ya udah, tunggu di sini. Gue ambilin bantal sama selimut" Ucap Lina dengan berdiri lalu berjalan ke kamarnya.
Di sini, lina ambilkan selimut yang menurutnya paling tebal dan nyaman. Ya mungkin, Iqbal saat ini membutuhkan ketenangan dan kenyamanan. "Ini bal..."
Iqbal tersenyum tipis dengan mengambil bantal dan selimut yang telah di ambilkan Lina. "Makasih" Ucap Iqbal.
"Sama sama"
Iqbal mulai membaringkan tubuhnya di sofa panjang milik Lina. Saat ini dirinya memang sudah benar benar lelah, lelah menghadapi semuanya.
"Bal,, besok setelah sholat shubuh gue mau ngajak Lo" Ujar Lina.
Iqbal menoleh. "Kemana?"
"Ke tempat yang mungkin bisa buat Lo merasa lebih baik." Jawab Lina
•••••
Seperti yang dikatakan Lina tadi malam, setelah sholat shubuh mereka langsung pergi. Iqbal terus melajukan mobilnya dengan mengikuti arahan dari Lina. Hingga akhirnya mobil milik Iqbal terparkir di pekarangan rumah kayu dengan arsitektur kuno.
Lina dan Iqbal turun dari mobil. "Ini rumah nenek gue, di Deket sini ada suatu tempat yang mau gue tunjukin ke Lo" ujar Lina.
Iqbal menoleh ke arah yang di tunjuk Lina. Sedangkan Lina mengambil ponsel dari saku gamisnya dan menyalakan senter hp nya. Karena shubuh ini hari masih terlihat gelap.
Lina berjalan ke arah gang sempit tepat di samping rumah neneknya, membuat Iqbal langsung membuntutinya dari belakang. "Lo mau ngajak gue kemana sih?" Tanya Iqbal
"Ikutin aja..."
Iqbal berdecih kecil dengan menyibak beberapa semak belukar yang menghalangi jalannya. Setelah sekitar satu menit berjalan, akhirnya mereka sampai di tanah lapang dengan rumput hijau yang subur menumbuhinya. Juga ada banyak macam macam tanaman hias dan bunga yang tumbuh di dalamnya.
Lina berjalan ke arah tiang besi lalu mengambil lentera yang menggantung di atasnya. Dengan cepat, Lina menyalakan lentera dengan korek api yang ia bawa dari rumah, setelah menyala dirinya kembali mengantungkan pada tiang besi tersebut.
"Kenapa harus pake lentera? Ga bisa pakai lampu taman apa?" Tanya Iqbal.
"Ini lebih irit" Jawab Lina enteng. "Naik!!" Perintah Lina dengan mengarahkan senter ponselnya ke arah rumah yang dibuat di atas pohon.
"Rumah burung Segede ini?" Tanya iqbal.
"Bukan rumah burung tapi rumah pohon bego!"
Iqbal tertawa kecil. "Iya ya, emang gue sebodoh itu bedain rumah burung sama rumah pohon aja ga bisa"
"Ya udah naik"
Iqbal mengangguk.
Dirinya langsung menaiki tangga juga di ikuti Lina yang menyusul di bawahnya. Setelah masuk ke dalam, Lina langsung duduk di depan jendela besar. Jendela tanpa penghalang apapun seperti kaca atau yang lainnya.
"Lo ngapain bawa gue ke sini?" Tanya Iqbal.
"Lihat matahari terbit" Jawab Lina.
Iqbal terdiam dengan pandangannya yang menyapu ke sekeliling taman. "Di sini masih ada kunang kunang ya..."
Lina mengangguk. "Iya, kalau jam segini cuma beberapa. Tapi kalau malam, banyak. Bagus banget kalau di lihat" Ujar Lina.
Lina menghela pelan dengan menatap ke arah langit yang mulai terang walau semburat mentari belum juga terlukis di pagi buta hari ini.
"Dulu, gue sering jadiin tempat ini sebagai pelarian saat ada masalah" Gumam Lina membuat Iqbal menoleh ke arahnya. "Waktu gue merasa sedih, kecewa, marah gue selalu datang ke sini. Nangis di sini sendirian, karena saat ada di sini gue merasa kayak lebih tenang."
"Lo tahu? dulu yang buat semua ini nenek, kakek sama gue. Kita buat bareng bareng, dan senengnya lagi ini taman di buat khusus untuk gue. Kita tanam berbagai jenis bunga di sini, setiap hari di siram, di rawat. Sampe tumbuh sebanyak ini" Lanjut Lina lagi.
Iqbal tertawa miris, menertawai dirinya sendiri. "Lo beruntung punya keluarga yang sayang sama Lo, nggak kayak gue. Semua ga peduli sama gue. Mama papa, semua egois, mereka mentingin dirinya sendiri tanpa mempedulikan anaknya." Ujar Iqbal.
"Gue yakin, papa mama Lo itu tetep sayang sama Lo" Ucap Lina.
"Sayang dari mana? Papa aja pernah meragukan gue sebagai anaknya" Ujar Iqbal dengan suaranya yang parau. Dari nadanya, memang tersimpan kesedihan mendalam yang ia rasa saat ini. Iqbal menghapus setetes air matanya yang jatuh.
"Meragukan gimana maksud Lo?" Tanya Lina.
"Papa mama itu menikah karena perjodohan. Mereka di jodohkan agar perusahaan dapat berkembang pesat menjadi perusahaan besar. Dalam hubungan pernikahan, ga ada kata cinta di antara mereka. Setiap hari gue harus melihat mereka yang selalu mendiamkan satu sama lain, atau bahkan harus mendengar pertengkaran mereka. Udah segala usaha gue lakuin, tapi semuanya sia sia. Setidaknya, dulu gue masih ada harapan buat menyatukan keluarga gue, tapi harapan itu udah pupus" Jelas Iqbal dengan menundukkan kepalanya.
"Di saat kecil, setiap anak pasti butuh yang namanya kasih sayang. Gue juga gitu, tapi sayangnya gue ga dapet apa yang gue harapin. Setiap hari gue cuma bisa lihat dan natap anak anak seusia gue yang di sayang sama orang tuanya. Bahkan dulu gue sering banget tanya sama Allah, kenapa gue ga bisa merasakan kebahagiaan seperti apa yang anak anak seusia gue rasain waktu itu..."
"Sebelum menikah, mama pernah menjalin hubungan sama papanya verel. Mereka saling mencintai. Bahkan saat menikah, rasa cinta itu masih ada di dalam hati mereka masing masing. Makannya mama selingkuh sama bokap nya verel, karena mereka saling mencintai"
Lina menatap Iqbal. "Dan itu kenapa setiap ketemu verel Lo selalu berantem sama dia?" Tanya Lina.
Iqbal mengangguk lemas. "Iya. Verel benci sama keluarga gue, karena dia punya anggapan bahwa mama yang hancurin keluarga nya dia. Tapi dia masih beruntung punya ibu yang peduli sama dia. Dia tetep bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu, beda lagi sama gue yang kasih sayang salah satu dari orang tua gue aja susah buat gue dapetin"
"Dan semenjak itu, mama papa sering bertengkar. Bahkan papa ga mau tidur satu ranjang lagi sama mama waktu papa tau kalau mama selingkuh. Dan saat itu juga, papa beranggapan kalau gue bukan anaknya tapi anak dari selingkuhannya mama. Gue tahu karena waktu itu secara mendadak papa ngajak gue buat Tes DNA" Ucap Iqbal lagi, dengan sekuat mungkin ia menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Mereka terlalu sibuk buat ngurusin diri masing masing, mereka terlalu mengedepankan ego. Sampai lupa bahwa ada seorang anak yang selalu menanti sebuah kasih sayang dari mereka." Lanjut iqbal. "Harapan gue itu cuma satu dari dulu. Punya keluarga yang harmonis kayak orang orang. Lo,,,, Lo bisa dapatin itu dengan gratis Lin. Tapi gue? Gue harus berjuang dulu, tapi sayangnya perjuangan gue berakhir sia sia"
Lina menatap Iqbal. Ternyata di balik sikap Lo yang nyebelin ada kesedihan yang Lo simpen bal. Maafin gue karena ga tahu semuanya.
"Waktu lulus SMP gue langsung pengen pindah ke pesantren, jauh dari rumah. Gue ga mau terus terusan lihat hal yang hanya bikin hati gue sakit. Di pesantren, gue punya lingkungan baru, temen baru, keluarga baru. Bahkan gue merasa kalau Abah sama Bu nyai lebih sayang sama gue dari pada orang tua kandung gue sendiri. Gue juga punya Fariz, Reyhan sama Ilham, mereka semua baik sama gue. Dan semenjak di pesantren, hidup gue terasa lebih baik. Semua luka, perlahan juga udah mulai sembuh. Tapi waktu gue balik lagi ke sini..." Iqbal meneguk kuat ludahnya.
"Lo punya masalah kayak gini, tapi apa Lo pernah ceritain semuanya sama orang lain selain gue?" Tanya Lina.
Iqbal menggeleng. "Gue merasa sendiri. Gue merasa ga ada yang peduli, ga ada yang mau denger cerita gue. Gue juga ga punya tempat buat berbagi kebahagiaan ataupun kesedihan. Makannya gue milih buat mendam semuanya. Gue memilih buat terlihat baik baik aja di depan semuanya" Iqbal menghela pelan. "Dan akhirnya gue lega bisa cerita semuanya. Meskipun orang yang dengerin cerita gue bukan seperti apa yang gue harapin kayak Lo macan" Ujar Iqbal dengan menoleh ke arah Lina.
Wajah Lina yang tadi terlihat sedih kini dengan cepat berganti menjadi kesal. "IQBAL!! Lo jangan mancing emosi gue ya.." Balas Lina dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Iqbal.
Lina kembali fokus menatap depan. Tak terasa semburat mentari sudah terlukis di langit bagian timur dengan indahnya, di sertai juga cahaya matahari yang sudah mulai terpancar cerah dari kediamannya. Dan mungkin, secara perlahan si raja siang itu akan naik. Melakukan tugasnya untuk menyinari juga memberi keceriaan pada penduduk dunia.
"Tu mataharinya udah mau terbit" Ujar Lina.
Iqbal menatap langit. Seulum senyum terlukis di wajahnya. "Bagus ya di lihat dari sini" Ucapnya yang langsung di angguki Lina.
Mereka tetap duduk di rumah pohon itu, menyaksikan matahari terbit. Mungkin hari ini, pagi buta dan matahari terbitlah yang menjadi saksi bisu atas keakuran mereka. Keakuran yang dulu susah untuk mereka jalin. Dan, dari sinilah kisah mereka akan di mulai.
__ADS_1
Mungkin ada seseorang yang jatuh cinta dengan satu kali tatapan. Namun, ada juga yang harus melalui berbagai rasa kebencian untuk menciptakan cinta. Cinta sejati yang abadi.
-- Lina Putri M --