
Syifa dan Aisyah berjalan menuju kantin. "Syah...Badan gue ga enak nih" Keluhnya. Padahal dirinya tidak demam. Namun rasanya lemas sekali hari ini. Apapun yang dia masukkan ke dalam mulut juga terasa hambar.
"Fa, apa mendingan kamu minum obat aja" Saran Aisyah.
"Ga ah. Ga usah. Orang ga demam." Jawabnya. "Ini harus minum yang seger seger ini"
"Assalamualaikum"
Syifa dan Aisyah langsung melihat orang yang ada di depan mereka. "Waalaikum salam"
Reyhan menatap Aisyah. "Syah,,," Panggilnya dengan memberi isyarat mata. Aisyah terdiam. Beberapa detik, di mengangguk.
"Fa, aku pergi dulu ya..."
Syifa menarik lengan Aisyah. "Ikut!!"
"Fa, gue mau ngomong sama Lo" Sahut Reyhan.
Syifa melirik Reyhan. "Ga mau. Syifa mau pergi sama Aisyah!!"
"Fa, aku ke toilet dulu." Ucap Aisyah.
"Ikut..."
Aisyah menggeleng. "Kamu ngobrol dulu aja ya sama kak Reyhan. Aku ke toilet dulu, nanti ke sini lagi deh"
"Tapi Syah.."
Aisyah tersenyum. "Udah ya fa. Kak,,, Aisyah pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.
Aisyah langsung beranjak pergi. "Waalaikum salam" Jawab Syifa.
"Fa,," Panggil Reyhan.
Syifa memalingkan wajahnya.
"Gue minta maaf"
"Buat apa?" Tanya Syifa seolah lupa akan kejadian Sabtu lalu.
"Gue ga Dateng waktu itu"
"Datang kemana?"
"Perpus" Jawab Reyhan.
Syifa menghela pelan. "Gara gara asik sama kak Naira ya?" Syifa mendongakkan kepalanya menatap Reyhan.
Reyhan memandangi Syifa. Lalu tersenyum tipis. Dia menyodorkan cokelat kepada Syifa membuat gadis itu meliriknya sekilas. "Ga mau. Syifa marah sama kakak!!" Cetusnya.
"Lo marah?" Tanya Reyhan membuat Syifa bergumam. "Ya udah kalau gitu, nanti gue kasih ke Naira aja"
Syifa langsung melotot tak terima. Dia merebut kasar cokelat di tangan reyhan. "Kan buat Syifa. Kok malah di kasih ke kak Naira?"
"Lo kan ga mau"
Syifa berdecih. "Ga peka" Ia membalikkan badan dan berjalan duduk di atas kursi panjang. Begitupun dengan Reyhan.
Dia duduk dengan terus melihat Syifa dari samping. Gadis itu tengah membuka dan menyomot cokelat di tangannya. "Mau lagi?"
"Apa?" Tanya Syifa.
"Cokelat"
"Nggak"
"Kenapa?"
"Cokelat nya ga enak" Jawab Syifa. "Kakak yang beli?"
Reyhan menggeleng. "Di kasih orang"
Syifa terdiam. Reyhan memang punya banyak cokelat dari siswi di sekolah ini yang menyukainya. Bahkan, kerap kali dia melihat cokelat, bunga dan surat membludak di meja Reyhan.
"Jadi belajar?" Tanya Reyhan.
"Nggak. Syifa lagi ga mood"
Reyhan berdiri dan berjalan pergi. Tak lama dia datang dan kembali duduk di samping Syifa. Menyodorkan sebotol air minum ke arahnya.
"Haus kan?"
Syifa mengangguk.
Dengan segera dia mengambil dan meminum air dari Reyhan. "Tumben peka" Gumam Syifa dengan memakan kembali cokelat miliknya.
"Udah makan?"
"Belum" Jawab Syifa.
"Lo mau apa?"
"Mau makan"
"Apa?"
"Ice cream Spongebob"
Reyhan kembali menatap Syifa. "Pengennya itu?"
"Iya" Syifa mengangguk beberapa kali.
"Ya udah, nanti beli"
Syifa menyengir senang. "Bener?"
"Hm"
"Sekalian sama lolipop kalau gitu deh. Kalau ga ada beli permen susu. Boleh kan?"
"Hm"
"Yess. Janji lho..."
Reyhan mengangguk.
"Kak Rey jangan lupa lagi"
"Iya"
"Awas aja kalau sampe lupa beliin ice cream
"Kalau lupa, Lo bakal apa?" Tanya Reyhan datar.
"Ngambek lah." Jawab Syifa dengan memalingkan pandangan, membuat Reyhan kembali tersenyum. Sudah gatal tangannya ingin mencubit pipi tembem Syifa. Apalagi kalau dia sedang ngambek. Jujur, Reyhan malah akan lebih suka melihat ekspresi wajah nya.
••••••
Sesuai janjinya tadi, Reyhan akan membelikan gadis itu ice cream. Reyhan melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan nya.
Kak Reyhan...
Hai kak
Reyhan, lagi nungguin siapa? Pulang bareng gue yuk
Reyhan...
Sapaan itu terus datang mengguyuri nya saat para siswi melihatnya berdiri menunggu di depan gerbang. Namun Reyhan hanya membalas dengan muka datar tanpa ekspresi.
"KAK REY...!!"
Reyhan terhenyak keget saat tiba tiba Syifa datang dengan memanggilnya keras. "Jadi??" Tanya Syifa.
"Hm"
"Ya udah ayok"
Reyhan berjalan di ikuti Syifa di sampingnya. "Kakak udah nungguin Syifa lama ya tadi?"
"Belum"
"Oh"
Syifa mendongakkan kepalanya menatap langit. Kini awan mendung mulai muncul.
••••••
Setelah selesai, reyhan dan Syifa keluar dari Indomaret. Dengan cepat Syifa Langsung membuka dan memakan ice creamnya. Tetesan air mengenai matanya, membuatnya kembali mendongak ke atas.
"Kak, Kayaknya bentar lagi mau hujan deh" Ujar Syifa.
Dan tak lama, gerimis melanda. Hingga perlahan, guyuran hujan mulai turun. Reyhan langsung mengajak Syifa ke sebuah warung tutup yang ada di pinggir jalan. Namun gadis itu malah tidak mau. Katanya sih pengen hujan hujan.
"IH SERU TAU KAK...!!" Teriaknya di tengah hujan dengan menikmati tetesan demi tetesan yang terasa di tubuhnya.
Reyhan yang berada di warung, menatap Syifa khawatir. "SYIFA!!'' Panggilnya.
Syifa menoleh, lalu tersenyum. "IH KAK, LIHAT INI, ICE CREAM SPONGEBOB NYA LUNTUR KENA HUJAN!!" Teriaknya lagi menunjuk ice cream Spongebob di tangannya.
Reyhan langsung berlari dan menarik paksa tangan Syifa. Membawanya duduk di kursi panjang depan warung. "Yah kak, Syifa belum puas tau..."
"Udah fa, nanti Lo sakit"
Syifa menghela lesu. Lalu kembali mencomot ice creamnya. "Kak, ice creamnya jadi tinggal sedikit. Luntur banyak tadi kena hujan" Ujarnya dengan membuang stick ice cream.
"Jangan buang di situ"
"Ga ada tempat sampah"
"Ambil!!" Perintah reyhan.
"Iya deh" Syifa berdiri dan mengambil kembali stick ice cream yang ia buang, lalu meletakkan di sampingnya. Dia merogoh saku seragamnya. Mengeluarkan lolipop dan permen susu yang di belinya.
"Kak, mau lolipop apa permen susu?"
"Terserah" Jawab Reyhan dingin.
"Ya udah, kakak permen susu. Syifa yang lolipop. Nih..." Dia memberikan permen susu pada Reyhan. Lalu membuka plastik lolipopnya. Menikmati rasa manis yang ada di mulutnya.
"Lama lama kok dingin ya..." Gumamnya menatap depan.
Mendengar itu, Reyhan langsung mengeluarkan jaket hitam miliknya. Dia memang selalu membawa jaket bila ke sekolah. Entah itu saat musim panas maupun hujan. Reyhan meletakkan jaket tersebut di kedua bahu Syifa, menutupi punggung gadis itu. Syifa melihat Reyhan dengan tersenyum. Dirinya mengambil permen yang masih ada di tangan reyhan. Lali membuka bungkusnya.
"Ini...Makan kak"
Reyhan mengambil permen yang di sodorkan Syifa. Lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
"Enak kan?"
Reyhan mengangguk.
"Syifa heran aja gitu, kenapa ya laki laki sukanya ngerokok. Padahal permen itu lebih enak"
Reyhan hanya terdiam. "Masih dingin?"
__ADS_1
Syifa menoleh. "Dikit"
"Kak"
"Hm"
"Kemarin kakak ngapain aja sama kak Naira. Sampe lupa ada janji sama Syifa"
"Kemarin waktu ada pelatihan, Naira pingsan"
"Pingsan?"
"Hm"
"Kenapa?" Tanya Syifa.
"Sakit."
"Terus, harus banget ya kakak yang jagain? Ga bisa orang lain?"
Reyhan kembali menatap Syifa. "Lo masih marah?"
"Nggak. Kan udah di beliin ice cream" Jawab Syifa.
"Gimana seragam Lo besok?"
Syifa melihat seragamnya. Mulutnya menganga saat tersadar. "Oi ya,, besok kan hari Selasa. Jadi harus di pake lagi ya kak. Haduh...Kalau basah basah gini di setrika bisa ga ya?"
•••••
"Baik anak anak. Minggu lalu ibu beri tugas kan? Nah, silahkan di kumpulkan sekarang. Nanti ibu koreksi" Ujar Bu Lia.
Syifa yang mendengarnya langsung melotot dan menepuk jidatnya. "Aduuhh,, gue lupa ngerjain PR nya..."
Aisyah hanya melirik Syifa sekilas. Ia berdiri lalu mengumpulkan tugasnya di meja guru. Sedangkan Syifa meratapi dirinya sendiri. Beberapa menit lagi, pasti dirinya akan kena omel habis habisan.
"Fa, sana kumpulin gih" Ujar Aisyah dengan kembali duduk di kursinya.
"Gue belum ngerjain Syah..." Jawabnya.
"Kumpulin aja"
Syifa menghela pelan dengan membuka buku tugas IPA miliknya. Dia memicingkan mata saat melihat tugas yang di tulis di buku sudah di kerjakan.
"Ayo yang belum mengumpulkan cepat di kumpulkan!!" Seru Bu Lia lagi.
Dengan cepat Syifa berdiri dan mengumpulkan tugasnya. "Syah..." Panggilnya saat sudah kembali duduk.
"Hm?"
"Lo yang ngerjain tugas gue?"
Aisyah mengangguk dengan tersenyum.
"Kenapa malah Lo yang ngerjain?"
"Kamu hari ini kan lagi ga enak badan, nanti kalau di hukum, kamu malah tambah sakit" Jawab Aisyah penuh pengertian.
"Ya Allah, baik banget sih. Makasih ya syah"
"Iya" Aisyah melirik sekilas bu lia, memastikan agar dia tidak melihatnya mengobrol dengan Syifa.
"Fa, kenapa kamu kemarin main hujan hujanan?" Tanya Aisyah.
"Ih, seru tau Syah. Seger!!" Jawab Syifa dengan suaranya yang lemas.
"Iya emang seru. Tapi kalau bikin kamu sakit. Mendingan kan ga usah"
"Udah ga papa."
Aisyah memegang kening Syifa, lalu beralih ke tangan. "Badan kamu anget fa"
Syifa mengangguk. "Iya. Kepala gue juga agak pusing"
"Nanti, jangan lupa beli obat ya. Buat kamu minum"
"Obat sirup aja ya. Gue ga suka obat yang tablet an gitu. Pahit. Kalau sirup kan manis" Balas Syifa.
"Iya, nanti kita cari."
"Kalau ga ada, nanti beli obat sirup seusia anak anak juga ga papa kok Syah" Sahut Syifa lagi.
Kring Kring Kring...
"Baik anak anak, pelajaran jam ini ibu akhiri ya. Baca Hamdalah"
"ALHAMDULILLAHI RABBIL'ALAMIIN...."
"Ini nanti tugasnya ibu bagi Minggu depan ya. Jangan lupa buat belajar. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ujar Bu Lia dengan bersiap pergi dan menaruh tas selempang di bahunya.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab semuanya kompak.
"Syah,, boleh nitip ga?"
"Apa?"
"Tolong beliin siomay ya. Kepala gue pusing. Males kalau harus ke kantin."
Aisyah mengangguk.
Syifa merogoh saku roknya dan memberikan Aisyah uang sepuluh ribu. "Ya udah fa, kamu tunggu di sini dulu. Aku ke kantin. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Aisyah berdiri dan berjalan pergi keluar kelas. Beberapa langkah dari itu, dia berpapasan dengan Lina. "Lin..."
"Mau kemana?"
"Syifa ada di kelas?" Tanya Lina.
"Ada. Kenapa?"
"Gue ada urusan sama dia."
"Oh ya udah kalau gitu. Aku ke kantin dulu ya"
Lina mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Lina. Dia kembali meneruskan langkahnya. Memasuki kelas X MIPA 1.
"Assalamualaikum, fa"
Syifa yang tengah tiduran langsung mengangkat kepala yang dia sandarkan di atas meja. "Waalaikum salam. Lin, tumben Lo kesini. Ada apa?"
"Kita di panggil sama Bu Mira" Jawab Lina.
"Kita? Emang ada apa?"
•••••
"Camping ini beberapa hari lagi. Tinggal sebentar. Lalu kapan kalian akan bayar, hm?" Tanya Bu Mira.
"Oi ya Bu,, saya lupa" Sahut Syifa.
"Bu, besok masih ada waktu kan buat bayar?" Tanya Lina.
"Iya. Jadi kalian akan bayar kapan?"
"BESOK" Jawab Lina dan Syifa bersamaan.
Bu Mira mengangguk. "Baik, saya tunggu kalian besok untuk membayar biaya camping. Jangan di tunda tunda lagi ya"
"Baik Bu" Jawab Lina.
Tok tok tok...
Seorang siswi masuk mendekati Bu Desi yang tengah santai menyemil makanannya di meja. "Bu, ada yang berantem" Lapornya.
"Siapa?" Tanya Bu Desi.
"Kak Fariz sama anak kelas Dua belas IPS kalau ga salah Bu..."
Syifa dan Lina langsung saling pandang.
"Dimana sekarang mereka?"
"Di belakang sekolah Bu"
Bu Desi langsung berdiri dari tempat duduknya, merapikan seragam dan memasang wajah galak. Dia berjalan pasti keluar dari kantor guru.
Lina mengalihkan perhatiannya dari Bu Desi ke Bu Mira. "Bu,, kalau begitu kami pamit pergi dulu"
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Bu Mira
Syifa dan Lina melangkah keluar. "Ih Lin, pelan pelan kenapa jalannya. Kepala gue pusing. Ga bisa jalan cepet"
Lina menghela pelan. "Salah sendiri kemarin main hujan hujanan"
"Ih seru tau"
"Seru dari mananya"
"Makannya kalau ada hujan turun itu di nikmatin, tetes demi tetes, guyuran demi guyuran. Seru tau. Bukannya kalau ada hujan malah lari" Balas Syifa.
"Ye kan biar ga basah bajunya" Lina mengulurkan tangan menggandeng Syifa. "Ayok ah, cepet dikit. Gue mau tau kenapa kak Fariz bisa berantem"
Syifa menghentikan langkah Lina. "Mau kemana?"
"Lihat kak Fariz berantem. Kan gue udah bilang tadi"
Syifa menggeleng. "Nggak ah. Gue ga mau. Gue mau ke kelas aja, istirahat. Tapi kalau Lo mau nonton kak Fariz berantem, lihatin kak Fariz di hukum ya udah"
Lina menghela pelan. Dia melihat wajah Syifa yang terlihat sedikit pucat. "Ya udah kalau gitu. Mau gue anterin ke kelas?"
"Nggak usah Lin. Gue bisa sendiri kok"
"Yakin?"
"Iya"
"Lo tadi udah makan belom?" Tanya Lina.
Syifa menggeleng. "Belum. Tapi tadi lagi di beliin siomay sama Aisyah"
"Ya udah kalau gitu" Ujar Lina.
"Gue ke kelas ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam." Jawab Lina. "Hati hati"
"Iyaa..."
__ADS_1
Syifa langsung berjalan pelan dengan memegangi kepalanya. Matanya terpejam, sedang tangannya terus memijat ringan pelipisnya. Tubuhnya hampir terjatuh, namun dirinya merasa ada tangan yang menahannya. Syifa membuka matanya kaget. Melihat seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.
Di sampingnya ada Iqbal dan Ilham. "Eh Han, gue sama Ilham ke sana dulu deh." Ujar Iqbal.
Reyhan mengangguk. Mereka berdua langsung berlari kecil pergi menjauh. Mungkin karena Fariz.
"Lo sakit?" Tanya Reyhan.
"Cuma sakit kepala. Sedikit"
Reyhan menghela pelan. "Jangan main hujan hujanan lagi"
"Kenapa? Seru tau....Kok pada nyalahin hujan sih?"
"Jangan keras kepala" Ucap Reyhan dingin. "Gue anterin ke kelas"
"Nggak usah" Tolak Syifa.
"Gue anterin..." Ucap Reyhan lagi.
Syifa terdiam. "Iya iya..."
Syifa kembali melangkah pelan. Sedang Reyhan berjalan dari belakang menjaganya. Mereka berhenti di depan pintu kelas. Membuat para siswi yang ada di dalamnya memandang Syifa iri.
"Makasih ya kak"
"Hm"
Reyhan merogoh saku seragamnya. Mengeluarkan dua permen herbal. "Ini" Syifa mengulurkan tangan mengambil permen yang di sodorkan Reyhan. "Makasih ya kak"
"Iya"
"Ya udah kalau gitu Syifa masuk dulu"
Reyhan mengangguk.
"Jangan lupa istirahat" Pintanya.
"Iya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.
Syifa membalikkan badan dan melangkah tanpa mempedulikan teman sekelas yang menatapnya. "Fa...."
Syifa menoleh ke belakang saat Reyhan kembali memanggilnya. "Jaga Kesehatan" Ucap Reyhan datar.
Seketika satu kelas langsung menganga. Tentu saja mereka juga ingin ada di posisi Syifa saat ini. "OH YA AMPUUN,, GUE DI SURUH JAGA KESEHATAN DONG!!" Pekik Inez dengan menatap Reyhan dari mejanya.
Umpil yang duduk di sampingnya langsung menyentil kening Inez. "Syifa yang di gituin, bukan Lo"
"Haaah,, anggep aja gue" Jawab Inez enteng.
Syifa hanya tersenyum dan mengangguk. Dia kembali melanjutkan langkahnya.
•••••
"Lina..."
Lina menoleh ke samping. "Tadi kak Fariz berantem?" Tanya Aisyah dengan nada sedikit khawatir.
"Iya. Tapi tadi udah di hukum sama Bu Desi"
"Sekarang di mana?"
"Di UKS kayaknya Syah" Jawab Lina.
"Ya udah makasih ya Lin. Aku pergi dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Lina menatap aisyah yang berjalan pergi membelakangi nya. Dari jauh, Aisyah melihat Iqbal dan Ilham yang duduk di kursi depan UKS. Aisyah menghentikan langkahnya. "Assalamualaikum kak..."
"Waalaikum salam" Jawab keduanya. Iqbal menatap lama Aisyah. Antara percaya dan tidak dengan cerita Fariz.
"Kak Fariz ada di dalam?" Tanya Aisyah.
"Iya. Kalau mau ketemu tinggal masuk aja Syah" Sahut Ilham.
Aisyah mengangguk. Dia masuk ke dalam dengan langkah pelan, melihat Fariz yang sedang duduk di kursi panjang dekat ranjang. Fariz melirik Aisyah sekilas, lalu membuang muka ke arah lain dengan memegang sudut bibirnya yang lebam.
"Assalamualaikum kak"
"Waalaikum salam" Jawab Fariz dingin.
Aisyah langsung duduk beberapa centi dari Fariz. "Kakak ga papa?"
"Jangan sok peduli sama gue" Balas Fariz dengan nada tak bersahabat.
"Aisyah emang peduli sama kakak" Aisyah menghela pelan menatap Fariz. "Kakak masih marah ya?"
"Aisyah minta maaf. Walaupun Aisyah ga tau salah Aisyah apa" Lanjutnya.
Fariz hanya terdiam tak menanggapi. Membuat suasana menjadi hening. Aisyah berdiri dan mengambil kotak obat lalu duduk di tempatnya semula. "Aisyah obatin ya kak..." Ucapnya lembut dengan membuka kotak obat.
"Ga usah!! Gue udah di obatin Ghea"
Aisyah menghentikan tangannya yang hendak mengambil kapas. Dia kembali menutup pelan kotak obatnya. "Oh gitu..." Gumamnya dengan menunduk. Aisyah mengeratkan tangannya yang masih memegang kotak obat.
"Kak,, tadi nasi yang Aisyah kasih udah kakak makan?" Tanya Aisyah berusaha membuat suasana agar tidak tegang.
Fariz menatap Aisyah tajam. "Syah,, gue minta tolong sama Lo"
Aisyah terdiam, menunggu kata selanjutnya yang keluar dari mulut Fariz. "Tolong jangan bersikap seolah olah gue ga bisa hidup tanpa Lo. NGERTI!!" Lanjut Fariz dengan penuh penekanan dalam kata katanya.
Seketika Aisyah langsung lemas. Dia meneguk ludahnya kuat. "FARIZ...."
Keduanya menoleh ke depan. Ghea di sana sedang membawakan secangkir teh jahe di atas nampan. Mungkin dia habis dari kantin. Melihat Aisyah, tatapan Ghea langsung berubah. Dia menaruh nampan di atas ranjang. Berjalan mendekati Aisyah dan menarik tangan gadis itu paksa agar berdiri.
"NGAPAIN LO KE SINI HA?" Tanya Ghea. Aisyah juga tidak mengerti, memang apa yang di lakukannya hingga membuat Ghea marah.
"Nggak kok mbak. Aisyah tadi cuma..."
"Halah udah. Mendingan Lo pergi dari sini!!" Usir Ghea.
Aisyah terdiam. "PERGI!! Mau ngapain lagi?? Mau sok peduli sama Fariz?? Denger ya,, Fariz itu udah benci sama Lo. Jadi jangan harap, Fariz bisa bersikap kayak dulu lagi ke Lo" Ujar Ghea. "PERGI!!"
"PERGI SANA!!" Lanjut Ghea dengan mendorong tubuh Aisyah.
Aisyah menghela panjang, ia berjalan mengembalikan kotak obat yang masih ada di tangannya. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Ghea dingin.
Aisyah berjalan keluar dari UKS. "Syah..." Panggil Iqbal.
Dirinya menoleh. "Yang sabar Syah.." Ucap Iqbal.
Aisyah tersenyum, meskipun hatinya sudah cukup sakit mendengar ucapan Fariz dan Ghea. "Iya kak"
"Em kak, Aisyah mau tanya. Tadi kenapa kak Fariz berantem?"
Iqbal menghela pelan. "Dia tadi ngelindungin ghea. Makannya sampe berantem" Jawaban Iqbal membuat Aisyah terdiam.
"Oh ya udah kalau gitu. Aisyah pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Ilham dan Iqbal.
Setelah Aisyah pergi, Iqbal melihat ke dalam UKS.
"Ini minum..."
Fariz menerima teh jahe yang di bawa Ghea untuknya. "Makasih"
"Iya"
"Riz..." Panggil Ghea.
"Hm"
"Lo masih ada rasa sama Aisyah?" Tanya Ghea.
Fariz hanya terdiam dengan menyeruput teh jahe miliknya. "Kenapa Lo tanya gitu?"
"Ya,,, gue saranin aja sih. Kalau Lo Masih ada rasa sama Aisyah, mendingan di buang aja. Di buang yang jauh. Biar bener bener hilang"
Fariz mengerutkan alisnya. "Gue ga mau Lo mencintai orang yang salah" Lanjut Ghea. "Riz,, gue juga suka sama Lo. Dari dulu. Apa Lo ga mau berusaha buat cinta sama gue?"
"Idih najis" Gumam Iqbal yang mendengar ucapan Ghea.
"Lo ga lihat tadi,,, Aisyah itu bener bener ga tau Malu. Dia masih bersikap seakan akan ga pernah ngelakuin dosa apapun ke Lo. Dia juga ga mau mengakui kesalahannya. Apa Lo masih mau mempertahankan cinta sama cewek modelan kayak gitu?"
"Riz,,, Lo masih di kasih Aisyah makanan tiap pagi?" Tanya Ghea. Fariz mengangguk.
"Lo makan?"
Fariz terdiam. Malas untuk menjawab.
"Mulai besok, gue yang bakalan kasih makanan buat Lo. Makanan yang di kasih Aisyah, jangan Lo makan. Terserah deh Lo mau kasih ke orang atau buang." Ujar Ghea. "Lo ga tau kan makanan yang di kasih Aisyah itu haram atau halal. Ya maksudnya,, dia kan culik adik Lo demi cuma dapat uang. Siapa tahu, dia ngelakuin cara cara yang ga bener lainnya"
Iqbal berdecak kesal. "Bener bener penghasut ya Ghea. Ga bener ni kalau Fariz terus terusan sama tu cewek"
••••••
Syifa membuka matanya dan mengangkat kepalanya saat menyadari Aisyah yang telah datang dan duduk di sampingnya. Dia terdiam menatap Aisyah. "Syah, Lo kenapa?" Tanya Syifa.
Aisyah menoleh. Mendengar pertanyaan Syifa, ia langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Berusaha menyembunyikan air mata yang sudah terkumpul agar tidak menetes sekarang. Aisyah menghela pelan lalu kembali menatap Syifa dengan tersenyum.
"Nggak kok. Ga kenapa Napa"
"Terus kenapa merah matanya?"
"Kelilipan" Jawab Aisyah bohong. "Oh ya fa, ini siomay nya"
Syifa mengambil siomay yang Aisyah taruh di atas meja. "Makasih ya.." Ujar Syifa.
"Fa, gimana keadaan kamu?"
"Masih pusing" Jawab Syifa. "Lo udah makan?"
Aisyah terdiam. Akhir akhir ini dia tidak pernah sarapan pagi ataupun jajan di kantin. Pasalnya uang saku jajannya ia gunakan untuk membeli nasi yang di berikan kepada Fariz. Tentu dia melakukan itu untuk memperbaiki keadaan juga hubungannya. Namun dirinya juga tidak tahu, apakah nasi pemberiannya di makan atau tidak oleh lelaki itu.
"Hei. Udah makan belum?" Tanya Syifa lagi.
"Udah kok"
"Ya udah kalau gitu" Balas Syifa dengan memakan siomaynya. "Kok siomay nya pahit ya??"
"Bukan siomay nya. Tapi mungkin lidah kamu" Balas Aisyah.
"Oh iya he'em,, lidah aku emang pahit. Tapi enak kok. Pahit pahit pedes gimana gitu jadinya..."
•••••
يَعْمَلُوْنَ السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَاُولٰۤىِٕكَ يَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Q.S An Nisa : 17)
...*******...
__ADS_1