
Malam itu, Ilham di perintahkan Abah untuk menemaninya mengisi kajian di salah satu desa bersama kang ridho. Mereka berangkat setelah menunaikan sholat isya'. Biasanya bila Abah ingin mengisi kajian, beliau akan di temani kalau tidak dengan kang ridho ya kang rozak. Keduanya orang kepercayaan Abah sekaligus abdi dhalem pesantren. Namun malam ini, Abah juga ingin di temani Ilham. Kang rozak dan kang ridho ini sudah 7 tahun lamanya tinggal di pesantren. Maka wajar saja mereka menjadi dua orang kepercayaan Abah.
Malam ini, kang rozak sedang ada di tambak ikan dan akan menginap di sana. Jadi, Abah ini mempunyai tambak ikan yang jaraknya sekitar 5 km dari pesantren. Walaupun memang tidak terlalu besar, tetapi jika panen mendapatkan hasil yang lumayan banyak. Dan Abah menyerahkan kepercayaan tambak itu untuk di kelola keduanya. Sehingga setiap malam kang Rozak dan kang ridho tidur di dalam rumah kecil yang berdiri di tambak tersebut untuk menjaganya secara bergantian. Jaga jaga kalau ada yang mengambil nya tanpa izin.
Sekitar 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai. Sudah banyak orang yang menunggu di sana. Abah mulai berjalan ke arah panggung dengan tersenyum kepada orang orang yang hadir. Beliau menaiki panggung lalu duduk bergabung bersama beberapa orang yang duduk di sana.
Acara di mulai. Abah membukanya dengan memanjatkan syukur kepada Allah SWT juga sholawat kepada Baginda Rasulullah SAW.
Satu jam acara masih berlangsung. Ilham terduduk bersama kang ridho dan dua bapak lainnya yang menjaga keamanan acara. Dia terus menyaksikan dan mendengarkan setiap bab yang di sampaikan Abah. Perhatiannya teralihkan oleh seorang lelaki berjaket hitam dengan celana jeans sobek bagian lutut. Mempunyai tampang yang dapat membuat sebagian orang segan melihatnya.
Ilham langsung berdiri. Menajamkan matanya melihat orang itu yang terus berlari ke arah panggung. Merasa dia bukan orang baik baik, Ilham juga langsung berlari lebih cepat mengejarnya. Tak peduli akan perhatian sebagian orang yang kini teralihkan.
Matanya menatap tajam ke arah tangan orang itu yang terselip ke belakang, sebilah pisau kecil di keluarkan membuat Ilham semakin mempercepat larinya. Saat lelaki itu hendak menaiki panggung, Ilham langsung menarik jaket hitamnya secara paksa. Lalu membanting tubuhnya dengan gerakan taekwondo yang sudah ia kuasai. Mungkin kalau fariz jago pencak silat, Ilham juga tidak kalah jagonya dalam taekwondo. Namun, dia tidak pernah menunjukkan nya.
Seketika ia dan orang itu langsung menjadi pusat perhatian. Ilham mengambil pisau yang ada di tangan orang itu. Orang orang yang ada di sana langsung menampakkan ekspresi yang berbeda beda. Ada yang kaget, takut, geram ada juga yang langsung sigap membantu mengamankan orang itu. Ilham menatap Abah. Memastikan beliau baik baik saja. Matanya teralih ke kang ridho yang berdiri tak kalah kagetnya.
Tak sampai di situ ternyata, lima orang lelaki dengan tampang seorang penjahat berlarian masuk membuat keributan bahkan ada juga yang terkesan menyakiti. Ilham langsung melawan mereka. Begitupun kang Ridho. Sempat dirinya merasa aneh, mengapa bapak bapak di sana malah hanya terdiam melihat orang orang itu membuat keributan. Namun melihat ada perlawanan dari Ilham dan kang Ridho, barulah mereka berani untuk membantu mereka berdua mengatasi lima orang itu.
Walaupun dirinya sibuk melawan lelaki di hadapannya. Matanya tak luput untuk mengawasi Abah. Memastikan Abah baik baik saja di sana. Ilham kembali fokus ke arah depan. Matanya kembali melirik ke arah Abah. Melihat seseorang yang kembali berlari ke arah Abah. Tak mau membuang waktu, Ilham menendang tepat di dada lelaki di hadapannya. Dirinya langsung berlari ke atas panggung. Orang itu akan keberanian nya langsung mengangkat pisau yang ada di tangannya, lalu mengarahkan ke arah tubuh Abah. Melihat hal itu, Abah hanya memilih untuk menggeser tubuhnya. Hampir terkena. Mengapa hanya menggeser tubuh?
Karena Abah melihat kecemasan di wajah Ilham akan kondisinya saat ini. Yakinlah, kecemasan hanya ada pada orang orang yang di dalamnya terdapat cinta dan kasih sayang. Dan orang itu tidak akan membiarkan orang yang di cintainya terluka, walau oleh siapapun itu. Preman itu semakin mengganas, dia kembali melangkah mendekat dan melayangkan serangan pisaunya. Beruntung dengan begitu sigapnya Ilham langsung datang dan menangkap sosok itu dari belakang lalu menahan langkahnya. Karena terus memberontak, mau tak mau Ilham memukul keras bahu orang tersebut menggunakan sikunya hingga membuat posisi preman itu duduk berlutut menahan sakit di bahunya.
"KURANG AJAR!! LEPASIN GUE!! DENGER YA, DIA ITU CUMA NGAJARIN AJARAN SESAT. GA PANTES ADA DI SINI!" Teriaknya dengan nada penuh kebencian.
•••••
"Assalamualaikum Abi..." Ujar Dinda.
Abah yang tengah membaca Alquran langsung menutup bacaannya. "Waalaikum salam Din.."
Dinda mencium punggung tangan Abah lalu duduk di kursi. "Abi, gimana keadaannya?"
"Alhamdulillah baik,,"
"Ya Allah,,, Abi bener bener ga papa?"
Abah mengangguk. "Ga papa Din. Ga usah khawatir"
Dinda menghela pelan. "Bi, apa setelah ini Abi tetep mau isi kajian di desa itu?"
"Iya"
"Tapi kalau kejadian ini terjadi lagi gimana?" Tanya Dinda khawatir.
"Kamu ga usah khawatir gitu to Din,, Alhamdulillah mereka para preman itu sudah di bawa ke kantor polisi"
Dinda terdiam. "Emang para warga itu,, berani laporin premannya kepolisi bi?"
"Ilham yang laporin"
"Kak Ilham?"
Abah mengangguk. "Iya. Ilham melaporkan preman itu atas kasus percobaan pembunuhan"
"Kak Ilham tadi malam ikut bi?"
"Iya. Abi sengaja ajak Ilham"
"Wis to nduk, Ndak udah khawatir gitu. Abah kan sudah aman" Sahut Bu nyai yang datang dengan membawa secangkir teh. "Ini tehnya bi"
"Njih, Terima kasih ummik" Jawabnya.
"Dinda,, sana sekolah nduk. Nanti kamu terlambat lhoh" Ucap Bu nyai.
"Iya ummik" Dinda berdiri. Menyalami tangan mereka satu persatu. "Dinda ke sekolah dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Abah dan Bu nyai.
•••••
Lina berjalan menghampiri Aisyah yang terduduk seorang diri di taman belakang. "Assalamualaikum"
Aisyah mendongakkan kepalanya. "Waalaikum salam. Lin,,,"
Lina duduk di samping Aisyah. "Lo kok di sini? Ga di kantin?"
"Nggak Lin. Aku hari ini lagi puasa. Kamu kok ada di sini?"
__ADS_1
"Iya gue cari iqbal. Mau kasih semur jengkol"
Aisyah mengerutkan kening. "Kak iqbal suka semur jengkol?"
"Iya kayaknya" Jawab Lina. "Eh Syah, Lo puasa karena ga punya uang jajan??"
Aisyah terdiam. "Enggak kok. Aku niatnya emang puasa, biar dapat pahala. Bukan karena..." Aisyah menggantung kalimatnya.
"Syah, iya gue tahu niatnya puasa. Tapi juga sekaligus biar ga jajan. Soalnya kan uang jajan Lo udah habis buat beli makanan buat kak Fariz. Iya kan?" Lina menatap aisyah yang terdiam lalu menghela berat. "Syah,,, lo ga usah kasih makanan ke kak Fariz lagi ya. Itu uang buat beli makanan aja buat Lo. Kak Fariz pasti udah punya uang sendiri lah..."
"Ya tapi Lin gimana lagi. Lin,, kamu kan tahu sendiri kak Fariz sekarang gimana kalau sama aku. Lin bener bener deh aku ga mau ada hubungan yang retak sama orang lain. Sama siapapun itu. Mbak Ghea, sheren ataupun kak Fariz...aku pengen hubungan aku sama orang lain itu baik baik aja." Jelas aisyah. "Mungkin dengan kasih kak Fariz makanan,,, kak Fariz bisa sedikit demi sedikit membuka dirinya buat ngomong sama aku. Biar semua masalah ini cepet selesai"
Lina menganggukkan kepalanya. "Iya gue paham itu. Tapi Lo gimana Syah? Harus gitu ya Lo ga makan dari pagi sampe siang setiap hari. Syah gue aja jam 8 itu rasanya udah laper banget!!"
Aisyah terdiam lama. "Kalau gitu kamu punya cara lain Lin biar kak Fariz bisa ngomong lagi sama aku?"
Lina ikut terdiam. "Ga tau juga sih gue... Eh tapi coba nanti gue cari cara lain deh"
"Assalamualaikum"
Keduanya menoleh. "Waalaikum salam"
"Gue cariin kemana mana juga" Ujar iqbal.
"Oh kalian mau bicara penting ya? Kalau gitu aisyah pergi aja." Ucap Aisyah dengan berdiri. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam'
Iqbal dan Lina menatap Aisyah yang melangkah pergi. "Ah Lo bal,, ngapain sih pake datang segala??"
Iqbal duduk di samping Lina. "Gue laper. Mana semur jengkolnya, belum lo kasih juga"
"Oi ya lupa. Nih..." Lina menyodorkan apa yang di minta iqbal.
"Kerupuknya mana?" Tanya Iqbal.
"Nggak ada lah. Kan Lo ga minta"
Iqbal berdecih. Padahal kalau sama kerupuk rasanya lebih enak. Iqbal menyendok makanannya lalu mulai menyantapnya.
"Lumayan lah"
"Hiii... gue aja ga suka"
Iqbal menatap Lina. "Kalau Lo ga suka kenapa dulu Lo kasih ke gue?"
"Ya justru itu. Dulu kan gue mau ngerjain Lo. Taunya Lo malah suka"
Iqbal hanya mengangguk lalu kembali menyantap semur jengkol dengan nasi hangat nya.
"Bal..."
"Hm"
"Caranya buat ngeluluhin hati cowok itu gimana sih?"
Mendengar pertanyaan Lina membuat iqbal langsung tersedak. Lina menggeser tubuhnya lebih ke samping. "Hiyek,,, Lo kenapa sih pake di muntahin segala nasinya??"
Iqbal menormalkan kondisi mulutnya. Menelan semua yang sudah ia kunyah. "Bukan gue muntahin, tapi ga sengaja. Lagian Lo kenapa sih tanya begituan? Lo mau ngeluluhin hatinya siapa emang?"
"Kak Fariz"
Seketika mata iqbal membulat sempurna. Kaget. "Gila ya Lo Lin. Lo mau nikung sahabat sendiri ya? Hubungan aisyah sama fariz itu lagi ga baik. Lo malah nambahin masalah pake mau luluhin hatinya Fariz. Heh gimanapun Fariz itu tetep suka sama Aisyah, walaupun sekarang fariz emang lagi marah sama dia."
Lina berdecak kesal. "Ini itu bukan gue yang mau ngeluluhin hatinya kak Fariz. Tapi Aisyah. Makannya jangan langsung nyerocos!!" Ujar Lina.
Iqbal menghela lega. "Oh gue kirain."
"Jadi gimana caranya?"
Iqbal terdiam. "Gimana ya?"
"Masa Lo ga tahu sih gimana caranya? Lo kan temenan sama kak Fariz, pasti pernah lah marahan. Walaupun jarang"
"Ya masalahnya cowok luluhin hatinya cowok, sama cewek luluhin hatinya cowok itu beda" Balas Iqbal. "Biasanya ya kalau cewek itu sering ngerayu ngerayu cowoknya biar hatinya luluh. Contohnya,, sayang pliis maafin aku dooong. Nah gitu"
Lina menggeleng geli. "Nggak nggak. Ya kali Aisyah kayak gitu"
__ADS_1
"Ya kan gue cuma kasih contoh. Kebanyakan yang gue lihat biasanya itu sampe si cewek peluk peluk gitu. Biar hati cowoknya luluh. Terus di pegang pegang, di kasih keyakinan..."
"Yang bener aja Lo. Ga mau lah aisyah sampe pegang pegang. Ah bal, serius lah"
"Ini gue serius. Emang kebanyakan gitu kok"
"Otak Lo cerdas dikit kek. Biar mikirnya bisa bener" Ucap Lina.
"Heh Lin, gue ini ga pengalaman dalam hal begituan. Jadi gue ga tau lah caranya"
Lina berdecih. "Percuma dong gue tanya Lo"
•••••
Ilham duduk di salah satu kursi yang ada samping koridor sekolah. Dengan buku Kumpulan Hadits Shohih Bukhori Muslim di tangannya.
"Assalamualaikum"
Ilham menoleh menatap Dinda. Dia mengulum senyum. "Waalaikum salam"
"Kak Ilham, kak Ilham gimana keadaannya? Ga papa?"
Ilham menutup bukunya lalu berdiri. Dia menggeleng. "Nggak"
"Kak, Dinda mau ngucapin terima kasih sama kakak. Kalau ga ada kakak Dinda..."
"Udah Din, ga papa. Ini semua karena Allah" Balas Ilham.
Dinda menundukkan kepalanya. Rasanya dia berhutang budi kepada Ilham. "Maaf kak dinda ga bisa kasih kakak apa apa."
"Lo ga usah pikirin itu"
"Din, gue mau tanya sesuatu sama Lo. Kenapa kejadian kayak gitu bisa terjadi. Maksutnya ga ada asap kalau ga ada api. Mungkin Lo bisa cerita yang sebenarnya" Ujar Ilham.
Dinda terdiam dengan menghela panjang. "Sebenarnya dulu Abah pernah mengisi kajian, dan denger cerita kalau di desa sebelah itu di kuasai sama preman yang suka semena mena. Dan di sana, semua harus patuh sama peraturan yang udah di tetapkan sama preman itu. Kalau ada yang melanggar, mereka para warga akan terima akibatnya" Cerita Dinda. "Makannya warga di sana itu mereka patuh sama apa yang di perintahkan preman preman itu, walaupun harus menderita. Ya, bahasanya cari aman gitulah kak."
"Waktu itu Abah datang ke desa sana, Abah minta biar mereka ga gampang buat di peras. Soalnya kak, preman itu sering merampas gitu aja uang hasil kerja keras orang orang." Ujar Dinda.
Ilham terdiam. Pantas saja, mereka hanya terdiam melihat preman itu membuat keributan dan baru bertindak saat melihat dirinya memberi perlawanan. Alasannya karena takut. "Terus?"
"Abah jadi sering datang ke sana. Abah sering nasehatin orang orang buat jangan takut kepada selain Allah. Sering kasih kajian di masjid. Lama kelamaan, orang orang mulai berani sama preman itu, mulai membantah semua ketidakadilan yang selama ini preman itu ciptain. Jadi, preman itu sempat mengancam Abah, kalau Abah berani menginjakkan kaki di desa itu lagi, Abah bakal terima akibatnya. Dan kekhawatiran Dinda soal ancaman preman itu, terjadi tadi malam. Alhamdulillah, untungnya ada kakak"
Ilham mengangguk paham. " Iya Alhamdulillah. Jangan lupa, kang Ridho juga yang udah bantu buat jagain Abah."
"Iya kak" Balas Dinda. "Ya udah kalau gitu Dinda pamit ya kak. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Dinda membalikkan badan. "Din..."
Dia menoleh ke belakang. "Gue cuma minta satu hal sama Lo. Doain,, agar semua permintaan dan tujuan baik di dalam doa gue bisa terkabul dan di ijabah sama Allah" Pinta Ilham.
Dinda tersenyum lalu mengangguk. "Iya kak. Pasti Dinda doain... apapun yang terbaik buat kakak" Ujar dinda membuat senyuman Ilham bertambah lebar.
•••••
LEMBAYUNG SENJA
Makna sebuah hubungan.
Cinta bisa menguatkan bila kita selalu ikhlas dalam kebersamaan.
Tapi akan melemahkan bila kita menuntut kesempurnaan.
Sebab jodoh bukan mencari yg terbaik
Tapi menerimamu dengan baik...
•••••
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(Ar Rum : 21)
...******...
__ADS_1