Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Hujan


__ADS_3

Teruslah *berbuat baik, walau kebaikanmu tak


pernah dianggap dan dihargai oleh orang lain



Aisyah Anisa* -



Hari ini, sepertinya mentari tak menyapa. Langit mendung dan awan hitam memulai pagi buta hari ini. Syifa yang baru saja selesai mandi dan memakai seragam langsung mengambil selimut untuk menyelimuti tubuhnya yang kedinginan.


"Syifa, Lo ngapain sih pake di situ segala. Ayo berangkat, sebelum hujan nih" Ujar lina.


"Bentar bentar Lin, gue kedinginan nih..."


"Udah ayok...atau kita tinggalin Lo"


"Eh jangan jangan. Iya ya..." Syifa melepaskan selimut dari tubuhnya, lalu melipatnya dan menaruh di atas bantalnya. Ia berjalan mengambil tasnya. "Ayok..."


Mereka berempat langsung berlari menuju sekolah, sebelum hujan turun dan membasahi seragam mereka. Sesampainya di sekolah, mereka langsung pergi ke kelas masing masing. Tak terkecuali Dinda. Ia berjalan menuju mejanya. Dinda mengedarkan pandangannya. Kenapa ada kertas hijau lagi di mejanya?


Dinda mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia membuka lipatan kertas tersebut, lalu membacanya.


Aku adalah ganjil yang kau genapkan


Kau adalah teka teki yang ku lengkapi


Dan kita adalah masa lalu yang berbeda


Dengan masa depan yang sama


Semoga.....


Dinda melihat kertas tersebut. Sampai saat ini pun dia belum mengerti maksud orang tersebut mengiriminya surat seperti ini. Dinda menoleh ke belakang.


"Riana..." Gadis yang merasa namanya di panggil pun langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Dinda.


"Iya?!"


"Kamu tahu ga, siapa yang taruh ini di mejaku?"


Riana mengedikkan bahunya. "Ga tahu gue, dari pas gue masuk kelas ini kertas itu udah ada di meja Lo"


Dinda terdiam sejenak, lalu tersenyum singkat. "Makasih ya"


Riana mengangguk.


Dinda kembali melipat kertas tersebut pada bentuk awal, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia menoleh ke arah jendela, dimana di luar terlihat jelas hujan telah turun dengan derasnya. Sedangkan orang orang yang ada di dalam kelas, sibuk dengan dirinya sendiri.


Hal yang berbanding terbalik oleh kelas 10 MIPA 1, dimana saat ini kelas itu terdengar berisik dan ramai. Tidak kalah berisiknya saat ada di pasar, dimana ibu ibu yang terus mengoceh menawar harga yang sudah tertera. Para murid lelaki kelas ini, mereka sibuk memukul Mukuli meja dengan beberapa murid perempuan yang bernyanyi. Karena hujan deras di luar, volume suara mereka di besarkan dua kali lebih keras dari biasanya. Dengan asiknya mereka menyanyikan lagu berjudul takkan pisah dari wali.


Syifa yang mendengarnya pun hanya bisa menggerutu dengan menutupi kedua telinganya. "Hhsss,, mereka sumpah berisik benget!!" Gumam Syifa kesal. "Mereka pikir suara mereka bagus apa, suara cempreng gitu di banggain. Mana keras lagi nyanyinya, kayak ada konser dangdut aja." Ya bagaimana tidak cempreng, orang yang nyanyinya paling keras itu umpil. Yang kata Syifa sih suaranya kayak kadal kejepit.


"Hsst, Syifa ga boleh gitu..." Ujar Aisyah.


"Ya gimana lagi Syah, beneran nih kuping gue pengeng"


Sedangkan sebagian siswi lainnya pada gosipin berita terbaru kemarin. Yang tentang Sasa. Ada juga yang saling cerita, dengan kadang kala tertawa. Padahal ketawa mereka ga ada anggun anggunnya sama sekali. Bener deh. Menggelegar ke seisi ruangan kelas. Padahal nih ya, kalau lagi ketemu cowok, apalagi fariz sama reyhan mereka itu sok sok an anggun, kalem banget. Ya gitulah kalau kumpul sama temen. Bobroknya keluar semua. Ya gimana tuh kelas ga rame coba.


Braak


Semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Seketika semuanya melotot dan langsung berhamburan lari ke meja masing masing. Sedangkan dari ambang pintu terlihat guru gendut dengan pipi tembem dan juga penggaris kayu panjang di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Bu Desi.


Bu Desi melotot judes pada semua murid. Membuat kelas yang tadinya rame banget, jadi hening banget. Hanya suara guyuran hujan yang mereka dengar. "JANGAN BERISIK!" Ucap Bu Desi judes.


"Kalau berisik ibu hukum kalian!" Ujarnya dengan tambah melotot. Membuat wajah judesnya berubah jadi serem. Selang beberapa detik Bu Desi berjalan meninggalkan kelas. Semua murid menghela lega.


Selang beberapa detik. "Selamat pagi anak anak..." Pak Ali, guru matematika kelas 10 MIPA 1, dia berjalan memasuki kelas. Lalu duduk di kursi.


"Pagi pak..."


"Habis di marahin ya..." Ujarnya dengan senyum menggoda muridnya.


"Yap! 100 buat anda pak..." Jawab bagus. Murid yang ga ada rasa malu di kelas ini.


"Makannya jangan berisik!"


"Yah pak, itu ma Bu Desi nya aja yang hobi marah marah. Lihat ini marah, lihat itu marah. Heran saya, marah marah terus kok ga stres stres ya.." Timpal Aldo. Yang ini, murid ga punya sopan santun.


"Lo doain Bu Desi buat stres?" Tanya bagus.


"Ya moga aja..." Jawabnya enteng.


"Murid ga ada akhlak Lo. Kena karma baru tau rasa Lo.." Timpal Tio, temennya Aldo.


"Nanti Bu Desi bilang gini lhoh..." Bagus berdiri dari tempat duduknya. Lalu menunjuk Aldo. "Dasar murid durhaka, aku kutuk kau jadi batu bungkuk" Ujarnya tanpa Malu. "Bungkuk, kuk, kuk, kuk..." Gumamnya lagi. Tuh kan, emang ga ada malunya deh tu orang.


Seketika melihat tingkah konyol bagus, semuanya langsung tertawa. Kecuali Aisyah, yang hanya bisa tersenyum dengan geleng geleng kepala dan membaca istighfar. "Nanti deh Lo, gue ajak ke RSJ. Kayaknya temen temen Lo pada di sana deh" Timpal Tio.


"Bagus, kembali ke tempat duduk..." Perintah pak Ali.


Bagus mengangguk, dan langsung mengikuti apa yang di perintahkan pak Ali. Eh jangan salah lhoh, walaupun ga punya Malu, tapi dia tetep murid penurut. Ga pernah bantah kalau di perintah sama guru.


"Baik anak anak, bapak akan membacakan nilai dari ulangan Minggu kemarin." Ujar pak Ali dengan melihat selembar kertas. "Di sini kalian banyak yang mendapat nilai jelek. Tidak lulus KKM. Yang lulus hanya ada 2 orang"


"Bapak bacakan dari urutan absen paling bawah ya..."


"Zulia amaira Sholeha nilainya 60. Yuli sika reyyandra nilainya 78. KKM nya 75 ya, jadi ini lulus."


Pak Ali terus membacakan nama beserta nilai yang di dapat. "Claresta sherenia intan 94"

__ADS_1


Sheren yang mendengar nilainya langsung tersenyum lebar. Puas, tentu saja. "Bella Cantika Putri 56, Bagus Aditya putra 45"


"Gila, nilai gue bagus banget!" Ujar bagus.


"Bagus dari mana nilai 45 itu" Ucap Aldo.


"Ya baguslah, dari pada Lo berdua. Udah nyontek, dapetnya 30 pula. Mendingan gue, pake otak, dapetnya juga mending" Kata bagus dengan bangganya.


"Heleh, kalau gue dapet contekan lagi jangan minta Lo ke gue" Ucap Tio.


Pak Ali memicingkan matanya. "Oh, ternyata ada lagi yang lulus KKM. Berarti ada 3 orang yang lulus. Aisyah annisatul Lutfiyah, dapat nilai 98"


"Whoo,, nyaris sempurna Syah. Cuma salah satu itu pasti" Ujar Syifa. "Yeeee...." Syifa bertepuk tangan.


"Eh tepuk tangan dong tepuk tangan dong umpil..." Suruh Syifa.


"Lhah kok maksa"


"Udah tinggal tepuk tangan gitu doang susah amat, tepuk tangan dong...yeee"


Dengan sedikit terpaksa umpil bertepuk tangan, di ikuti dengan Kania. "Ish Kania, ngapain coba ikut ikutan..." Ujar sheren dengan menghentikan paksa tepukan Kania.


"Kenapa? Kan Aisyah dapat nilai bagus"


Sheren menghembuskan nafas kasar. "Cuma dapet segitu aja sombong!" Ujar sheren yang pasti merasa iri ada orang yang memiliki nilai yang lebih tinggi darinya.


Seketika Aisyah langsung melirik sheren, karena mendengar ucapannya. "Sheren, kok ngomong gitu" Tegur Kania.


Sheren memutar bola matanya malas. "Kenapa selalu Aisyah. Pelajaran ini, pelajaran itu yang unggul selalu Aisyah. Dimana mana yang di sebut guru selalu Aisyah. Contoh Aisyah, contoh Aisyah. Emang sok pinter banget ya tu orang. Nggak gila sekalian aja sih dia..."


"Sheren..." Kania memelototi sheren. "Jaga ya omongan kamu"


Kania melirik Aisyah, bagaimana kalau gadis itu mendengarnya. Sedangkan Aisyah, walaupun ia mendengar jelas ucapan sheren. Dengan sebisa mungkin ia berpura pura untuk tidak mendengar nya.


••••••


Bruuk


Suara gelak tawa kini terdengar. Puas mereka mengerjai gadis itu. Sedangkan Sasa yang terjatuh di tengah guyuran hujan hanya bisa menatap kesal mereka.


"Astaghfirullah Sasa..." Aisyah yang melihat Sasa di tertawai oleh banyak orang langsung berlari ke arah Sasa. Tak peduli, seberapa derasnya hujan yang turun saat ini.


"Kalian itu apa apaan sih, jangan main dorong dong...!" Ujar Aisyah menatap mereka satu persatu. Ia langsung menjulurkan tangan kanannya. "Sasa ayo,, sebelum seragam kamu basah kuyup!" Ucap Aisyah setengah berteriak.


Sasa melihat Aisyah. Aisyah memegang lengan Sasa, membantunya untuk berdiri. Namun dirinya malah di dorong oleh gadis itu. Sasa berdiri. "Gue ga butuh bantuan Lo!" Ujar Sasa dengan menatap Aisyah lalu berlari pergi.


Sasa, Air matanya kini mengalir deras, dengan tangannya yang memegangi dinding sebagai pembantu dirinya berdiri tegap. Dari ujung rambut hingga kaki, semuanya basah kuyup. Sejak berita itu tersebar, hidupnya berubah drastis.


Aisyah menaruh jaketnya di tubuh Sasa. Membuat gadis itu langsung menoleh ke belakang. "Lo lagi Lo lagi, maunya apasih Lo?!"


"Pake jaketnya ya... biar ga kedinginan" Ujar Aisyah lalu membalikkan badan dan berjalan pergi.


Sasa melepaskan jaket yang di sampirkan di kedua bahunya, lalu membuangnya di sembarang tempat. "Gue gak butuh itu semua!" Ucap Sasa setengah berteriak. Lalu ia menginjak jaket Aisyah yang ia buang di lantai. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, padahal selama ini Aisyah selalu baik padanya. Dan entah apa alasan yang ia punya untuk membenci Aisyah.


Aisyah berjalan mendekat, lalu berjongkok untuk mengambilnya. Namun ada tangan lain yang memegang jaketnya, lalu mengambilnya. Siapa?


Aisyah mendongakkan kepalanya, dirinya ikut berdiri. "Kak..."


Devan tersenyum dengan menyodorkan jaket Aisyah. "Ini jaket Lo"


Aisyah mengambilnya. "Makasih ya kak"


Devan mengangguk.


"Kok seragam Lo basah?" Tanya Devan.


"Tadi kehujanan"


Mendengar jawaban Aisyah, Devan langsung melepas jaketnya. Lalu menyodorkannya pada Aisyah. "Pake jaket gue aja"


Aisyah menggeleng. "Nggak usah kak"


"Ga papa, jaket Lo udah kotor."


Aisyah kembali menggeleng.


"Syah, nanti Lo masuk angin lhoh. Setidaknya jaket ini ga buat Lo kedinginan."


Aisyah tetap terdiam. "Ga papa syah, ambil aja" Ujar Devan.


Aisyah mengangguk pelan. Dengan perlahan ia menjulurkan tangan kanannya untuk meraih jaket yang di sodorkan Devan. " Ga usah! Aisyah udah pake jaket gue!"


Suara yang tiba tiba muncul itu membuat Aisyah mengurungkan niatnya untuk mengambil jaket Devan. Fariz memakaikan jaketnya di kedua bahu Aisyah dari arah belakang. Membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh ke belakang, lalu mendongakkan kepalanya. "Syah, Lo pergi aja ke kelas ya.." Perintah Fariz.


Aisyah mengangguk. "Em kak Devan, Aisyah..."


"Udah, ga usah pamit sama Devan. Langsung aja" Kata Fariz.


Aisyah hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz.


Aisyah langsung berjalan cepat menuju kelasnya. Meninggalkan Fariz dan Devan. Fariz berjalan mendekati Devan, lalu mengambil jaketnya.


"Ini jaket, Lo pake aja sendiri. Ga usah pinjemin ke orang lain" Ujar Fariz.


"Sini, gue pakein jaketnya ke lo"


Devan menghela pelan, lalu kembali mengambil jaketnya. "Ga usah. Ga perlu di pakein, gue bisa pake sendiri"


"Permisi" Ujar Devan lalu berjalan pergi melewati Fariz.

__ADS_1


"Heeeh, dasar caper..." Gumam Fariz dengan menatap Devan yang berjalan pergi. "Enak aja main Deket Deket"


•••••


Lina berlari dengan menutupi kepalanya menggunakan tas. Sudah sejak tadi hujan mulai reda, namun saat ini gerimis kembali mulai turun. Dan sepertinya tak lama lagi pun hujan akan turun dengan derasnya. Lihatlah, seberapa hitamnya awan siang ini. Yang biasanya siang hari sangat panas, kini suasananya begitu dingin. Padahal baru jam 2 siang namun sudah seperti maghrib petang.


Bodo amatlah dengan ketiga sahabatnya, yang terpenting bagi dirinya sekarang adalah harus sampai di pesantren sebelum hujan turun. Namun sayangnya, saat di tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya membuat Lina mempercepat larinya. "Haduh, ini kalau gue lanjutin lari keburu basah semua seragam gue." Gumam Lina.


Tanpa pikir panjang Lina langsung berlari ke sebuah warung yang sudah tutup. Dirinya terkejut mendapati seorang lelaki di sana.


"Lo ngapain di sini?!" Tanya Lina kaget.


"Gue dari tadi juga di sini kali" Jawab Iqbal.


Lina menatap hujan deras yang kini kembali turun. Apa mungkin untuk kali ini mereka harus berdua di sini. Ah, tapi malas sekali kalau harus berhadapan dengan si singa itu. Tapi kalau mau pindah ke tempat lain juga ga mungkin, lihatlah hujannya sangat deras. "Lo pasti ngikutin gue" Ujar Iqbal.


"Kepedean Lo"


Lina membuka tasnya, lalu mengeluarkan cardigan biru yang ia bawa. Dan langsung memakai nya, mungkin itu bisa mengurangi rasa dingin di tubuhnya. Sedangkan Iqbal mengeluarkan gorengan yang tidak sempat ia makan saat istirahat. Ya, walaupun gorengannya sudah dingin, tapi lebih baik memakan gorengan tersebut dari pada harus berdebat dengan si macan betina.


Lina melirik Iqbal, entah kenapa tiba tiba perutnya terasa lapar. Makan ga bagi bagi. Batinnya.


"Kenapa juga sih gue harus ada di sini, harusnya tadi gue lari ke ruko depan aja ya. Males banget kalau tau ada singa di sini" Gumam Lina namun masih di dengar oleh Iqbal.


Iqbal menelan makanannya, lalu menoleh ke arah lina. "Heh, siapa suruh Lo tadi ke sini. Gue juga ogah di sini sama Lo. Untung cewek, kalau cowok udah gue usir Lo"


Lina memutar bola matanya. "Hilih..." Lina menatap kubangan air yang ada di hadapannya. Dengan melamunkan beberapa hal yang kini ada di pikirannya. Sedangkan tanpa sengaja Iqbal melihat mobil putih melaju kencang dari arah barat ke timur, membuat Iqbal langsung berlari mendekati Lina dan tanpa sadar bahwa dirinya telah membuang gorengannya yang belum habis. Iqbal lalu menghadapkan dirinya ke arah Lina.


Cipratan air yang tercipta dari kubangan tersebut mengenai punggung Iqbal dan ada beberapa yang mengenai wajah gadis tersebut. Membuat Lina tersadar dari lamunannya, dan kaget mendapati iqbal yang ada di hadapannya. Secara refleks Lina malah mendorong Iqbal. "Apa apaan sih Lo, main Deket Deket aja" Ujar Lina berkacak pinggang.


Iqbal berdecak kesal. "Bukannya terima kasih malah marah marah. Nih ya, kalau gue ga nolongin, udah basah semua seragam Lo, belum lagi muka Lo yang pasti ikut kena cipratan air kubangan itu."


Lina terdiam sejenak. "Iya makasih..."


Iqbal melepaskan jaketnya yang kotor, lalu melemparkannya ke arah Lina. Tepat di wajah Lina jaket itu mendarat, membuat gadis tersebut menahan nafas untuk persekian detik. "Cuci!!" Ujar Iqbal.


Lina menghembuskan nafas kasar. "Sumpah bal, udah berapa abad ni jaket ga Lo cuci!?" Tanya Lina nyolot. "Bau banget!!"


"Ya makannya cuciin jaket gue, biar wangi"


"Lah kok gue?"


"Ya iya lah Lo, jaket gue kotor kan gara gara nolongin Lo"


"Tapi ga ada yang minta buat Lo nolongin gue"


"Ni cewek ribet banget ya. Tinggal Lo cuci, kasih air, kasih sabun udah kelar gitu aja ribet banget!" Ucap Iqbal yang tak kalah kesal dengan gadis di depannya. "Gara gara Lo nih ya, gue makan gorengan aja ga tenang!"


Iqbal berjalan ke tempatnya semula, matanya melotot melihat gorengannya yang terjatuh di tanah. Kotor. "Lah gorengan gue.."


"Kan gara gara Lo sih, gorengan gue jadi jatuh!" Kata Iqbal kesal sendiri.


"Kenapa gue lagi sih yang salah" Ketus Lina. "Heran, apa apa gue yang di salahin!"


"Ganti ga gorengan gue!"


"Enak aja. Ga mau!" Jawab Lina. "Lagi pula itu gorengan tinggal dua juga, kere banget Lo uang seribu aja ga punya. Pake minta ganti segala."


Iqbal menahan emosi sekaligus kekesalannya, coba saja dia cowok, sudah di ajak berantem mungkin. Padahal perutnya masih terasa lapar, tapi nyatanya gorengan tersebut tidak rela bila harus ia makan.


Lina memicingkan matanya, memperjelas pandangan nya. "AISYAH..." Teriak Lina.


Aisyah yang berjalan menembus derasnya hujan langsung menghentikan langkahnya, merasa ada orang yang memanggil namanya. Samar samar ia melihat ada seseorang yang melambaikan tangannya. Tanpa pikir panjang Aisyah langsung menghampiri orang tersebut. "Lina?!"


"Hah Syah,, untung Lo lewat. Mau pulang?" Tanya Lina.


Aisyah mengangguk. Lalu ia melihat sekilas Iqbal. "Lin, dari tadi kamu di sini sama kak Iqbal?"


Lina mengangguk. "Kok bisa?" Tanya Aisyah.


"Udah lah Syah, jangan bahas lagi. Males gue. Mendingan kita pulang, kebetulan banget Lo bawa payung" Ujar Lina. "Gue juga males banget di sini, apalagi sama..." Lina melirik tajam Iqbal.


"Apa Lo?" Ujar Iqbal memelototi Lina.


"Eh Syah, ngomong ngomong Lo sendirian?" Tanya Lina. Aisyah mengangguk.


"Syifa sama Dinda?"


"Udah pulang duluan mereka"


Lina manggut manggut. "Oh ya udah kalau gitu kita langsung pulang yuk"


"Kak Iqbal Aisyah sama Lina duluan ya.." Ujar Aisyah.


"Iya Syah..." Jawab Iqbal dengan tersenyum. "Syah, gue heran sama Lo. Lo itu kan baik, tapi kok bisa ya dapet temen macan betina"


Aisyah mengerutkan alisnya bingung. "Macan betina? Macan betina yang mana?"


"Ya...yang ada di samping Lo"


Aisyah langsung menoleh ke arah Lina. "Udah Syah, ga usah di ladenin" Ucap Lina.


Aisyah hanya bisa tersenyum kikuk. "Ya udah duluan ya kak. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Iqbal lembut.


Lina menatap Iqbal tajam. "Assalamualaikum" Ujarnya dengan nada judes.


"Waalaikum salam" Jawab Iqbal tidak kalah judes.


"Jangan lupa jaket gue di cuci!!" Ujar Iqbal setengah berteriak.

__ADS_1


...******...


__ADS_2