Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Mempertahankan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, namun Reyhan belum juga kunjung untuk pulang. Apalagi seperti malam kemarin, malam hari ini juga hujan. Tentu saja itu membuat Syifa khawatir.


Ting tong...Ting tong...


Syifa tersenyum lega, dengan cepat dia berjalan untuk membuka kan pintu. Memang benar Reyhan yang datang, namun bukan sendirian melainkan bersama seorang perempuan.


"Assalamualaikum." Ujar Reyhan.


"Waalaikum salam." Jawab Syifa lalu mencium tangan suaminya.


"Assalamualaikum mbak." Kini gantian perempuan itu yang memberi salam.


"Waalaikum salam. Silahkan masuk." Ujarnya mempersilahkan. Keduanya langsung duduk di sofa ruang tamu. "Fa, buatin minuman." Pinta Reyhan.


"Iya. Sebentar." Dengan cepat Syifa berjalan ke arah dapur. Membuatkan teh hangat untuk perempuan itu. Namun pikirannya terus memikirkan siapa perempuan itu? Mengapa bisa pulang berdua.


Setelah selesai, ia membawa secangkir teh itu, meletakkan nya di atas meja tepat di depan perempuan itu. Dia duduk di samping Reyhan. "Silahkan di minum."


"Iya. Terima kasih mbak" Balasnya lalu mengambil secangkir teh dan meminumnya. Dia mengerutkan kening. "Kok asin mbak?" Tanya nya.


Syifa terkejut. "Hah? Masa sih?" Dengan sigap dia mengambil kembali teh itu lalu meminumnya. Dan tak sengaja mulutnya menyemprot teh itu karena benar saja memang asin. "Hiek....kok bisa??"


"Syifa!!" Panggil reyhan.


Syifa menoleh namun Reyhan geleng geleng kepala dengan menatapnya.


Dengan sedikit bingung Syifa melihat ke arah perempuan itu. Tersadar, dia langsung merasa bersalah. Apakah semprotannya mengenai wajah gadis itu? Yah padahal tidak sengaja. "Maaf maaf...gue ambilin tisu ya..."


"Nggak usah mbak, ga papa." Jawabnya dengan mengelap wajahnya dengan ujung jilbabnya.


"Ya udah, gue buatin teh yang baru ya. Maaf..."


"Nggak usah!!" Ketus Reyhan. "Hen, langsung pulang aja. Gue anterin."


"Emang mbaknya ga bisa pulang sendiri?" Tanya Syifa.


"Oh bisa kok mbak bisa. Han, ga usah ya. Gue pulang sendiri aja."


"Gue aja yang anter. Ini udah malam, apalagi hujan."


"Tapi mas..." Kalimat Syifa terpotong karena Reyhan yang langsung berdiri di ikuti perempuan itu. Mereka berdua berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil bersama, sedang Syifa hanya bisa menatap mereka dengan api kecemburuan meski dia tidak tahu entah apa yang mereka lakukan sebenarnya tadi.


•••••


"Mas!!" Panggil Syifa dengan berdiri menghampiri saat Reyhan sudah datang. "Siapa perempuan itu??"


"Henny."


"Siapa dia? Mas ada hubungan apa sama Henny."


"Cuma temen."


"Berarti dari tadi sore mas pergi sama temen, itu dia??!"


"Hm." Gumam Reyhan. "Fa, Lo tadi sengaja?" Tanya Reyhan.


"Sengaja apa?"


"Kasih garam ke teh."


"Mas kok ngomong gitu? Mana ada Syifa sengaja! Syifa ga tahu kalau yang Syifa kasih ke teh itu garam, Syifa juga ga sengaja nyemprot teh ke arah dia waktu minum!!" Mendadak dia menjadi emosi karena merasa Reyhan berpikiran negatif tentang apa yang di lakukannya kepada Henny.


"Gue cuma tanya..." Jawab Reyhan halus.


"Tapi kayak nuduh tau ga?! Harusnya Syifa yang tanya sama mas, Kemana aja mas sampe jam segini baru pulang. Mana sama perempuan lain lagi! Syifa ikut ga boleh, di tanya juga ga jawab! Katanya penting! Sepenting apa sih urusannya?? Emang harus banget gitu ngajak Henny?? Syifa itu lebih butuh mas!! Mas itu udah punya istri! Jadi apa apa harus di temenin sama Syifa bukan perempuan lain!!" Nadanya semakin tinggi. Tiba tiba saja dia teringat pertanyaan Reyhan Yeng mempertahankan nya kapan hamil. Membuatnya berpikir mungkin saja dia akan mencari wanita lain untuk mendapatkan anak.


Reyhan terdiam, membiarkan Syifa untuk mengomel sepuasnya. "Apa mas emang mau cari perempuan lain??" Sekarang dia berbicara sesuai isi pikirannya.


"FA!!"


"Ya Apa?? Kita udah hampir tiga tahun nikah, udah konsultasi ke dokter tapi Syifa belum juga hamil. Mas mau cari perempuan lain gitu buat gantiin posisi Syifa? Jahat tau ga!!" Ujarnya dengan berlari menaiki tangga. Entah kenapa dirinya menjadi sensitif sekali akhir akhir ini. Dia juga mudah sekali tersulut emosi, merasa bahwa dia bukan Syifa sebenarnya.


•••••


Paginya Syifa mendekam di kamar. Sebenarnya dia merasa bersalah juga karena marah marah. "Huufft....kenapa ya gue? Bisa aja kan kemarin tentang urusan pekerjaan." Syifa berdecih. "Kenapa sih sekarang gue jadi sensitif banget. Apa gara gara kurang perhatian?"


"Fa..." Panggil Reyhan membuat Syifa menoleh. "Sarapan dulu."


Syifa tersenyum. "Iya." Jawabnya dengan turun dari kasur dan berjalan menghampiri Reyhan. Mereka berdua berjalan bersama menuju meja makan. "Emm...mas."


"Hm?"


"Maafin Syifa ya buat yang tadi malam. Syifa ga tahu kenapa sampai seemosi itu. Ya?? Maafin ya..."


"Iya."


"Jadi kemarin mas pergi sama Henny ngapain? Urusan pekerjaan?"


"Iya."


"Henny itu pramugari?"


"Hm"


"Sering satu penerbangan sama mas?"


"Iya."


"Berarti Deket dong."


"Lumayan."


"Dia udah punya suami apa belum?"


"Belum."


"Kalau pacar?" Tanya Syifa. Ah kepo sekali rasanya.


"Nggak tahu."


"Kira kira Henny suka ga sama mas?"


"Nggak."


"Beneran?"


"Hm."


"Henny sama Syifa masih Cantikan mana?"


Reyhan melirik Syifa sekilas. "Kamu."


"Tapi mas sebenarnya masih cinta ga sih sama Syifa?"


"Masih."


Reyhan menarik kursi saat mereka sudah sampai di meja makan. "Duduk."


"Makasih..." Ujar Syifa dengan menduduki kursi yang di tarik Reyhan. Sedangkan cowok itu duduk di depannya.


Mereka berdua membaca doa sebelum makan. "Bi Narti kemana?"


"Pulang kampung. Katanya anak nya sakit. Tapi, katanya hari ini mau pulang kesini lagi." Jawab Syifa membuat Reyhan manggut-manggut.


"Oi ya, kalau Bi Narti pulang, yang masak ini siapa?" Tanya Syifa


"Gue."


"Emang mas bisa masak??"


"Cobain aja."


Syifa mengangguk. Dia mengambil telur ceplok yang di buat Reyhan.


"Dari penampilannya sih ga meyakinkan. Tapi ga papa, Syifa bakal tetep coba." Ucap Syifa lalu menyuil sedikit ujung telur itu, memasukkannya ke dalam mulut. Beberapa detik. "Emmmm....Asiiin!!" Pekik Syifa menahan rasa asin yang tiada Tara di mulutnya ini.


"Mas, garamnya berapa?"


"Kayak takaran buat teh."


Syifa menganga. "Berapa sendok?"


"Tiga"


"Tiga sendok makan apa tiga sendok teh?"

__ADS_1


"Teh..."


"Tiga sendok teh untuk satu telur?"


"Hm"


"Oh...pantes asin."


"Mau gue buatin yang baru?"


"Eh ga usah ga usah...Udah makan ini aja."


"Katanya asin?!"


"Iya, emang asin. Tapi nasinya di banyakin. Selesai kan?" Syifa terdiam. Dia menatap Reyhan yang menyantap makanannya. "Mas, rumah Henny itu Deket ga dari sini?"


"Ga terlalu."


"Berapa kilo dari sini?"


"Delapan."


"Yah Deket itu mah. Kenapa tadi malam ga di suruh pulang sendiri aja."


Reyhan menatap Syifa. "Dia perempuan fa. Ga baik kalau pulang sendirian apalagi hujan. Dia datang sama gue, jadi kalau ada apa apa gue juga harus tanggung jawab."


"Berarti kemarin cuma pergi berdua?"


"Sama Dimas juga."


"Dimas temen mas?"


"Hm."


"Terus kenapa kemarin Syifa ga lihat Dimas?"


"Habis Maghrib, dia ada urusan mendadak makannya pergi. Dan ga bisa lanjutin urusan kita."


"Oh...tapi hari ini mas ga pergi kan?"


Reyhan menggeleng.


"Tapi besok gue harus pergi."


"Sama Henny lagi?"


"Hm."


Syifa berdecih. "Kenapa sih ga ngajak Syifa aja?"


"Nanti kamu kecapean."


"Ya nggak papa. Yang penting Syifa di ajak." Balas Syifa nyolot. "Emang kenapa harus pergi lagi sih?"


"Urusan yang kemarin belum selesai."


Syifa terdiam. "Ya udah, kalau emang nanti ga pergi. Temenin Syifa ke pasar. Mau ya?"


"Iya."


•••••


Tepat pukul delapan, mereka berangkat


ke pasar. Jam segini biasanya pasar masih ramai, sepi kalau sudah jam sepuluh atau jam sebelas siang. Syifa langsung mengajak Reyhan untuk membeli ikan.


"Mas mau beli ikan apa?"


"Bandeng."


"Bu bandeng sekilo."


"Iya neng."


"Mas, coba tebak ini ikan apa?" Tanya Syifa memberi tebakan dengan menunjuk salah satu ikan yang ada di atas meja pedagang itu.


"Bandeng."


"Ih bukan. Ini namanya ikan nila. Kalau ini apa?"


"Bandeng."


Reyhan menggeleng.


"Coba kalau yang ini. Namanya bukan ikan bandeng. Tebak ikan apa?"


"Temennya ikan bandeng."


Syifa menghela pelan. "Semuanya aja di kait-kaitin sama ikan bandeng. Ini itu ikan yang biasanya di buat kerupuk kerupuk gitu."


"Udang?"


"Ih bukan. Udang yang ini...." Ujar Syifa nenunjuk-nunjuk udang dengan kesal. "Coba tebak lagi."


"Ikan panjang."


"Mana ada ikan panjang. Namanya ikan te..."


Reyhan terdiam.


"Teng...."


"Tenggara."


Syifa menghembuskan nafas kasar. "Tenggiri!!"


"Ini neng." Ujar penjualnya menyerahkan ikan yang di bungkus. "Iya makasih Bu...tambah ini udang satu kilo juga."


"Oh iya neng."


"Nah nah yang itu, pasti tau itu ikan apa!"


Reyhan melihat ke arah ikan yang di tunjuk Syifa. "Belut?"


"Astaghfirullahal adziim...mas ga pernah ke pasar ya? Itu lele...!"


"Oh..."


"Mas kayaknya harus nyempet-nyempetin mancing deh biar bisa bedain ikan ikan." Saran Syifa. "Syifa kasih tebakan lagi. Ikan itu bernafas dengan???"


"Insang." Jawab Reyhan.


"Salah."


Reyhan mengerutkan kening. "Paru paru."


"Salah!"


"Terus?"


"Tebak dulu..."


"Sirip?"


"Emang ada ikan bernafas pake sirip?"


Reyhan mengedikkan bahunya.


"Ini beneran ya mas ga tahu?" Tanya Syifa. Melihat Reyhan yang terdiam saja, membuatnya menghela panjang. "Ikan itu bernafas dengan izin Allah..." Ucapnya memberi jawaban.


"Kenapa natap Syifa kayak gitu? Emang jawaban Syifa salah??" Tanya nya saat Reyhan menatapnya lama.


Reyhan tersenyum tipis. Dia langsung mencubit pipi Syifa, ih gemesnya..."Ah, jangan cubit cubit. Ga enak tahu."


Setelah berputar putar mengelilingi pasar sekitar hampir dua jam, akhirnya mereka pulang. Saat di luar, tak sengaja Syifa melihat penjual ayam. Ayam ayam itu di ikat kakinya, dan di taruh di depan mereka. Sebenarnya kasian, oleh karena itu dia membelinya. Tapi tidak semuanya, satu sudah cukup. Mungkin ayam ini bisa menemani hari harinya saat Reyhan pergi bekerja.


Setelah di pastikan tidak ada yang mau di beli lagi, mereka langsung pulang menuju rumah. Sesampainya di rumah, Syifa di buat sedikit terkejut saat melihat pintu rumah yang terbuka. Bukankah dia tadi sudah menutupnya?


"Mas, pintunya kok bisa kebuka? Siapa yang buka??"


Reyhan mengedikkan bahunya. "Ya udah masuk aja."


"Tapi nanti kalau ada maling gimana?"


"Ga akan."

__ADS_1


"Kan bisa aja..."


"Jangan takut." Balas Reyhan lalu menggandeng tangan Syifa, menyuruhnya masuk ke dalam. Saat mereka memasuki ruang tengah, sekilas dia mendengar suara kucuran air dari arah dapur. Syifa menatap Reyhan takut. "Mas, coba cek di dapur ada siapa."


Reyhan mengangguk. Dengan langkah pasti dan lebar dia mulai berjalan ke arah dapur, tak membutuhkan waktu lama dia kembali menghampiri Syifa. "Ada siapa?"


"Bi Narti." Jawab Reyhan.


Syifa menghela lega. "Jadi ga ada maling kan ya??"


"Nggak. Gue masuk ke kamar dulu."


"Iya."


Dengan ayam yang masih di pegangnya, Syifa berjalan ke arah dapur. Melihat bi Narti yang tengah mencuci piring. "Assalamualaikum"


Bi Narti menoleh. Dengan segera dia mematikan keran di wastefel. "Waalaikum salam."


"Kapan bibi datang? Kirain tadi maling."


Bi Narti menyengir. "Iya non maaf, tadi saya ga lama sampai sini. Terus pas saya buka ternyata pintunya ga di kunci. Dan saya lihat juga ini piringnya belum di cuci, jadi sekalian langsung saya cuci non biar bersih."


Syifa mengangguk. "Iya, tadi emang Syifa ga sempet buat nyuci. Makasih ya bi."


"Iya non."


"Oh ya bi, di ruang tengah ada barang belanjaan tolong di bawa ke dapur ya, terus di taruh di tempatnya. Ini saya ga bisa bawa karena bawa ayam."


"Iya non." Jawab bi Narti dengan berjalan cepat menuju ruang tengah.


"Ayam, main yuk!" Ajak Syifa. "Mau ga?"


"Oh mau...ya udah ayok ke halaman belakang kita main sama sama." Ucap Syifa semangat dengan membawa ayamnya ke halaman belakang. Mengajaknya untuk bermain. Ya walaupun bermain ayam tidak seseru bermain kucing. Tapi ya sudahlah, kucingnya yang dulu sudah mati, dan dia belum sempat mengadopsi kucing baru lagi. Jadi sementara main dengan ayam dulu.


Haaah,, untuk menangkapnya saja begitu susah. Apalagi mengajaknya bermain. Dasar ayam! Kan capek di suruh ngejar terus.


Syifa berhenti saat nafasnya megap megap karena sedari tak berhasil menangkap ayam jago itu saat si ayam sudah di lepaskan. Dia mengubah posisinya menjadi berjongkok. "Aaah...nakal banget sih! Gue pengennya main woy bukan ngejar Lo!" Pekik Syifa kesal.


"KUR KUR KUR...." Memang begitulah suara orang yang sering dia dengar saat memanggil ayam untuk mendekat. Mencoba cara ini tidak ada salahnya juga kali ya. "KUR KUR KUR..."


"Ayam gue punya makanan sini sini....KUR KUR KUR...." Panggil Syifa lagi. Perlahan ayam jago itu mulai mendekat. "KUR KUR...."


Syifa tersenyum lebar saat si ayam hanya berjarak beberapa centimeter dari dirinya berjongkok. "Nah,,, tunggu di sana okey??" Gumam Syifa pelan dengan mengambil ancang ancang untuk menangkap.


Cruuuttt...


Syifa langsung melayangkan tangannya untuk menangkap namun lagi lagi gagal karena ayam itu lebih dulu gesit untuk kabur. "IIIIH...Susah banget sih!!" Ucapnya sedikit emosi.


Dirinya terdiam saat merasai sesuatu yang basah di telapak tangannya. Ia melihat kedua tangan yang menapak tanah karena tak berhasil untuk menangkap ayam. Perlahan Syifa mulai mengangkat kedua tangannya. Matanya melotot saat melihat sisa tai ayam di tanah tersebut. Dengan cepat dia melihat keadaan telapak tangannya, apakah terkena tai atau tidak. Tapi memang benar, telapak tangan kanannya...


"IIIIHHHH!!! AYAAAMM!!" Teriaknya dengan emosi yang meledak. Menatap seram ayam yang plonga plongo menatap kesana kemari tanpa dosa.


"DASAR LO! UDAH UNTUNG GUE BELI, AWAS AJA GUE PASTI BAKAL GORENG LO! NYEBELIN BANGET SIH!!" Teriak Syifa melampiaskan kekesalannya. Dia kembali menatap telapak tangannya. "Hueeek....hiii....AWAS AJA! GA LAMA LO PASTI BAKAL MATI!! GUE GOROK LO! Hueee....!!"


Dengan berlari Syifa masuk ke dapur, membasuh telapak tangannya dengan air. Sudah berapa kali dia ingin muntah melihatnya sekaligus baunya yang kadang masuk tercium oleh hidungnya. "Kenapa non??" Tanya bi Narti.


"BI...lihat ini, masa tangan saya kena tai siih! iih huek...bau lagi!"


Syifa mematikan keran airnya. Lalu melihat tangannya yang sudah bersih. "Bi coba cium. Masih bau atau ga?" Pinta Syifa dengan menyodorkan telapak tangannya.


"Coba sabun dulu non."


Syifa mengangguk. Dia langsung menuangkan mama lemon di tangannya. Menggosok-gosok hingga mengeluarkan busa lalu kembali membilasnya. "Kalau ini bi udah ga ada baunya kan? coba cium baunya gimana."


Bi Narti langsung melakukan apa yang Syifa minta. Dia menggeleng. "Sudah non. Sudah tidak ada baunya."


"Oi ya?" Saat ini gantian Syifa yang mengeceknya langsung. "Oh iya, sekarang bau mama lime, kalau gitu Syifa ke kamar dulu. Makasih ya bi.."


"Iya sama sama non."


•••••


"Iya..."


"Hm."


"Waalaikum salam." Jawab Reyhan lalu mematikan teleponnya.


"Mas, siapa yang telepon?" Tanya Syifa saat datang ke kamar.


"Bukan siapa-siapa"


Syifa menghela pelan dengan mendudukkan dirinya. "Besok mas jadi pergi lagi?"


"Hm"


"Jam berapa?"


"Dua siang. Lo ikut?"


Syifa mendongakkan kepalanya. "Nggak tahu. Syifa kan akhir akhir ini gampang capek. Takutnya kalau ganggu. Tapi penting ga??"


"Iya."


"Besok kalau tubuh Syifa fit, tapi kalau masih lemes ya mungkin ga." Jawabnya. "Besok sama Henny lagi?"


"Hm."


"Berdua?"


"Sama Dimas juga."


"Ya udah kalau gitu. Tapi janji lhoh harus jaga jarak sama dia. Bisa aja Henny suka sama mas."


Reyhan duduk di samping Syifa. "Jangan mikir yang nggak nggak."


"Ya emang gitu kok. Walaupun mas udah punya istri,, Syifa yakin di luar sana banyak banget cewek yang masih pengen jadi istrinya mas. Secara mas itu ganteng, kaya terus juga pinter. Siapa yang ga kepincut coba??"


"Kalau mas burik gitu Syifa ga terlalu bakalan khawatir. Nanti kalau ada yang mau nyingkirin Syifa gimana? Kalau ada yang ngambil posisi Syifa gimana?"


Reyhan memegang tangan Syifa. "Gue ga akan biarin itu terjadi. Sebelum orang berani nyentuh Lo,, mereka harus hadapi gue dulu."


Syifa tersenyum. "Janji??"


"Janji." Jawab Reyhan pasti.


"Soalnya kan mas, sering banget kejadian kayak gitu. Banyak yang kelihatan cuek, tapi suka." Ujar Syifa lagi dengan melirik Reyhan. "Kayak mas dulu kan??"


"Dulu aja mas cuek sama Syifa, dingin,


pura-pura ga peduli, tapi ternyata suka. Iya kan? Sebenarnya Syifa itu cewek keberapa yang mas suka waktu itu?


"Pertama dan terakhir."


Syifa tersipu malu. "Oi ya? Ini bukan kata kata buaya kan?"


"Menurut Lo?"


Syifa terdiam. "Ih dasar kenapa sih cowok itu gengsian banget. Tinggal bilang suka gitu, malah pura pura cuek di luarnya." Ujarnya dengan mencubit perut Reyhan.


"Eh, kok di cubit?" Tanya Reyhan.


"Emang kenapa? Ga suka? Bales aja kalau bisa."


Mendengar jawaban itu Reyhan langsung menggelitiki perut gadis di hadapannya.


"Eh eh kok di gelitikin,,, udah udah ih geli hahaha..." Ujar Syifa berusaha agar Reyhan berhenti menggelitikinya.


"Katanya tadi mau di bales." Balas Reyhan.


"Ih tapi jangan di gelitikin ih...hahaha,,, aahhh stop ih..geli..." Sebenarnya Syifa juga berusaha untuk membalas untuk menggelitiki suaminya, namun selalu tidak bisa. Dia terus di buat tertawa. "Ih mas udah stop...aaahh haha...ih geli,,,, aduh...!"


Reyhan menghentikan tangannya. Kini giliran dia yang menggelitiki suaminya. "Lhoh,,, kok kamu bales lagi?" Tanya Reyhan.


"Yah biarin ini rasain ini...."


"Oh gue bales lagi nih..." Jawab Reyhan dengan kembali membalas.


"Ah....hahaha,,, ih jangan....aduuh...Iya iya Syifa ga bakal bales. Tapi stop udah..!!" Pintanya. "Ih...stop!! AHH...geli tau mas,, aduh!"


Keduanya dengan kompak saling berhenti. "Aduh capek tau perut Syifa ketawa terus." Ucapnya lalu terdiam. Mereka saling menatap.


Dia sekarang milik gue,,, dan gue ga akan biarin siapapun untuk jadi miliknya. Sebesar apapun usahanya untuk menggantikan posisi gue, gue akan terus bertahan. Karena gue yakin, cintanya besar dan masih utuh. Batin Syifa.


"Lo ga usah khawatir. Gue akan selalu jadi milik Lo, bukan milik orang lain." Ucap Reyhan seolah-olah bisa mendengar batin Syifa.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2