Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Tulisan Pena(End)


__ADS_3

Tulisan Pena


🌹Memang, banyak yang tidak bisa membedakan antara orang baik dan orang bodoh. Banyak di antara mereka menganggap, bahwa "mengapa harus diam saat ada yang menyakiti hatimu?" Aku bukan diam, namun sudah kuadukan semua kepada Tuhan.


-Aisyah-


🌹Bukan dirimu yang harus mengubah diri sendiri agar di terima oleh orang lain, tapi cukup cari orang lain yang dapat menerima dirimu apa adanya.


-Syifa-


🌹Hidup bersama siapa adalah ketentuan, namun hidup bersama Allah adalah suatu keharusan.


-Lina-


🌹Bukankah kau percaya Allah Maha Baik? Lantas takdir manakah yang kau risaukan?


-Dinda-


🍁 Jangan pernah jadikan kekuranganmu sebagai kelemahanmu, namun jadikan kekuranganmu menjadi alasan untuk bangkit agar kamu bisa menunjukkan hal hebat kepada dunia. Bahwa kamu bisa, bahwa kamu kuat.


-Fariz-


🍁 Percayalah, kamu unik dengan caramu sendiri.


-Reyhan-


🍁Mungkin, mengikhlaskanmu adalah jalan terbaik untuk saat ini.


-Iqbal-


🍁Tentang kekuatan doa yang sulit aku jelaskan bagaimana ajaib dan indahnya. Seperti panah di malam hari, ia tidak akan pernah meleset namun ia mempunyai batas. Dan setiap batas ada saatnya untuk selesai.


-Ilham-


•••••


Tengah malam Lina terbangun, dan saat inilah yang di lakukannya. Duduk di atas sajadah dengan tasbih yang terus di ulur. Entah kenapa hatinya terasa resah malam ini, seperti merasakan sesuatu yang akan terjadi yang entah kapan.


"Ya Allah, Astaghfirullah...ampunilah hambamu ini." Gumamnya dengan menghela pelan. Dengan segera Lina melepaskan mukena, dzikir sudah, doa sudah, sholawat sudah, istighfar sudah...namun kenapa hatinya tak kunjung tenang?


Tangannya sibuk melipat mukena dan sajadah, kakinya terayun mengambil sebuah buku diary miliknya. Menuliskan sesuatu di sana, goresan pena yang mungkin nanti bisa di baca oleh sang suami di saat waktu yang tepat.


Setelah selesai, Lina kembali beranjak naik ke kasur. Tangannya mengambil ponsel dan melihat jam yang tertera di sana. Masih pukul setengah dua dini hari.

__ADS_1


Matanya teralihkan pada Aluna yang tidur nyenyak, kedua sudut bibirnya tertarik. Ia mencium pipi, bibir, mata dan kening sang putri. Jemarinya mengelus lembut rambut Aluna. Malam ini, kenapa perasaannya begitu berbeda?


"Lin..." Panggilan dari sang suami yang baru saja terbangun membuat Lina menoleh.


"Kok bangun?"


"Ehm...kamu kenapa belum tidur?" Tanya Iqbal dengan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar.


"Bukan belum tidur, tapi tadi kebangun terus sholat tahajud."


"Oh gitu, ya udah tidur lagi gih. Besok kita pulang, jangan sampe kecapean ya..."


Di balas anggukan oleh sang istri.


"Mas mau sholat tahajud dulu."


Sebelum Iqbal benar benar beranjak, Lina lebih dulu memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya Iqbal menahan pergerakannya.


Lagi lagi Lina menghela gusar. "Mas, maafin aku kalau selama ini belum bisa jadi istri yang baik."


Kepala Iqbal menggeleng. "Kok ngomong gitu? Selama pernikahan kita, kamu itu istri yang paling baik...ya walaupun judes dan galak." Kekehan kecil itu di keluarkan oleh Iqbal, namun tidak dengan Lina yang tetap dengan wajah gusarnya.


"Iya."


"Berapa persen?"


"Seratus, bahkan seribu persen aku ridho sama kamu." Balas Iqbal tak tanggung tanggung. Memang benar adanya.


Barulah Lina tersenyum lega.


"Kenapa Lin?"


"Ga papa mas, seenggaknya nanti kalau aku udah ga ada dan kamu ridho itu akan jadi ketenangan sendiri buat aku."


Seketika wajah Iqbal berubah menjadi masam.


"Kamu ini ngomong apa? Jangan ngomong gitu, mas ga suka."


Lina terdiam, menatap intens wajah suaminya. "Mas...kenapa ya kok kayak ada rasa takut buat ninggalin kalian. Mas janji kan, kita bakal sama sama sampai kapan pun? Janji ya, kita bakal rawat Aluna sampai gede...sampai dia sukses. Aku pengen banget, lihat putri kita jadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain."


Iqbal terdiam lama. Merasa malam ini Lina seperti berbeda dari biasanya. "Iya, udah jangan banyak pikiran. Tidur, besok kita pulang. Jangan sampe kecapekan, jangan sampe sakit."

__ADS_1


•••••


Paginya, tiga keluarga itu benar benar pamit. Sebelum pergi, mereka sempat mengadakan sarapan bersama...dan sesi foto foto sebagai kenangan. Kapan akan bertemu lagi, mereka juga tidak tahu.


Mereka saling berpelukan satu sama lain. "Pasti bakal kangen banget sama kalian." Ujar Aisyah.


"Semuanya, gue minta maaf sama kalian. Gue tahu gue banyak salah, maaf ngerepotin. Dan tolong maafin dosa dosa gue ya." Timpal Lina.


"Di maafin pasti kok...hehehe" Jawab Dinda.


"Terutama sama lo fa, maaf sering galak dan marah marah. Tapi kan marahnya gue karena sayang sama lo."


Syifa tersenyum. "Ga papa, gue paham Lin.


Di maafin jauh jauh hari...dari dulu malah."


"Eh kapan kapan kalian ke rumah gue yuk." Lina kembali mengajak.


"Iya kalau ada waktu."


Setelah puas berbasa basi untuk sekedar berpamitan, Dinda dan Ilham mengantar mereka hingga sampai parkiran.


"Semuanya.... Assalamualaikum." Pamit Aisyah dari kaca jendela mobil. Tangannya melambai dengan menampakkan wajah riang. Walaupun sebenarnya hatinya sedih.


"Ilal liqo'..." Sahut Syifa iseng. Membalas lambaian tangan sahabatnya.


Mobil mulai melaju pelan keluar dari gerbang pesantren, di saat itulah Aisyah langsung menghela panjang. Sedih, sudah pasti.


Dia membuka tasnya dan mengeluarkan selembar foto. Kedua bibirnya tersungging membentuk senyuman.


Fariz melirik istrinya. "Kapan kapan, kalau Allah berkehendak pasti bakal ketemu lagi."


Aisyah mengangguk. "Aamiin." Matanya kembali tertuju pada foto tersebut.


"Kalian sehat sehat ya, semoga Allah selalu melindungi."



...Tetaplah berdiri kokoh, berjalan tegak dan menatap pasti. Kokoh berdiri di atas pijakan duri, tegak berjalan di atas ombak, dan pasti untuk tetap bisa menempuh dahsyatnya badai yang akan kita lewati. Jangan takut untuk berani, selama ada yang menguatkan dan menggenggam tanganmu erat. Memberimu semangat. Mereka yang selalu merangkulmu, merengkuhmu hingga semua keputusasaan dalam dirimu hilang. Walaupun salah satu menghilang, persahabatan kita akan tetap jalan. Tidak ada kata buyar apalagi selesai. Dari jauh, kita saling menjaga melalui doa. Selama ada kepercayaan, kita akan terus berjalan bersama sama. Kalian, akan tetap menjadi sahabat terbaik yang selalu memberikan sebuah pengalaman pasti di setiap apa yang kita lewati....


...-Cinta Anak Pesantren-...


...(End)...

__ADS_1


*Untuk Cinta Anak Pesantren, masih ada season 2. Jadi tunggu ya!!


__ADS_2