
09.11
"Yakin mau pulang sekarang? Mas gimana? Masih panas?"
Reyhan menggeleng. "Udah nggak."
"Oh, ya udah kalau gitu."
Mereka berjalan keluar. Setelah cek-out, dengan segera mereka bergegas pergi. Mobil Reyhan mulai berjalan keluar dari kawasan hotel. Beberapa menit setelahnya, ponsel Reyhan berdering. Dengan tetap mengemudi, ia mengangkat teleponnya. "Halo, Assalamualaikum."
"Udah pa, ini lagi sama Reyhan."
"Iya." Jawabnya lalu menyodorkan ponsel ke arah Syifa.
"Siapa?"
"Papa."
Syifa dengan semangat mengambil ponsel tersebut. "Assalamualaikum papa..."
"Waalaikum salam. Syifa gimana kamu? Ga papa kan?"
"Nggak kok, Syifa baik. Ada apa pah?"
"Kok ada apa, ya papa khawatir sama kamu. Kamu pergi kemana sebenarnya hm? Jangan bilang kamu pergi gara gara rumah tanggamu lagi ada masalah."
"Nggak kok pa. Semuanya baik baik aja. Anu Syifa pergi itu karena..." Dirinya terdiam, harus mencari alasan apalagi ini. "Aaaa oi ya pa,, selamat ya sebentar lagi papa mau punya cucu...!" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Hah?Wah yang bener kamu? Kamu hamil?"
"Iya Alhamdulillah."
"Kapan? Kok baru bilang sekarang."
"Hamilnya udah lama, udah empat mingguan. Tapi ketahuannya baru kemarin."
"Ya Allah.... Alhamdulillah fa,, akhirnya papa bisa punya cucu. Bisa di gendong gendong, Ya Allah...Kalau gitu nanti malam papa ke rumah kamu."
"Boleh pa, silahkan aja. Em kalau gitu udahan ya pa, soalnya Syifa lagi ada di jalan."
"Iya, pokoknya kamu harus jaga baik baik kandungan kamu ya sayang."
"Pasti. Syifa tutup teleponnya ya pa,,, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Sambungan terputus saat Syifa mematikan teleponnya. "Ini mas..." Ujarnya kembali menyodorkan ponsel.
Matanya mulai meneliti jalan yang mereka lewati. "Lhoh kita mau kemana? Kan arah pulang bukan ke sini."
Reyhan hanya menahan senyum mendengar pertanyaan itu. Mobilnya terus melaju ke arah jalan yang ia tuju. Sepuluh menit kemudian, sampai.
Mereka berdua turun dari mobil. "Ngapain kita ke pantai?" Tanya Syifa.
"Liburan. Karena waktu itu ga jadi pergi." Jawab Reyhan membuat Syifa ber oh kecil. Perempuan itu langsung melangkah pasti untuk lebih dekat dari pantai. Sedangkan Reyhan berjalan di belakang, dengan diam diam memotret istrinya dengan camera ponselnya.
Reyhan menghentikan langkahnya, berdiri di samping istrinya. Dia menoleh. Menatap Syifa yang sedang tersenyum melihat depan. "Udah lama ya kita nggak pergi berdua. Kan mas sibuk terus." Ujar Syifa menoleh. Mereka saling menatap. "Besok, mas harus pergi lagi ya?!"
Reyhan mengangguk. "Hm. Kenapa?"
"Ya sedihlah. Syifa itu pengennya setiap hari bisa ketemu mas."
"Sama." Balas Reyhan singkat.
Syifa menampakkan wajah lesu. Namun hal itu hilang saat melihat beberapa spot foto yang ada di sana. "Ke sana yuk! Lihat deh, kayaknya ada spot foto bagus bagus." Ajak Syifa yang secara langsung menarik tangan Reyhan. Berjalan santai menikmati suasana pantai, dengan sekali kali bersua poto bersama. Angin sepoi sepoi yang menyejukkan tubuh mereka dalam setiap sapuannya, pasir putih nan lembut, gemuruh ombak yang menggulung berkejar-kejaran, air biru sejauh mata memandang dan pohon hijau yang menambah suasana ketentraman di pantai. Damai.
Mereka juga menaiki motor atv yang di sewakan di sana, mencoba untuk menikmati setiap momen yang ada. Kebahagiaan.
Hampir dua jam, namun semua sama sekali tak terasa sudah berlalu secepat itu. Mereka berdua duduk di kursi yang memang sudah di sediakan di sana. "Mas, pengen es. Beliin dong."
"Kelapa muda mau?" Tanya Reyhan.
"Boleh."
Reyhan langsung berdiri. Berjalan ke arah penjual kelapa muda yang ada di sana. "Hai..." Tiga menit dari itu tiba tiba seorang laki laki datang menghampiri Syifa.
"Hai juga." Balas Syifa.
"Boleh duduk di sini?" Tanya nya dengan melirik tempat duduk yang tadinya di tempati Reyhan.
"Boleh."
Lelaki yang tak di kenal itu langsung duduk. "Kamu sendirian?"
"Nggak."
"Keluarganya mana?"
"Lagi beli kelapa muda. Kenapa? Mau ketemu?"
"Nggak. Cuma tanya."Jawabnya. "Kamu umurnya berapa?"
"Dua enam, mau dua tujuh. Kalau kamu?"
__ADS_1
"Saya masih muda, baru dua lima."
Syifa manggut manggut. "Kamu umur dua enam masih kayak anak kuliahan." Lanjutnya.
"Oh ya? Kamu juga, umur dua lima udah kayak om om yang punya keponakan." Balas Syifa enteng membuat lelaki itu meraba wajahnya.
"Menurut kamu, saya udah kelihatan tua."
"Nggak. Kamu ga kelihatan tua, ga kelihatan muda juga."
"Oh...ngomong ngomong, nama kamu siapa?"
"Syifa."
"Syifa udah punya pacar belum?"
Syifa menggeleng.
"Saya nggak punya pacar."
"Oh iya? Nah kebetulan saya jomblo, mau ga jadi pacar saya?" Tawarnya dengan kepercayaan diri penuh.
"Nggak bisa!"
"Kenapa? Saya ga good looking?"
"Bukan gitu. Saya emang ga punya pacar, tapi saya udah punya..."
"EHM EHM..." Kalimat Syifa terpotong. Dia menoleh melihat Reyhan yang datang. "Eh mas..." Syifa berdiri membuat laki laki itu juga ikut ikutan berdiri.
"Oh ini kakaknya?" Tanya nya. "Hai bro,, adik Lo cantik. Ini ya kebetulan gue jomblo, jadi gini..."
"Gue suaminya." Ketus Reyhan memotong omongan orang itu. "Mau apa?"
"Oh, oh Lo suaminya?"
"Hm,,, kenapa? Dia punya gue, jadi jangan macem macem!" Ujar Reyhan dengan nada tak bersahabat. Menatap lelaki itu tajam lalu menggandeng tangan Syifa, menariknya untuk pergi menjauh.
Mereka mencari tempat duduk yang kosong. Lalu menempatinya. Dengan cepat Reyhan menyodorkan kelapa muda yang di belinya. "Makasih." Ucap Syifa dengan menyeruput air yang ada di dalam buahnya. Dia tersenyum. "Mas cemburu ya?? Cie cie...Di gituin aja udah cemburu. Coba bayangin kalau Syifa pergi sama cowok lain?? Gimana rasanya?"
Reyhan melirik istrinya.
"Pasti mas udah ngajak gelud ya? Iya kan?!" Lanjut Syifa. "Mas, coba deh ke sini pas sore. Pasti lebih seru, sambil lihatin sunset. Kan enak." Syifa kembali menyeruput air kelapa mudanya. Keduanya kembali terdiam satu sama lain. Hanya suara ombak, angin dan orang orang yang bersuka ria.
Jam setengah dua setelah melaksanakan sholat Dzuhur di musholla yang ada di area pantai, mereka berdua pulang. Sebenernya Reyhan masih ingin mengajak Syifa jalan jalan, namun gadis itu mengeluh capek. Alangkah baiknya memang kalau dia tidak terlalu capek. Itu tidak baik untuk kandungannya.
•••••
Keesokan harinya...
"Hm. Makasih."
"Iya."
"Eh tunggu dulu, bentar aku ambilin bekal ya. Biar bisa di makan." Ujar Syifa dengan berjalan cepat balik ke meja makan dan kembali ke arah ruang tamu. "Ini, jangan lupa di makan."
"Apa isinya."
"Roti sandwich, kesukaan mas."
Reyhan mengangguk.
Syifa kembali terdiam. "Mas tahu hari ini hari apa?"
Reyhan tersenyum. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah gelang dan memakaikannya di pergelangan tangan Syifa. "Happy Anniversary."
Ya, hari ini, bertepatan dengan tanggal dua bulan Desember, adalah hari jadi pernikahan mereka.
"Mas inget?"
"Gimana gue bisa lupa?!" Balas Reyhan. Mereka memang tidak pernah merayakan hari jadi pernikahan dengan hal hal mewah, namun setiap saat itu datang Reyhan selalu memberinya sesuatu dan senyuman kebahagiaan yang ingin dia kembalikan sebagaimana dulu mereka tersenyum bahagia saat hari pernikahan itu tiba. Dia sama sekali tidak pernah lupa.
Tapi hari ini, di hari Anniversary mereka yang
ke tiga sebuah hadiah besar yang tidak mungkin bisa di lupakan. Seorang anak. Itu adalah hadiah terindah sekaligus terbaik yang pernah ia terima.
"Kalau Lo mau pergi pergi, nggak perlu lagi cari ojek. Nanti sopir pribadi Lo bakal datang, namanya pak Sarif. Kalau ada keperluan apa apa, mungkin ke dokter. Tinggal minta anter sama dia."
"Mas tadi sewa sopir pribadi?"
"Bukan, mulai sekarang pak Sarif bakal bekerja di sini sebagai sopir pribadi keluarga kita. Jadi, kalau ada apa apa minta anter sama pak Sarif ya. Gue ga mau Lo kecapean."
Syifa tersenyum lalu mengangguk.
"Makasih ya mas."
"Hm. Kalau gitu gue pergi." Ucap Reyhan. Dia mengubah posisi nya menjadi sedikit berjongkok, mengusap perut Syifa lalu menciumnya. Dirinya kembali berdiri, tangannya menyentuh pipi istrinya.
"Sehat sehat ya sayang..."
Syifa terpaku. Jarang sekali suaminya itu memanggilnya sayang.
Reyhan memajukan kepala Syifa lalu mengecup kening perempuan itu. "Mas pergi dulu, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikum salam. Hati hati ya, semangat kerjanya."
Reyhan mengangguk.
Dia membalikkan badan dan berjalan keluar. Dari arah pintu, Syifa hanya bisa melambaikan tangan bersamaan dengan mobil itu mulai berjalan pelan keluar.
Satu hal yang sedari dulu ia takuti, kecelakaan. Iya, hanya itu. Begitu gelisah dirinya bila harus melepas suaminya bekerja. Hanya doa yang bisa ia berikan, keselamatan. Seorang pilot, memang terlihat hebat. Mempunyai gaji yang besar, namun juga harus berani menanggung resiko yang besar pula. Ya Allah, berikanlah dia kekuatan, hilangkan lah segala kelelahan, ridhoi dia dalam setiap keringatnya, beri dia perlindungan di setiap detiknya. Semoga dia bisa kembali ke rumah dengan segala keselamatan tanpa luka apapun. Aamiin. Batin Syifa, memberikan doa dari lubuk hatinya yang paling dalam. Cepet pulang lagi ya mas, Syifa akan selalu menunggu. Untuk anak kita, jangan khawatir. Syifa akan jaga baik baik.
...Ada hati yang menunggumu pulang,...
...Ada hati yang menunggumu kembali,...
...Ada hati yang kosong setiap kamu pergi...
...----------------...
3 Desember
Semarang, Jawa tengah
16.20
Di halaman belakang pesantren, terlihat Dinda yang sedang memberi arahan kepada tujuh santriwati dalam ekskul memanah sore ini. "Tangannya di lurusin, matanya fokus ke titik tengah itu. Nah, tangannya jangan gerak gerak biar ga melesat panahnya. Fokus aja, kalau udah langsung tembak." Ucapnya memberi arahan sekaligus memberi contoh. Dinda mengangkat busur panahnya, matanya mulai fokus pada sasaran. Beberapa detik, anak panah ia lesatkan dan tepat mengenai lingkaran kecil yang ada di tengah.
"Nah kayak gitu, sekarang kalian coba." Beberapa yang lainnya langsung mengikuti.
Dia menghampiri salah satu anak. "Posisi tangannya di benerin, kepalanya lurus tegak. Nah..." Ucapnya membenarkan.
"Assalamualaikum mbak Dinda." Seorang mbak mbak pengurus datang.
"Waalaikum salam."
"Mbak, di panggil Abah. Katanya di depan ada tamu yang pengen bicara sama mbak."
Dinda mengangguk. "Iya. Kamu tolong awasi mereka, ajarin juga cara yang bener ya, biar mereka cepet bisa." Ujar Dinda. Mbak pengurus ini namanya mbak Hasna, dia sudah lumayan lama tinggal di pesantren. Sehabis lulus SMA, mbak Hasna lebih memilih untuk tetap melanjutkan mondoknya sampai benar benar hafal Alquran. Setelah misinya selesai, baru dia akan kuliah. Mbak Hasna juga sudah terbiasa dalam hal memanah. Ekskul memanah ini memang sudah di tambahkan di pondok pesantren Al Hidayah sejak dua tahun lalu. Di barengi juga dengan ekskul berkuda bagi yang berminat.
Dinda berjalan menuju rumah lewat pintu belakang. Dirinya langsung melangkah ke arah ruang tamu. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Jawab Abah dan seorang lelaki.
Dirinya duduk di samping abah. Melihat cowok itu sekilas. Dia Rizal, teman sekampus Dinda waktu itu.
"Kalian ngobrol dulu ya, Abah mau ke mushola."
"Iya abi." Jawab Dinda.
Abah berdiri. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam." Setelah Abah keluar, kini di ruang tamu hanya tinggal mereka berdua. "Ada apa zal? Kok tumben ke sini?!"
"Iya ada sesuatu yang harus aku tanyain ke kamu. Oi ya gimana keadaan kamu sekarang?"
"Alhamdulillah baik. Kamu gimana?"
"Iya sama. Alhamdulillah semuanya sehat." Jawab Rizal. "Din,,," Ia menarik nafas panjang. "Aku ke sini karena pengen tanya sesuatu sama kamu. Jujur, dari dulu aku suka sama kamu, tapi aku ga berani ngomong. Hari ini, aku mau serius karena aku tahu kamu bukan tipe wanita yang mau di ajak pacaran."
Dinda meneguk ludahnya. Mendengar kalimat itu, membuatnya sudah bisa menebak apa mau temannya itu.
"Apa kamu mau aku lamar?"
Dinda menundukkan kepalanya. Dia terdiam. "Aku salut kamu datang untuk niat yang baik." Ia menghela panjang. Apa kali ini dia juga harus memberikan jawaban yang sama?!
"Tapi aku minta maaf zal, aku ga bisa." Jawabnya dengan berat.
Rizal tersenyum, namun tentu bukan senyuman bahagia melainkan kecewa. "Kenapa? Ada orang lain yang sedang kamu tunggu?"
Mendengar pertanyaan itu Dinda mengangguk kecil.
Sebenarnya ada rasa sesak saat dinda mengangguk mengiyakan, namun ia harus bisa mengerti ini. Rizal kembali mengalihkan pembicaraan. Hal hal yang mengenai pesantren dan kuliahnya dulu.
"Ya udah Din, aku pamit dulu."
"Iya. Makasih udah mau ke sini."
Rizal mengangguk.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Jawab Dinda. Dia ikut berdiri dan mengantar sampai depan pintu. Melihat Rizal yang berjalan semakin jauh ke arah gerbang.
"Ya Allah, berapa lama lagi harus menunggu?" Tanya dinda. Tidak hanya Rizal, sebelumnya banyak yang datang juga menanyakan maukah di lamar? Siapkah saya lamar? Namun tetap satu jawaban yang ia berikan, Tidak. Hanya demi menunggu seseorang yang dulu pernah berjanji akan datang ke sini.
Lalu kemana dia saat ini? Sama sekali tidak ada kabar. Jangankan mengetahui kabar, punya nomornya saja tidak. Ya Allah, berapa banyak lagi laki laki yang harus ia tolak demi satu nama. Apakah saat ini dia masih ingat atau sudah lupa dengan janjinya?
Namun Dinda selalu ingat kata Abah. Jangan pernah khawatirkan soal itu semua Din. Semuanya sudah ada yang mengatur, percaya sama Allah. Kalau sudah ada waktunya, dia akan datang. Pokoknya jangan pernah khawatir dan takut dengan apapun yang nanti akan datang kepadamu. Percaya, Allah itu selalu mengatur sesuai porsinya. Tidak pernah tertukar.
•••••
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).
(Q.S Az Zariyat : 49)
__ADS_1
...*******...